Menjadi Narasumber di Kampus

Mungkin ini tulisan pertama saya di tahun 2018. Sudah lama sekali tidak mengisi blog ini.

Setelah kurang lebih 5 tahun meniti karir sebagai aktuaris, akhirnya baru kali ini saya mendapatkan undangan untuk menjadi narasumber mengenai karir aktuaris di depan para mahasiswa-mahasiswi. Kampus yang mengundang adalah Departemen Statistika, Universitas Islam Indonesia (UII) di Yogyakarta. Ini pun saya peroleh karena salah satu dosen di sana merupakan kawan seangkatan saya waktu kuliah di Institut Teknologi Bandung. Terima kasih kepada Atina Ahdika MA08 yang telah mengundang saya.

uii2

Menjadi pembicara di kampus bukan kali pertama ini. Pada Maret 2017, saya kebetulan menjadi salah satu pembicara untuk program pendidikan lanjutan para akuntan di Universitas Brawijaya. Saat itu saya diajak oleh pak Jusuf Wibisana -beliau merupakan salah satu partner di PwC Indonesia- untuk memberikan presentasi mengenai PSAK 108 “Akuntansi Transaksi Syariah”, terutama di bagian penyisihan teknis. Tetapi saat itu, pesertanya bukan mahasiswa melainkan para akuntan dari seantero Jawa Timur. Bertemu kembali dengan mahasiswa tentu saja berbeda.

Untuk presentasi di UII, saya diberikan waktu sekitar 2 jam. Topik yang dipilih saat itu adalah karir aktuaris di luar perusahaan asuransi. Tentu saja ini berhubungan dengan tempat di mana saja bekerja saat ini yang bukan perusahaan asuransi. Diharapkan dengan topik ini, adik-adik (ya, saya sudah tua) mahasiswa – mahasiswi dapat mengetahui di mana saja mereka dapat berkarir.

Saat saya menulis ini (mungkin akan tetap sama sampai beberapa tahun ke depan), mayoritas dari aktuaris bekerja di perusahaan asuransi. Menurut saya, image dari perusahaan asuransi kurang / agak gimana gitu sehingga dapat menjadi halangan seseorang berkarir menjadi aktuaris. Tentu ini debatable. Lewat presentasi itu juga saya telah menekankan bahwa dengan skillset aktuaris yang paham (“paham”, bukan “jago”) dalam probabilitas statistik dan keuangan, tentu ilmunya akan terpakai di banyak institusi. Tidak hanya di asuransi. Tapi saya persempit lagi menjadi kantor konsultan jasa keuangan.

Memang saat saya menulis ini, di luar perusahaan asuransi, aktuaris dapat ditemukan di dalam kantor konsultan aktuaria – manfaat karyawan, dan kantor akuntan publik seperti saya. Saya tahu satu-dua orang yang bekerja di OJK dan BPJS TK / BPJS Kesehatan, dan bahkan World Bank. Teman baik saya yang sudah fellow bahkan ada yang bekerja di startup sebagai data scientist. Tentu hanya segelintir sekali.

Kembali lagi ke presentasi di depan mahasiswa. Kira-kira yang hadir saat itu 100 orang dari berbagai kampus di Yogyakarta. Saya tidak merasakan gugup atau demam panggung karena ini similar dengan masa-masa saya menjadi asisten dosen kalkulus dan biostatistika. Malah di kelas Biostatistika, bisa lebih dari 150 orang karena berisi satu fakultas ilmu teknologi hayati. Saya menyelipkan beberapa kuesioner online di dalam slide. Seperti ini menjadi new normal dan menjadi cara yang ampuh agar presentasi tidak membosankan.

Setelah selesai memaparkan bahan, kini lanjut ke sesi tanya jawab. Ada kira-kira 5-6 pertanyaan saat itu. Yang menarik adalah ada yang bertanya bagaimana menyikapi kalau asuransi itu riba namun bekerja sebagai aktuaris? Oke, sedari saya tiba di UII juga saya merasakan atmosfer keislaman yang kental. Jadi tidak kaget dengan pertanyaan seperti ini. Berikut poin-poin tanggapan saya saat itu:

1. Bedakan asuransi dengan judi

Menurut saya, asuransi tak sama dengan judi. Asuransi dan judi keduanya mengandung ketidakpastian. Dalam asuransi, ketidakpastian itu terdapat dalam kapan kita akan meninggal, sakit, atau kapan mobil kita tertabrak. Begitu pula judi. Dalam sebuah game roulette, ketidakpastiannya bersumber dari putaran piringan yang mempengaruhi di mana bola akan mendarat. Tetapi perbedaan mendasarnya adalah: Dalam asuransi, risiko “yang dipertaruhkan” sudah ada dan bukan kita yang membuatnya. Dan kita tidak mengambil untung atas risiko tersebut (kalau meninggal dunia, ya sudah. Tetapi kalau sakit? Sepertinya tidak ada yang ingin sakit). Berbeda dengan judi di mana jika kita tidak bertaruh sejak awal, risikonya tentu tidak akan pernah ada.

