Masalahnya Adalah Menjumlahkan Sisa Saldo

CBG8CTWUsAAfo-m

Beberapa hari yang lalu saya memperoleh gambar di atas. Malah diikuti dengan caption “Ini soal dari boss Alibaba yang katanya di seluruh dunia hanya 1 orang saja yang bisa jawab ini”

Pangkal dari permasalahan di atas adalah menjumlahkan sisa saldo. Kita tak bisa menjumlahkan begitu saja sisa saldo lalu membandingkan nilainya dengan jumlah uang sebelum dibelanjakan. Sebelumnya, saya akan membuat bentuk umum dari perhitungan di gambar tersebut

Misalkan saya mempunyai uang sebesar x. Uang ini akan saya belanjakan barang sebanyak n item. Dalam contoh gambar di atas, barang tersebut adalah jus, apel, roti, dll. Kemudian, besar dari pengeluaran untuk membeli n item tadi masing-masing sebesar y_1,y_2,...,y_n dengan y_i < x. i=1,2,3,...,n. Misalkan S_i adalah sisa saldo setelah membelanjakan barang ke-i. Sehingga S_i=x-\sum_{t=1}^{i}y_t

Menggunakan variabel – variabel yang didefinisikan di atas, total uang yang dibelanjakan adalah \sum_{t=1}^ny_t. Pembuat gambar di atas tentu saja menjumlahkan saldonya seperti di bawah ini:

T=\sum_{i=1}^{n}S_i =\sum_{i=1}^{n}\left(x-\sum_{s=1}^{i}y_s\right)=nx -\sum_{i=1}^{n}\sum_{s=1}^{i}y_s

Tentu saja T \neq \sum_{i=1}^ny_i

Syekh Bandar al-Khaibari : Bumi yang diam dan tidak bergerak mengitari Matahari

Kira -kira beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah tautan berita yang berisi bahwa salah satu pemuka agama (terjemahan bebas dari kata Cleric) menyatakan bahwa Bumi stasioner alias diam. Bumi juga tidak mengitari Matahari, justru sebaliknya, yaitu Matahari-lah yang mengitari Bumi. Oke, ide tersebut mungkin menolak heliosentris dan menerima geosentris. Bukan sesuatu yang baru.

Mengenai heliosentris atau geosentris, masalah siapa yang mengitari siapa, tentu masing-masing punya sudut pandangnya sendiri. Padahal di ruang angkasa tidak jelas bagian mana yang layak disebut sebagai pusat. Mungkin kita bisa definisikan sendiri di manakah pusat alam semesta, tentukan tempatnya, lalu sebutlah benda-benda langit lainnya bergerak mengitari pusat alam semesta versi kita sendiri.

Sepertinya bukan itu yang ingin saya bahas, tetapi reasoning dari Sang Syekh yang terdengar sedikit anu. Dalam menjelaskan pandangannya mengenai Bumi yang diam, Sang Syekh memperagakan sebuah thought experiment. Persis seperti yang dilakukan Albert Einstein dalam menjelaskan Relativitas Khusus dengan eksperimen seseorang menumpang sebuah pesawat ruang angkasa yang dapat melaju mendekati kecepatan cahaya, bagaimana terjadi dilatasi waktu, bagaimana badan pesawat “memendek” dan sebagainya.

Thought Experiment Sang Syekh adalah seandainya anda naik pesawat terbang dari Sharjah (suatu nama kota di Uni Emirat Arab) dengan tujuan China. Pesawat bergerak ke langit menuju China. Jika Bumi bergerak (berotasi), pesawat tersebut tak akan sampai ke China karena China (yang terletak di permukaan Bumi tentunya) juga bergerak.

Menarik bukan?

Dari kuliah Fisika Dasar selama 1 tahun yang saya ikuti di kampus, sepertinya alasan di atas tak masuk akal. Kini saya juga mengajukan sebuah eksperimen khayalan. Misalkan saya berada di dalam kereta api yang sedang melaju. Katakanlah saat itu kecepatan kereta konstan di 100 km/h. Dengan menggunakan kasus yang mirip dengan pesawat Sharjah – China, saya akan mencoba untuk terbang dengan cara melompat di dalam kereta api yang sedang melaju. Karena kaki saya yang lumayan panjang, mungkin saya dapat lompat selama 1 detik. Artinya selama 1 detik, kaki saya tidak menyentuh lantai gerbong kereta. Mirip seperti “terbang” bukan? Dengan menggunakan logika yang sama seperti yang dikatakan Sang Syekh tadi, ketika saya mendarat nanti, saya akan mendarat di gerbong lain karena dalam 1 detik dengan kecepatan 100 km/h, kereta telah bergerak atau berpindah sejauh 28 meter. Sementara panjang gerbong kereta api kira-kira 20 meter, jadi saya akan berpindah ke gerbong lain.

Sayang sekali, realitasnya tidak seperti itu. Mengapa?

Karena ketika saya berdiri di gerbong, tubuh saya telah mempunyai kecepatan yang sama dengan kereta api, yaitu 100 km/h. Asalkan kecepatan kereta api tidak berubah secara mendadak (mengerem misalnya), saya akan mendarat tepat di mana saya mulai melompat.

Begitu juga dengan kasus pesawat terbang tadi. Sebelum pesawat terbang, si pesawat telah mendapatkan kecepatan rotasi bumi dan itu sama dengan kecepatan China yang juga “bergerak”.

Mungkin Sang Syekh lelah

Double Summit Merbabu – Merapi

Mendaki Merbabu dan Merapi termasuk agenda pendakian gunung akhir tahun Debop. Dilakukan sebelum libur panjang antara Januari sampai Maret di mana biasanya banyak gunung yang ditutup. Rencana ini sudah disusun dari dua bulan yang lalu karena tiket kereta sangat sulit diperoleh saat musim liburan seperti ini. Begitu saya lihat itinenary-nya, gila! Tidak ada agenda buka tenda untuk menginap dan pendakian Merbabu dimulai dari jalur Tekelan, lalu diakhiri di Selo.

Sebenarnya tak ada masalah dengan naik Tekelan dan turun lewat Selo di gunung Merbabu. Bisa dibilang, naik Tekelan lalu turun ke Selo itu adalah jalur yang membelah gunung Merbabu dari sisi Utara ke Selatan. Tetapi standar “santai” pendakian jalur tersebut adalah minimal 2 hari 1 malam dengan rincian sebagai berikut : pendakian dimulai pagi hari, mendaki hingga sore dengan target puncak Pemancar, lalu hari kedua menelusuri punggungan puncak Merbabu sampai ke puncak Kenteng Songo hingga turun via Selo yang perkiraan saya, kalau santai, akan sampai di Selo sekitar sore hari. Sampai siang hari kalau anda sedikit ngotot.

Tapi kali ini berbeda. Dalam itinenary, tidak ada agenda membuka tenda. Jalan terus dan hanya istirahat leyeh-leyeh tanpa membuka tenda. Perjalanan dimulai pukul 20.45 malam dari basecamp Tekelan. Tetapi beberapa hari menjelang keberangkatan, kami tetap membawa tenda karena sudah memasuki musim hujan dan akan sangat berguna jika cuaca memburuk. Niatnya adalah membuat tas seringan mungkin, ujung-ujungnya harus tetap full spec.

24 Desember 2014 (Stasiun Pasar Senen – Solo Jebres – Salatiga – Basecamp Tekelan)

Saya sendiri berangkat dari Jakarta sore hari jam 17.20 dengan menumpang kereta api Majapahit. Karena suatu hal, saya tak dapat bersama Debop yang berangkat tanggal 25 Desember pagi. Setelah berjubel dengan kemacetan sore hari di Jakarta, hampir saja saya ketinggalan kereta karenanya. Saya sampai di Solo Jebres jam 2 pagi. Saat itu jujur, saya bingung mau kemana. Apakah langsung ke Salatiga lalu ke Basecamp Tekelan, atau menunggu hari mulai terang di Solo. Akhirnya saya memilih yang pertama, dan tentu saja sebelum ke terminal Tirtonadi, saya serbu dulu salah satu angkringan di depan stasiun. Hanya 2 buah sate bekicot dan segelas susu jahe.

Dari stasiun saya naik becak ke terminal bis Tirtonadi, lalu menumpang bis patas ke Semarang. Selama perjalanan saya tidur, tiba-tiba terbangun dan pas sekali, saat itu sudah sampai di Terminal Salatiga. Ternyata perjalanan tak sampai 2 jam. Masih setengah 4 pagi. Saya turun di terminal Salatiga, entah apa namanya saya lupa. Di sana sepi sekali. Tidak ada minibus yang mengarah ke Magelang. Ternyata saya salah turun. Pasar Sapi (tempat ngetem-nya minibus ke Magelang) masih sekitar 2 sampai 3 km lagi sehingga saya harus naik ojek.

Sampai di Pasar Sapi, suasana sudah lumayan ramai oleh pedagang dan orang – orang yang berpakaian rapi untuk mengikuti misa Natal. Ada juga beberapa pendaki gunung. Saya sarapan dulu di salah satu angkringan di sana. Hanya sarapan dua lontong dan dua gorengan dengan minum teh manis, cuma Rp3000. Saat itu belum ada minibus yang terlihat. Hingga kira-kira pukul 5 pagi, saya melihat satu minibus mulai ngetem. Rombongan pendaki lain yang sudah menunggu di sana satu per satu mulai naik ke minibus tersebut. Terpikir oleh saya untuk menyelesaikan urusan di kamar mandi terlebih dahulu sebelum menuju ke basecamp tetapi saya urungkan karena saya lebih memilih sampai duluan di basecamp, lalu menyelesaikan urusan tersebut :)

Seperti yang saya duga sebelumnya, minibus tersebut adalah minibus trayek yang sama dengan yang saya tumpangi dari Magelang setahun yang lalu, saat saya mendaki Merbabu via Wekas bersama Alde. Hanya saja, kini saya naik minibus tersebut dari arah sebaliknya.

Diantara Salatiga sampai Kopeng, hari mulai terang. Matahari mulai menampakkan dirinya. Jalanan menanjak dengan dominasi pemandangan Gunung Merbabu, Gunung Andong, dan Gunung Telomoyo. Jalanan terus menanjak. Perlahan- lahan minibus merayap jalanan tersebut. Hingga minibus yang saya tumpangi akhirnya berhenti daerah Kopeng, Kecamatan Getasan. Kopeng sudah terkenal reputasinya sebagai lokasi wisatanya orang Belanda zaman dulu hingga kini sehingga banyak penginapan di sini. Saya jadi teringat dengan Lembang yang berada di utara kota Bandung.

Patokan yang saya buat dari awal untuk turun dari minibus adalah mencari lokasi Air Terjun Umbul Songo, lalu tinggal jalan kaki masuk gang untuk menuju ke basecamp Tekelan. Ternyata tak sesederhana itu. Dari gang beraspal yang mempunyai tulisan arah Air Terjun Umbul Songo, ujung gangnya adalah pendakian jalur Cuntel, bukan Tekelan. Itupun baru saja saya sadari setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki dengan sedikit menanjak lalu bertemu dengan gapura selamat datang. Akhirnya saya putar arah balik kanan. Kembali menuju jalan raya Kopeng. Saya bertanya ke salah satu warga sekitar mengenai cara menuju ke basecamp Tekelan. Ternyata posisi gangnya “lebih bawah” dari jalur Cuntel, patokannya sebuah minimarket.

Setelah turun kembali dengan setengah berlari, saya telusuri jalan raya tersebut. Di sebelah kanan persis setelah minimarket ada gang dan ada papan bertuliskan “Basecamp Tekelan”. Di depan gang juga ada sebuah pangkalan ojek tetapi tak ada satupun tukang ojek di sana. Akhirnya saya jalan kaki. Menurut beberapa catper yang saya baca, jarak tempuhnya kira-kira satu setengah hingga dua jam. Lumayan jauh tetapi saya tak begitu saja langsung putus asa. Lagipula saat itu cuaca cerah dan udara pagi hari sangat segar sehingga kesempatan yang baik untuk menikmati suasana pagi dan pemandangan yang bagus dengan berjalan kaki menuju Tekelan.

Jalan menuju Tekelan ternyata mengitari bukit yang ada hutan pinus di atasnya. Dari sini kita bisa melihat gunung Andong dan Telomoyo di sebelah kiri. Begitu melewati belokan, Gunung Merbabu dapat dilihat dengan jelas jika cuaca sedang tidak berkabut. Bahkan puncak Pemancar pun bisa terlihat dengan mata telanjang walaupun sangat kecil.

Benar saja, dari pinggir jalan raya Kopeng menuju Tekelan itu lumayan jauh. Bahkan saya sudah mengeluarkan trekking pole. Malamnya, saya baru tahu bahwa teman-teman saya yang datang dari Jakarta sore harinya bahkan sudah ada yang mengeluarkan gula merah untuk tambahan energi hanya untuk menuju basecamp Tekelan :)). Mungkin lain kali jika saya kembali ke sini, saya akan memilih untuk naik ojek saja.

Saya sampai di desa Tekelan sekitar pukul 7 pagi lewat. Saat itu benar-benar sepi. Pendaki gunung hanya saya sendiri. Beruntung di tengah jalan saya diberi arah oleh penduduk setempat mengenai rumah yang biasa digunakan sebagai basecamp. Saya lupa bertanya itu rumah bapak siapa (ah dasar orang kota tak tahu sopan santun!). Tekelan ternyata sebuah Dusun (sebelumnya saya kira sebuah desa) yang berada di Desa Batur dan terletak di ketinggian sekitar 1500 mdpl. Saya perkirakan penduduk dusun ini tak sampai 500 orang dan mayoritas bekerja sebagai petani (sesekali sok tahu lah).

