Merak – Banyuwangi dengan Kereta Api Dalam Dua Hari?

Kereta Api Krakatau (Krakatau Train)
Kereta Api Krakatau – Photo: Gudhell Fadillah (Flickr)

Sudah terpikirkan dari beberapa bulan yang lalu. Bagaimana jika kita bepergian dari Jakarta sampai Banyuwangi pulang pergi, lewat jalur kereta api yang berbeda yaitu jalur utara dan jalur selatan (atau sebaliknya), dan perjalanan tersebut dilakukan dari Jumat malam (pulang kerja), lalu sampai kembali di Jakarta pada Minggu malam atau Senin dini hari? Setelah saya riset sedikit, hal tersebut ternyata memungkinkan. Begini rencananya :

trains
Jakarta – Banyuwangi – Jakarta
  1. Naik KA Sembrani dari Stasiun Gambir. Berangkat pukul 19.15
  2. KA Sembrani akan tiba di Stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 05.35
  3. Selanjutnya naik angkutan umum ke Stasiun Gubeng
  4. Naik KA Mutiara Timur Siang yang berangkat pukul 09.00. Sampai di kota Banyuwangi pukul 15.30
  5. Dari sini, kita harus menunggu KA Mutiara Timur Malam yang berangkat pukul 22.00. Jadi kira-kira ada waktu 5.5 jam untuk istirahat
  6. Sampai kembali di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04.30.
  7. Setelah itu menunggu KA Gaya Baru Malam tujuan Stasiun Pasar Senen yang berangkat pukul 12.00. KA ini merupakan KA pertama tujuan Jakarta yang melewati jalur selatan. Sampai di Stasiun Pasar Senen pukul 01.48

Dengan rencana di atas, jika kita berangkat pada Jumat malam, kita akan sampai kembali di Jakarta pada Senin dini hari. Bagus untuk orang kantoran yang tak mau menggunakan jatah cuti.

Total waktu yang dihabiskan dengan rencana di atas kira-kira 56 jam yang terdiri dari 43 jam di dalam kereta dan 13 jam dihabiskan di luar kereta.

Bagaimana jika Merak – Banyuwangi pp? Apakah bisa? Rencana yang dapat saya buat kira-kira seperti ini:

trains2
Merak – Banyuwangi – Merak
  1. Naik KA Krakatau Ekspress dari Stasiun Merak pukul 08.00
  2. Naik KA Krakatau Ekspress sampai Kertosono. Sampai di kota itu pukul 01.55
  3. Selanjutnya, naik KRD Kertosono dengan tujuan Stasiun Surabaya Gubeng. KRD Kertosono berangkat pukul 04.45. Sampai di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 06.54
  4. Seperti rencana sebelumnya, naik KA Mutiara Timur Siang pukul 09.00. Sampai di kota Banyuwangi pukul 19.30. Lalu pergi kembali dengan KA Mutiara Timur Malam yang berangkat pukul 22.00
  5. Sampai kembali di Stasiun Surabaya Gubeng pukul 04.30.
  6. Selanjutnya naik angkutan umum ke Stasiun Surabaya Pasar Turi untuk naik KA Argo Bromo Anggrek Pagi yang berangkat pukul 08.00
  7. Sampai di Stasiun Gambir pukul 17.00 di hari yang sama. Naik Busway ke Stasiun Pasar Senen
  8. Dari Stasiun Pasar Senen, naik KA Krakatau Ekspress yang tiba dari Kediri di Pasar Senen pukul 22.00
  9. Sampai kembali di Stasiun Merak pukul 02.07

Dengan rencana di atas, harus menggunakan cuti karena berangkat dari Stasiun Merak pada Jumat pagi. Tetapi bisa sampai kembali di Merak pada Senin dini hari. Bagi yang tinggal di Jakarta, perlu naik bis / kereta kembali ke Jakarta.

Total waktu yang dihabiskan dengan rencana di atas kira-kira 66 jam yang terdiri dari 52 jam di dalam kereta dan 14 jam dihabiskan di luar kereta.

Dua rencana di atas memang baru sekedar rencana. Saya sendiri belum pernah mencobanya (suatu saat nanti). Apakah teman-teman ada yang pernah melakukan perjalanan tersebut?

The best advice on Twitter trolls was written by al-Ghazali in the 11th century

Sarah Kendzior

As I posted on Twitter earlier today, the best advice I’ve seen on dealing with Twitter trolls comes from the 11th century Sufi philosopher al-Ghazali and his text “Ayyuha l’Walad”. Al-Ghazali anticipated our social media problems by 1000 years.