Memang dalam asuransi kita akan membayarkan uang premi dan jika kita tidak pernah klaim, tentu kita tidak akan mendapatkan apa-apa atau bahkan pengembalian premi. Tetapi dibalik itu, kita telah membantu orang lain yang mengalami peristiwa kemalangan. Di dalam asuransi syariah, konsep inilah yang digunakan. Peserta asuransi menghibahkan uangnya ke dalam dana kumpulan di mana dana tersebut akan digunakan ke peserta yang mengalami kesulitan.

2. Mengenai asuransi syariah

Seperti yang saya tulis di atas, asuransi syariah mengedepankan konsep bantu membantu. Uang premi yang dibayar dianggap seperti hibah. Dalam asuransi syariah, jelas pembagian antara porsi uang premi untuk operator dan untuk dana kumpulan. Pengelolaan dana kumpulan juga ditempatkan pada instrument keuangan yang mengikuti standar syariah. Setiap produk asuransi syariah harus disertai dengan persetujuan dewan pengawas syariah (DPS) yang berisi beberapa ulama. Tentu ulama tsb menyatakan produk asuransi syariah sudah sesuai dengan hukum syariah.

Jika terdapat keraguan mengenai asuransi, menurut saya bekerja di perusahaan asuransi syariah dapat dijadikan alternatif (selama memang kita mau percaya dan mengikuti ulama yang menandatangani surat persetujuan tsb)

Memang saat itu dan sekarang, saya bukan di posisi untuk menentukan apakah asuransi tidak masuk riba atau bukan. Jadi saya kembalikan lagi ke sikap masing-masing. Jika merasa tidak sreg menjadi aktuaris karena meyakini asuransi adalah riba, lebih baik tidak usah sama sekali karena saya rasa kalau kita bekerja tetapi tidak yakin bahwa apa yang kita kerjakan itu baik, tentu tidak baik bagi diri kita sendiri nantinya.

Iklan

Mendeteksi Akar Ekonomi dari Radikalisme dan Disharmoni Sosial

faisal basri

Pemerintah mengklaim selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK berhasil mengurangi tingkat ketimpangan sebagaimana tercermin dari penurunan nisbah Gini (Gini ratio). Bahkan pada Maret 2016, nisbah gini sudah turun di bawah 0,4, yang berarti tingkat ketimpangan tergolong baik. Nisbah gini antara 0,4 sampai 0,5 masuk kategori ketimpangan sedang; dan di atas 0,5 tergolong ketimpangan buruk.

gini Sumber: Badan Pusat Statistik

ŸKecenderungan ketimpangan jangka panjang (garis hitam) masih menunjukkan pemburukan.

gini_bps

Namun perlu diingat, nisbah Gini yang dihitung oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tidak mengukur tingkat ketimpangan pendapatan (income inequality) maupun ketimpangan kekayaan (wealth inequality). BPS menghitung nisbah Gini berdasarkan data pengeluaran yang diperoleh dari Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Ketimpangan pengeluaran sudah barang tentu lebih rendah ketimbang ketimpangan pendapatan maupun ketimpangan kekayaan, karena perbedaan konsumsi orang terkaya dibandingkan konsumsi orang termiskin cenderung jauh lebih kecil dibandingkan perbedaan pendapatan dan kekayaannya.

Perbedaan sangat mencolok antara data pengeluaran dan kekayaan bisa dilihat…

Lihat pos aslinya 636 kata lagi

Merak – Banyuwangi dengan Kereta Api Dalam Dua Hari?