Di basecamp saya langsung bongkar sleeping pad dan sleeping bag untuk tidur. Sesekali terbangun karena ada pendaki yang datang satu per satu, kelompok per kelompok. Mereka sedikit berisik saat packing barang. Tak lama kemudian mereka menghilang, mungkin sudah berangkat.

Saya sengaja tidur karena : 1. saya belum tidur secara berkualitas karena malamnya berada di kereta api dan 2. menunggu teman-teman saya yang baru berangkat dari stasiun Pasar Senen pagi itu, diperkirakan mereka sampai di basecamp Tekelan sore hari. Jadi saya manfaatkanlah kesempatan dari pagi sampai sore untuk tidur.

Ketika siang hari, saya perut saya berontak minta jatahnya. Seingat saya, sudah lebih dari 24 jam tak bertemu dengan nasi. Saya datangi salah satu pengurus basecamp untuk memesan makanan. Ternyata saya disuruh langsung mengambil dari suatu meja yang diatasnya sudah ada prasmanan. Wow, ternyata di sini lumayan juga. Sore harinya, ketika saya naik ojek ke bawah untuk membeli sesuatu di minimarket, saya tahu dari tukang ojek bahwa di dusun Tekelan sedang ada acara. Saya lupa nama acara itu apa dan dirayakan dengan membuat masakan enak, lalu sanak keluarga datang saling berkunjung. Acara tersebut mengikut kalender Jawa dan berlangsung selama beberapa hari. Pantas saja, di basecamp sudah ada prasmanan dan beberapa toples kue. Toh akhirnya saya membayar makanan tersebut :)

Rombongan dari Jakarta tiba di Tekelan setelah maghrib, sekitar pukul setengah 7 malam. Ternyata mereka juga berjalan kaki dari jalan raya. Bedanya saya jalan kaki sendirian, mereka jalan kaki berdua puluh. Bagai long march tentara. Ternyata mereka misuh-misuh karena jarak basecampnya jauh haha.

Tim lengkap, Chandra dan Cila tak ikut mendaki Merbabu

Tim lengkap

 Kira – kira pukul 20.45, rombongan kami berangkat. Dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan jumlah personil 20 orang. Pada awalnya kelompok kecil ini untuk mempermudah pengawasan masing – masing orang. Namun pada akhirnya, 20 orang ini terpecah tidak menjadi 4 kelompok, tetapi 3 kelompok besar.

Trek awal dari dusun Tekelan berupa jalan setapak dengan kiri – kanannya perkebunan warga. Tak sampai satu jam kemudian, saya sampai di pos Pending. Di sini ada sebuah shelter dan dua buah keran air. Ternyata di sini tempat terakhir mengambil air. Setelah semuanya tiba di pos Pending, saya yang berada di kelompok 4 (Ada juga Didit, Yudi, dan Erna) melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Trek didominasi oleh tanjakan dengan sesekali bonus karena harus menuruni lembah yang di bawahnya ada sungai kecil mengalir. Ada di suatu tempat kondisi trek longsor sehingga harus memutar ke arah atas terlebih dahulu. Di sebelah kiri, jika ada space terbuka, kita bisa melihat pemandangan malam kota Salatiga.

Kurang lebih satu jam, sampai juga di pos 2 yaitu pos Pereng Putih. Pos ini terletak di suatu tikungan, berupa tanah datar sekitar 5 kali 5 meter, ada juga juga semacam bangunan yang dibuat dari seng. Kami menunggu kelompok belakang sembari leyeh-leyeh di tanah. Ada juga sebuah tenda di sini, saya dengar dengkuran penghuninya.

Tim belakang sampai di Pereng Putih sekitar 10-15 menit kemudian. Kebanyakan dari mereka mengantuk. Maklum saja, mereka berangkat dari Jakarta pagi hari. Dan hari sebelumnya begadang. Tidur di kereta api saat hari terang itu pasti tak berkualitas tidurnya.

Dari Pos Pereng Putih menuju pos ketiga yaitu Pos Gumuk Mentul yang treknya agak lumayan menanjak. Seingat saya sih jaraknya dekat. Hanya melipir di bagian kiri bukit, menyebrangi lembah, lalu berbelok tajam ke kanan, kemudian jalan lurus berupa tanjakan hampir 45 – 60 derajat. Di Pos Gumuk Mentul ada 3 tenda berdiri. Di pos inilah kami agak lama menunggu rombongan belakang. Dengar-dengar sih mereka sempat tidur di pos Pereng Putih. Saya sendiri sih masih on karena seharian tidur di basecamp. Siklus tidur saya sudah terbalik karena saat di kereta malam, saya sedikit tidur, dan mulai tidur di basecamp saat hari siang.

Di pos Gumuk Mentul angin mulai terasa. Jika diam terlalu lama, badan akan terasa dingin. Saya mulai tak sabaran untuk melanjutkan perjalanan. Saat itu kelompok 4 mulai berangkat. Ada juga anggota kelompok lain yang ikut. Jadi total 7 orang berangkat. Tambahannya adalah Fido, Sury, dan Vindy. Dalam perjalanan menuju pos keempat yaitu pos Lempong Sampan, saya berada di depan dan itu sedikit menyebalkan. Ya menyebalkan karena ternyata treknya agak sempit berupa semak-semak. Muka saya beberapa kali harus menghantam sarang laba – laba. Awalnya saya tak yakin apakah jalur ini jalur yang benar atau tidak sampai saya temukan beberapa sampah manusia. Kami teruskan perjalanan dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat.

26 Desember 2014 (Pos 4 – Puncak Merbabu – Selo – New Selo Merapi)

Pos Lempong Sampan yang paling luas jika dibandingkan pos – pos sebelumnya. Di sana tak ada tenda sama sekali. Sesuai obrolan selama di perjalanan, akhirnya kami mengeluarkan kompor untuk makan mie rebus dan membuat minuman hangat. Saya lupa jam berapa saat itu, mungkin sekitar jam 1 atau jam 2 pagi.

Kira – kira jeda setengah jam, datang Oki dan Masdan. Ternyata mereka juga terpisah dari rombongan besar. Mereka bilang sempat nyasar dari pos 3 karena salah jalur. Dan yang nyasar itu semua orang. Walah. Ternyata kelompok besar membuka tenda untuk istirahat di pos 3.

Melihat kondisinya seperti itu, kami bersembilan sempat bingung apakah mau buka tenda di pos 4 atau melanjutkan perjalanan (sesuai itinenary). Saat itu saya inginnya sih jalan terus. Ternyata yang lain juga. Target kami semua bersembilan saat itu adalah puncak Pemancar. Menurut peta kasar di basecamp, puncak Pemancar terletak setelah pos Watu Gubug di mana pos tersebut terletak setelah pos 4. Itulah yang membuat kami semua masih semangat untuk meneruskan perjalanan.

Kira – kira satu jam kemudian, kami semua melanjutkan perjalanan. Saya kembali di depan. Semakin lama, lampu kota semakin jelas terlihat menandakan bahwa vegetasi mulai terbuka. Saat itu bintang – bintang juga dapat dilihat dengan jelas, pertanda cuaca sedang cerah. Hanya saja angin sedikit kencang dan dingin. Setelah satu jam perjalanan, kami sampai di suatu tanah lapang yang tak terlalu luas, tetapi ada satu tenda berdiri di sana. Saya kira itu pos Watu Gubug, ternyata belum.

7 Orang memilih untuk istirahat di sana sedangkan saya dan Masdan, tetap melanjutkan perjalanan. Saat itu sekitar jam 3 lewat. Dari 9 orang, ada 3 tenda dengan rincian 2 tenda isi 2 orang, dan 1 tenda isi 4 orang. 2 Tenda dibuka di tempat itu, dan saya tetap membawa tenda 2 orang. Saat itu saya dan Masdan akan berencana membuka tenda di pos Watu Tulis yang sudah masuk jalur turun via Selo. Puncak Pemancar juga sudah dapat dilihat dengan mata telanjang walau agak sedikit gelap.

Suasana Subuh dari Puncak Pemancar

Suasana Subuh dari Puncak Pemancar

Saya dan Masdan sampai di Puncak Pemancar sekitar pukul setengah 5. Kami berdua makan mie dicampur dengan sarden -saya sebut ini Mie Summit-.

Tenda 7 orang itu

Tenda 7 orang itu

Jalur menuju Kenteng Songo

Jalur menuju Kenteng Songo

Puncak Pemancar

Puncak Pemancar

Jam 6 lewat, kami lanjut jalan. Cuaca saat itu sering berganti-ganti. Kabut – cerah – gerimis – cerah – kabut dan seterusnya. Kali ini treknya mulai menarik karena melewati satu punggungan puncak Merbabu. Puncak Pemancar – Pertigaan Jalur Wekas – Geger Sapi – Pertigaan Puncak Syarif – Puncak Kenteng Songo – Puncak Triangulasi.

Dari pertigaan jalur Wekas menuju pertigaan puncak Syarif yang menurut saya lumayan seru. Mengingatkan saya dengan trek menuju puncak gunung Sumbing. Berbatu, dan sesekali scrambling. Apalagi saat itu kami berdua membawa keril full tank. Sesekali saya melakukan lempar lembing (melempar trekking pole karena ingin scrambling).

Di Puncak Geger Sapi, kami istirahat sebentar untuk ambil nafas dan memberikan istirahat ke dengkul yang sudah hampir 12 jam digunakan.

Sampai di pertigaan menuju Puncak Syarief, kami titipkan keril ke orang yang sedang membereskan tenda di sana. Badan langsung terasa enteng! Tak sampai 15 menit, sampai juga di Puncak Syarief.

Trek menuju puncak Kenteng Songo

Trek menuju puncak Kenteng Songo

Di sana kami hanya menghabiskan cemilan dan berfoto. Setelah itu langsung turun. Di pertigaan saya bertemu pendaki yang juga berangkat dari Tekelan (tapi mulai berangkat pagi hari), dan dia seorang diri saja. Sepertinya mas itu “orang lama” dalam urusan mendaki. Bawaannya santai.

Puncak Syarief yang pertama

Puncak Syarief yang pertama

Kami berdua kembali turun, ambil tas, lanjut jalan, melipir tebing, scrambling lagi dengan pijakan yang tipis, saya melakukan ritual lempar lembing kembali, satu tanjakan terakhir, sampai juga di puncak Kenteng Songo. Saat itu setengah 9 pagi.

Puncak Kenteng Songo

Puncak Kenteng Songo

Hari itu sedikit mengecewakan. Merapi tak kelihatan sama sekali karena kabut yang tebal. Bahkan padang Sabana pun tak terlihat. Memang, Desember bukan bulan yang baik untuk melihat pemandangan. Terakhir saya ke Merbabu adalah via Selo bulan Agustus dan saat itu cuacanya baik sekali. Dari point manapun, anda bisa melihat gagahnya gunung Merapi di arah Selatan. Hanya saja pendakian bulan Agustus itu sangat ramai.

Setelah puncak Kenteng Songo, kita bertiga ke puncak Triangulasi. Di sini malah sepi, tak ada orang sama sekali. Keadaan masih tetap berkabut, Merapi masih tak kelihatan. Di sana hanya mengambil foto, tak sampai 5 menit. Lalu kita bertiga turun.

Turun ke Sabana II, Sabana I, lalu turunan curam menjelang pos Watu Tulis, masih tetap berkabut. Malah ketika sampai di pos Watu Tulis, hujan mulai turun tetapi tidak terlalu deras sehingga saya hanya mengeluarkan payung.

Akhirnya saya sampai di pos Selo sekitar jam 12 siang, lalu istirahat di basecamp pak Bari. Total perjalanan kami kira-kira 15 jam dari Tekelan menuju Selo, tanpa camp sama sekali. Not bad but I won’t do that again! Malam itu juga kami berencana untuk mendaki gunung Merapi, sekali lagi, agar sesuai iten :))

Saya tidur dari siang hingga maghrib. Puas sekali rasanya. Saat saya baru datang siang hari, di basecamp pak Bari hanya ada tiga orang. Kami berdua plus mbak-mbak yang tidur di pojokan sana. Ketika saya bangun, basecamp tiba-tiba penuh dengan orang. Ternyata hari Sabtu, 27 Desember 2014 akan ada acara menanam pohon yang diadakan oleh salah satu organisasi pencinta alam Salatiga. Tak cuma di basecamp pak Bari, di basecamp pak Parman pun keadannya sama, ramai oleh para pendaki.

Setelah membereskan barang dan makan malam di pak Parman, saya dan Masdan berangkat ke New Selo, basecamp pendakian Merapi. Di sana telah menunggu Muji dari Jogja. Sampai di basecamp kira-kira jam setengah 9. Di sana, kami bertiga juga bertemu dengan Chandra dan Cila. Mereka berdua yang tak ikut pendakian Merbabu tetap stick to the plan untuk mendaki Merapi. Akhirnya kami berangkat berlima

10421171_10203619409630177_874493349596215132_n

Dari pos perizinan, kami harus berjalan kaki terlebih dahulu melewati jalan beraspal hingga suatu tempat yang ada papan raksasa bertuliskan New Selo. Saya kira perizinan dilakukan di sana, ternyata tidak. Karena trek langsung menanjak, kami istirahat sebentar di New Selo. Saat itu cuaca sedikit gerimis berkabut dan angin lumayan kencang. Bahkan jarak pandang pun cuma beberapa belas meter saja.

Seingat saya kita berlima mulai berangkat sekitar pukul setengah 11 malam. Saya di depan dan Masdan jadi sweeper. Jarak pandang pendek sekali karena kabut masih tebal. Treknya menanjak terus melewati perkebunan warga. Di awal-awal treknya berupa jalan cor-coran semen tetapi ada sedikit undakan tangganya sehingga tak terlalu licin. Selepas jalan semen tersebut, baru jalan setapak tanah. Di sebelah kiri jalan entah sepertinya terdapat jurang di sana dan di beberapa tempat, jalur yang kami lewati rawan longsor karena tanahnya retak besar. Sesekali saya bergantian dengan Chandra di depan karena staminanya lebih oke.