By al-Ghazali’s definition, there are four types of Twitter trolls. Below: a description of the trolls, and his advice on how to deal with them.

Type 1: Jealous haters. Advice: “Depart from him and leave him with his disease.”

Then know that the sickness of ignorance is of four sorts, one curable and the others incurable. Of these which cannot be cured, [the first] is one whose question or objection arises from envy and hate, [and envy cannot be cured for it is a chronic weakness] and every time you answer him with the best or clearest or plainest answer, that only increases his rage and envy. And the…

Lihat pos aslinya 506 kata lagi

The boy called it a “Googol”

Judul post ini bukan salah ketik Google. Istilah “Googol” memang ada. Pada suatu waktu di tahun 1920, Edward Kasner, matematikawan berkebangsaan Amerika Serikat meminta kepada keponakannya untuk memberikan nama ke sebuah angka yang sangat besar. Bilangan yang dimaksud adalah 10^{100}, yang kemudian diberi nama Googol. Angka 1 yang diikuti oleh 100 buah nol di belakangnya.

Ada istilah lainnya yaitu Googolplex yang merupakan bilangan yang bernilai 10 pangkat Googol, 10^{10^{100}}. Angka 1 yang diikuti oleh 10^{100} buah nol di belakangnya.

Sebutan bilangan Googol inilah yang dijadikan inspirasi dalam penamaan web mesin pencari Google.

vlcsnap-2016-03-03-22h20m02s17

Jauh sebelum Google lahir pada tahun 1998, Carl Sagan membahas bilangan ini di Cosmos : A Personal Voyage pada episode ke 9. Saat itu, Carl Sagan membahas Googol sebagai pengantar menuju ketakhinggaan / infinity. Sebagai bayangan, jumlah dari proton, elektron, dan neutron yang ada di seluruh alam semesta hanya sekitar 10^{80} (setelah saya mencari tahu lebih lanjut, sepertinya ini diperoleh dari Eddington). Jumlah proton yang ada di alam semesta masih 1 per 10,000,000,000 dari Googol.

Ceremai via Linggarjati lagi

Cerita di bawah ini seharusnya saya post sekitar 10 bulan yang lalu tetapi terlupakan di draft. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyelesaikannya

—-

Setelah (mendadak) solo hiking Ceremai via Linggarjati pada November 2014 lalu, weekend lalu saya, Masdan, Oki, Rakhel, dan Fitri menjajal (sebagian orang “menjajal lagi”) Ceremai via Linggarjati. Entah kenapa jalur ini sangat berkesan buat saya walau memang tanjakannya agak amit-amit. Dari beberapa gunung yang pernah saya daki, saya akui Ceremai via Linggarjati ini yang paling tough. Pendakian kali ini dilaksanakan atas prakarsa Masdan yang katanya mau latihan dulu sebelum ke Kerinci 13 Mei nanti (saya juga ikut loh), dan Fitri yang mau mencoba mendaki Ceremai.

DSC_0002

Bagi beberapa orang, mendaki gunung yang sama berkali-kali mungkin membosankan dan ndak enak. Apalagi kalau jalurnya start dari 600 MDPL, tidak ada air, dan penuh dengan tanjakan amit-amit 3D (Dengkul bertemu Dada dan Dagu). Menurut saya mendaki gunung yang sama berkali-kali itu berbeda. Tidak ada yang sama. Meskipun anda melewati jalur yang sama sepertinya tidak mungkin anda ingat secara persis jalur tersebut akan mengarah ke mana. Yang ada hanyalah fragmen-fragmen ingatan yang lepas satu sama lain. Menyatukan fragmen – fragmen tersebut dengan suasana baru seperti teman pendakian baru, jelas tidak akan pernah membuat anda bosan dengan pendakian gunung yang sama.

Perjalanan dimulai di terminal Kampung Rambutan. Karena pendakian ini dadakan, jadi kami opsi kendaraan umum yang tersisa hanyalah naik bis. Saya ingat bahwa Masdan awalnya mengajak kita untuk naik bis dari terminal Pulo Gadung. Saya baru ingat bahwa ada bis Setia Negara dari Kp Rambutan tujuan Cirebon. Saat itu hanya saya berpikir bahwa itulah terakhir kali naik bis Setia Negara karena ngetemnya lama sekali. Sebagai bayangan saja, dari depan terminal Kp Rambutan sampai masuk tol JORR, total waktu yang dihabiskan lebih dari 1 jam. Saya sempat frustasi saat itu.

