Tentang Efisiensi Keyboard Dvorak

Ternyata sudah hampir 4 tahun saya menggunakan keyboard Dvorak. 4 Tahun yang lalu saya berpikir bahwa dengan mempelajari keyboard Dvorak, kecepatan mengetik saya akan berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Hal ini tidak sepenuhnya salah. Kini saya bisa mengetik hingga 120 kata per menit dalam bahasa Indonesia dan sekitar 80an kata per menit dalam bahasa Inggris. Jauh lebih cepat jika saya menggunakan keyboard QWERTY.

Beralih dari QWERTY ke Dvorak juga bukan pekerjaan mudah. Setidaknya saya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk mempelajari keyboard ini sampai di level touch typing (mengetik tanpa melihat papan keyboard). Saya pikir, mengetik cepat tanpa melihat dapat menjadi advantages bagi saya. Ternyata hal tersebut sama sekali tidak benar. Buat apa punya skill mengetik hingga lebih dari 100 kata per menit jika isi kepala hanya 30 kata per menit? Disinilah saya merasa bahwa suatu solusi yang dianggap efisien, ternyata menjadi tidak efisien ketika mencari jalan keluarnya.

Ternyata tidak sampai di sana. Saat saya mulai bekerja, skill ini lumayan berguna ketika mengetik email. Kebetulan saya punya big boss yang lumayan geeky. Dimulai dari saya yang menggunakan keyboard mekanik tipe cherry blue yang lumayan berisik itu, hingga dia melihat sendiri susunan huruf keyboard yang saya gunakan ternyata bukan QWERTY.

Bos saya salut dengan ‘kurang kerjaannya’ saya yang menggunakan stupid keyboard (dia sebut keyboard dvorak milik saya dengan sebutan itu). Kebetulan dia juga antusias mengenai kemampuan mengetik cepat dan pernah menantang saya balapan mengetik dan akhirnya saya sedikit jauh lebih cepat dari dia yang menggunakan QWERTY.

Pada suatu hari saya dipanggil ke ruangannya. Dia bercerita tentang senjata terkenal yang biasa digunakan oleh tentara Amerika Serikat, M-16.

“Kau tahu M-16?”

“Ya”, saya jawab

“Senjata itu sudah ada sejak tahun 1960an dan masih digunakan hingga saat ini oleh tentara Amerika Serikat. Tentu saja, diantara tahun 1960an hingga saat ini, banyak senjata-senjata baru yang dibuat. Tapi mereka tetap menggunakan itu, kenapa? Jika senjata tipe terbaru tidak dapat membuat perbedaan yang sangat signifikan, mereka tidak akan mengganti senjata yang mereka gunakan”

Di sini saya mengerti apa yang dia maksud. Dalam kasus susunan huruf keyboard, QWERTY telah ada dan digunakan lebih dulu daripada susunan Dvorak. Saat itu, entah sudah ribuan atau puluhan ribu typist yang sudah dilatih dan terlatih dalam menggunakan QWERTY. Tidak serta merta mereka harus mengganti susunan keyboard yang mereka gunakan. Mengganti susunan keyboard perlu waktu tersendiri untuk melatih ulang para typist. Tentu ini suatu hal yang tidak efisien meski ada klaim susunan Dvorak dapat membuat seseorang mengetik lebih cepat karena susunan hurufnya disusun dengan mempertimbangkan aspek ergonomi. Tidak seperti QWERTY yang disusun hanya sekedar mesin tik tidak jamming ketika seseorang mulai mengetik dengan cepat.

Kemudian permasalahan lainnya muncul, yaitu shortcut yang ada di setiap software, dibuat berdasarkan susunan keyboard QWERTY! Saya berikan contohnya. Kita tahu bahwa shortcut untuk copy dan paste adalah Ctrl + C dan Ctrl + V. Mengapa huruf C dan V? Sederhana saja, karena kedua huruf ini bersebelahan, dan sangat mudah diakses jika kita juga menekan tombol Ctrl yang biasa ada di sudut keyboard.

Hal ini jauh berbeda jika susunan keyboard yang digunakan adalah Dvorak. Letak huruf C dan V di keyboard Dvorak berjauhan satu sama lain. Jika saat membaca ini anda menggunakan keyboard QWERTY, letak huruf C di keyboard Dvorak terletak di huruf I, dan huruf V terletak di tombol “.” titik. Tentu ini sebuah siksaan tersendiri untuk melakukan Ctrl + C dan Ctrl + V.

How to deal with this? Saya masih menggunakan keyboard Dvorak in daily basis. Pekerjaan seperti menulis email atau blog, keyboard Dvorak masih saya gunakan. Saya beralih ke QWERTY jika menggunakan aplikasi yang banyak menggunakan shortcut untuk mempermudah pekerjaan saya, misalkan Excel. Tidak ada yang mubazir. Kini saya bisa menggunakan dua susunan keyboard secara touch typing :D.

Di Balik Penciptaan Ulang Narasi Kartini: Mencari Identitas Sejati Kartini

Originally posted on Dipa Nugraha:

Tulisan ini adalah terbit ulang dari empat tulisan serial terjemahan adaptatif Zen Rs yang pernah terbit di Newsroom Blog di kanal berita Yahoo! Indonesia yang terbit berturut-turut pada 16 April 2013 – 19 April 2013 dengan judul: “Kartini Bukan Pahlawan”, “Kartini ‘Bikinan’ Belanda”, “Kartini ‘Menjadi’ Gerwani”, dan “Kartini Sebagai Kuntilanak Wangi” dari artikel Petra Mahy yang berjudul “Being Kartini”. Terbit ulang terjemahan adaptatif miliknya ini dan tentu saja perangkaian menjadi satu tulisan utuh mendapat ijin dari Zen Rs.

Zen Rs adalah seorang esais dan novelis. Novelnya yang telah terbit dan merupakan prekuel dari film Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) berjudul Jalan Lain ke Tulehu: Sepakbola dan Ingatan yang Mengejar (2014), diterbitkan Bentang Pustaka, Yogyakarta.