Kurang lebih satu jam, kami melewati suatu gapura selamat datang. Di sini angin bertiup kencang disertai dengan gerimis. Saat itu ada satu tenda dan di kejauhan saya melihat ada rombongan lain yang sedang berangkat. Saya kira itu pos 1, ternyata pos 1 masih jauh di atas sana.

Hingga di suatu tanjakan yang berbelok, tahu-tahu suasana ramai. Banyak orang di sana, mungkin sekitar 8-10 orang. Jadilah kami mendaki beramai-ramai. Treknya mirip seperti Cikuray, terus menanjak tanpa bonus.

Pos 1 hanya berupa pos beratap. Tapi di sana ada yang mendirikan tenda. Kami hanya duduk sebentar lalu lanjut jalan. Hingga kira-kira jam setengah 3 pagi, kami sampai di suatu tempat yang lumayan terbuka. Angin sangat kencang. Di sana sudah ada beberapa tenda berdiri yang miring karena ditiup angin. Kabut pun juga tebal. Saya di depan untuk mencari jalan, tetapi hanya batu-batu besar saja. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat tenda di situ setelah kami bertanya ke salah satu pendaki yang di dalam tenda. Ia mengatakan bahwa Pasar Bubrah sudah dekat, hanya satu bukit lagi.

Kami berlima hanya membawa tenda kapasitas 4 orang. Jadi tidurnya ya sedikit berdesakan

Saya langsung ganti baju, hanya ganti dengan jaket lalu ganti celana. Kemudian tidur. Saat itu benar-benar tidak minat untuk makan karena sudah terlalu lelah dan mengantuk.

27 Desember 2014 (Puncak Merapi)

Saya bangun kira-kira jam 5 lewat. Sehingga matahari sudah sedikit tinggi. Ketika saya keluar tenda, wuih. Pemandangannya bagus sekali meski sedikit berkabut. Angin hanya sepoi-sepoi. Di arah Timur, saya bisa melihat Lawu. Sedangkan di Utara ada Merbabu yang kakinya diselimuti kabut. Puncak Merapi pun tertutup kabut tetapi Pasar Bubrah bisa dilihat dengan jelas

Matahari dan Lawu

Matahari dan Lawu

Merbabu

Merbabu (Muka bantal :p)

Berangkat ke Pasar Bubrah

Berangkat ke Pasar Bubrah

Pasar Bubrah

Berada di Pasar Bubrah

Pagi itu kami semua berangkat menuju puncak Merapi. Ke Pasar Bubrah ternyata sebentar, hanya sekitar setengah jam kurang. Setelah itu naik lewat trek pasir. Pasirnya mirip seperti Mahameru, cuma masih kalah curam dan kalah tinggi :p. Saya keluarkan jurus andalan berupa jalan zig-zag agar tidak terlalu lelah. Masdan sudah jauh di depan, bahkan tidak kelihatan karena tertutup kabut. Saya jalan sendiri. Saya juga melihat Muji juga jalan sendiri di belakang. Sedangkan Chandra dan Cila jalan berdua dibelakangnya Muji (saya kenali dari warna jaketnya). Kira-kira satu jam kemudian, saya sampai di Puncak Merapi! Dan isinya hanya kabut tebal dan angin.

Tak sampai sejam, datanglah Muji. Lalu disusul Chandra dan Cila.

Nongkrong di Puncak Merapi

Nongkrong di Puncak Merapi

Full team!

Full team! (Walaupun tak semua anggota Debop jadi ke Merapi, kami bawakan slayernya)

Agak lama berada di atas karena berharap kabut hilang. Tapi ya begitulah, kabut tak kunjung hilang dan Masdan, saya, dan Muji ingin segera lanjut ke Lawu hari itu juga. Sehingga target sampai di New Selo maksimal siang hari.

Oleh karena itu, kami berlima sepakat bahwa Masdan, saya dan Muji turun duluan kembali ke tenda, lalu packing untuk mengejar gunung selanjutnya yaitu Lawu. Chandra dan Cila memilih turun dengan santai. Saya lupa turun jam berapa dan saat itu turunnya agak terburu-buru. Hingga sesudah melewati pos 1, menjelang pos gapura, lutut saya nyeri sekali. Akhirnya dengkul ini minta istirahat. Alhasil, saya turun ke New Selo dengan lambat dan sampai di bawah sekitar jam 12 siang.

Di sinilah perjalanan saya berakhir. Saya tak jadi ikut ke Lawu.

Mobil carteran sudah tiba di New Selo untuk mengantar rombongan Lawu. Saya ikut mobil tersebut dan turun di Polsek Selo. Akhirnya saya bertukar dengan Oki yang ikut ke Lawu. Dapat kabar bahwa rombongan Merbabu yang tujuh orang di belakang sudah tiba di basecamp Selo. Tetapi tim yang paling belakang belum ada kabar. Karena tak ikut ke Lawu, saya kembali ke basecamp Selo Merbabu dengan menumpang ojek.

Sampai di pos pak Bari, ternyata rombongan belakang baru sampai. Bagusnya adalah tidak ada yang cidera dan semuanya bisa tertawa riang gembira. Tidak seperti pendakian Ceremai yang menyedihkan itu :))

Dengkul saya cuma mampu 2 gunung, Merbabu dan Merapi. Dari rombongan kemarin, hanya Masdan saja yang mampu mendaki 3 gunung secara estafet karena dengkulnya memang double gardan cap dewa. Jadi saya masih punya hutang ke Lawu

Wrong Number #1

A : “Lihatlah bencana alam itu, orang yang bermaksiat akan dihukum oleh Tuhan lewat bencana alam”

B : “Mengapa Tuhan tak menghukum Las Vegas yang setiap malamnya penuh dengan perjudian dan seks bebas?”

A : “Itu namanya istiradj, Tuhan menunda hukumannya dengan membiarkan orang-orang itu dengan maksiatnya. Nanti akan tiba saatnya untuk dihukum”

B : “Kalau begitu, pendapat anda itu selalu benar”

A : “Kok bisa?”

B : “Jadi begini, kemungkinannya ada empat sebagai berikut :

1. Manusia berbuat baik, tak dihukum lewat bencana alam. Ini normal

2. Manusia berbuat baik yang terkena bencana alam. Anda bilang ini cobaan

3. Manusia berbuat buruk terkena bencana alam. Anda bilang ini hukuman

4. Manusia berbuat buruk tidak terkena bencana alam. Anda bilang ini istiradj

Jadi apapun ‘motif’ dibalik bencana dan kondisi manusianya, pendapat anda selalu benar”

Lingkar Tanah Lingkar Air

Setelah Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, Kubah, Orang – Orang Proyek, Mata yang Enak Dipandang dan Di Kaki Bukit Cibalak, kali ini saya membaca Lingkar Tanah dan Lingkar Air.

Saya membeli buku ini dari seorang penjual buku bekas di Facebook. Keadaan bukunya sedikit menyebalkan karena beberapa halaman terlepas, bahkan ada 2 halaman blank di dalamnya (kalau yang ini jelas salah dari percetakan). Terbitan LKiS tahun 1999. Beruntung sekali saya bisa membelinya pada Mei 2013. Saya baru membacanya sekarang karena sejak dibeli hingga sekarang, buku itu teronggok di tumpukan kertas bekas di meja kerja saya :|. Terlupakan

Buku ini mengisahkan Amid, seorang penduduk desa di suatu perkampungan yang terletak di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah. Kampung yang tadinya damai, kini mulai mencekam karena Belanda dikabarkan akan datang. Kiai Ngumar, seorang imam masjid mendapatkan kabar bahwa para Ulama telah berkumpul. Hadratus Syaikh berfatwa bahwa berperang melawan Belanda adalah jalan jihad karena melawan kemungkaran. Seketika pemuda di kampung tersebut bersemangat untuk melawan Belanda. Dengan modal satu senapan, Amid, Kiram, Jun, dan Kang Suyud membentuk kelompok paramiliter dengan nama Hizbullah, tentara Allah.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, terjadi gejolak politik di seluruh Indonesia. Salah satunya, Kartosuwiryo yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam. Kiai Ngumar menyarankan mereka kembali ke kehidupan normal atau mendaftar menjadi tentara republik karena Belanda telah pergi. Sayang, ditengah usaha menjadi tentara republik, terjadi cekcok antara tentara Republik dengan mantan tentara Hizbullah di suatu stasiun yang membuat tentara Hizbullah merasa dikhianati lalu bergabung dengan Darul Islam. Lagipula, Kang Suyud tak mau ikut dengan tentara Republik karena di dalamnya ada orang komunis yang tak pernah sholat.

Secara garis besar, itulah cerita Lingkar Tanah Lingkar Air. Dari buku ini saya baru tahu clash antara tentara Republik vs Darul Islam. Serta tentara Republik dan mantan Darul Islam yang sama-sama memburu PKI ketika terjadi peristiwa tahun 1965. Point of view Ahmad Tohari terhadap PKI di buku sama dengan Kubah.

Selain itu yang sedikit bikin saya kaget, ternyata ketika gerakan Darul Islam sedang gencar-gencarnya, beredar suatu label “kiai pro republik” alias “kiai republiken”. Mereka adalah kiai – kiai yang tak mendukung gerakan atau konsep negara Islam dengan Kartosuwiryo sebagai khalifahnya. Hal ini tampak dari dialog Kiai Ngumar dan Kang Suyud. Kiai Ngumar sami’na wa atho’na dengan Hadratus Syaikh yang mengatakan bahwa pemerintahan Sukarno – Hatta sah. Sedangkan Kang Suyud bersikeras bahwa Negara Islam Indonesia lah yang harus didukung karena berlandaskan syariat Islam. Sampai – sampai Kang Suyud memberikan suatu pertanyaan yang membuat Kiai Ngumar sedikit bersedih, “pilih Islam atau Republik?”

Sayangnya buku ini sulit dicari sekarang. Saya beruntung bisa mendapatkannya :)

Tohari, Ahmad. 1999. Lingkar Tanah Lingkar Air. Yogyakarta: LKiS

Mahameru: Solo Karir Grasak Grusuk

Sejak booming film 5 cm (yang saya sendiri belum pernah menonton film dan membaca bukunya), Semeru menjadi ramai sekali. Entah apa isi film/buku tersebut sehingga membuat orang-orang ingin ke sana. Saya sendiri sudah hobi hiking beberapa tahun sebelum film tersebut dirilis. Pengalaman pertama saya adalah hiking ke Tangkuban Perahu via Parongpong. Itupun turun dengan menggunakan angkot Lembang – St Hall dan ketika sampai di kawah bisa makan siomay bersama wisatawan yang ada di sana.

Setelah itu, saya mulai naik gunung “beneran” walau itu hanya yang dekat-dekat Bandung saja seperti Burangrang dan Papandayan. Tahun pertama saya naik gunung belum ada niat sekalipun untuk ke Semeru. Entah karena merasa fisik belum mampu, atau kadang juga merasa saya masih kurang jam terbang untuk mendaki ke Mahameru.

Setelah beberapa gunung, akhirnya saat-saat mendaki Mahameru telah tiba. Saya sudah pesan tiket pesawat PP sejak bulan Oktober lalu. Rencananya adalah berangkat Jumat 5 Desember 2014, pulang 8 Desember 2014, dengan mulai mendaki pada hari Sabtu. Berikut cerita perjalanannya

Jumat, 5 Desember 2014. Jakarta – Malang – Tumpang

Kamis saya ambil lembur karena saya akan tidak hadir di kantor selama 2 hari kerja sehingga harus menyelesaikan semua pekerjaan yang tersisa. Saya berangkat dari kos sekitar jam 8 pagi ke Soekarno-Hatta untuk ke Malang dengan menggunakan Sriwijaya Air yang berangkat pukul 11.00. Saat itu keril yang saya bawa hanya Deuter Act Lite 40+10 berisi perlengkapan mulai dari tenda, sleeping bag, kompor, trangia, dll kecuali air minum dan logistik (termasuk tabung gas). Tas masuk bagasi dan timbangannya menunjukkan angka 12 kg. Lumayan ringan

Beruntung pesawat tidak delay. Saya sampai di Abdurrahman Saleh sekitar pukul setengah 1 siang. Sebenarnya saat itu sedikit bingung dengan bandara tersebut. Bandaranya mengingatkan saya dengan bandara H.Asan di Sampit. Hanya berupa bangunan mungil. Bahkan WC nya pun seadanya. Transportasi umum dari Bandara hanyalah taksi Avanza dengan ongkos yang lumayan “aneh”. Jadi kalau pesan taksi, cukup lihat tabel tarif yang dibagi per zona. Tujuan saya saat itu adalah Pasar Tumpang yang kena ongkos 100ribu. Menurut saya cukup mahal karena jarak Abdurrahman Saleh ke Pasar Tumpang relatif dekat, mungkin sekitar 15 km.

Sampai di Pasar Tumpang setengah 2 siang. Cuaca hujan sedang, kalau kata orang “hujan awet” karena langit agak gelap. Saya minta berhenti di alfamart untuk membeli gas dan logistik sampai hari Senin nanti. Setelah itu saya jalan kaki menuju kantor Perhutani yang tak sampai 100 meter dari alfamart. Di sebelahnya ada semacam basecamp dan beberapa jeep parkir. Saat itu saya sendirian, belum kelihatan rombongan pendaki Semeru. Tapi saya yakin bahwa nanti ada pendaki lain yang juga mau ke Ranu Pani dan saya bisa share cost jeep nya :)

Sore sekitar jam 4, datang belasan pendaki dari Jakarta. Rupanya mereka naik kereta api. Saya coba untuk ikut rombongan mereka ke Ranu Pani tetapi mereka tak mau. Sudah penuh katanya. Ya sudahlah, saya tunggu lagi. Toh pendaftaran di Ranu Pani terakhir jam 4 sore, berangkat sekarang maupun nanti malam sama saja karena akan mulai mendaki besok paginya.