Kekesalan belum selesai, ternyata jalanan macet sampai bis ini beberapa kali keluar tol untuk lewat jalan raya Pantura. Akhirnya kita sampai di Linggarjati sudah cukup siang, sekitar jam 6 pagi. Seharusnya pagi buta kami sudah sampai dan jam 6 sudah start mendaki.

Rencananya, kami akan naik lewat Linggarjati dan turun lewat Palutungan. Sehingga target hari itu adalah camp di puncak Pangolongokan. Sayang sekali, baru sampai Batu Lingga, kami kehujanan akhirnya kami buka tenda dan hari itu sudah malam. Lokasinya hanya beberapa puluh meter dari lokasi awal saya ke Ceremai, hanya lebih rendah saja. Jika saja tidak hujan, kami akan tetap meneruskan perjalanan walau hari gelap. Sebelum pendakian ini, saya sempat mendaki sendirian (yang akhirnya ikut kelompok dari Bekasi karena pendaki solo tidak akan mendapatkan simaksi), berangkat jam 6 pagi, dan sampai di camp Pengasinan jam 8 malam.

Jika saat pendakian pertama saya dan teman-teman kehabisan air, pendakian kali ini kami benar-benar mapan air! Bayangkan saja, di tempat kami membuka tenda, Fitri bisa mencuci kaki dan matrasnya dengan cara menyiramnya dengan air. Ceritanya dimulai dengan masing-masing orang membawa minimal 4 botol air mineral berukuran 1.5 liter. Kami sepakat hanya boleh minum maksimal sebanyak satu botol saat perjalanan naik, 2 botol untuk masak, dan satu botol sisanya untuk perjalanan turun. Okay, semua sepertinya mengikuti aturan tersebut. Tiba-tiba malam itu hujan turun dengan derasnya di pos Batu Lingga sehingga flysheet kami menampung banyak sekali air hujan. Dari situ, kami berilma mendapatkan ekstra 6 botol air hujan. Di dalam gunung dan hutan yang diketahui tidak ada sumber air, air hujan dan air mineral botol rasanya sama saja. Bahkan beberapa kali saya minum air tersebut mentah-mentah atau untuk menyeduh kopi sachet.

Review App: Blinkist

Blinkist adalah suatu app yang dapat membuat anda menjadi lebih pintar dalam waktu singkat, dan berpotensi untuk ditakuti warga sekitar.

Oke, yang di atas tadi bercanda. Blinkist adalah suatu app yang dibuat oleh Blinks Lab GmbH yang berisi rangkuman dari buku-buku non fiksi terkenal. Blinkist memungkinkan para penggunanya untuk mengetahui inti dari suatu buku, dan dibahas secara bab per bab. Kurang lebih ini seperti percakapan suatu hari di pojok sekolah / kampus (perhaps)

“Kamu sudah baca Freakonomist?”

“Sudah”

“Itu isinya apa sih?”

Blinkist mengklaim terdapat 1000+ buku non fiksi yang sudah dalam bentuk Blinks, yaitu summary dari buku non fiksi, dalam format yang mudah dibaca tetapi masih dalam bentuk narasi.

Blinks tersebut dibuat oleh para expert di bidangnya dan dikerjakan secara manual. Jadi misalkan ada buku bertema ekonomi, mungkin yang membuat Blinks-nya adalah ekonom. Sayang mereka tidak memberi tahu siapa yang merangkum buku tersebut.

Menurut saya koleksi Blinks yang tersedia cukup variatif dan bertambah terus setiap harinya. Kita juga dapat browse koleksi Blinks secara kategori sesuai minat kita. Entah itu science, economics, psychology, etc. Terdapat nama-nama penulis yang terkenal mulai dari Jared Diamond sampai Karl Marx.

Karena yang Blinks yang kita baca dalam bentuk summary per bab, jadi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah buku menjadi sangat singkat. Freakonomist saja bisa selesai dibaca tak sampai 15 menit. Bisa membuat waktu bermacet-macet anda di jalan menjadi lebih produktif.

App ini dapat diunduh secara gratis via Google Play atau Apple Store. Sayangnya, hanya gratis trial selama 3 hari. Setelah 3 hari, anda dipersilahkan untuk subscribe menjadi user Blink Plus atau Premium yang masing-masingnya seharga US$ 49.99 dan US$ 79.99 per tahunnya. Perbedaannya adalah pada plan Premium, ada fasilitas audiobook dan sinkronisasi ke Kindle.

Idealnya, kita harus membaca buku secara lengkap. Saya setuju dengan hal ini. Tetapi jika itu tidak dapat kita lakukan, cara seperti ini lebih baik daripada tidak membaca buku sama sekali. Toh kita mengambil pengetahuan yang ada di dalamnya.