___________________________________________

Raden Ajeng Kartini, yang secara resmi tercatat sebagai pahlawan nasional nomor 23, bukanlah pahlawan nasional perempuan yang pertama. Posisi Kartini dalam daftar urut pahlawan nasional berada di bawah Cut Nyak Dien dan…

View original 5.140 more words

Ulang Tahun Cheryl 2.0

Setelah beberapa hari yang lalu membuat post tentang soal primary 5 olimpiade level SMP yang berisi pertanyaan ulang tahun Cheryl, saya menemukan kembali soal dengan tipe serupa dan lagi-lagi tokoh utamanya Cheryl, Albert, dan Bernard. Namun kini ada orang keempat yaitu David. Berikut soal yang dimaksud

20150416012750Jika dilihat sekilas, soal kali ini lebih rumit karena pilihan tanggal ulang tahun yang diberikan oleh Cheryl semakin banyak. Walaupun pilihannya lebih banyak, secara alur logika, masih dapat dikerjakan dengan cara sebelumnya. Yang menarik adalah kini ada orang keempat bernama David yang membuat soal ini sedikit lebih rumit dari sebelumnya.

David diberikan satu set bulan dan tanggal dari Cheryl yang bulan dan tanggalnya berbeda dengan bulan dan tanggal ulang tahun Cheryl yang tidak diketahui.

Prosesnya seperti ini :

1. Albert (yang hanya tahu bulannya saja) mengatakan bahwa dia tak tahu tanggal ulang tahun Cheryl. Dia juga yakin bahwa Bernard pun juga tidak tahu

Sama seperti soal sebelumnya. Jika Albert mengatakan bahwa dia dan Bernard tidak tahu, maka bulan dari hari ulang tahun Cheryl bukan pada tanggal yang identik di bulan tertentu (tanggal yang tidak ada di bulan lainnya) sehingga May 15, May 16, May 19, Jun 17, Jun 18, Jun 20, Jun 22 pasti bukan hari ulang tahun Cheryl.

2. Bernard (yang hanya tahu tanggalnya saja) mengatakan bahwa dia tak tahu tanggal ulang tahun Cheryl meskipun setelah Albert berkata sesuatu pada poin (1)

Tanggal yang tersisa :

Jul 15, Jul 16

Aug 14, Aug 20, Aug 22

Sep 14, Sep 16, Sep 17, Sep 20

Bernard tetap tidak tahu hari ulang tahun Cheryl. Berarti tidak mungkin tanggal dari hari ulang tahun Cheryl adalah tanggal yang identik (setelah proses nomor 1). Jika tanggal ulang tahun Cheryl adalah tanggal yg identik, maka Bernard akan langsung tahu. Jadi tanggal Jul 15, Aug 22, dan Sep 17 pasti bukan hari ulang tahun Cheryl.

3. Albert tetap belum mengetahui kapan ulang tahun Cheryl. Dia juga yakin bahwa David tak tahu

Tanggal yang tersisa :

Jul 16

Aug 14, Aug 20

Sep 14, Sep 16, Sep 20

Albert tetap belum tahu kapan hari ulang tahun Cheryl. Berarti Jul 16 pasti bukan hari ulang tahun Cheryl karena Albert yang hanya tahu bulannya saja, pasti akan langsung mengetahui hari ulang tahun Cheryl jika benar Jul 16. Kemungkinan yang tersisa adalah bulan Agustus dan September. Ada clue bahwa David tak tahu tanggal ulang tahun Cheryl. Perlu diingat bahwa David diberitahu tanggal dan bulan yang sama sekali berbeda dengan hari ulang tahun Cheryl.

4. David mengatakan bahwa dia tak tahu tanggal ulang tahun Cheryl sesaat sebelum Albert mengatakan kalimat terakhir pada poin (3). Tetapi kini, David tahu bulannya apa

Tanggal yang tersisa :

Aug 14, Aug 20

Sep 14, Sep 16, Sep 20

Jika David tahu bulannya (tanggal yang diberi tahu Cheryl) apa, maka bulan dengan tanggal yang sama pastilah bukan hari ulang tahun Cheryl. Jadi Aug 14 dan Sep 14 bukanlah hari ulang tahun Cheryl.

5. Bernard juga mengaku tidak tahu tanggal ulang tahun Cheryl sesaat sebelum Albert mengatakan poin (3). Kini Bernard tahu hari ulang tahun Cheryl

Tanggal yang tersisa :

Aug 20

Sep 16, Sep 20

Bernard yang hanya mengetahui tanggalnya saja mengaku sudah tahu hari ulang tahun Cheryl. Dengan demikian, Sep 16 adalah hari ulang Cheryl karena jika tanggal yg diketahui Bernard adalah tanggal 20, dia tidak akan tahu apakah hari ulang tahun Cheryl Aug 20 atau Sep 20.

6. David tahu tanggal ulang tahun Cheryl

 Ingat bahwa David diberitahu bulan dan tanggal yg keduanya berbeda dengan hari ulang tahun Cheryl. Aug 20 dan Sep 20 adalah tanggal yang sama sehingga David tahu hari ulang tahun Cheryl adalah Sep 16

7. Albert kini tahu tanggal ulang tahun Cheryl.

 Alasan yang sama pada poin ke-5

Ulang tahun Cheryl Sep 16. Berarti tanggal dan bulan yang diberi tahu ke David haruslah Aug 20.

Beberapa teman saya mengatakan bahwa tanggal dan bulan yang diberitahu ke David kemungkinan Aug 20 atau Aug 14. Saya juga curiga bahwa pada poin ke-4, David langsung mengetahui bulan dari ulang tahun Cheryl. Hal ini tidak berarti membuang Aug 14 dari salah satu dari kemungkinan tanggal yang diberi tahu oleh Chery kepada David.

Soal Matematika Primary 5 Singapura (Versi bertele-tele)

math1eSore tadi saya membaca sebuah tautan yang berisi soal Matematika level primary 5 siswa Singapura (mungkin kalau di Indonesia setara kelas 5 SD). Jujur soal seperti ini berhasil membuat dahi saya berkerut. Betapa efektifnya komunikasi antara Albert yang hanya mengetahui bulan, dan Bernard yang hanya mengetahui hari dari ulang tahun Cheryl.

1. Albert mengatakan bahwa dia tidak tahu persisnya tanggal berapa Cheryl berulang tahun, tapi dia tahu kalau Bernard juga tidak akan tahu tanggalnya yang mana

Pada poin ini, Albert yang sudah tahu bulan dari hari ulang tahun memberi pesan bahwa bulan yang ia ketahui mempunyai tanggal yang tidak unik. Karena jika tanggal tersebut unik, Bernard tentu akan langsung tahu tanggal dan bulan berapa. Dengan demikian, bulan-bulan yang terdapat tanggal unik otomatis akan tercoret, yaitu bulan Mei dan Juni karena pada daftar bulan Mei terdapat tanggal 19 dan bulan Juni terdapat tanggal 18 di mana tanggal tersebut tidak ada di bulan lainnya.