Ranu Pani

Ranu Pani

Akhirnya datang 2 orang pendaki. Ternyata orang Jakarta yang sedang ada tugas di Pasuruan. Salah satunya yang saya ingat namanya mas Prabandoko (lihat dari fotokopi KTP beliau ketika mau daftar Simaksi bareng). Satunya lagi saya lupa namanya (maaf ya mas kalau anda baca tulisan ini :| ). Beberapa jam kemudian, datang lagi dua orang pendaki orang Riau-Batam. Saya ingat namanya kalau tak salah mas Bobi dan Andika. Kini kami berlima. Kemudian datang lagi 4 orang, 2 pria dan 2 wanita ke pos Tumpang dengan membawa sepeda motor. Mereka mahasiswa ITN. Saya tak sempat berkenalan.

Jam 11 malam, kami bersembilan berangkat ke Ranu Pani. Ongkos Jeep nya per orang Rp70.000 dan sampai di Ranu Pani jam 1 malam.

Sabtu, 6 Desember 2014. Tumpang – Ranu Pani – Ranu Kumbolo

Jalur ke Ranu Pani di luar perkiraan saya. Saya kira jalan menuju Ranu Pani seperti Cisurupan – Camp David sebelum diaspal. Jalanan relatif mulus, berkelok-kelok tetapi banyak jurang di sisinya.Sayang waktu itu tengah malam jadi saya hanya bisa melihat lembah gunung Bromo yang indah itu. Di Ranu Pani saya tidur di dalam mushola yang sebenarnya tak boleh tidur disitu hanya saja kami semua tak melihat tulisan larangan tidur di mushola.

Saya bangun sekitar jam 5 pagi. Hari sudah mulai terang, udara lumayan dingin. Saya buat kopi dan hisap roko sebatang. Setelah pos pendaftaran buka, kami berlima mengurus Simaksi untuk 3 hari. Biaya Simaksi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada hari kerja Rp17.500/hari, sedangkan untuk hari libur Rp22.500/hari. Sehingga total yang saya bayar saat itu Rp52.500 karena saya berencana turun pada hari Senin.

Kami berlima sarapan terlebih dahulu. Jam 8 lewat, kami mulai hikingnya. Trek awal masih aspal karena masih jalan desa. Setelah gerbang “Selamat Datang”, trek berbelok ke kiri. Ada tanjakan panjang yang bisa jadi tempat pemanasan. Saya sempat kaget, tanjakan yang ‘menantang’ hanya di awal saja. Setelah itu treknya landai (bahkan bisa dibilang datar). Jalan setapak dibuat dengan paving block. Setengah jam kemudian, kami sampai di papan bertuliskan Landengan Dowo. Foto – foto sebentar, lanjut jalan hingga sampai di pos 1. Ada dua bapak-bapak penjual gorengan dan semangka di pos itu. Harganya Rp5.000 per dua buah. Per item (gorengan maupun semangkanya) harganya Rp2.500. Lumayan mahal memang. Tapi di ketinggian dan di hutan seperti ini, memang tak ada pilihan kalau anda memang ingin makan semangka. Kata bapak penjual semangka itu, Ranu Kumbolo masih 3 jam lagi. Berarti masih jauh.

Landengan Dowo

Pos 2 tak jauh dari Pos 1. Mungkin sekitar setengah jam. Di pos 2 juga ada pedagang. Setelah pos 2, kami melewati papan bertuliskan Watu Rejeng. Entah artinya apa. Tetapi di sini pemandangannya bagus. Ada tebing batu vertikal di kejauhan. Hutannya juga lebih lebat jika dibandingkan dengan hutan dari Ranu Pani ke Pos 2 yang didominasi oleh semak-semak. Setelah papan itu, kami sampai di Pos 3. Disini hari mulai hujan. Mungkin setengah jam kita semua berteduh di Pos 3.

Watu Rejeng

Watu Rejeng

Saya sendiri malas mengeluarkan ponco sehingga hanya menggunakan jaket waterproof saja. Menurut saya saat itu hujannya adalah hujan karena kabut sehingga kadang hujan kadang berhenti. Begitulah cuacanya hingga kami sampai di Ranu Kumbolo pukul setengah 2 siang. Saat itu hari benar-benar mendung. Ketika baru sampai, hujan “betulan” turun disertai petir. Alhasil target saya untuk naik sampai Kalimati hari itu terpaksa dibatalkan.

Ranu Kumbolo hujan gerimis

Ranu Kumbolo hujan gerimis

Hujan deras

Hujan

Kami berlima membuat tenda di shelter Ranu Kumbolo, lalu menggotong tenda itu ke pinggiran danau. Ternyata cara ini diikuti oleh pendaki lainnya. Mendirikan tenda ditengah hujan itu merepotkan, apalagi jika tenda yang anda miliki adalah tenda yang dirakit innernya terlebih dahulu.

Itten hari pertama jelas diluar target karena yang tadinya berencana camp di Kalimati kini menjadi camp di Ranu Kumbolo. Agar dapat tetap ke Mahameru dan pulang hari Senin berikut skenario waktu itu terpikirkan oleh saya :

  1. Mendaki ke Mahameru hari Minggu dengan cara camp terlebih dahulu di Kalimati. Hal ini berarti pada hari Senin, saya harus turun dari Kalimati ke Ranu Pani untuk mengejar pesawat Senin jam 11 malam.
  2. Mendaki ke Mahameru hari Sabtu dini hari dari Ranu Kumbolo. Sehingga pada hari Minggu, saya tak perlu ke Kalimati dan tetap camp di Ranu Kumbolo
  3. Tidak ke Mahameru sama sekali. Ini skenario terburuk. Tentu akan banyak penyesalan nanti

Melihat pilihan di atas, saya baru sadar bahwa pendakian ke Mahameru yang normal adalah 4 hari 3 malam dengan dua malam camp di Ranu Kumbolo saat pergi dan pulang, serta satu malam camp di Kalimati sebelum summit attack. Jika saya memilih opsi 2 (di mana hal tsb adalah rencana empat teman baru saya juga), perjalanan turun saya akan semakin jauh dan waktu tempuhnya juga semakin lama. Hal ini akan berakibat ke kemungkinan tertinggal pesawat cukup besar. Opsi 3, maaf saya tak datang ke TNBTS untuk sekedar camp di Ranu Kumbolo. Oleh karena itu akhirnya saya memilih opsi 1. Menurut info dari seorang porter jika ingin summit attack dari Ranu Kumbolo, maksimal berangkat pukul 11 malam. Okelah, saat itu saya setel alarm pukul 11 malam.

Hujan turun hingga malam hari. Saya pun masak mie rebus di dalam tenda dan mencoba tidur dan berharap jam 11 malam nanti cuaca cerah. Akhirnya alarm berbunyi pukul 11 malam. Saya masih ogah-ogahan bangun dan swipe layar untuk snooze the alarm. Akhirnya benar-benar bangun jam setengah 12 malam. Telat 30 menit. Segera saya keluar tenda, udara malam memang dingin tetapi cuaca sangat cerah. Bahkan bulan bersinar dengan terang (saat itu sedang bulan purnama). Dengan semangat, saya ambil daypack dengan memasukkan sebuah jaket, air minum 900ml, kompor, roti, mini trangia, mie rebus, biskuit, dan cemilan lainnya.

Ranu Kumbolo dan Bulan Purnama

Ranu Kumbolo dan Bulan Purnama

Saya lihat keluar, tidak terlihat satupun pendaki dari Ranu Kumbolo yang ingin summit. Berarti saya akan jalan malam sendirian ke Mahameru. Okay, ini pengalaman pertama saya jalan malam sendirian di gunung.

Berbekal OruxMaps dan pita merah putih serta secuil percaya diri, saya mulai summit ke Mahameru solo. Target awal adalah saya jalan sampai Kalimati, lalu dari sana mencari orang yang juga ingin naik ke Mahameru.

Trek pertama adalah Tanjakan Cinta. Saya anggap pemanasan. Setelah Tanjakan Cinta, melewati Oro-oro Ombo. Di sinilah batin saya mulai “berkelahi” karena saat mulai melipir menuruni bukit ke Oro-oro Ombo, ada suara hati yang mengatakan “Udah Ga, balik aja lagi ke Ranu Kumbolo lalu tidur di tenda, lebih aman dan nyaman“. Sekarang atau tidak sama sekali, akhirnya saya lanjut jalan.

Sebenarnya malam itu tidak terlalu gelap karena sedang bulan purnama. Saya bisa melihat lebih jauh walau tanpa headlamp (walaupun saat itu saya memakai senter tangan plus headlamp). Tak sampai 20 menit, saya sampai di Cemoro Kandang. Setelah lewat papan Cemoro Kandang, trek mulai menanjak untuk menaiki bukit Jambangan. Tetapi tanjakannya masih landai. Hutan di antara pos Cemoro Kandang – Jambangan sepertinya baru-baru ini pernah kebakaran. Bayangkan saja sebuah hutan pinus dengan formasi pohon yang jarang-jarang. Itulah yang saya lewati malah itu. Suasana hening sekali sampai saya bisa mendengar detak jantung saya sendiri. Sesekali angin bertiup dan suara gesekannya dengan pohon pinus cukup bikin saya merinding.

Setelah Pos Jambangan, mulai masuk hutan terbuka lagi seperti Oro-oro Ombo. Sesekali melewati “terowongan” dan juga sesekali saya mencium bau tidak enak. Saya tak mau berpikiran aneh-aneh saat itu, mungkin itu sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki lalu membusuk. Ketika dekat dengan Kalimati, saya kaget ada suara kresek di samping kiri saya, ternyata seekor burung terbang yang mungkin kaget dengan kehadiran saya.

Minggu 7 Desember 2014, Kalimati – Mahameru – Ranu Kumbolo

Jam setengah 2 malam saya sampai di pos Kalimati. Saya cari bangunan kecil yang biasa ada di catper-catper Semeru. Rupanya di sekitar bangunan tersebut, sudah ada beberapa tenda. Mungkin sekitar 6 atau 7 tenda. Tapi semuanya sepi dan hening. Saya juga lihat kerlap-kerlip lampu sedang jalan ke Mahameru. Mungkin mereka para pendaki yang camp di Kalimati. Berarti mereka sudah berangkat duluan dan saya telat sampai Kalimati.

Saya istirahat sebentar, ambil minum, lalu lanjut berangkat ke Mahameru. Awalnya agak sulit dan bingung mencari jalan yang benar. Tetapi saya telusuri semak-semak mulai dari sekitar tenda para pendaki lalu ke arah kanannya, saya temukan papan petunjuk menuju puncak Semeru. Trek awal berupa semak-semak dan hutan pinus dan menanjak terus. Tanjakannya mirip dengan gunung Cikuray atau Ceremai. Tak sampai satu jam, saya sampai di Kelik, yaitu merupakan batas vegetasi terakhir sebelum ke Mahameru.

Di sini ada patokan berupa pohon pinus besar yang ada bendera merah putihnya. Saya ingat persis ketika turun dan ini sangat membantu karena setelah batas itu, kita bisa bebas lewat ke mana saja untuk pulang-pergi ke Mahameru lewat jalur pasirnya. Dulu ada yang disebut Cemoro Tunggal, yaitu pohon cemara yang berdiri sendirian di jalur pasir Mahameru yang dijadikan patokan para pendaki ketika naik dan turun agar tak menuju ke Blank 75

Salah satu view ketika naik ke Mahameru

Salah satu view ketika naik ke Mahameru, sekitar pukul 5 pagi

Akhirnya setelah agak susah payah naik-merosot-naik-merosot-naik-merosot-istirahat-naik-merosot dan seterusnya, jam 6.25 pagi saya sampai di Mahameru. Entah reflek atau bagaimana, saya cium bendera merah putih yang ada di sana. Di Mahameru cuma ada 3 orang, saya sendiri dan dua orang pendaki yang berasal dari Malang. Sisanya sekitar 7-8 orang yang camp di Kalimati sudah turun terlebih dahulu. Di atas sana awalnya sedikit berkabut. Kawah Jonggring Saloko masih saja mengeluarkan asapnya dan sesekali terdengar bunyi ledakan. Agak seram juga. Saya takut kalau ada batu-batu vulkanik mengarah ke tempat saya berdiri.

Merah Putih di Mahameru

Merah Putih di Mahameru

Beruntung ada dua orang lainnya jadi saya bisa minta tolong untuk difoto hehe. Begitu juga mereka berdua, bisa saya foto. Bergantian saling foto-foto, kira-kira jam 7 pagi, kami bertiga langsung turun.

IMG_20141207_064501

Pose “wajib” saya, Live Long and Prosper

IMG_20141207_064400

Sebenarnya ini sedikit cemas dengan ledakannya

IMG_20141207_063104

Mahameru, seperti di planet lain

Perjalanan turun jauh lebih seru ketimbang naik. Jika saat naik saya harus naik-merosot-naik-merosot lagi, ketika turun pun begitu, turun-merosot-turun-merosot sehingga perjalanan menjadi lebih cepat. Sampai di Kelik hanya setengah jam saja (bandingkan ketika saya naik dari Kelik ke Mahameru, butuh 2 jam lebih!).

