The best advice on Twitter trolls was written by al-Ghazali in the 11th century

Sarah Kendzior

As I posted on Twitter earlier today, the best advice I’ve seen on dealing with Twitter trolls comes from the 11th century Sufi philosopher al-Ghazali and his text “Ayyuha l’Walad”. Al-Ghazali anticipated our social media problems by 1000 years.

By al-Ghazali’s definition, there are four types of Twitter trolls. Below: a description of the trolls, and his advice on how to deal with them.

Type 1: Jealous haters. Advice: “Depart from him and leave him with his disease.”

Then know that the sickness of ignorance is of four sorts, one curable and the others incurable. Of these which cannot be cured, [the first] is one whose question or objection arises from envy and hate, [and envy cannot be cured for it is a chronic weakness] and every time you answer him with the best or clearest or plainest answer, that only increases his rage and envy. And the…

Lihat pos aslinya 506 kata lagi

The boy called it a “Googol”

Judul post ini bukan salah ketik Google. Istilah “Googol” memang ada. Pada suatu waktu di tahun 1920, Edward Kasner, matematikawan berkebangsaan Amerika Serikat meminta kepada keponakannya untuk memberikan nama ke sebuah angka yang sangat besar. Bilangan yang dimaksud adalah 10^{100}, yang kemudian diberi nama Googol. Angka 1 yang diikuti oleh 100 buah nol di belakangnya.

Ada istilah lainnya yaitu Googolplex yang merupakan bilangan yang bernilai 10 pangkat Googol, 10^{10^{100}}. Angka 1 yang diikuti oleh 10^{100} buah nol di belakangnya.

Sebutan bilangan Googol inilah yang dijadikan inspirasi dalam penamaan web mesin pencari Google.

vlcsnap-2016-03-03-22h20m02s17

Jauh sebelum Google lahir pada tahun 1998, Carl Sagan membahas bilangan ini di Cosmos : A Personal Voyage pada episode ke 9. Saat itu, Carl Sagan membahas Googol sebagai pengantar menuju ketakhinggaan / infinity. Sebagai bayangan, jumlah dari proton, elektron, dan neutron yang ada di seluruh alam semesta hanya sekitar 10^{80} (setelah saya mencari tahu lebih lanjut, sepertinya ini diperoleh dari Eddington). Jumlah proton yang ada di alam semesta masih 1 per 10,000,000,000 dari Googol.

Ceremai via Linggarjati lagi

Cerita di bawah ini seharusnya saya post sekitar 10 bulan yang lalu tetapi terlupakan di draft. Karena suatu hal, saya memutuskan untuk menyelesaikannya

—-

Setelah (mendadak) solo hiking Ceremai via Linggarjati pada November 2014 lalu, weekend lalu saya, Masdan, Oki, Rakhel, dan Fitri menjajal (sebagian orang “menjajal lagi”) Ceremai via Linggarjati. Entah kenapa jalur ini sangat berkesan buat saya walau memang tanjakannya agak amit-amit. Dari beberapa gunung yang pernah saya daki, saya akui Ceremai via Linggarjati ini yang paling tough. Pendakian kali ini dilaksanakan atas prakarsa Masdan yang katanya mau latihan dulu sebelum ke Kerinci 13 Mei nanti (saya juga ikut loh), dan Fitri yang mau mencoba mendaki Ceremai.

DSC_0002

Bagi beberapa orang, mendaki gunung yang sama berkali-kali mungkin membosankan dan ndak enak. Apalagi kalau jalurnya start dari 600 MDPL, tidak ada air, dan penuh dengan tanjakan amit-amit 3D (Dengkul bertemu Dada dan Dagu). Menurut saya mendaki gunung yang sama berkali-kali itu berbeda. Tidak ada yang sama. Meskipun anda melewati jalur yang sama sepertinya tidak mungkin anda ingat secara persis jalur tersebut akan mengarah ke mana. Yang ada hanyalah fragmen-fragmen ingatan yang lepas satu sama lain. Menyatukan fragmen – fragmen tersebut dengan suasana baru seperti teman pendakian baru, jelas tidak akan pernah membuat anda bosan dengan pendakian gunung yang sama.