Kereta Api Krakatau (Krakatau Train)
Kereta Api Krakatau – Photo: Gudhell Fadillah (Flickr)

Sudah terpikirkan dari beberapa bulan yang lalu. Bagaimana jika kita bepergian dari Jakarta sampai Banyuwangi pulang pergi, lewat jalur kereta api yang berbeda yaitu jalur utara dan jalur selatan (atau sebaliknya), dan perjalanan tersebut dilakukan dari Jumat malam (pulang kerja), lalu sampai kembali di Jakarta pada Minggu malam atau Senin dini hari? Setelah saya riset sedikit, hal tersebut ternyata memungkinkan. Begini rencananya :

trains
Jakarta – Banyuwangi – Jakarta
  1. Naik KA Sembrani dari Stasiun Gambir. Berangkat pukul 19.15
  2. KA Sembrani akan tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 05.35
  3. Selanjutnya naik angkutan umum ke Stasiun Gubeng
  4. Naik KA Mutiara Timur Siang yang berangkat pukul 09.00. Sampai di kota Banyuwangi pukul 15.30
  5. Dari sini, kita harus menunggu KA Mutiara Timur Malam yang berangkat pukul 22.00. Jadi kira-kira ada waktu 5.5 jam untuk istirahat
  6. Sampai kembali di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04.30.
  7. Setelah itu menunggu KA Gaya Baru Malam tujuan Stasiun Pasar Senen yang berangkat pukul 12.00. KA ini merupakan KA pertama tujuan Jakarta yang melewati jalur selatan. Sampai di Stasiun Pasar Senen pukul 01.48

Dengan rencana di atas, jika kita berangkat pada Jumat malam, kita akan sampai kembali di Jakarta pada Senin dini hari. Bagus untuk orang kantoran yang tak mau menggunakan jatah cuti.

Total waktu yang dihabiskan dengan rencana di atas kira-kira 56 jam yang terdiri dari 43 jam di dalam kereta dan 13 jam dihabiskan di luar kereta.

Bagaimana jika Merak – Banyuwangi pp? Apakah bisa? Rencana yang dapat saya buat kira-kira seperti ini:

trains2
Merak – Banyuwangi – Merak
  1. Naik KA Krakatau Ekspress dari Stasiun Merak pukul 08.00
  2. Naik KA Krakatau Ekspress sampai Kertosono. Sampai di kota itu pukul 01.55
  3. Selanjutnya, naik KRD Kertosono dengan tujuan Stasiun Surabaya Gubeng. KRD Kertosono berangkat pukul 04.45. Sampai di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 06.54
  4. Seperti rencana sebelumnya, naik KA Mutiara Timur Siang pukul 09.00. Sampai di kota Banyuwangi pukul 19.30. Lalu pergi kembali dengan KA Mutiara Timur Malam yang berangkat pukul 22.00
  5. Sampai kembali di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04.30.
  6. Selanjutnya naik angkutan umum ke Stasiun Surabaya Pasar Turi untuk naik KA Argo Bromo Anggrek Pagi yang berangkat pukul 08.00
  7. Sampai di Stasiun Gambir pukul 17.00 di hari yang sama. Naik Busway ke Stasiun Pasar Senen
  8. Dari Stasiun Pasar Senen, naik KA Krakatau Ekspress yang tiba dari Kediri di Pasar Senen pukul 22.00
  9. Sampai kembali di Stasiun Merak pukul 02.07

Dengan rencana di atas, harus menggunakan cuti karena berangkat dari Stasiun Merak pada Jumat pagi. Tetapi bisa sampai kembali di Merak pada Senin dini hari. Bagi yang tinggal di Jakarta, perlu naik bis / kereta kembali ke Jakarta.

Total waktu yang dihabiskan dengan rencana di atas kira-kira 66 jam yang terdiri dari 52 jam di dalam kereta dan 14 jam dihabiskan di luar kereta.

Dua rencana di atas memang baru sekedar rencana. Saya sendiri belum pernah mencobanya (suatu saat nanti). Apakah teman-teman ada yang pernah melakukan perjalanan tersebut?

The best advice on Twitter trolls was written by al-Ghazali in the 11th century

Sarah Kendzior

As I posted on Twitter earlier today, the best advice I’ve seen on dealing with Twitter trolls comes from the 11th century Sufi philosopher al-Ghazali and his text “Ayyuha l’Walad”. Al-Ghazali anticipated our social media problems by 1000 years.

By al-Ghazali’s definition, there are four types of Twitter trolls. Below: a description of the trolls, and his advice on how to deal with them.

Type 1: Jealous haters. Advice: “Depart from him and leave him with his disease.”