2. Bernard mengatakan bahwa pada awalnya dia tak tahu kapan Cheryl berulang tahun, dan sekarang dia tahu kapan

Pada poin ini (setelah Mei dan Juni keluar dari list), Bernard yang hanya mengetahui tanggalnya saja, memberi pesan bahwa ia sudah tahu tanggal adalah ulang tahun Cheryl. Berarti hari dengan tanggal yang sama July 14 dan August 14 akan tereleminasi karena jika tanggal ulang tahun Cheryl yang sebenarnya adalah salah satu dari July 14 atau August 14, Bernard tentu tidak akan tahu. Kini pilihannya hanya tinggal 3 yaitu : July 16, August 15, dan August 17.

3. Albert kini sudah tahu tanggal berapa Cheryl berulang tahun

Albert yang hanya mengetahui bulannya saja, dengan 3 pilihan yang tersisa ini, sudah tahu tanggal berapa persisnya Cheryl berulang tahun. Jika Cheryl lahir pada August, tentu Albert tak akan tahu tanggal berapa yang benar. Oleh karena itu, Cheryl haruslah berulang tahun pada July 16

Seriously ini untuk anak SD?

UPSC / IAS Preparation Notes: Gaurav Agrawal

Originally posted on Khelo India:

Dear friends

As I promised and always intended, I am uploading here all my online notes for various papers of the IAS / UPSC exam. You may find some overlap here and there and some unstructured portions as well, but please forgive me for that. It has been a long journey with a lot of distance to cover so quality may have been compromised in some notes. Anyways, my idea here is to give all I have and help as many as I can in their journeys. Also, if anyone has any doubt or query regarding or whatever and wants to communicate with me, I am open for communication here in comments and also on my email: crazyphoton@gmail.com … If I can inspire and help even anyone of you to their destination, I would believe my purpose would be served. I promise I would reply to each and every single…

View original 167 more words

Cara Pesan Minum di Starbucks

Originally posted on Ailtje Ni Dhiomasaigh:

[Postingan ini super panjang]

Di satu akhir pekan, saya nongkrong di Starbucks Senayan City. Saat itu Reza Rahardian juga lagi nongkrong dengan seorang desainer Indonesia. Tiba-tiba, ada pria dengan muka kusut menyalakan rokok. Ditegurlah si Bapak karena ruangan tersebut berpendingin. Si Bapak ngamuk & semakin ngamuk karena kopinya tak kunjung datang padahal dia sudah menunggu selama 30 menit. Setelah dijelaskan, bahkan diberi kopi baru, si Bapak akhirnya mengerti bahwa kopi di Starbucks tak pernah diantarkan. Dengan muka BT, si Bapak menyerupu kopinya, lalu memuntahkan kopi ke lantai. Entah tak doyan atau mulutnya terbakar.

Gara-gara si Bapak, saya akhirnya membuat tulisan ini di tahun 2013 , tapi elemen tulisan saya tak lengkap tanpa kenalan dengan Barista; makanya saya menunggu dua tahun. Pesan kopi di Starbucks tak segampang pesan kopi di Warung Kopi di Aceh karena Starbucks membuat kombinasi aneka rupa kopi, konon ada ribuan. Hal paling pertama yang harus diketahui sebelum memesan…

View original 884 more words

Masalahnya Adalah Menjumlahkan Sisa Saldo

CBG8CTWUsAAfo-m

Beberapa hari yang lalu saya memperoleh gambar di atas. Malah diikuti dengan caption “Ini soal dari boss Alibaba yang katanya di seluruh dunia hanya 1 orang saja yang bisa jawab ini”

Pangkal dari permasalahan di atas adalah menjumlahkan sisa saldo. Kita tak bisa menjumlahkan begitu saja sisa saldo lalu membandingkan nilainya dengan jumlah uang sebelum dibelanjakan. Sebelumnya, saya akan membuat bentuk umum dari perhitungan di gambar tersebut

Misalkan saya mempunyai uang sebesar x. Uang ini akan saya belanjakan barang sebanyak n item. Dalam contoh gambar di atas, barang tersebut adalah jus, apel, roti, dll. Kemudian, besar dari pengeluaran untuk membeli n item tadi masing-masing sebesar y_1,y_2,...,y_n dengan y_i < x. i=1,2,3,...,n. Misalkan S_i adalah sisa saldo setelah membelanjakan barang ke-i. Sehingga S_i=x-\sum_{t=1}^{i}y_t

Menggunakan variabel – variabel yang didefinisikan di atas, total uang yang dibelanjakan adalah \sum_{t=1}^ny_t. Pembuat gambar di atas tentu saja menjumlahkan saldonya seperti di bawah ini:

T=\sum_{i=1}^{n}S_i =\sum_{i=1}^{n}\left(x-\sum_{s=1}^{i}y_s\right)=nx -\sum_{i=1}^{n}\sum_{s=1}^{i}y_s

Tentu saja T \neq \sum_{i=1}^ny_i

Syekh Bandar al-Khaibari : Bumi yang diam dan tidak bergerak mengitari Matahari

Kira -kira beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah tautan berita yang berisi bahwa salah satu pemuka agama (terjemahan bebas dari kata Cleric) menyatakan bahwa Bumi stasioner alias diam. Bumi juga tidak mengitari Matahari, justru sebaliknya, yaitu Matahari-lah yang mengitari Bumi. Oke, ide tersebut mungkin menolak heliosentris dan menerima geosentris. Bukan sesuatu yang baru.

Mengenai heliosentris atau geosentris, masalah siapa yang mengitari siapa, tentu masing-masing punya sudut pandangnya sendiri. Padahal di ruang angkasa tidak jelas bagian mana yang layak disebut sebagai pusat. Mungkin kita bisa definisikan sendiri di manakah pusat alam semesta, tentukan tempatnya, lalu sebutlah benda-benda langit lainnya bergerak mengitari pusat alam semesta versi kita sendiri.