Perjalanan dimulai di terminal Kampung Rambutan. Karena pendakian ini dadakan, jadi kami opsi kendaraan umum yang tersisa hanyalah naik bis. Saya ingat bahwa Masdan awalnya mengajak kita untuk naik bis dari terminal Pulo Gadung. Saya baru ingat bahwa ada bis Setia Negara dari Kp Rambutan tujuan Cirebon. Saat itu hanya saya berpikir bahwa itulah terakhir kali naik bis Setia Negara karena ngetemnya lama sekali. Sebagai bayangan saja, dari depan terminal Kp Rambutan sampai masuk tol JORR, total waktu yang dihabiskan lebih dari 1 jam. Saya sempat frustasi saat itu.

Kekesalan belum selesai, ternyata jalanan macet sampai bis ini beberapa kali keluar tol untuk lewat jalan raya Pantura. Akhirnya kita sampai di Linggarjati sudah cukup siang, sekitar jam 6 pagi. Seharusnya pagi buta kami sudah sampai dan jam 6 sudah start mendaki.

Rencananya, kami akan naik lewat Linggarjati dan turun lewat Palutungan. Sehingga target hari itu adalah camp di puncak Pangolongokan. Sayang sekali, baru sampai Batu Lingga, kami kehujanan akhirnya kami buka tenda dan hari itu sudah malam. Lokasinya hanya beberapa puluh meter dari lokasi awal saya ke Ceremai, hanya lebih rendah saja. Jika saja tidak hujan, kami akan tetap meneruskan perjalanan walau hari gelap. Sebelum pendakian ini, saya sempat mendaki sendirian (yang akhirnya ikut kelompok dari Bekasi karena pendaki solo tidak akan mendapatkan simaksi), berangkat jam 6 pagi, dan sampai di camp Pengasinan jam 8 malam.

Jika saat pendakian pertama saya dan teman-teman kehabisan air, pendakian kali ini kami benar-benar mapan air! Bayangkan saja, di tempat kami membuka tenda, Fitri bisa mencuci kaki dan matrasnya dengan cara menyiramnya dengan air. Ceritanya dimulai dengan masing-masing orang membawa minimal 4 botol air mineral berukuran 1.5 liter. Kami sepakat hanya boleh minum maksimal sebanyak satu botol saat perjalanan naik, 2 botol untuk masak, dan satu botol sisanya untuk perjalanan turun. Okay, semua sepertinya mengikuti aturan tersebut. Tiba-tiba malam itu hujan turun dengan derasnya di pos Batu Lingga sehingga flysheet kami menampung banyak sekali air hujan. Dari situ, kami berilma mendapatkan ekstra 6 botol air hujan. Di dalam gunung dan hutan yang diketahui tidak ada sumber air, air hujan dan air mineral botol rasanya sama saja. Bahkan beberapa kali saya minum air tersebut mentah-mentah atau untuk menyeduh kopi sachet.

Review App: Blinkist

Blinkist adalah suatu app yang dapat membuat anda menjadi lebih pintar dalam waktu singkat, dan berpotensi untuk ditakuti warga sekitar.

Oke, yang di atas tadi bercanda. Blinkist adalah suatu app yang dibuat oleh Blinks Lab GmbH yang berisi rangkuman dari buku-buku non fiksi terkenal. Blinkist memungkinkan para penggunanya untuk mengetahui inti dari suatu buku, dan dibahas secara bab per bab. Kurang lebih ini seperti percakapan suatu hari di pojok sekolah / kampus (perhaps)

“Kamu sudah baca Freakonomist?”

“Sudah”

“Itu isinya apa sih?”

Blinkist mengklaim terdapat 1000+ buku non fiksi yang sudah dalam bentuk Blinks, yaitu summary dari buku non fiksi, dalam format yang mudah dibaca tetapi masih dalam bentuk narasi.

Blinks tersebut dibuat oleh para expert di bidangnya dan dikerjakan secara manual. Jadi misalkan ada buku bertema ekonomi, mungkin yang membuat Blinks-nya adalah ekonom. Sayang mereka tidak memberi tahu siapa yang merangkum buku tersebut.

Menurut saya koleksi Blinks yang tersedia cukup variatif dan bertambah terus setiap harinya. Kita juga dapat browse koleksi Blinks secara kategori sesuai minat kita. Entah itu science, economics, psychology, etc. Terdapat nama-nama penulis yang terkenal mulai dari Jared Diamond sampai Karl Marx.