Then know that the sickness of ignorance is of four sorts, one curable and the others incurable. Of these which cannot be cured, [the first] is one whose question or objection arises from envy and hate, [and envy cannot be cured for it is a chronic weakness] and every time you answer him with the best or clearest or plainest answer, that only increases his rage and envy. And the…

Lihat pos aslinya 506 kata lagi

The boy called it a “Googol”

Judul post ini bukan salah ketik Google. Istilah “Googol” memang ada. Pada suatu waktu di tahun 1920, Edward Kasner, matematikawan berkebangsaan Amerika Serikat meminta kepada keponakannya untuk memberikan nama ke sebuah angka yang sangat besar. Bilangan yang dimaksud adalah 10^{100}, yang kemudian diberi nama Googol. Angka 1 yang diikuti oleh 100 buah nol di belakangnya.

Ada istilah lainnya yaitu Googolplex yang merupakan bilangan yang bernilai 10 pangkat Googol, 10^{10^{100}}. Angka 1 yang diikuti oleh 10^{100} buah nol di belakangnya.

Sebutan bilangan Googol inilah yang dijadikan inspirasi dalam penamaan web mesin pencari Google.

vlcsnap-2016-03-03-22h20m02s17

Jauh sebelum Google lahir pada tahun 1998, Carl Sagan membahas bilangan ini di Cosmos : A Personal Voyage pada episode ke 9. Saat itu, Carl Sagan membahas Googol sebagai pengantar menuju ketakhinggaan / infinity. Sebagai bayangan, jumlah dari proton, elektron, dan neutron yang ada di seluruh alam semesta hanya sekitar 10^{80} (setelah saya mencari tahu lebih lanjut, sepertinya ini diperoleh dari Eddington). Jumlah proton yang ada di alam semesta masih 1 per 10,000,000,000 dari Googol.

Ceremai via Linggarjati lagi

Cerita di bawah ini seharusnya saya post sekitar 10 bulan yang lalu tetapi terlupakan di draft. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyelesaikannya

—-

Setelah (mendadak) solo hiking Ceremai via Linggarjati pada November 2014 lalu, weekend lalu saya, Masdan, Oki, Rakhel, dan Fitri menjajal (sebagian orang “menjajal lagi”) Ceremai via Linggarjati. Entah kenapa jalur ini sangat berkesan buat saya walau memang tanjakannya agak amit-amit. Dari beberapa gunung yang pernah saya daki, saya akui Ceremai via Linggarjati ini yang paling tough. Pendakian kali ini dilaksanakan atas prakarsa Masdan yang katanya mau latihan dulu sebelum ke Kerinci 13 Mei nanti (saya juga ikut loh), dan Fitri yang mau mencoba mendaki Ceremai.

DSC_0002

Bagi beberapa orang, mendaki gunung yang sama berkali-kali mungkin membosankan dan ndak enak. Apalagi kalau jalurnya start dari 600 MDPL, tidak ada air, dan penuh dengan tanjakan amit-amit 3D (Dengkul bertemu Dada dan Dagu). Menurut saya mendaki gunung yang sama berkali-kali itu berbeda. Tidak ada yang sama. Meskipun anda melewati jalur yang sama sepertinya tidak mungkin anda ingat secara persis jalur tersebut akan mengarah ke mana. Yang ada hanyalah fragmen-fragmen ingatan yang lepas satu sama lain. Menyatukan fragmen – fragmen tersebut dengan suasana baru seperti teman pendakian baru, jelas tidak akan pernah membuat anda bosan dengan pendakian gunung yang sama.

Perjalanan dimulai di terminal Kampung Rambutan. Karena pendakian ini dadakan, jadi kami opsi kendaraan umum yang tersisa hanyalah naik bis. Saya ingat bahwa Masdan awalnya mengajak kita untuk naik bis dari terminal Pulo Gadung. Saya baru ingat bahwa ada bis Setia Negara dari Kp Rambutan tujuan Cirebon. Saat itu hanya saya berpikir bahwa itulah terakhir kali naik bis Setia Negara karena ngetemnya lama sekali. Sebagai bayangan saja, dari depan terminal Kp Rambutan sampai masuk tol JORR, total waktu yang dihabiskan lebih dari 1 jam. Saya sempat frustasi saat itu.

Kekesalan belum selesai, ternyata jalanan macet sampai bis ini beberapa kali keluar tol untuk lewat jalan raya Pantura. Akhirnya kita sampai di Linggarjati sudah cukup siang, sekitar jam 6 pagi. Seharusnya pagi buta kami sudah sampai dan jam 6 sudah start mendaki.