Sepertinya bukan itu yang ingin saya bahas, tetapi reasoning dari Sang Syekh yang terdengar sedikit anu. Dalam menjelaskan pandangannya mengenai Bumi yang diam, Sang Syekh memperagakan sebuah thought experiment. Persis seperti yang dilakukan Albert Einstein dalam menjelaskan Relativitas Khusus dengan eksperimen seseorang menumpang sebuah pesawat ruang angkasa yang dapat melaju mendekati kecepatan cahaya, bagaimana terjadi dilatasi waktu, bagaimana badan pesawat “memendek” dan sebagainya.

Thought Experiment Sang Syekh adalah seandainya anda naik pesawat terbang dari Sharjah (suatu nama kota di Uni Emirat Arab) dengan tujuan China. Pesawat bergerak ke langit menuju China. Jika Bumi bergerak (berotasi), pesawat tersebut tak akan sampai ke China karena China (yang terletak di permukaan Bumi tentunya) juga bergerak.

Menarik bukan?

Dari kuliah Fisika Dasar selama 1 tahun yang saya ikuti di kampus, sepertinya alasan di atas tak masuk akal. Kini saya juga mengajukan sebuah eksperimen khayalan. Misalkan saya berada di dalam kereta api yang sedang melaju. Katakanlah saat itu kecepatan kereta konstan di 100 km/h. Dengan menggunakan kasus yang mirip dengan pesawat Sharjah – China, saya akan mencoba untuk terbang dengan cara melompat di dalam kereta api yang sedang melaju. Karena kaki saya yang lumayan panjang, mungkin saya dapat lompat selama 1 detik. Artinya selama 1 detik, kaki saya tidak menyentuh lantai gerbong kereta. Mirip seperti “terbang” bukan? Dengan menggunakan logika yang sama seperti yang dikatakan Sang Syekh tadi, ketika saya mendarat nanti, saya akan mendarat di gerbong lain karena dalam 1 detik dengan kecepatan 100 km/h, kereta telah bergerak atau berpindah sejauh 28 meter. Sementara panjang gerbong kereta api kira-kira 20 meter, jadi saya akan berpindah ke gerbong lain.

Sayang sekali, realitasnya tidak seperti itu. Mengapa?

Karena ketika saya berdiri di gerbong, tubuh saya telah mempunyai kecepatan yang sama dengan kereta api, yaitu 100 km/h. Asalkan kecepatan kereta api tidak berubah secara mendadak (mengerem misalnya), saya akan mendarat tepat di mana saya mulai melompat.

Begitu juga dengan kasus pesawat terbang tadi. Sebelum pesawat terbang, si pesawat telah mendapatkan kecepatan rotasi bumi dan itu sama dengan kecepatan China yang juga “bergerak”.

Mungkin Sang Syekh lelah

Double Summit Merbabu – Merapi

Mendaki Merbabu dan Merapi termasuk agenda pendakian gunung akhir tahun Debop. Dilakukan sebelum libur panjang antara Januari sampai Maret di mana biasanya banyak gunung yang ditutup. Rencana ini sudah disusun dari dua bulan yang lalu karena tiket kereta sangat sulit diperoleh saat musim liburan seperti ini. Begitu saya lihat itinenary-nya, gila! Tidak ada agenda buka tenda untuk menginap dan pendakian Merbabu dimulai dari jalur Tekelan, lalu diakhiri di Selo.

Sebenarnya tak ada masalah dengan naik Tekelan dan turun lewat Selo di gunung Merbabu. Bisa dibilang, naik Tekelan lalu turun ke Selo itu adalah jalur yang membelah gunung Merbabu dari sisi Utara ke Selatan. Tetapi standar “santai” pendakian jalur tersebut adalah minimal 2 hari 1 malam dengan rincian sebagai berikut : pendakian dimulai pagi hari, mendaki hingga sore dengan target puncak Pemancar, lalu hari kedua menelusuri punggungan puncak Merbabu sampai ke puncak Kenteng Songo hingga turun via Selo yang perkiraan saya, kalau santai, akan sampai di Selo sekitar sore hari. Sampai siang hari kalau anda sedikit ngotot.

Tapi kali ini berbeda. Dalam itinenary, tidak ada agenda membuka tenda. Jalan terus dan hanya istirahat leyeh-leyeh tanpa membuka tenda. Perjalanan dimulai pukul 20.45 malam dari basecamp Tekelan. Tetapi beberapa hari menjelang keberangkatan, kami tetap membawa tenda karena sudah memasuki musim hujan dan akan sangat berguna jika cuaca memburuk. Niatnya adalah membuat tas seringan mungkin, ujung-ujungnya harus tetap full spec.

24 Desember 2014 (Stasiun Pasar Senen – Solo Jebres – Salatiga – Basecamp Tekelan)

Saya sendiri berangkat dari Jakarta sore hari jam 17.20 dengan menumpang kereta api Majapahit. Karena suatu hal, saya tak dapat bersama Debop yang berangkat tanggal 25 Desember pagi. Setelah berjubel dengan kemacetan sore hari di Jakarta, hampir saja saya ketinggalan kereta karenanya. Saya sampai di Solo Jebres jam 2 pagi. Saat itu jujur, saya bingung mau kemana. Apakah langsung ke Salatiga lalu ke Basecamp Tekelan, atau menunggu hari mulai terang di Solo. Akhirnya saya memilih yang pertama, dan tentu saja sebelum ke terminal Tirtonadi, saya serbu dulu salah satu angkringan di depan stasiun. Hanya 2 buah sate bekicot dan segelas susu jahe.

Dari stasiun saya naik becak ke terminal bis Tirtonadi, lalu menumpang bis patas ke Semarang. Selama perjalanan saya tidur, tiba-tiba terbangun dan pas sekali, saat itu sudah sampai di Terminal Salatiga. Ternyata perjalanan tak sampai 2 jam. Masih setengah 4 pagi. Saya turun di terminal Salatiga, entah apa namanya saya lupa. Di sana sepi sekali. Tidak ada minibus yang mengarah ke Magelang. Ternyata saya salah turun. Pasar Sapi (tempat ngetem-nya minibus ke Magelang) masih sekitar 2 sampai 3 km lagi sehingga saya harus naik ojek.