Salah satu tempat di perbatasan vegetasi

Salah satu tempat di perbatasan vegetasi

Saya izin ke dua orang tersebut untuk turun duluan (karena tujuan saya kembali ke Ranu Kumbolo sedangkan mereka ke Kalimati). Saya tak ingin terjebak panas terik siang hari di sekitar Oro-oro Ombo! Sampai di Kalimati sekitar setengah 9 pagi.

IMG_20141207_084741

Mahameru (maaf sedikit over exposure)

IMG_20141207_083910

Kalimati dan langit birunya

 

Di Kalimati saya istirahat sebentar, mengambil foto Mahameru. Saat itu cuaca cerah sekali, langit berwarna biru seperti wallpaper Windows XP “Bliss” itu. Air yang saya bawa tinggal sedikit. Jadi saya harus jalan terus menuju Ranu Kumbolo sebelum saya kehausan. Kalimati – Jambangan treknya lumayan datar, jadi saya bisa sedikit jalan-cepat. Suara burung-burung merdu sekali. Jalan sendirian di tengah hutan memang sangat menyenangkan!

Jambangan

Jambangan

Perjalanan Jambangan – Cemoro Kandang sesekali melewati tanjakan. Akhirnya saya bisa lihat hutan pinus yang malamnya saya anggap sedikit seram itu di pagi menjelang siang. Benar, sepertinya hutan pinus ini pernah terbakar kurang lebih sebulan atau dua bulan yang lalu. Banyak pohon pinus yang roboh.

Oro - Oro Ombo dari Cemoro Kandang

Oro – Oro Ombo dari Cemoro Kandang

Sesampainya di Cemoro Kandang, saya istirahat sebentar, menghabiskan air minum yang tersisa karena Ranu Kumbolo sudah dekat. Saat itu sudah jam 10 lebih dan matahari sudah mulai terik memancarkan panasnya. Kata Masdan, di Cemoro Kandang ini biasanya ada juga penjual semangka tetapi saat itu tidak ada orang sama sekali.

Saya lanjutkan perjalanan melewati Oro-Oro Ombo, rupanya jalur di tengah padang “lavender” yang mengering ini bercabang dua. Satu ke kiri satu lagi ke kanan tetapi menuju arah yang sama yaitu Ranu Kumbolo. Perbedaannya adalah jalur ke kiri nantinya langsung menanjak dan jalur kanan melipir melintasi sisi bukit tetapi lebih landai. Saya pilih jalur kanan karena masih banyak pepohonan di bukit yang akan dilewati nanti. Saya tak mau mengulang kejadian gosongnya kulit kedua tangan saya karena berpanas-panasan di gunung Sumbing dua minggu yang lalu.

Ranu Kumbolo, Minggu pagi

Ranu Kumbolo, Minggu pagi

Pukul setengah 11 saya sampai di Ranu Kumbolo. Saat itu banyak pendaki sedang packing. Entah ada yang turun, atau ada yang melanjutkan naik ke Kalimati. 4 orang teman baru saya melanjutkan perjalanan ke Kalimati. Saya akan menghabiskan waktu seharian di Ranu Kumbolo saja. Salah satu dari mereka menitipkan satu tasnya agar perjalanan lebih ringan dan cepat. Karena pesawat saya jam 11 malam, jadi masih sempat jika turun dari Ranu Kumbolo jam 12 siang. Mereka bilang akan sampai di Ranu Kumbolo sebelum jam 12 siang. Jika lewat dari itu, mereka bilang tasnya dititipkan saja.

Saya menghabiskan sore dengan tidur di dalam tenda. Kira-kira jam 7 malam, saya terbangun karena suara berisik dari shelter. Setelah saya cek, ternyata ada rombongan ABG Australia, sekitar 8-9 orang yang rupanya sedang bermain apa itu saya tidak tahu. Mereka baru naik dari Ranu Pani siang hari tadi, dengan tujuan Mahameru tetapi dengan jumlah hari “normal” yaitu 4 hari. Begitu kata guide mereka.

Senin 8 Desember 2014, Ranu Kumbolo – Ranu Pani – Malang – Surabaya

Saya bangun pukul 5 pagi (di mana hari sudah terang), sarapan, ngeroko  lagi. Jam 8 pagi saya packing dan beberes tenda. Baju yang basah mulai dijemur. Saya habiskan pagi dengan beres-beres tenda dan packing. Sejak jam 10 saya menunggu 4 teman baru saya yang katanya mau ke Mahameru lalu turun dari Kalimati. Saat saya packing, saya cek kembali print out tiket pesawat untuk pulang, ternyata saya salah baca, pesawat berangkat bukan jam 11 malam tetapi jam 10, lebih awal satu jam dari yang saya duga. Belum lagi ada aturan 45 menit sebelum keberangkatan adalah batas terakhir check-in dan bagasi. Untuk amannya, jam 9 malam saya harus sudah sampai di bandara Juanda Surabaya.

Saya tetap menunggu 4 orang yang akan turun dari Kalimati. Saya pikir-pikir agak sulit juga. Saya sendiri jalan sendirian tanpa membawa keril, sampai di Ranu Kumbolo jam setengah 11. Apalagi mereka yang jalan berempat, dengan tiga orang membawa keril. Belum lagi ditambah packing ketika di Kalimati. Akhirnya saya tunggu sampai jam 11 mereka belum juga datang. Tas saya titipkan ke satu tenda rombongan 4 orang dari Malang yang hari Sabtu lalu satu jeep dengan mereka. 4 Orang tersebut ternyata akan turun besok hari dan masih menghabiskan satu hari di Ranu Kumbolo (berarti mereka camp di Ranu Kumbolo 3 malam!). Beruntung mereka mengenal 4 orang yang saya maksud dan mau dititipkan tasnya.

IMG_20141208_111701

Ranu Kumbolo senin pagi yang sudah sepi, hanya ada satu tenda di sana

Jam 11 pagi tepat saya mulai turun. Target saya turun ke Ranu Pani 3 jam dengan jalan cepat. Di tengah jalan, saya bertemu rombongan 6 orang yang berasal dari Malang. Pada awalnya saya jalan bersama mereka. Hanya saja mereka jalan terlalu santai, jadi saya jalan duluan. 2 orang dari mereka rupanya bisa “mengikuti” saya. Saya hanya berhenti di Pos 3 dan Pos 1 untuk makan semangka. Jam 2 siang saya sudah sampai di Ranu Pani.

Di Ranu Pani sudah ada 7 pendaki yang sedang menunggu transportasi menuju Tumpang. Ditambah saya dan dua orang, menjadi 10 orang. Pemilik truk ingin menunggu 4 orang yang di belakang (teman si dua orang ini) baru berangkat. Okelah, mungkin 4 orang tersebut tak terlalu jauh.

Jam 3 sore, ada dua orang turun tetapi bukan dari 4 orang yang dimaksud

Jam 4 sore, mereka belum sampai

Jam 5 sore, mereka juga belum sampai

Sepertinya saya salah perkiraan, kalau tahu bakal begitu, saya sudah naik ojek dari jam 2 lalu. Tak mau lagi berspekulasi, saya naik ojek. Saat itu perjanjiannya Rp150.000,- Mahal memang, tetapi masih lebih baik ketimbang saya harus ketinggalan pesawat hanya karena menunggu 4 orang tersebut.

Di tengah jalan, ojek yang saya tumpangi mogok. Posisi mogoknya menjelang desa Ngadas. Masih jauh. Motor tak bisa menyala. Mas yang punya motor akhirnya menyerah, dia minta tolong ke remaja yang kebetulan ada di sana. Remaja itu ada 4 orang, dua motor. Anak kota Malang dan kebetulan mau pulang. Saat itu sudah jam setengah 6 lewat. Sudah mogok, mas yang punya motor tetap menagih saya Rp100.000 pula. Hadeuh. Dengan sangat tak ikhlas saya beri saja Rp100.000 yang dia mau itu

Perjalanan saya dilanjut dengan bonceng bertiga bersama remaja2 tersebut. Tas dibawa oleh 2 orang lainnya. Kalau teman-teman biasa melihat ABG ngebut2 bonceng bertiga tanpa helm di jalan-jalan, seperti itulah saya kemarin. Yang menyetir motor yang saya tumpangi namanya Ariq. Sampai saat ini saya masih saling Whatsapp dengan dia. Ariq berhasil mengantar saya ke terminal bis Arjosari dan sampai jam 7 malam. Terima kasih mas! Tak lupa saya berikan “uang bensin” ke mas Ariq.

Mulai saat ini saya tak akan lagi nyinyir ke ABG ngebut2 di jalan tersebut. Merekalah yang membantu saya hehe

Di luar perkiraan, ternyata Malang – Surabaya dapat ditempuh satu jam setengah saja. Perkiraan saya terburuk saya sih Malang – Surabaya tiga jam. Ternyata ada jalan baru menjelang Porong sehingga tak perlu melewati lokasi lumpur Lapindo yang biasanya macet itu. Jam setengah 9 saya sampai di pangkalan taksi Blue Bird di dekat terminal Bungurasih. Jam 9 saya sampai di bandara Juanda. Persis sesuai dengan rencana!

Pesawat take off jam 10.20, sampai di Soekarno – Hatta setengah 12 lebih dan jam 1 saya sampai di kosan. Selasa pagi, saya sudah masuk kerja kembali.

Penutup

Mendaki gunung solo memang tidak disarankan. Paling ideal adalah 3 sampai maksimal 5 orang. Tetapi mendaki solo menurut saya punya feel yang berbeda di mana keputusan dan akibatnya adalah dari dan untuk anda sendiri. Perlu perencanaan yang matang.

Saya akui, ketika berjalan malam sendirian itu saya sangat beruntung tidak bertemu binatang buas. Saya dengar-dengar masih ada hewan buas di Semeru. Kalau makhluk halus, saya tak pikirkan itu. Setan akan datang kalau anda terlalu banyak baca cerita setan sehingga otak akan menggambarkan setan yang dimaksud. Halusinasi juga akan datang kalau anda dehidrasi atau kelelahan. Tetap fokus! Itulah kuncinya. Tak ada seekor pun setan yang muncul di depan saya waktu itu. Ini yang saya pelajari dari catatan perjalan Gie ketika mendaki gunung Slamet

Selain hal di atas, mendaki solo perlu persiapan uang lebih. Karena nantinya ada kemungkinan dihadapkan dengan kondisi terdesak dan perlu biaya lebih untuk itu. Contohnya ketika memilih naik ojek untuk mengejar pesawat. Perhatikan juga jumlah uang yang dibawa dan lokasi ATM terdekat.

Mengenai perlengkapan, saya sendiri jujur masih kurang membawa obat-obatan. Perlu tas yang sedikit lebih besar dari yang saya punya agar muat membawa obat-obatan yang memadai. Tas yang saya bawa berukuran 40 liter yang masih bisa di-extend sampai 50 liter. Itu sudah sesak dengan tenda, air minum, makanan untuk 3 hari 2 malam, dan perlengkapan lainnya. Berikut list gear yang saya bawa :

  • Gear : Backpack 40+10 liter, foldable bag 12 liter untuk summit, mini trangia tanpa burner, kompor gas, 1 tabung hicook, sandal, sepatu, 2 jaket, pisau lipat, matras alumunium, tenda summertime 2p, sleeping bag, sleeping pad, kaos kaki 3 pcs, sarung tangan 2 pcs, baju ganti 3 pcs, celana ganti 1 pcs, ponco, senter dan headlamp, raincover, baterai cadangan, botol minum, handuk.
  • Logistik : 3 bungkus Indomie, 2 bungkus spaghetti instan, 2 buah roti sobek, 10 sachet kopi, 3 sachet energen, 2 botol Aqua 1.5 liter, tisu basah, tisu kering, dan cemilan seperti biskuit, choki-choki, tolak angin, dll.

Untuk total budget untuk transport, kasarnya sih seperti ini

  • Tiket pesawat PP, Jakarta – Malang, Surabaya – Jakarta : sekitar 1.2 juta
  • Jeep Ranu Pani : Rp70.000 (satu jeep hanya 9 orang, kalau lebih banyak bisa lebih murah)
  • Taksi Abdurrahman Saleh – Tumpang : Rp100.000
  • Biaya simaksi 3 hari 2 malam : Rp57.500
  • Ojek pulang : Rp150.000
  • Bis Malang – Surabaya : Rp25.000
  • Taksi Bungurasih ke Juanda : kira-kira Rp60.000, saya lupa persisnya
  • Airport tax : Rp75.000 (kok mahal ya) di Juanda

———

Mahameru (Dewa 19 – Format Masa Depan)

Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban

Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut `Ranu Kumbolo`

Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir

Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku `Arcapada`

Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Gunung Sumbing (3371 mdpl) via Garung, Wonosobo

Pada awalnya saya tidak berencana turut serta ke Sumbing pada tanggal 21 – 23 November 2014 karena Kamis minggu depannya (27 Nov 2014) saya akan mengikuti ujian aktuaris. Tetapi semua itu berubah saat Sumbing terlihat terlalu berharga untuk ditinggalkan karena salah satu impian saya adalah triple S (Slamet, Sumbing, dan Sindoro) yang belum juga kesampaian. Dari sanalah muncul berbagai pembenaran mengapa saya harus ikut. Entah pembenaran karena hari ujian masih lama (masih ada hari Senin sampai Rabu untuk belajar) dan materi ujian yang sudah saya baca dari beberapa minggu yang lalu. Lagipula saya anggap pendakian kali ini sebagai pemanasan sebelum solo karir ke Semeru dua minggu lagi.

Peserta pendakian Sumbing kali ini hanya 8 orang. Kelompok yang lumayan sedikit jika dibandingkan dengan pendakian-pendakian yang pernah saya ikuti sebelumnya. Saya ikut ke kelompok Masdan. Yang lainnya Oki, Mpit, Hilmi, Diah, Ania, dan temannya Diah, Megi.