Rencananya, kami akan naik lewat Linggarjati dan turun lewat Palutungan. Sehingga target hari itu adalah camp di puncak Pangolongokan. Sayang sekali, baru sampai Batu Lingga, kami kehujanan akhirnya kami buka tenda dan hari itu sudah malam. Lokasinya hanya beberapa puluh meter dari lokasi awal saya ke Ceremai, hanya lebih rendah saja. Jika saja tidak hujan, kami akan tetap meneruskan perjalanan walau hari gelap. Sebelum pendakian ini, saya sempat mendaki sendirian (yang akhirnya ikut kelompok dari Bekasi karena pendaki solo tidak akan mendapatkan simaksi), berangkat jam 6 pagi, dan sampai di camp Pengasinan jam 8 malam.

Jika saat pendakian pertama saya dan teman-teman kehabisan air, pendakian kali ini kami benar-benar mapan air! Bayangkan saja, di tempat kami membuka tenda, Fitri bisa mencuci kaki dan matrasnya dengan cara menyiramnya dengan air. Ceritanya dimulai dengan masing-masing orang membawa minimal 4 botol air mineral berukuran 1.5 liter. Kami sepakat hanya boleh minum maksimal sebanyak satu botol saat perjalanan naik, 2 botol untuk masak, dan satu botol sisanya untuk perjalanan turun. Okay, semua sepertinya mengikuti aturan tersebut. Tiba-tiba malam itu hujan turun dengan derasnya di pos Batu Lingga sehingga flysheet kami menampung banyak sekali air hujan. Dari situ, kami berilma mendapatkan ekstra 6 botol air hujan. Di dalam gunung dan hutan yang diketahui tidak ada sumber air, air hujan dan air mineral botol rasanya sama saja. Bahkan beberapa kali saya minum air tersebut mentah-mentah atau untuk menyeduh kopi sachet.

Review App: Blinkist

Blinkist adalah suatu app yang dapat membuat anda menjadi lebih pintar dalam waktu singkat, dan berpotensi untuk ditakuti warga sekitar.

Oke, yang di atas tadi bercanda. Blinkist adalah suatu app yang dibuat oleh Blinks Lab GmbH yang berisi rangkuman dari buku-buku non fiksi terkenal. Blinkist memungkinkan para penggunanya untuk mengetahui inti dari suatu buku, dan dibahas secara bab per bab. Kurang lebih ini seperti percakapan suatu hari di pojok sekolah / kampus (perhaps)

“Kamu sudah baca Freakonomist?”

“Sudah”

“Itu isinya apa sih?”

Blinkist mengklaim terdapat 1000+ buku non fiksi yang sudah dalam bentuk Blinks, yaitu summary dari buku non fiksi, dalam format yang mudah dibaca tetapi masih dalam bentuk narasi.

Blinks tersebut dibuat oleh para expert di bidangnya dan dikerjakan secara manual. Jadi misalkan ada buku bertema ekonomi, mungkin yang membuat Blinks-nya adalah ekonom. Sayang mereka tidak memberi tahu siapa yang merangkum buku tersebut.

Menurut saya koleksi Blinks yang tersedia cukup variatif dan bertambah terus setiap harinya. Kita juga dapat browse koleksi Blinks secara kategori sesuai minat kita. Entah itu science, economics, psychology, etc. Terdapat nama-nama penulis yang terkenal mulai dari Jared Diamond sampai Karl Marx.

Karena yang Blinks yang kita baca dalam bentuk summary per bab, jadi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah buku menjadi sangat singkat. Freakonomist saja bisa selesai dibaca tak sampai 15 menit. Bisa membuat waktu bermacet-macet anda di jalan menjadi lebih produktif.

App ini dapat diunduh secara gratis via Google Play atau Apple Store. Sayangnya, hanya gratis trial selama 3 hari. Setelah 3 hari, anda dipersilahkan untuk subscribe menjadi user Blink Plus atau Premium yang masing-masingnya seharga US$ 49.99 dan US$ 79.99 per tahunnya. Perbedaannya adalah pada plan Premium, ada fasilitas audiobook dan sinkronisasi ke Kindle.

Idealnya, kita harus membaca buku secara lengkap. Saya setuju dengan hal ini. Tetapi jika itu tidak dapat kita lakukan, cara seperti ini lebih baik daripada tidak membaca buku sama sekali. Toh kita mengambil pengetahuan yang ada di dalamnya.