Sampai di Pasar Sapi, suasana sudah lumayan ramai oleh pedagang dan orang – orang yang berpakaian rapi untuk mengikuti misa Natal. Ada juga beberapa pendaki gunung. Saya sarapan dulu di salah satu angkringan di sana. Hanya sarapan dua lontong dan dua gorengan dengan minum teh manis, cuma Rp3000. Saat itu belum ada minibus yang terlihat. Hingga kira-kira pukul 5 pagi, saya melihat satu minibus mulai ngetem. Rombongan pendaki lain yang sudah menunggu di sana satu per satu mulai naik ke minibus tersebut. Terpikir oleh saya untuk menyelesaikan urusan di kamar mandi terlebih dahulu sebelum menuju ke basecamp tetapi saya urungkan karena saya lebih memilih sampai duluan di basecamp, lalu menyelesaikan urusan tersebut :)

Seperti yang saya duga sebelumnya, minibus tersebut adalah minibus trayek yang sama dengan yang saya tumpangi dari Magelang setahun yang lalu, saat saya mendaki Merbabu via Wekas bersama Alde. Hanya saja, kini saya naik minibus tersebut dari arah sebaliknya.

Diantara Salatiga sampai Kopeng, hari mulai terang. Matahari mulai menampakkan dirinya. Jalanan menanjak dengan dominasi pemandangan Gunung Merbabu, Gunung Andong, dan Gunung Telomoyo. Jalanan terus menanjak. Perlahan- lahan minibus merayap jalanan tersebut. Hingga minibus yang saya tumpangi akhirnya berhenti daerah Kopeng, Kecamatan Getasan. Kopeng sudah terkenal reputasinya sebagai lokasi wisatanya orang Belanda zaman dulu hingga kini sehingga banyak penginapan di sini. Saya jadi teringat dengan Lembang yang berada di utara kota Bandung.

Patokan yang saya buat dari awal untuk turun dari minibus adalah mencari lokasi Air Terjun Umbul Songo, lalu tinggal jalan kaki masuk gang untuk menuju ke basecamp Tekelan. Ternyata tak sesederhana itu. Dari gang beraspal yang mempunyai tulisan arah Air Terjun Umbul Songo, ujung gangnya adalah pendakian jalur Cuntel, bukan Tekelan. Itupun baru saja saya sadari setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki dengan sedikit menanjak lalu bertemu dengan gapura selamat datang. Akhirnya saya putar arah balik kanan. Kembali menuju jalan raya Kopeng. Saya bertanya ke salah satu warga sekitar mengenai cara menuju ke basecamp Tekelan. Ternyata posisi gangnya “lebih bawah” dari jalur Cuntel, patokannya sebuah minimarket.

Setelah turun kembali dengan setengah berlari, saya telusuri jalan raya tersebut. Di sebelah kanan persis setelah minimarket ada gang dan ada papan bertuliskan “Basecamp Tekelan”. Di depan gang juga ada sebuah pangkalan ojek tetapi tak ada satupun tukang ojek di sana. Akhirnya saya jalan kaki. Menurut beberapa catper yang saya baca, jarak tempuhnya kira-kira satu setengah hingga dua jam. Lumayan jauh tetapi saya tak begitu saja langsung putus asa. Lagipula saat itu cuaca cerah dan udara pagi hari sangat segar sehingga kesempatan yang baik untuk menikmati suasana pagi dan pemandangan yang bagus dengan berjalan kaki menuju Tekelan.

Jalan menuju Tekelan ternyata mengitari bukit yang ada hutan pinus di atasnya. Dari sini kita bisa melihat gunung Andong dan Telomoyo di sebelah kiri. Begitu melewati belokan, Gunung Merbabu dapat dilihat dengan jelas jika cuaca sedang tidak berkabut. Bahkan puncak Pemancar pun bisa terlihat dengan mata telanjang walaupun sangat kecil.

Benar saja, dari pinggir jalan raya Kopeng menuju Tekelan itu lumayan jauh. Bahkan saya sudah mengeluarkan trekking pole. Malamnya, saya baru tahu bahwa teman-teman saya yang datang dari Jakarta sore harinya bahkan sudah ada yang mengeluarkan gula merah untuk tambahan energi hanya untuk menuju basecamp Tekelan :)). Mungkin lain kali jika saya kembali ke sini, saya akan memilih untuk naik ojek saja.

Saya sampai di desa Tekelan sekitar pukul 7 pagi lewat. Saat itu benar-benar sepi. Pendaki gunung hanya saya sendiri. Beruntung di tengah jalan saya diberi arah oleh penduduk setempat mengenai rumah yang biasa digunakan sebagai basecamp. Saya lupa bertanya itu rumah bapak siapa (ah dasar orang kota tak tahu sopan santun!). Tekelan ternyata sebuah Dusun (sebelumnya saya kira sebuah desa) yang berada di Desa Batur dan terletak di ketinggian sekitar 1500 mdpl. Saya perkirakan penduduk dusun ini tak sampai 500 orang dan mayoritas bekerja sebagai petani (sesekali sok tahu lah).

Di basecamp saya langsung bongkar sleeping pad dan sleeping bag untuk tidur. Sesekali terbangun karena ada pendaki yang datang satu per satu, kelompok per kelompok. Mereka sedikit berisik saat packing barang. Tak lama kemudian mereka menghilang, mungkin sudah berangkat.

Saya sengaja tidur karena : 1. saya belum tidur secara berkualitas karena malamnya berada di kereta api dan 2. menunggu teman-teman saya yang baru berangkat dari stasiun Pasar Senen pagi itu, diperkirakan mereka sampai di basecamp Tekelan sore hari. Jadi saya manfaatkanlah kesempatan dari pagi sampai sore untuk tidur.

Ketika siang hari, saya perut saya berontak minta jatahnya. Seingat saya, sudah lebih dari 24 jam tak bertemu dengan nasi. Saya datangi salah satu pengurus basecamp untuk memesan makanan. Ternyata saya disuruh langsung mengambil dari suatu meja yang diatasnya sudah ada prasmanan. Wow, ternyata di sini lumayan juga. Sore harinya, ketika saya naik ojek ke bawah untuk membeli sesuatu di minimarket, saya tahu dari tukang ojek bahwa di dusun Tekelan sedang ada acara. Saya lupa nama acara itu apa dan dirayakan dengan membuat masakan enak, lalu sanak keluarga datang saling berkunjung. Acara tersebut mengikut kalender Jawa dan berlangsung selama beberapa hari. Pantas saja, di basecamp sudah ada prasmanan dan beberapa toples kue. Toh akhirnya saya membayar makanan tersebut :)

Rombongan dari Jakarta tiba di Tekelan setelah maghrib, sekitar pukul setengah 7 malam. Ternyata mereka juga berjalan kaki dari jalan raya. Bedanya saya jalan kaki sendirian, mereka jalan kaki berdua puluh. Bagai long march tentara. Ternyata mereka misuh-misuh karena jarak basecampnya jauh haha.