Carl Sagan on Astrology

The writing below was taken from Carl Sagan’s Cosmos episode 3 “Harmony of The Worlds”. I re-typed the script

Astronomy and astrology were not always so distinct. For most of human history, the one encompassed the other. But there came a time when astronomy escaped from the confines of astrology.

The two traditions began to diverge in the life and mind of Johannes Kepler. It was he who demystified the heavens by discovering that a physical force lay behind the motions of the planets. He was the first astrophysicist and the last scientific astrologer.

The intellectual foundations of astrology were swept away 300 years ago and yet, astrology is still taken seriously by a great many people. Have you ever noticed how easy it is to find a magazine on astrology? Virtually every newspaper in America has a daily column on astrology. Almost none of them have even a weekly column on astronomy. People wear astrological pendants, check their horoscopes in the morning before leaving their house, even our language preserves an astrological aspect. For example, take the word “disaster”. It comes from the Greek for “bad star”. Italians once believed disease was caused by the influence of the stars. It’s the origin of our word “influenza”.

What is all this astrology business? Fundamentally it’s the contention that the constellations of the planets at the moment of your birth profoundly influences your future. A few thousand years ago the idea developed that the motions of the planets determined the fates of kings, dynasties, empires. Astrologers studied the motions of the planets and asked themselves what had happened last time that, say Venus was rising in the constellation of the Goat? Maybe something similar would happen this time as well. It was a subtle and risky business.

Astrologers became employed only by the state. In many countries it became capital offense for anyone but official astrologers to read the portents in the skies. Why? Because a good way to overthrow a regime was to predict its downfall. Chinese court astrologers who made inaccurate predictions were executed. Others simply doctored the records so that afterwards the were in perfect conformity with events. Astrology developed into a strange discipline: A mixture of careful observations, mathematics, and record-keeping with fuzzy thinking and pious fraud.

Nevertheless, astrology survived and flourished. Why? Because it seems to lend a cosmic significance to our daily lives. It pretends to satisfy our longing to feel personally connected with the universe. Astrology suggests a dangerous fatalism. If our lives are controlled by a set of traffic signals in the sky, why try to change anything?

Here, look at this. Two different newspapers, published in the same city on the same day. Let’s see what they do about astrology. Suppose you were a Libra that is born between September 23 and October 22. According to the astrologer for the New York Post: “Compromise will help ease tension”. Well, maybe it’s sort of vague. According to New York Daily News’s astrologer: “Demand more of yourself”. Well, aslo vague. But also pretty different. It’s interesting that these predictions are not predictions. They tell you what to do, they don’t say what will happen. They’re consciously designed to be so vague that it could apply to anybody and they disagree with each other.

Astrology can be tested by the lives of twins. There are many real cases like this: One twin is killed in childhood in, say, a riding accident, or is struck by lightning but the other lives to a prosperous old age. Suppose that happened to me. My twin and I would be born in precisely the sampe place and within minutes of each other. Exactly the same planets would be rising at our births. If astrology were valid how could we have such profoundly different fates? It turns out that astrologers can’t even agree among themselves what a given horoscope means. In careful tests they’re unable to predict the character and future of people they know nothing about except the time and place of birth. Also how could it possibly work? How could the rising of Mars at the moment of my birth affect me then or now? I was born in a closed room. Light from Mars couldn’t get in. The only influence of Mars which could affect me was its gravity. But the gravitational influence of the obstetrician was much larger than the gravitational influence or Mars.

Mars is a lot more massive but the obstetrician was a lot closer.

Bersih-bersih

Sepertinya sudah hampir setengah tahun tidak ada konten baru di blog ini. Saat ini saya lebih suka twitter daripada blogging. Niat untuk menjadikan beberapa tweet menjadi ide tulisan di blog sama sekali tak terlaksana

Bahasan di Twitter sangat dinamis. Saat bangun tidur di pagi hari, anda bisa saja membahas konspirasi bom yang terjadi di Jl. MH Thamrin hari Kamis lalu, tetapi malamnya anda bisa saja membicarakan mengapa Jokowi tidak memasukkan kemejanya atau mengapa ada orang yang masih menganggap matahari mengitari Bumi. Saking dinamisnya, ia tak punya arah sama sekali. Arahnya adalah bergantung siapa saja yang ada di timeline-mu

Omong-omong saya sedikit kaget. User interface dari WordPress kini dengan tampilan yang baru dan lebih ‘bersih’. Entah sejak kapan karena ini pertama kalinya saya membuka blog sejak Juli 2015 lalu. Semoga sedikit banyak memotivasi saya untuk kembali menulis lagi