Titik kumpul di pool Sinar Jaya Margonda Depok. Kami akan naik bis hari Jumat pukul 4 sore. Agak sulit memang dari Karawaci Tangerang ke Depok apalagi pada Jumat sore. Saya berangkat pukul 2 siang dan jam 3 sore saya hanya baru sampai di Serpong karena angkot yang saya tumpangi sering ngetem dan jalanan macet. Sepertinya tak mungkin sampai ke Depok hanya satu jam saja di Jumat sore dengan menggunakan bis kota. Akhirnya saya memilih naik taksi dengan tujuan stasiun Tanjung Barat. Saya sampai di stasiun Tanjung Barat pukul 4 tepat. Itupun dengan kondisi sang pengemudi taksi ugal-ugalan di tol dengan menggunakan jalur darurat. Saya dapat pesan dari Masdan bahwa bis belum berangkat. Saya memilih naik KRL dari Tanjung Barat dan turun di stasiun Depok Baru. Kira-kira setengah jam kemudian saya sampai di stasiun Depok Baru. Sore hari itu cuaca mulai mendung gelap dan sesekali terlihat petir menyambar dengan jarak yang relatif dekat (hanya selisih beberapa detik setelah cahaya kilat muncul). Akhirnya saya lari sekuat-kuatnya dari stasiun Depok Baru ke arah pool Sinar Jaya yang berada persis di sebelah kantor Walikota Depok untuk menghindari hujan dan petir. Tak lama setelah saya masuk bus, benar, hujan deras turun dan petir mulai menyambar-nyambar.

Sesampainya di pool bus, ternyata masih kurang 2 orang lagi yaitu Diah dan Megi yang belum juga datang. Kru bus saat itu ingin segera memberangkatkan busnya. Akhirnya kira-kira jam 5 sore bus berangkat tanpa Diah dan Megi. Saat bus mulai jalan, saya melihat Diah dan Megi sedang berjalan sembari menembus hujan di depan kantor Walikota Depok. Sayang saat itu pengemudi dan kondektur Sinar Jaya tak bisa mengambil penumpang. Lagipula Masdan sudah menitipkan tiket mereka berdua untuk keberangkatan bus selanjutnya. Berangkat secara terpisah seperti ini jelas akan menimbulkan risiko sampai di lokasi tujuan secara tak bersamaan. Beruntung kami mendapatkan kabar bahwa bus yang ditumpangi oleh Diah dan Megi telah berangkat kira-kira setengah setelah bus yang saya tumpangi berangkat. Jadi jarak tidak terlalu jauh.

Overall, perjalanan ke Wonosobo lancar. Sinar Jaya jurusan Depok – Wonosobo melewati tol Cikampek – Jalur Pantura – Tol Palikanci – Bumiayu – Purwokerto – Banjarnegara – Wonosobo. Bus sampai sesuai dengan itten yaitu jam 5 pagi hari Sabtu. Jam 5 pagi di Jawa Tengah hari sudah mulai terang, berbeda dengan di Jakarta dan sekitarnya. Kira-kira setengah jam kemudian, bus yang ditumpangi oleh Diah dan Megi juga sampai di terminal Mendolo Wonosobo.

Sesampainya di terminal, kami packing ulang logistik yang telah dibawa. Saat itu, Ania tak bisa ikut ke Sumbing karena mendapatkan kabar kakeknya di Solo sedang sakit. Akhirnya tim kami berjumlah 7 orang. Setelah cuci muka dan packing, kami lanjut naik minibus ke Desa Garung. Kira-kira 30 menit menuju ke sana. Basecamp Garung lokasinya sekitar 500 meter dari jalan raya. Setelah mengurus pendaftaran, kami mencari warung untuk memesan sarapan dan makan siang. Ternyata warung yang ada di basecamp belum buka sehingga kami harus mencari ke pasar yang lokasinya berada di pinggir jalan raya utama tak jauh dari lokasi turun dari minibus.

Seingat saya ada 4 kelompok yang berangkat dari basecamp Garung pagi itu. Kelompok kamilah yang terakhir berangkat. Tetapi kelompok kami termasuk kelompok awal yang sampai di camp Watu Kotak. Itu semua berkat ojek “krosser nasional”. Saya sebut itu karena ojek disini menggunakan motor bebek yang telah dimodifikasi seperti motor trail dengan raungan mesin yang lumayan memekakkan telinga. Basecamp Garung berada di ketinggian kira-kira 1400 mdpl. Pos 3 “Malim” berada di ketinggian 1900 mdpl bisa ditempuh dengan menumpangi ojek dengan ongkos 25 ribu rupiah. Saya tanya beberapa orang yang tak naik ojek, mereka butuh waktu sekitar 2 jam dari basecamp menuju Malim, atau 1 jam jika anda punya dengkul dengan kualitas nomor satu. Dengan naik ojek, perjalanan dapat dipangkas menjadi hanya 15 menit saja. Trek dari basecamp Garung ke Malim berupa jalanan berbatu yang tentu lumayan menyakitkan untuk kaki.

Pendakian kami mulai dari pos Malim. Saat itu kondisi trek lumayan licin karena hari sebelumnya hujan. Jalurnya mengingatkan saya dengan jalur Selo Gunung Merbabu di mana kondisi hutannya tak terlalu lebat. Vegetasi berupa pepohonan pendek seperti semak-semak. Sesekali terdapat lahan terbuka sehingga kita dapat melihat pemandangan bukit – bukit hijau. Jalur Garung adalah jalur yang menyusuri salah satu punggungan gunung. Banyak punggungan gunung Sumbing yang masing – masingnya dipisahkan oleh lembah atau bahkan jurang yang dalam.

Kira – kira sejam kemudian kami sampai di pos Genus. Pos ini hanya berupa sebidang tanah datar seluas kira-kira 6 x 6 meter. Kami beristirahat sebentar di sana, kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos Pestan (Pasar Setan). Setelah melewati Genus, kami melewati pohon dengan papan bertuliskan “Engkol-engkolan”. Disinilah jalanan mulai menanjak terjal. Tanjakannya mirip tanjakan setelah pos Watu Tulis di Merbabu jalur Selo. Tidak ada tempat pegangan, tetapi saat itu tanahnya sedang basar sehingga jika menggunakan sepatu dengan sol yang bagus, kita tak akan terpeleset.

Setelah tanjakan Engkol-engkolan, jalur berbelok ke kiri menyusuri punggungan, lalu ada tanjakan lagi seperti sebelumnya tetapi dengan jarak yang lebih pendek. Di atas bukit akan terlihat sebuah pohon besar yang berdiri sendirian. Setelah pohon tersebut, jalan sedikit menanjak hingga vegetasi berubah menjadi rumput-rumputan dan tekstur tanah mulai halus. Tak lama dari situ, kita sampai di pos Pestan.

Kami sampai di Pestan pukul 12 siang. Saat itu cuaca sedang cerah dan matahari sedang terik-teriknya. Sesekali kabut menutupi daerah itu. Kami buka bekal nasi bungkus yang dibeli dari bawah. Setelah makan siang, kami lanjut jalan dengan tujuan camp di Watu Kotak. Diantara Pestan dan Watu Kotak ada sebuah pos lagi yaitu Pasar Watu. Di Pasar Watu lokasinya cukup unik yaitu hanya berupa jalan setapak berbentuk punggungan selebar 2-3 meter dengan kiri kanan berupa jurang lembah dengan banyak batu besar di atasnya. Di Pasar Watu, jalur berbelok ke kiri dan menurun menyusuri kontur bukit dengan sedikit tanjakan dan belokan ke kanan. 15 menit kemudian barulah sampai di Watu Kotak.

Nama Watu Kotak mungkin datang dari batu besar yang berbentuk kotak. Kami buka tenda di sana. Lahan untuk camp cukup sempit, hanya muat 4-5 tenda ukuran 4 orang. Saya sendiri malah buka tenda di tengah jalur karena saking terbatasnya tempat. Tetapi saya buat petunjuk jalan berupa tali rafia agar teman-teman pendaki yang mungkin ingin summit attack keesokan paginya tidak susah mencari jalan.

Saya lupa persisnya sampai jam berapa di Watu Kotak. Seingat saya hari sudah mulai sore. Mungkin sekitar jam 3 atau 4 sore. Di kejauhan nampak gunung Sindoro gagah berdiri sembari diselimuti awan di puncaknya. Pemandangan hanya terbatas 180 derajat mulai dari Barat Laut – Utara – Tenggara. Barat laut pemandangan gunung Sindoro, dan Tenggara bisa melihat puncak gunung Sumbing.

Sesaat sebelum tidur, hari gerimis. Rintik bunyi hujan yang malu-malu itu juga disertai dengan kilatan petir tak bersuara. Untunglah kilatan petir itu tanpa suara jadi saya pun bisa tidur dengan nyenyak tidur sendirian di tenda. Para wanita di tenda eiger 4p, sedangkan pria bertiga sisanya di tenda lafuma 4p baru punya Masdan :)

Jam 4 subuh kami semua berangkat untuk summit. Katanya puncak Sumbing bisa ditempuh dengan waktu 2-3 jam sambil membawa daypack. Saat itu saya bawa kompor, panci trangia, dan mie rebus. Rencananya kami akan masak mie rebus di puncak sana.

Kondisi jalur ke puncak dari Watu Kotak didominasi oleh bebatuan berukuran bola tetapi juga banyak kerikilnya. Sebelum ke puncak Sumbing, kita harus melewati satu bukit terlebih dahulu, lalu jalur mendatar sebentar, kemudian naik kembali dengan kondisi jalur berupa bebatuan berukuran besar. Saat itu matahari sudah mulai naik dan hari sudah mulai terang padahal masih sekitar jam 5 pagi. Berbeda dengan Jakarta di mana jam 5 pagi hari masih gelap (tetapi para komuter sudah beranjak dari rumahnya masing-masing untuk pergi ke tempat kerja).

Saya baru tahu kalau Sumbing punya kawah. Saya kira gunung ini punya puncak seperti Merbabu. Kami hanya nongkrong di puncak Buntu. Katanya tinggi puncak Buntu adalah 3371 mdpl, tetapi GPS di handphone saya menunjukkan angka yang lebih rendah, hanya sekitar 3200an. Ya sudahlah

Dari puncak Sumbing, kita dapat melihat dengan jelas gunung Sindoro. Ini mengingatkan saya-sekali lagi- dengan Merbabu jalur Selo di mana jika kita sampai di puncak Kenteng Songo kita bisa melihat dengan jelas gunung Merapi di kejauahan kejauhan. Setidaknya ada 4 pasang gunung di Jawa (yang saya tahu) yang letaknya berdekatan satu sama lain, Gede-Pangrango, Sindoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, Arjuno-Welirang.

On The Science of Interstellar

adrianpradana:

Interstellar :o

Originally posted on Relativity Digest:

I greatly debated with myself on whether to write this posting. I have seen Interstellar twice now including the special 70 mm IMAX screening, and am seeing it a third time later today. Simply put, the movie is fascinating. It combines, (yes) accurate science and real depictions of general relativistic effects with a great story as is to be expected from Christopher Nolan.

It was pointed out to me recently that some people have taken to the internet to write extensive articles criticizing the science in the movie, which is very strange. First, I didn’t think too much of it, as Kip Thorne was not only an executive producer, but also a consultant on the film, and has also seen the film. Surely, if there was something wrong from a GR-point-of-view, he would point it out. After all, he did manage to get two original scientific papers out of working…

View original 2.795 more words

“Solo” Hiking Ceremai via Linggarjati

Setelah bulan Juli lalu saya ke Ceremai bersama Debop, kali ini saya ‘solo’ hiking ke Ceremai. Pada awalnya, ada sekitar 7 orang yang mau mendaki Ceremai via Linggarjati. Sayangnya, satu per satu batal untuk pergi. Alhasil saya sendiri yang pergi. Tiket kereta yang sudah dipesan sebulan yang lalu tentu pada hangus. Lumayan baik untuk saya karena saya bisa selonjoran di kursi kereta :)

Saya berangkat pukul 11 malam dari stasiun Senen dengan menumpang kereta Jaka Tingkir. Sampai di Cirebon Prujakan pukul 2 malam. Jujur saya bingung naik kendaraan apa saat itu untuk menuju Linggarjati. Cirebon jam 2 malam tentu beda dengan Jakarta. Dengan kebingungan, saya mengikuti saran tukang becak untuk ke terminal. Diantarkanlah saya ke terminal yang jaraknya kira-kira 5 km dari stasiun dengan ongkos 20ribu. Setelah sampai di terminal, ternyata mobil Elf menuju Kuningan sudah tidak ada. Akhirnya saya numpang ojek yang pengemudinya seorang bapak tua yang katanya mau sekalian pulang ke Kuningan. Saya diantarkan sampai ke pos Linggarjati. Ongkosnya saat itu adalah 50ribu rupiah. Saya tak tahu apakah ongkos segitu mahal atau tidak. Saya anggap saja ongkosnya pas berhubung Cirebon ke Linggarjati lumayan jauh, kira-kira 45 menit mengendarai motor. Pukul 3 pagi, saya sampai di pos Linggarjati, numpang tidur di rumah dari ranger Ceremai.