Tim lengkap, Chandra dan Cila tak ikut mendaki Merbabu

Tim lengkap

 Kira – kira pukul 20.45, rombongan kami berangkat. Dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan jumlah personil 20 orang. Pada awalnya kelompok kecil ini untuk mempermudah pengawasan masing – masing orang. Namun pada akhirnya, 20 orang ini terpecah tidak menjadi 4 kelompok, tetapi 3 kelompok besar.

Trek awal dari dusun Tekelan berupa jalan setapak dengan kiri – kanannya perkebunan warga. Tak sampai satu jam kemudian, saya sampai di pos Pending. Di sini ada sebuah shelter dan dua buah keran air. Ternyata di sini tempat terakhir mengambil air. Setelah semuanya tiba di pos Pending, saya yang berada di kelompok 4 (Ada juga Didit, Yudi, dan Erna) melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Trek didominasi oleh tanjakan dengan sesekali bonus karena harus menuruni lembah yang di bawahnya ada sungai kecil mengalir. Ada di suatu tempat kondisi trek longsor sehingga harus memutar ke arah atas terlebih dahulu. Di sebelah kiri, jika ada space terbuka, kita bisa melihat pemandangan malam kota Salatiga.

Kurang lebih satu jam, sampai juga di pos 2 yaitu pos Pereng Putih. Pos ini terletak di suatu tikungan, berupa tanah datar sekitar 5 kali 5 meter, ada juga juga semacam bangunan yang dibuat dari seng. Kami menunggu kelompok belakang sembari leyeh-leyeh di tanah. Ada juga sebuah tenda di sini, saya dengar dengkuran penghuninya.

Tim belakang sampai di Pereng Putih sekitar 10-15 menit kemudian. Kebanyakan dari mereka mengantuk. Maklum saja, mereka berangkat dari Jakarta pagi hari. Dan hari sebelumnya begadang. Tidur di kereta api saat hari terang itu pasti tak berkualitas tidurnya.

Dari Pos Pereng Putih menuju pos ketiga yaitu Pos Gumuk Mentul yang treknya agak lumayan menanjak. Seingat saya sih jaraknya dekat. Hanya melipir di bagian kiri bukit, menyebrangi lembah, lalu berbelok tajam ke kanan, kemudian jalan lurus berupa tanjakan hampir 45 – 60 derajat. Di Pos Gumuk Mentul ada 3 tenda berdiri. Di pos inilah kami agak lama menunggu rombongan belakang. Dengar-dengar sih mereka sempat tidur di pos Pereng Putih. Saya sendiri sih masih on karena seharian tidur di basecamp. Siklus tidur saya sudah terbalik karena saat di kereta malam, saya sedikit tidur, dan mulai tidur di basecamp saat hari siang.

Di pos Gumuk Mentul angin mulai terasa. Jika diam terlalu lama, badan akan terasa dingin. Saya mulai tak sabaran untuk melanjutkan perjalanan. Saat itu kelompok 4 mulai berangkat. Ada juga anggota kelompok lain yang ikut. Jadi total 7 orang berangkat. Tambahannya adalah Fido, Sury, dan Vindy. Dalam perjalanan menuju pos keempat yaitu pos Lempong Sampan, saya berada di depan dan itu sedikit menyebalkan. Ya menyebalkan karena ternyata treknya agak sempit berupa semak-semak. Muka saya beberapa kali harus menghantam sarang laba – laba. Awalnya saya tak yakin apakah jalur ini jalur yang benar atau tidak sampai saya temukan beberapa sampah manusia. Kami teruskan perjalanan dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat.

26 Desember 2014 (Pos 4 – Puncak Merbabu – Selo – New Selo Merapi)

Pos Lempong Sampan yang paling luas jika dibandingkan pos – pos sebelumnya. Di sana tak ada tenda sama sekali. Sesuai obrolan selama di perjalanan, akhirnya kami mengeluarkan kompor untuk makan mie rebus dan membuat minuman hangat. Saya lupa jam berapa saat itu, mungkin sekitar jam 1 atau jam 2 pagi.

Kira – kira jeda setengah jam, datang Oki dan Masdan. Ternyata mereka juga terpisah dari rombongan besar. Mereka bilang sempat nyasar dari pos 3 karena salah jalur. Dan yang nyasar itu semua orang. Walah. Ternyata kelompok besar membuka tenda untuk istirahat di pos 3.

Melihat kondisinya seperti itu, kami bersembilan sempat bingung apakah mau buka tenda di pos 4 atau melanjutkan perjalanan (sesuai itinenary). Saat itu saya inginnya sih jalan terus. Ternyata yang lain juga. Target kami semua bersembilan saat itu adalah puncak Pemancar. Menurut peta kasar di basecamp, puncak Pemancar terletak setelah pos Watu Gubug di mana pos tersebut terletak setelah pos 4. Itulah yang membuat kami semua masih semangat untuk meneruskan perjalanan.

Kira – kira satu jam kemudian, kami semua melanjutkan perjalanan. Saya kembali di depan. Semakin lama, lampu kota semakin jelas terlihat menandakan bahwa vegetasi mulai terbuka. Saat itu bintang – bintang juga dapat dilihat dengan jelas, pertanda cuaca sedang cerah. Hanya saja angin sedikit kencang dan dingin. Setelah satu jam perjalanan, kami sampai di suatu tanah lapang yang tak terlalu luas, tetapi ada satu tenda berdiri di sana. Saya kira itu pos Watu Gubug, ternyata belum.

7 Orang memilih untuk istirahat di sana sedangkan saya dan Masdan, tetap melanjutkan perjalanan. Saat itu sekitar jam 3 lewat. Dari 9 orang, ada 3 tenda dengan rincian 2 tenda isi 2 orang, dan 1 tenda isi 4 orang. 2 Tenda dibuka di tempat itu, dan saya tetap membawa tenda 2 orang. Saat itu saya dan Masdan akan berencana membuka tenda di pos Watu Tulis yang sudah masuk jalur turun via Selo. Puncak Pemancar juga sudah dapat dilihat dengan mata telanjang walau agak sedikit gelap.