Karena yang Blinks yang kita baca dalam bentuk summary per bab, jadi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu buah buku menjadi sangat singkat. Freakonomist saja bisa selesai dibaca tak sampai 15 menit. Bisa membuat waktu bermacet-macet anda di jalan menjadi lebih produktif.

App ini dapat diunduh secara gratis via Google Play atau Apple Store. Sayangnya, hanya gratis trial selama 3 hari. Setelah 3 hari, anda dipersilahkan untuk subscribe menjadi user Blink Plus atau Premium yang masing-masingnya seharga US$ 49.99 dan US$ 79.99 per tahunnya. Perbedaannya adalah pada plan Premium, ada fasilitas audiobook dan sinkronisasi ke Kindle.

Idealnya, kita harus membaca buku secara lengkap. Saya setuju dengan hal ini. Tetapi jika itu tidak dapat kita lakukan, cara seperti ini lebih baik daripada tidak membaca buku sama sekali. Toh kita mengambil pengetahuan yang ada di dalamnya.

Carl Sagan on Astrology

The writing below was taken from Carl Sagan’s Cosmos episode 3 “Harmony of The Worlds”. I re-typed the script

Astronomy and astrology were not always so distinct. For most of human history, the one encompassed the other. But there came a time when astronomy escaped from the confines of astrology.

The two traditions began to diverge in the life and mind of Johannes Kepler. It was he who demystified the heavens by discovering that a physical force lay behind the motions of the planets. He was the first astrophysicist and the last scientific astrologer.

The intellectual foundations of astrology were swept away 300 years ago and yet, astrology is still taken seriously by a great many people. Have you ever noticed how easy it is to find a magazine on astrology? Virtually every newspaper in America has a daily column on astrology. Almost none of them have even a weekly column on astronomy. People wear astrological pendants, check their horoscopes in the morning before leaving their house, even our language preserves an astrological aspect. For example, take the word “disaster”. It comes from the Greek for “bad star”. Italians once believed disease was caused by the influence of the stars. It’s the origin of our word “influenza”.

What is all this astrology business? Fundamentally it’s the contention that the constellations of the planets at the moment of your birth profoundly influences your future. A few thousand years ago the idea developed that the motions of the planets determined the fates of kings, dynasties, empires. Astrologers studied the motions of the planets and asked themselves what had happened last time that, say Venus was rising in the constellation of the Goat? Maybe something similar would happen this time as well. It was a subtle and risky business.

Astrologers became employed only by the state. In many countries it became capital offense for anyone but official astrologers to read the portents in the skies. Why? Because a good way to overthrow a regime was to predict its downfall. Chinese court astrologers who made inaccurate predictions were executed. Others simply doctored the records so that afterwards the were in perfect conformity with events. Astrology developed into a strange discipline: A mixture of careful observations, mathematics, and record-keeping with fuzzy thinking and pious fraud.

Nevertheless, astrology survived and flourished. Why? Because it seems to lend a cosmic significance to our daily lives. It pretends to satisfy our longing to feel personally connected with the universe. Astrology suggests a dangerous fatalism. If our lives are controlled by a set of traffic signals in the sky, why try to change anything?

Here, look at this. Two different newspapers, published in the same city on the same day. Let’s see what they do about astrology. Suppose you were a Libra that is born between September 23 and October 22. According to the astrologer for the New York Post: “Compromise will help ease tension”. Well, maybe it’s sort of vague. According to New York Daily News’s astrologer: “Demand more of yourself”. Well, aslo vague. But also pretty different. It’s interesting that these predictions are not predictions. They tell you what to do, they don’t say what will happen. They’re consciously designed to be so vague that it could apply to anybody and they disagree with each other.

Astrology can be tested by the lives of twins. There are many real cases like this: One twin is killed in childhood in, say, a riding accident, or is struck by lightning but the other lives to a prosperous old age. Suppose that happened to me. My twin and I would be born in precisely the sampe place and within minutes of each other. Exactly the same planets would be rising at our births. If astrology were valid how could we have such profoundly different fates? It turns out that astrologers can’t even agree among themselves what a given horoscope means. In careful tests they’re unable to predict the character and future of people they know nothing about except the time and place of birth. Also how could it possibly work? How could the rising of Mars at the moment of my birth affect me then or now? I was born in a closed room. Light from Mars couldn’t get in. The only influence of Mars which could affect me was its gravity. But the gravitational influence of the obstetrician was much larger than the gravitational influence or Mars.