Sebenarnya saat itu saya tak bisa tidur. Adzan subuh sudah berkumandang. Hari sudah mulai terang. Saya pergi ke warung yang sudah mulai buka. Banyak juga pendaki lain yang menunggu warung buka. Setelah saya sarapan, saya pergi ke pos pelaporan pendakian, ternyata ada peraturan minimal jumlah pendaki adalah 3 orang. Takut tak diizinkan mendaki jika saya solo saat itu, akhirnya saya bergabung dengan grup berisi 4 orang asal dari Bekasi. Untung mereka mau menerima saya hehe. Saya juga katakan ke mereka bahwa sebenarnya saya berencana naik bersama 6 orang lainnya tapi mereka batal pergi, tapi saya juga sudah siap-siap logistik dan alat yang lengkap untuk pendakian solo (mulai dari tenda, alat masak, makanan, dan lain-lain sudah saya bawa).

Kami berangkat berlima pukul 6 pagi dari pos Linggarjati. Pos di depan adalah Cibunar, tempat terakhir mengambil air minum. Air di sana sangat segar, diminum mentah pun tak papa. Bahkan saya membawa sebotol 1.5 liter untuk dibawa pulang :). Di sana teman-teman baru saya mengambil air. Saya lupa mereka membawa berapa botol air untuk berempat. Saya sendiri membawa 3 buah botol air minum 1.5 liter, ditambah dengan yang ada di botol minum 900 ml, dan saya juga pegang botol air 600 ml yang sudah saya seduh nutrisari. Jadi kira-kira total air yang saya pegang sekitar 6 liter. Saya juga sudah mengatur jumlah pengeluaran air. Pokoknya, sampai pos Pangalap, kalau bisa, hanya botol 600 ml yang habis, dan botol air minum 900 ml harus tahan sampai Pos Pangasinan (2800 mdpl). Satu botol 1.5 liter untuk masak selama perjalanan, 1 botol lagi untuk masak selama di camp, dan 1 botol lainnya untuk turun. Saya perlu tegas ke diri sendiri untuk masalah air ini karena pengalaman sebelumnya saya dan teman-teman pernah turun Ceremai dengan keadaan tanpa air sama sekali sejak pos Sanggabuana 1. Dan itu sangat tak enak.

Kami berlima jalan terus. Trek antara Cibunar – Leuweung Datar – Condang Amis masih mudah karena banyak jalur landai. Kami istirahat kira-kira satu jam di pos Kuburan Kuda untuk ngopi, ngemil, dan merokok. Setelah pos Kuburan Kuda dimulai lah tanjakan-tanjakan khas Ceremai. Pokoknya dengkul bertemu dengan perut. Tapi tanjakan di daerah ini masih lumayan mudah. Setelah Kuburan Kuda kami sampai di pos Pangalap. Kira-kira jam 10 kami sampai di pos Pangalap. Di sini suasana masih sepi, tidak ada orang lain. Seingat saya, kami termasuk tim pertama yang jalan dari Linggarjati, entah kalau ada tim yang berangkat duluan dengan menginap terlebih dahulu di Cibunar. Kami tak berhenti di pos Pangalap. Di depannya ada pos Tanjakan Seruni dan Bapa Tere yang tanjakannya mulai level brutal (baca: dengkul bertemu dagu). Malah beberapa teman saya bilang di Bapa Tere itu bukan menanjak, tapi memanjat! Tanjakan di Bapa Tere boleh saya bilang adalah tanjakan yang nyaris vertikal setinggi kurang lebih 20-30 meter. Pijakannya hanya akar-akar pohon yang mencuat dari dalam tanah. Beruntung sudah ada yang memasang tali di sana. Setelah Bapa Tere, jalan kurang lebih satu jam, ada pos Batu Lingga. Di sini ada satu grup berisi dua orang yang membuka tenda. Berbeda saat Juni lalu saya ke Ceremai, Batu Lingga sudah dipenuhi oleh banyak tenda. Sembari menunggu kawan-kawan di belakang, saya duduk sebentar leha-leha di pos ini. Hari mulai sore sekitar jam setengah 5. Saya lanjut jalan hingga menjelang petang sampai di pos Sanggabuana 1. Di sini kami kembali istirahat sembari menunggu maghrib, bongkar logistik sekedar minum kopi dan ngemil.

Menunggu maghrib, kami berlima mendapatkan dua lagi teman baru. Dua orang tersebut akan ikut di manapun kami membuka tenda. Maklum, saat itu Ceremai via Linggarjati tak terlalu ramai. Kami menunggu gelap di Sanggabuana 1. Hingga pukul setengah 7 malam, kami lanjut jalan menuju pos Pangasinan (2800 mdpl). Trek dari Sanggabuana 1 hingga Sanggabuana 2 masih mudah. Tetapi Sanggabuana 2 menuju Pangasinan mulai lah ada tanjakan berbatu. Sayup-sayup hembusan angin mulai terasa. Pohon – pohon mulai berganti yang tadinya hutan, kini hanya semak-semak saja. Lampu kota Kuningan dan Cirebon dapat dilihat. Kami sampai di Pangasinan jam 8 malam. sedikit terlambat karena seharusnya bisa satu jam saja. Di Pangasinan, hanya ada satu tenda rombongan 5 orang dari Bandung. Saya buat tenda di dekat semak-semak karena takut terhantam angin malam. Pos Pangasinan hanya seluas satu buah lapangan voli, berpasir, dan tempatnya sangat terbuka. Puncak Ceremai sudah dapat dilihat dari sini dan lumayan dekat.

Di sanalah kami camp. Malam-malam saya buka tenda sendiri. Untung saya sudah sering membuat tenda sendiri sehingga tak perlu bantuan orang lain. Lagipula tenda masa kini sangat mudah dibuat. Istilahnya “lempar saja tendanya ke tanah, tenda langsung berdiri” :). Setelah pasak dipasang, saya bergegas masuk tenda dan ucapkan selamat malam kepada yang lain. Di ketinggian 2800 mdpl, diam itu tidak baik. Berbeda saat sedang berjalan, tak pakai jaket pun tak papa. Tetapi kalau diam saja, tentu akan terasa dingin. Saya pun masak mie rebus di dalam tenda agar tenda sedikit hangat. Kira-kira jam 9 malam saya mulai tidur.

Tidur di Pangasinan tak terlalu nyenyak. Sesekali saya terbangun karena udara dingin. Iseng saya lihat termometer di jam tangan, ternyata 5 derajat celcius. Di bawah comfort zone sleeping bag saya yang berada di level 7 derajat :|. Mungkin sisa-sisa musim kemarau masih berlaku di Ceremai.

Saya bangun jam 5 pagi. Langit sudah mulai terang tetapi matahari belum muncul dari garis cakrawala. Kota Kuningan dan Cirebon tak terlihat karena tertutup awan. Tapi di timur jauh sana sudah terlihat garis oranye. Saya dan dua orang dari kawan rombongan akan naik ke puncak Ceremai. 2 orang tak ikut dan memilih istirahat. Di tengah perjalanan Pangasinan – Puncak, matahari mulai keluar dari garis cakrawala. Saya lupa sampai pukul berapa saat sampai di Puncak Panglongokan (3057 mdpl). Saat itu hanya 3 grup yang ada di puncak. Tak sampai 10 orang. Karena sudah pernah ke puncak ini, saya tak mau berlama-lama lalu lanjut berjalan ke Puncak Triangulasi (3078 mdpl). Treknya mengitari kawah Ceremai. Perkiraan saya sih mungkin sekitar 15 menit tapi jauh juga ya. Ternyata 45 menit baru sampai di puncak Triangulasi.

IMG_20141102_060012

IMG_20141102_060020

Kawah Ceremai

Berbeda dengan Puncak Panglongokan, di sini suasananya lebih ramai. Mungkin ada 40an orang lebih yang berada di puncak Triangulasi. Banyak juga mbak-mbaknya. Berbeda dengan puncak Panglongokan yang tak sampai 10 orang, itupun isinya mas-mas semua.

Trek antara dua puncak Ceremai.  Jurang

Trek antara dua puncak Ceremai. Jurang

IMG_20141102_071525

Puncak Triangulasi yang ramai

 2 orang teman saya juga menuju puncak Triangulasi. Setelah membuat kopi dan berfoto, pukul setengah 9 kami mulai turun. Saya pasang target untuk kembali Pangasinan hanya 45 menit. Ini kebiasaan saya ketika naik gunung, saya tetapkan waktu, walaupun target waktunya dihitung secara kasar, setidaknya membuat kita terus “alert” dengan kondisi jalan. Di Pangasinan, kami sarapan dengan “nasi goreng” dan beberapa cemilan. Air saat itu sesuai dengan rencana, masih bersisa 1.5 liter yang memang dari awal saya persiapkan untuk perjalanan turun. Setengah 11 siang kami mulai berangkat turun. Kira-kira setiap setengah jam atau 45 menit kami sampai di tiap pos. Saat itu saya didepan berdua. Di Sanggabuana 1, kami menunggu teman-teman yang dibelakang. Lumayan, say a dapat power nap sekitar 15 menit. Di sana kami janjian untuk bertemu di Pangalap untuk ngopi dan bongkar logistik. Oke, saya berdua langsung berangkat duluan.

Karena bakal istirahat lama di Pangalap dan kami semua tak mau bertemu malam ketika perjalanan turun (kebetulan saya juga mengejar kereta ke Jakarta pukul 11 malam dari Cirebon Prujakan), saya terus paksakan turun. Walaupun saya tak turun berlari-lari seperti di Pangrango, perjalanan turun lebih cepat dari yang diperkirakan. Saya dan 2 orang lainnya sampai di Cibunar pukul setengah 5 sore. Perkiraan kami sampai adalah setengah 6. Itupun termasuk tidur siang satu jam di Pangalap karena menunggu rombongan belakang untuk ngopi-ngopi. Rombongan paling belakang (2 orang) sampai pukul setengah 6 dan masih terang. Kami bertujuh sukses kejar target :)

Di Cibunar saya mandi (airnya sedingin es!) dan makan. Pokoknya sudah rapi untuk setelan naik kereta api. Pukul setengah 9 malam, kami semua sudah di pertigaan Linggarjati. Mereka berenam semuanya naik Setia Negara ke Pulogadung, sedangkan saya ke Cirebon Prujakan. Jam setengah 10 saya sudah sampai stasiun dengan naik angkot. Kereta dari Brantas jurusan Kediri – Tanjung Priuk tiba tepat waktu pukul 22.41 dan langsung berangkat 5 menit kemudian. Dan sekali lagi, saya bisa selonjor di kursi kereta :). Saya sampai di stasiun Senen pukul 2 malam. Tak mau menunggu lama, saya langsung naik taksi untuk kembali ke Karawaci.

Pendakian “solo” ini memang awalnya tak saya rencanakan. Justru saya merencanakan solo ke Semeru awal Desember nanti. Jadi, hitung-hitung latihan melatih diri sendiri untuk solo, membawa perlengkapan sendiri, dan saya belum latihan jika berjalan hiking sendiri. Jujur sebenarnya di awal, saya lebih takut untuk solo Ceremai ketimbang solo Semeru. Bukannya menggampangkan Semeru (wong saya belum pernah naik Semeru), tetapi Semeru itu gunung yang ramai oleh banyak orang. Sedangkan Ceremai via Linggarjati jelas berbeda. Tanjakannya, keberadaan air, dan mungkin reputasi mistisnya menjadikannya spesial :).

Untuk hal-hal terkait mistis, saya kira itu berasal dari diri kita sendiri. Jika mental kita kuat dan tak terlalu percaya dengan makhluk-makhluk seperti itu, maka tak ada alasan ada halusinasi muncul. Halusinasi ada ketika kita lelah, kehausan, atau sedang terkena hipotermia.

Perjalanan ini merupakan salah satu langkah saya untuk berlatih mendaki solo. Setelah Semeru nanti, saya akan coba gunung lainnya secara solo. Mungkin dimulai dari gunung yang pernah dikunjungi sebelumnya secara berkelompok.

Hal yang patut dipegang oleh pendaki semi-solo seperti saya di Ceremai ini adalah, jangan menyusahkan grup tempat kita bergabung. Pastikan logistik anda lengkap dan cukup, syukur-syukur bisa memberikan sesuatu ke grup tersebut.

Double Summit Gunung Gede – Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berada di daerah Cianjur. Dapat anda jangkau dengan mudah kalau ke arah Bandung via Puncak, nanti di daerah Cimacan, tinggal belok kanan menuju Cibodas, kantor TNGGP. Jujur saya sudah dua kali punya rencana ingin hiking ke TNGGP, dan keduanya batal. Pertama gara-gara tiba-tiba saya diare, kedua gara-gara TNGGP ditutup di pertengahan tahun untuk menghindari kebakaran hutan. Kali ini, saya ikut rombongan Masdan untuk double summit Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Pangrango (3.019 mdpl) pada tanggal 5 – 7 Oktober 2014 lalu.

Pada awalnya, kira-kira ada dua puluh orang lebih yang akan ikut dalam rombongan ini. Ternyata satu per satu batal ikut karena tanggal 5 atau 6 Oktober bersamaan dengan hari raya Idul Adha. Saya sendiri sih kalau ada orang tua sedang di rumah, tentu tidak akan ikut juga karena hari raya adalah momen yang pas untuk kumpul-kumpul (dan makan daging sepuasnya). Jumat malam, 5 Oktober 2014, akhirnya yang jadi ikut hanya 16 orang. Dari 16 orang, saya hanya kenal beberapa saja, lumayan tambah teman baru :). Sepertinya itulah keuntungan naik gunung, mau gunung apapun, pasti ada saja teman baru (minimal kenal dengan bapak-bapak/mas-mas di basecamp pendakian).