Suasana Subuh dari Puncak Pemancar

Suasana Subuh dari Puncak Pemancar

Saya dan Masdan sampai di Puncak Pemancar sekitar pukul setengah 5. Kami berdua makan mie dicampur dengan sarden -saya sebut ini Mie Summit-.

Tenda 7 orang itu

Tenda 7 orang itu

Jalur menuju Kenteng Songo

Jalur menuju Kenteng Songo

Puncak Pemancar

Puncak Pemancar

Jam 6 lewat, kami lanjut jalan. Cuaca saat itu sering berganti-ganti. Kabut – cerah – gerimis – cerah – kabut dan seterusnya. Kali ini treknya mulai menarik karena melewati satu punggungan puncak Merbabu. Puncak Pemancar – Pertigaan Jalur Wekas – Geger Sapi – Pertigaan Puncak Syarif – Puncak Kenteng Songo – Puncak Triangulasi.

Dari pertigaan jalur Wekas menuju pertigaan puncak Syarif yang menurut saya lumayan seru. Mengingatkan saya dengan trek menuju puncak gunung Sumbing. Berbatu, dan sesekali scrambling. Apalagi saat itu kami berdua membawa keril full tank. Sesekali saya melakukan lempar lembing (melempar trekking pole karena ingin scrambling).

Di Puncak Geger Sapi, kami istirahat sebentar untuk ambil nafas dan memberikan istirahat ke dengkul yang sudah hampir 12 jam digunakan.

Sampai di pertigaan menuju Puncak Syarief, kami titipkan keril ke orang yang sedang membereskan tenda di sana. Badan langsung terasa enteng! Tak sampai 15 menit, sampai juga di Puncak Syarief.

Trek menuju puncak Kenteng Songo

Trek menuju puncak Kenteng Songo

Di sana kami hanya menghabiskan cemilan dan berfoto. Setelah itu langsung turun. Di pertigaan saya bertemu pendaki yang juga berangkat dari Tekelan (tapi mulai berangkat pagi hari), dan dia seorang diri saja. Sepertinya mas itu “orang lama” dalam urusan mendaki. Bawaannya santai.

Puncak Syarief yang pertama

Puncak Syarief yang pertama

Kami berdua kembali turun, ambil tas, lanjut jalan, melipir tebing, scrambling lagi dengan pijakan yang tipis, saya melakukan ritual lempar lembing kembali, satu tanjakan terakhir, sampai juga di puncak Kenteng Songo. Saat itu setengah 9 pagi.

Puncak Kenteng Songo

Puncak Kenteng Songo

Hari itu sedikit mengecewakan. Merapi tak kelihatan sama sekali karena kabut yang tebal. Bahkan padang Sabana pun tak terlihat. Memang, Desember bukan bulan yang baik untuk melihat pemandangan. Terakhir saya ke Merbabu adalah via Selo bulan Agustus dan saat itu cuacanya baik sekali. Dari point manapun, anda bisa melihat gagahnya gunung Merapi di arah Selatan. Hanya saja pendakian bulan Agustus itu sangat ramai.

Setelah puncak Kenteng Songo, kita bertiga ke puncak Triangulasi. Di sini malah sepi, tak ada orang sama sekali. Keadaan masih tetap berkabut, Merapi masih tak kelihatan. Di sana hanya mengambil foto, tak sampai 5 menit. Lalu kita bertiga turun.

Turun ke Sabana II, Sabana I, lalu turunan curam menjelang pos Watu Tulis, masih tetap berkabut. Malah ketika sampai di pos Watu Tulis, hujan mulai turun tetapi tidak terlalu deras sehingga saya hanya mengeluarkan payung.

Akhirnya saya sampai di pos Selo sekitar jam 12 siang, lalu istirahat di basecamp pak Bari. Total perjalanan kami kira-kira 15 jam dari Tekelan menuju Selo, tanpa camp sama sekali. Not bad but I won’t do that again! Malam itu juga kami berencana untuk mendaki gunung Merapi, sekali lagi, agar sesuai iten :))

Saya tidur dari siang hingga maghrib. Puas sekali rasanya. Saat saya baru datang siang hari, di basecamp pak Bari hanya ada tiga orang. Kami berdua plus mbak-mbak yang tidur di pojokan sana. Ketika saya bangun, basecamp tiba-tiba penuh dengan orang. Ternyata hari Sabtu, 27 Desember 2014 akan ada acara menanam pohon yang diadakan oleh salah satu organisasi pencinta alam Salatiga. Tak cuma di basecamp pak Bari, di basecamp pak Parman pun keadannya sama, ramai oleh para pendaki.

Setelah membereskan barang dan makan malam di pak Parman, saya dan Masdan berangkat ke New Selo, basecamp pendakian Merapi. Di sana telah menunggu Muji dari Jogja. Sampai di basecamp kira-kira jam setengah 9. Di sana, kami bertiga juga bertemu dengan Chandra dan Cila. Mereka berdua yang tak ikut pendakian Merbabu tetap stick to the plan untuk mendaki Merapi. Akhirnya kami berangkat berlima

10421171_10203619409630177_874493349596215132_n

Dari pos perizinan, kami harus berjalan kaki terlebih dahulu melewati jalan beraspal hingga suatu tempat yang ada papan raksasa bertuliskan New Selo. Saya kira perizinan dilakukan di sana, ternyata tidak. Karena trek langsung menanjak, kami istirahat sebentar di New Selo. Saat itu cuaca sedikit gerimis berkabut dan angin lumayan kencang. Bahkan jarak pandang pun cuma beberapa belas meter saja.

Seingat saya kita berlima mulai berangkat sekitar pukul setengah 11 malam. Saya di depan dan Masdan jadi sweeper. Jarak pandang pendek sekali karena kabut masih tebal. Treknya menanjak terus melewati perkebunan warga. Di awal-awal treknya berupa jalan cor-coran semen tetapi ada sedikit undakan tangganya sehingga tak terlalu licin. Selepas jalan semen tersebut, baru jalan setapak tanah. Di sebelah kiri jalan entah sepertinya terdapat jurang di sana dan di beberapa tempat, jalur yang kami lewati rawan longsor karena tanahnya retak besar. Sesekali saya bergantian dengan Chandra di depan karena staminanya lebih oke.

Kurang lebih satu jam, kami melewati suatu gapura selamat datang. Di sini angin bertiup kencang disertai dengan gerimis. Saat itu ada satu tenda dan di kejauhan saya melihat ada rombongan lain yang sedang berangkat. Saya kira itu pos 1, ternyata pos 1 masih jauh di atas sana.