Mars is a lot more massive but the obstetrician was a lot closer.

Bersih-bersih

Sepertinya sudah hampir setengah tahun tidak ada konten baru di blog ini. Saat ini saya lebih suka twitter daripada blogging. Niat untuk menjadikan beberapa tweet menjadi ide tulisan di blog sama sekali tak terlaksana

Bahasan di Twitter sangat dinamis. Saat bangun tidur di pagi hari, anda bisa saja membahas konspirasi bom yang terjadi di Jl. MH Thamrin hari Kamis lalu, tetapi malamnya anda bisa saja membicarakan mengapa Jokowi tidak memasukkan kemejanya atau mengapa ada orang yang masih menganggap matahari mengitari Bumi. Saking dinamisnya, ia tak punya arah sama sekali. Arahnya adalah bergantung siapa saja yang ada di timeline-mu

Omong-omong saya sedikit kaget. User interface dari WordPress kini dengan tampilan yang baru dan lebih ‘bersih’. Entah sejak kapan karena ini pertama kalinya saya membuka blog sejak Juli 2015 lalu. Semoga sedikit banyak memotivasi saya untuk kembali menulis lagi

[Repost] Kuliah di Jurusan Matematika

Tulisan ini pernah saya buat di website masukitb(dot)com dalam rangka untuk memberikan gambaran ke adik-adik yang masih SMA tentang jurusan Matematika di ITB. Entah mengapa, kini website tersebut tak bisa diakses lagi namun ada blog lain yang me-repost ulang tulisan ini. Terima kasih kepada pemilik blog, mbak Witsqa

Tulisan di bawah ini saya copy-paste langsung tanpa diubah lagi


Tentang Jurusan Matematika

Matematika, siapa yang ga tau bidang ini. Setiap calon mahasiswa baik apapun jurusan yang diambil di kuliah, minimal pernah belajar matematika selama 12 tahun. Dan beberapa jurusan kuliah non-matematika, teknik misalnya, pasti ketemu lagi dengan bidang ini. Jadi takut dengan matematika sudah tidak relevan lagi bagi kalian.

Bagaimana dengan Jurusan Matematika (MA)?

Materi Kuliah

Untuk tingkat-tingkat awal di jurusan MA, akan diajarkan tools-tools dasar yang akan menunjang kuliah-kuliah tingkat lebih tinggi lagi. Beberapa kuliah dasar yang akan ditemui di jurusan matematika.

  • Aljabar Linear Elementer
  • Matematika Diskrit
  • Kalkulus
  • Statistik Dasar / Analisis Data
  • Persamaan Diferensial

Karena masih berupa tools, kuliah tingkat awal di MA masih banyak hitung-hitungannya. Setelah kuliah-kuliah dasar diatas, kalian akan dapat kuliah yang benar-benar real untuk anak MA yang tidak dipelajari oleh jurusan lain (Kuliah diatas masih dipelajari anak-anak dari jurusan lain, teknik misalnya) seperti :

  • Analisis Real dan Kompleks
  • Statistika Matematika
  • Aljabar Linear Lanjut, atau Aljabar Abstrak
  • Teori Peluang, Teori Graf
  • Teori Optimasi

untuk kuliah-kuliah diatas, kita diajarkan bagaimana mengerjakan pembuktian matematika secara rigorous dan tertata rapi (khususnya kuliah Aljabar, Analisis Real dan Kompleks) . Disini tidak ada lagi yang namanya menghitung-hitung seperti kuliah tingkat awal. Bahkan soal ujian pun kadang ada yang tidak mengandung angka sama sekali, hanya kalimat saja tetapi penyelesainnya rame

Setelah kuliah-kuliah diatas, kalian tentu akan mengerjakan tugas akhir atau skripsi. Untuk mengambil tugas akhir, kalian perlu memutuskan untuk masuk ke bidang matematika yang lebih spesifik dan mendalam, nanti akan dijelaskan beberapa kelompok keahlian yang ada di jurusan MA ini

Anak MA itu biasanya gimana sih?