Rencananya kami berkumpul di halte Stasiun UI Depok pukul 21.30. Oleh karena itu, saya dan Fitri (teman sekampus yang baru kena demam gunung setelah turun dari Prau) yang kebetulan bekerja di daerah Lippo Karawaci, berangkat sejak pukul 19.00. Sayang saat itu tol JORR macet sekali sehingga kita baru sampai di Halte Stasiun UI pada pukul 23:00. Kebetulan rombongan pun ada juga yang belum datang. Kebiasaan ngaret :)). Untung TNGGP, bukan Cikuray/Papandayan atau Ceremai yang butuh perjalanan lebih dari 4 jam. Kira-kira pukul 00.00 kita baru mulai berangkat menuju Cianjur dengan truk tronton Angkatan Laut! Terakhir saya naik truk tronton ketika ikut LDKS atau acara Rohis (pasti pada ga percaya kalau dulu saya anak Rohis) yang acaranya di daerah Puncak juga.

Foto dulu sebelum naik tronton

Foto dulu sebelum naik tronton (Mas Danar ga ikutan, mau jadi panitia potong kambing ceunah)

Kebetulan tol Jagorawi lancar, hanya sedikit macet di daerah Puncak Pass karena ada perbaikan jalan. Thanks to abang tentara yang bawa trontonnya rada ngotot (sambil sesekali nyalain sirine). Pukul setengah 3 pagi kita sampai di parkiran Cibodas dengan sebelumnya mampir terlebih dahulu di Alfamart pertigaan Cibodas. Alfamart ini selalu jadi tempat para pendaki melengkapi perbekalannya sebelum naik ke Cibodas karena harga-harga di Cibodas mulai mahal. Saya sendiri beli satu air mineral 1.5 liter seharga Rp10,000 sebelum pos pengecekan SIMAKSI.

Kami menunggu pagi (baca: bobok) di warung Bu Iwa. Saya sendiri mulai bangun pukul 5.00, lalu sarapan popmie sambil hangatkan badan. Angin di Cibodas mulai semriwing dingin waktu itu. Mungkin badan saya masih settingan Tangerang yang sumuk. Kira-kira pukul 8.00, kita mulai berangkat. Kira-kira 15 menit kemudian, kita sampai di pos pengecekan SIMAKSI. FYI, sekarang SIMAKSI TNGGP Rp30,000 per orang. Kalau tak salah dengar, itupun sepuasnya berapa hari. Hanya sayang sekali (sekaligus bagus juga sih) kalau ada sistem kuota yaitu ada batas maksimal jumlah pendaki dalam satu hari. Hal ini tentu baik sekali untuk menjaga hutan TNGGP dan kurang baik untuk pendaki karena harus rebutan kuota pendakian (mungkin cara lain adalah lewat jalur ilegal).

Di pos pengecekan, ternyata tidak diperbolehkan membawa alat mandi karena akan mencemari air di atas sana. Saya sih ga masalah, memang ga niat untuk mandi di tengah gunung. Mungkin TNGGP ini gunung paling ketat aturannya. Biasanya sih tinggal daftar, langsung gas ke atas. Saya kira tas kami bakal digeledah, ternyata tidak :).

IMG_1374

Setelah pos pengecekan, kami langsung gas, mulai nanjak. Khas trek Cibodas (mungkin tidak ditemui di gunung lain), adalah trek berbatu yang disusun rapi menyerupai anak tangga. Berbeda dengan kebanyakan gunung yang treknya hanya jalan setapak. Saya sendiri pernah ke air terjun Cibereum, sekitar 45-1.5 jam jalan kaki dari pos pengecekan. Jalurnya sama dengan yang menuju gunung Gede, perbedaannya nanti ada percabangan jalan di Pos Pancayangan. Kebiasaan saya kalau baru mendaki gunung yang sebelumnya belum pernah didaki, selalu jalan paling depan! Kira-kira sebelum pos Telaga Biru, ada 3 orang yang menyusul saya yaitu Ojan, Raihan, dan Vici. Kita berempat jalan di depan, setelah pos Pancayangan, bergabung Hilmi dan Fitri. Targetnya dalah camp di Kandang Badak (kurang lebih 2400 mdpl). Bukannya ingin meninggalkan yang lain di belakang. Ini karena kita dengar Kandang Badak bakal ramai dan lapak untuk mendirikan tenda bakal terbatas. Saat itu mas Vici bawa 2 tenda.

Setelah pos Pancayangan, saya lupa ada pos-pos kecil. Kami berlima hanya beristirahat sebentar di pos Kandang Batu. pos Batu Kukus skip, pos Air Panas skip. Saya takjub dengan air terjun panas (atau “air panas terjun”?). Literally, melewati air terjun yang airnya panas (nah ini mungkin lebih pas), sisi kiri air terjun, sisi kanan jurang. Kalau bukan jurang, berarti bukan air terjun, mungkin cuma sungai :p. Benar-benar berasa sedang di spa. Uapnya membuat mata yang ngantuk menjadi jreng kembali

DSCN1448

Vindy, Mpit, dan Mas Eko di Air Panas (saya mah dah jalan duluan)

Setelah jalan 4 jam atau sekitar pukul 12.00, kita sampai di Kandang Badak. Saat itu suasana Kandang Badak sudah ramai, agak susah untuk cari lahan mendirikan tenda. Beruntung ada satu tenda yang kelompoknya turun sore itu, jadi 5 tenda kami dapat berdiri di lahan kosong tersebut. Lumayan setelah bikin tenda, kita bisa leyeh-leyeh minum teh (dan ngerokok) sembari menunggu rombongan belakang yang satu per satu tiba. Rencana selanjutnya pukul 15.00 berangkat summit Gunung Gede setelah makan siang.

Kurang lebih pukul 15.00, kita berangkat menuju Gunung Gede. Dari Kandang Badak, jalan sedikit, ketemu dengan pertigaan. Lurus ke Gunung Gede, kanan ke Pangrango. Trek dan tanjakan masih bersahabat. Jauhlah kalau dibandingkan dengan Ceremai. Baru bertemu dengan trek yang curam dari tanjakan setan (entah kenapa diberi nama “Setan”, mungkin biar serem, kenapa nggak “Tanjakan Doraemon” aja?). Setelah tanjakan setan, trek stabil menanjak layaknya naik tangga. Keadaan jalan berbatu tetapi bukan berbatu seperti Cibodas – Kandang Badak, ini benar-benar batu yang kalau tidak hati-hati, bikin terpleset. Kurang lebih 2 jam atau pukul 17.00, kita sampai di kawah Gunung Gede, belum puncak. Di sini pun pemandangan sudah bagus buat foto-foto di pinggir jurang. Melihat kawahnya, saya jadi teringat Tangkuban Perahu atau Papandayan. Kawahnya besar dan masih mengeluarkan asap belerang.

IMG_1396

Jalur menuju top Gunung Gede (2,958 mdpl)

Dari tempat foto-foto, masih perlu jalan lagi sekitar 10-15 menit untuk menuju point tertinggi dari Gunung Gede. Selain rombongan kami, di sana sudah ada satu rombongan yang sedang masak-masak sembari dangdutan. Puncak Gede sore itu berkabut lumayan tebal. Tak kelihatan apa-apa. Padahal saya ingin sekali melihat dengan jelas gunung Pangrango di sebelah timur.

IMG_1453

Dari puncak Gunung Gede

DSCN1474

Pangrango samar-samar terlihat di kala senja

Sebelum hari gelap, kami mulai turun. Sayangnya ketika menuruni Tanjakan Setan, hari itu sudah gelap. Lumayan menantang. Cuma butuh sekitar 1 jam-an untuk menuju kembali ke Kandang Badak. Di sana kami makan malam, (cerita-cerita galau menjurus ke curhat, saling bully) lalu istirahat tidur karena esok paginya kami akan summit Pangrango.

Malam harinya sepakat untuk berangkat pukul 3 pagi. Kenyataan, kami semua baru berangkat setengah 4. Tidur di sleeping bagi sepertinya lebih enak. Saya keluarkan tas kecil untuk summit yang isinya biskuit, minum, jas hujan. Kini pertigaan belok kanan. Saya di depan. Seingatnya saya di belakang ada Fitri, Mpit, Ojan dan Raihan yang selalu ingatkan saya untuk ngerem. Maklum, tipikal selonong boy. Kalau tak ngerem, bisa-bisa saya jalan sendirian di depan. Trek menuju Pangrango lebih seru ketimbang ke Gede. Lebih seru karena kita harus menunduk, melompat, karena jalan setapak sering dihalangi pohon-pohon tumbang. Banyak percabangan jalur. Tapi best practice nya yang ada yaitu beloklah ke jalur yang ada tali pita, botol aqua, bungkus permennya. Dan silahkan balik kanan kalau jalur yang anda lewati tak bertemu itu, dan muka anda selalu tertabrak sarang laba-laba.

Karena mulai naik pukul setengah 4, akhirnya matahari terbit ketika kami belum sampai puncak Pangrango. Entah kenapa di gunung, sebelum setengah 6 matahari sepertinya sudah tinggi. Kira-kira 3 jam waktu dari Kandang Badak ke Puncak Pangrango. Tanda sudah dekat dengan puncak Pangrango adalah jalanannya mulai mendatar. Jalanan mendatar adalah momen-momen yang pas untuk membuka kaki lebar-lebar ketika berjalan kaki. Menurut saya Puncak Pangrango tidak terlalu menarik. Pemandangannya pun biasa-biasa saja, mungkin karena saat itu sedikit berkabut.

Seingat saya yang finish duluan di Puncak Pangrango adalah saya, Fitri, Raihan, Ojan (lagi-lagi orangnya ini)

Tapi dari sisi historis, puncak Pangrango sangat menarik karena berpuluh-puluh tahun yang lalu, Soe Hok Gie pernah berfoto di sini. Foto itu sangat terkenal. Dia duduk di atas tugu triangulasi Pangrango sambil bersila seperti foto di bawah ini :

soe-hok-gie2Dari bawah saya bilang ke orang-orang kalau sampai di puncak Pangrango, saya akan foto dengan pose yang sama. Jadinya seperti ini

IMG-20141006-WA0004

Adrian di Puncak Pangrango, 2014 (dikasih efek hitam putih biar mirip, pose mirip, kalah tampan, kalah pinter, kurang sipit tapi nggak jomblo)

Sembari menunggu rombongan belakang datang, kami makan nutrijell yang dimasak tadi malam dengan gula menggumpal di dalamnya. Setelah yang dibelakang sampai, mereka juga foto-foto, lalu kita turun ke lembah Mandalawangi. Dari puncak Pangrango ke Lembah Mandalawangi ga sampai 5 menit (dengan sedikit berlari). Lembah Mandalawangi adalah padang tumbuhan Edelweiss mungkin seluas dua atau tiga kali lapangan bola, dikelilingi hutan, dengan pemandangan Gunung Salak di arah barat (sayang waktu itu tertutup kabut). Di sana juga ada sumber mata air. Dari Catatan Seorang Demonstran dan Gie Sekali Lagi, Lembah Mandalawangi ini tempat nongkrongnya Gie. Ya anggap saja waktu itu sedang bosan di Jakarta.

IMG_1428

Spot favorit saya di Mandalawangi

mandalawangi

“dan kabut tipis pun turun pelan-pelan di Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi….”

IMG_1463

Selamat Idul Adha 1435 H – dari Lembah Mandalawangi Pangrango

IMG_1513

Setelah Sholat Ied di Mandalawangi

Sampai di atas, kami semua (kecuali Esi karena dia Katolik dan Saya yang Cat-holic) sholat Ied di Lembah Mandalawangi. Menarik! Bahkan beberapa menggunakan baju koko dan sarung. Mungkin kurang ritual potong kambing aja ini. Sementara yang lain sholat, saya buka kompor untuk masak mie. Kira-kira ada 5 sampai 6 bungkus mie yang berhasil  di masak dengan dicampur dengan sarden. Begitulah kami. Lembah Mandalawangi menginspirasi Gie membuat puisi, sementara berhasil menginspirasi kita untuk mencampurkan sarden ke kuah indomie :)

IMG_1601

Fotonya keren (pakai kamera 20 juta ceunah)

IMG_1597Entah kenapa berada di Lembah Mandalawangi ini bikin galau. Ingin sekali ajak Alde kesini (semoga dia baca ini :p)

Sulit untuk meninggalkan tempat ini. Lembah Mandalawangi langsung jadi tempat favorit saya setelah padang sabana Merbabu, tanjakan Bapa Tere di Ceremai, dan bagian ujung dari Pondok Salada dan Tegal Alun di Papandayan.

Saya lupa pukul berapa kami turun. Saya bertiga dengan Ojan dan Raihan mau turun dengan berlari ke Kandang Badak, target 1 jam saja. Alhasil kita bertiga seperti orang parkour. Literally lari, remnya adalah berpegangan dengan pohon-pohon atau dahan-dahan. Kaki saya sempat terpentok batu lalu jadi biru lebam di hari Selasa. Anggap saja kenang-kenangan. Mungkin akan tunggu saatnya saya akan lebih santai. Dan benar, kami sampai di Kandang Badak 1 jam plus 5 menit. Saat itu Kandang Badak mulai panas. Saya buat teh, dan Ojan menggoreng tempe untuk cemilan sembari  menunggu rombongan belakang.

Setelah makan siang, kira-kira pukul 4 sore, kita mulai turun dari Kandang Badak menuju kembali ke Cibodas. Hanya butuh waktu 2 jam saja untuk sampai di Cibodas. Sampai di Cibodas, hari mulai gelap dan mulai kembali dingin. Kami pulang sekitar pukul 9 malam dan sampai kembali di halte Stasiun UI kira-kira pukul 11.

Perjalanan ini menyadarkan saya satu hal, ternyata ada gunung yang indah yang tak perlu jauh-jauh naik kereta malam di dekat Jakarta. Mungkin saya akan kembali ke sini lagi dalam waktu dekat.

Photo credits :

  • Masdan dengan kamera 20 jutanya (akhirnya pajak saya dapat saya rasakan sendiri)
  • Vindy
  • Oki
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.732 pengikut lainnya.