Hingga di suatu tanjakan yang berbelok, tahu-tahu suasana ramai. Banyak orang di sana, mungkin sekitar 8-10 orang. Jadilah kami mendaki beramai-ramai. Treknya mirip seperti Cikuray, terus menanjak tanpa bonus.

Pos 1 hanya berupa pos beratap. Tapi di sana ada yang mendirikan tenda. Kami hanya duduk sebentar lalu lanjut jalan. Hingga kira-kira jam setengah 3 pagi, kami sampai di suatu tempat yang lumayan terbuka. Angin sangat kencang. Di sana sudah ada beberapa tenda berdiri yang miring karena ditiup angin. Kabut pun juga tebal. Saya di depan untuk mencari jalan, tetapi hanya batu-batu besar saja. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat tenda di situ setelah kami bertanya ke salah satu pendaki yang di dalam tenda. Ia mengatakan bahwa Pasar Bubrah sudah dekat, hanya satu bukit lagi.

Kami berlima hanya membawa tenda kapasitas 4 orang. Jadi tidurnya ya sedikit berdesakan

Saya langsung ganti baju, hanya ganti dengan jaket lalu ganti celana. Kemudian tidur. Saat itu benar-benar tidak minat untuk makan karena sudah terlalu lelah dan mengantuk.

27 Desember 2014 (Puncak Merapi)

Saya bangun kira-kira jam 5 lewat. Sehingga matahari sudah sedikit tinggi. Ketika saya keluar tenda, wuih. Pemandangannya bagus sekali meski sedikit berkabut. Angin hanya sepoi-sepoi. Di arah Timur, saya bisa melihat Lawu. Sedangkan di Utara ada Merbabu yang kakinya diselimuti kabut. Puncak Merapi pun tertutup kabut tetapi Pasar Bubrah bisa dilihat dengan jelas

Matahari dan Lawu

Matahari dan Lawu

Merbabu

Merbabu (Muka bantal :p)

Berangkat ke Pasar Bubrah

Berangkat ke Pasar Bubrah

Pasar Bubrah

Berada di Pasar Bubrah

Pagi itu kami semua berangkat menuju puncak Merapi. Ke Pasar Bubrah ternyata sebentar, hanya sekitar setengah jam kurang. Setelah itu naik lewat trek pasir. Pasirnya mirip seperti Mahameru, cuma masih kalah curam dan kalah tinggi :p. Saya keluarkan jurus andalan berupa jalan zig-zag agar tidak terlalu lelah. Masdan sudah jauh di depan, bahkan tidak kelihatan karena tertutup kabut. Saya jalan sendiri. Saya juga melihat Muji juga jalan sendiri di belakang. Sedangkan Chandra dan Cila jalan berdua dibelakangnya Muji (saya kenali dari warna jaketnya). Kira-kira satu jam kemudian, saya sampai di Puncak Merapi! Dan isinya hanya kabut tebal dan angin.

Tak sampai sejam, datanglah Muji. Lalu disusul Chandra dan Cila.

Nongkrong di Puncak Merapi

Nongkrong di Puncak Merapi

Full team!

Full team! (Walaupun tak semua anggota Debop jadi ke Merapi, kami bawakan slayernya)

Agak lama berada di atas karena berharap kabut hilang. Tapi ya begitulah, kabut tak kunjung hilang dan Masdan, saya, dan Muji ingin segera lanjut ke Lawu hari itu juga. Sehingga target sampai di New Selo maksimal siang hari.

Oleh karena itu, kami berlima sepakat bahwa Masdan, saya dan Muji turun duluan kembali ke tenda, lalu packing untuk mengejar gunung selanjutnya yaitu Lawu. Chandra dan Cila memilih turun dengan santai. Saya lupa turun jam berapa dan saat itu turunnya agak terburu-buru. Hingga sesudah melewati pos 1, menjelang pos gapura, lutut saya nyeri sekali. Akhirnya dengkul ini minta istirahat. Alhasil, saya turun ke New Selo dengan lambat dan sampai di bawah sekitar jam 12 siang.

Di sinilah perjalanan saya berakhir. Saya tak jadi ikut ke Lawu.

Mobil carteran sudah tiba di New Selo untuk mengantar rombongan Lawu. Saya ikut mobil tersebut dan turun di Polsek Selo. Akhirnya saya bertukar dengan Oki yang ikut ke Lawu. Dapat kabar bahwa rombongan Merbabu yang tujuh orang di belakang sudah tiba di basecamp Selo. Tetapi tim yang paling belakang belum ada kabar. Karena tak ikut ke Lawu, saya kembali ke basecamp Selo Merbabu dengan menumpang ojek.

Sampai di pos pak Bari, ternyata rombongan belakang baru sampai. Bagusnya adalah tidak ada yang cidera dan semuanya bisa tertawa riang gembira. Tidak seperti pendakian Ceremai yang menyedihkan itu :))

Dengkul saya cuma mampu 2 gunung, Merbabu dan Merapi. Dari rombongan kemarin, hanya Masdan saja yang mampu mendaki 3 gunung secara estafet karena dengkulnya memang double gardan cap dewa. Jadi saya masih punya hutang ke Lawu

Wrong Number #1

A : “Lihatlah bencana alam itu, orang yang bermaksiat akan dihukum oleh Tuhan lewat bencana alam”

B : “Mengapa Tuhan tak menghukum Las Vegas yang setiap malamnya penuh dengan perjudian dan seks bebas?”

A : “Itu namanya istiradj, Tuhan menunda hukumannya dengan membiarkan orang-orang itu dengan maksiatnya. Nanti akan tiba saatnya untuk dihukum”

B : “Kalau begitu, pendapat anda itu selalu benar”

A : “Kok bisa?”

B : “Jadi begini, kemungkinannya ada empat sebagai berikut :

1. Manusia berbuat baik, tak dihukum lewat bencana alam. Ini normal

2. Manusia berbuat baik yang terkena bencana alam. Anda bilang ini cobaan

3. Manusia berbuat buruk terkena bencana alam. Anda bilang ini hukuman

4. Manusia berbuat buruk tidak terkena bencana alam. Anda bilang ini istiradj

Jadi apapun ‘motif’ dibalik bencana dan kondisi manusianya, pendapat anda selalu benar”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.754 pengikut lainnya.