kalau saya berani bilang beragam. Mulai dari yang berkacamata tebal dan rajin baca buku, sampai yg sering gaul dan modis ada semua disini . Kesamaan mereka satu, logis dan nalar insya Allah sangat terlatih jika kalian kuliah di MA karena matematika adalah sekolah berpikir (kata salah satu dosen saya)

Kelompok Keahlian

Kelompok keahlian disini adalah bidang keahlian khusus yang lebih sempit dan mendalam di dalam bidang keilmuan matematika. Setidaknya ada 5 kelompok keahlian

  • Aljabar

Salah satu bidang yang lumayan hardcore (setidaknya menurut saya, mungkin berbeda buat orang lain). Didalamnya banyak aneka ragam pembuktian matematis yang bahkan kalian sendiri tidak kebayang gunanya untuk apa dan bagaimana ilustrasinya (sorry buat anak aljabar :p). Yang diajarkan disini adalah konsep2 penting yang ada di aljabar misalnya konsep himpunan, bilangan, matriks, ruang vektor, grup, ring, dll

  • Statistik

Disini kalian akan belajar bagaimana mengolah, menginterpretasi, dan mengambil keputusan berdasarkan data yang ada. Secara garis besar memang seperti itu. Agar kalian bisa mempunyai skill diatas, wajib hukumnya untuk mengetahui konsep peluang (probability). Setidaknya ada 3 mata kuliah yang masing-masing berbobot 4 SKS yang wajib diambil oleh anak Matematika (MA) di bidang statistik. Bagi yang mau jadi aktuaris, harus jago di statistiknya. Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) dan ITB sudah menandatangani MoU yang berakibat kuliah-kuliah statistik di MA-ITB bisa dikonversi langsung menjadi modul mata ujian profesi aktuaris.

  • Kombinatorika

Kalau boleh saya bilang, kombinatorika itu core ilmu dari informatika. Disini kalian akan belajar teori graf, teori bilangan, kriptografi, teori koding (ini jeroannya barcode, CD ROM, tiket parkir, dll). Bidang ini masih tergolong baru, masih banyak misteri didalamnya. Contoh penerapannya pasti kalian tahu kan jadwal pesawat terbang? dengan menggunakan konsep graf, akan dengan mudah mengatur jadwal pesawat sesuai dengan armada, crew, pilot, dan tujuan pesawat secara optimum.

  • Analisis dan Geometri

Ini bidang yang saya sukai. Disinilah kalian akan tahu asal mula turunan, limit, integral yang bukan sekedar ngitung seperti SMA. Selain itu, Geometri juga bidang yang seru. Geomteri disini tidak sekedar apa luas Persegi, apa luas lingkaran . Tapi kalian akan belajar bagaimana bentuk kurva, bentuk permukaan, dan berbagai fenomena yang ada seperti kelengkungan, triangulasi, parametrisasi, dll

  • Matematika Terapan

Bidang yang paling “manusiawi” diantara bidang2 keahlian macam aljabar, kombinatorik, dan analisis/geometri. Mengapa demikian? karena bidang inilah akan diperlihatkan, betapa besar jasa matematika didalam kehidupan. Segala macam fenomena yg ada di masyarakat dapat di modelkan disini. Mulai dari persebaran penyakit, ekonomi, pertumbuhan bakteri, aliran minyak di pipa, penjadwalan, dan lain-lain.

Prospek Kerja?

Kalau bisa saya bilang, anak MA ga bakal kehabisan kerja. Minimal dengan modal logika dan nalar yang telah di gembleng selama kuliah, kalian bisa jadi problem solver yang baik

Mungkin ada pendapat lama yang mengatakan “anak MA mah ujung2nya jadi dosen”. Memang, peluang jadi dosen pasti ada . Bidang pendidikan menjadi salah satu bidang yang ramai diisi sama anak MA.

Bidang Ekonomi, seperti perbankan, finance, asuransi banyak juga anak MA disana. Risk management salah satu bidang yang menjanjikan. Ada lagi profesi aktuaris, profesi ini masih jarang dan banyak permintaan karena perusahaan asuransi wajib mempunyai aktuaris.

Bidang-bidang lain, seperti energi, oil dan gas dapat dimasuki oleh anak MA, walaupun jumlahnya tidak banyak. Ilmu dinamika fluida yang ada di kelompok keahlian matematika terapan akan menjadi jembatan antara dunia oil dan gas dengan orang MA.

http://masukitb.com/c/2787

Tentang Aktuaria

Mungkin bagi pembaca masih belum tahu apa itu aktuaria, aktuaria adalah suatu cabang ilmu yang biasa di dalam bidang asuransi atau manajemen resiko. Dalam hal ini resiko yang dimaksud adalah suatu resiko kerugian atau “loss” di bidang finansial seperti kehilangan, kerusakan, bencana, kematian, dll. Aktuaria meliputi ilmu statistik dan peluang. Berbeda lagi dengan Aktuaris. Aktuaris adalah orangnya, atau profesinya. Wadah bagi para aktuaris di Indonesia adalah Persatuan Aktuaris Indonesia. Untuk dapat mendapatkan profesi sebagai aktuaris, kita perlu mengikuti aturan yang ada dari mereka yaitu harus lulus beberapa mata ujian. Sedangkan menurut PAI aktuaris mempunyai 2 tingkatan, yaitu ASAI (Associate Actuary Societies Indonesia) dan FSAI (Fellow Societies Actuary Indonesia).

Nah kita kembali ke jurusan Matematika ITB. Pada tahun 2008 saya lupa bulan apa, ITB menandatangani MoU dengan PAI yang isinya kurang lebih ada beberapa mata kuliah dari jurusan Matematika ITB yang bisa disetarakan langsung ke 5 dari 8 mata ujian profesi aktuaris dari PAI. Hal ini sangat menggembirakan karena kuliah MA ITB diakui kualitasnya, dan dengan hanya syarat nilai minimal B, kita sudah dapat menyetarakan nilai mata kuliah tersebut menjadi kelulusan suatu mata ujian profesi aktuaris

Berikut adalah mata kuliah S1 MA-ITB yang bisa disetarakan langsung ke mata ujian profesi aktuaris (dengan masing2 nilainya minimal B)

  • Analisis Data
  • Metode Statistika
  • Pengantar Analisis Multivariat
  • Teori Peluang
  • Statistika Matematika
  • Model Risiko
  • Pendahuluan Teori Suku Bunga

dan berikut adalah kuliah S2 jurusan Aktuaria di ITB yang juga bisa disetarakan dengan mata ujian profesi aktuaris

  • Teori Risiko
  • Matematika Asuransi Jiwa 1
  • Matematika Asuransi Jiwa 2
  • Teori Kredibilitas dan Simulasi

Oh iya, di tingkat akhir. Kita boleh mengambil mata kuliah berkode awal 5 atau 6 dimana mata kuliah tersebut adalah mata kuliah untuk tingkat S2😀

Mata kuliah diatas banyak karena ada 1 mata ujian profesi aktuaris yang setara dengan 2 sampai 3 mata kuliah. Jadi harus dituntut kerja keras agar semua mata kuliah diatas dapat nilai minimal B :B

Saya sendiri saat ini berada di tingkat 4 jurusan MA ITB. Saya sudah mengambil sebagian besar kuliah di atas. dan yang paling seru adalah kuliah Matematika Asuransi Jiwa. Di kelas ini, membicarakan “kapan kamu mati” atau “jika kamu mati pada umur sekian blabla bla” sudah biasa dan wajar. Bahkan peserta kelas ini sudah bisa melakukan simulasi umur seseorang lalu dapat menghitung premi yang cocok untuk orang tersebut sesuai umurnya. Ada suatu hari dosen kami pak Syamsudin menceritakan sembari melakukan simulasi untuk menghitung peluang ada orang yang berumur 22 tahun pulang dari kuliah ini, ke gerbang belakang ITB, lalu keserempet angkot lalu terlindas truk sampah. Alias mati sekitar 30 menit lagi dari 1 juta sampel data yang digenerate secara random.

Jadi untuk adik-adik yang masih belum kebayang kalau mau masuk matematika ITB mungkin pilihan arah keahlian aktuaria ini patut dipertimbangkan karena profesi aktuaris di Indonesia masih sedikit. Dan profesi ini mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang dari jurusan Statistik atau Matematika saja.

Untuk pertanyaan lebih lanjut, silahkan hubungi saya lewat account masukitb.com ini