Kesalahan di Film Echelon Conspiracy

Weits, siapa bilang film itu selalu bagus? ternyata masih ada kesalahan juga, dan menurut saya sangat fatal. Bagi yang pernah nonton, coba scroll film itu sampai bagian Max Peterson duduk di bar sambil nonton TV. Dan di TV itu sedang menyiarkan berita tentang kecelakaan pesawat Global Skies yang tidak jadi ditumpangi oleh Max karena mendapat saran via sms gelap.

Yang aneh adalah, ketika muncul video berita kecelakaan pesawat tadi. Mengapa police line nya tertulis “DILARANG MELINTASI GARIS POLISI” wah, kecelakaan pesawat di Indonesia eksis banget sampai-sampai disertakan di dalam film. Menurut saya video kecelakaan itu adalah cuplikan dari kecelakaan pesawat Mandala Airlines 5 September 2005 yang menewaskan 145 orang sesaat setelah lepas landas di bandara Polonia Medan.

Informasi Penting, Ada di Bak Sampah

Siapa bilang sesuatu yang ada di bak sampah itu tidak berharga? tapi hati-hati, mungkin teknik ini sudah ada sejak dulu. Jamannya kejahatan carding yang merejalela di Indonesia. Bak sampah, bisa saja dapat berisi sesuatu yang berharga, uang misalnya. Tapi yang saya maksud, bukan uang secara fisik, mana adalah orang buang uang ke bak sampah. Yang dibuang adalah cara kita mendapatkan uang, ya tentu saja, secara tidak halal.

Bak sampah dapat berisi informasi-informasi pribadi yang penting bagi urusan perbankan. Mungkin anda pernah membuat biodata, CV, atau semacamnya, lalu salah ketik, lalu anda buang begitu saja. Atau yang lainnya, anda pernah membuang transaksi perbankan yang baru saja anda lakukan, struk transaksi anda buang begitu saja. Sebenarnya, modal kertas-kertas yang anda anggap sampah itu dapat dipergunakan orang lain yang tidak bertanggung jawab untuk menguras uang anda.

Mungkin ada yang pernah mengalami kehilangan kartu ATM, lupa nomor PIN ATM, atau ingin mengambil uang lewat kartu kredit. Apakah ingat apa saja syarat-syaratnya? biasanya, KTP, sedikit dari biodata anda seperti nomor telepon, alamat, dan yang paling penting, nama ibu. Tentu saja, jika kita tidak waspada, informasi itu bisa saja ada di bak sampah kita.

Modusnya, si pelaku berpura-pura menjadi seorang yang lupa nomor PIN nya. lalu menelepon call center dari bank yang bersangkutan. Biasanya call center menanyakan beberapa data pribadi untuk menguji apakah yang menelepon itu pihak yang mempunyai hak untuk mengetahui nomor PIN atau tidak. Tapi apa yang terjadi jika si pelaku sudah mengetahui semua biodata korban? Ya mudah-mudahan kita bisa lebih teliti lagi dalam membuang sampah dokumen yang penting, memang lebih aman dibakar šŸ˜€

Brain Drain

Brain drain adalah peristiwa para ahli-ahli dari suatu negara berkembang menuju ke negara yang lebih maju. Brain drain telah banyak dituduh sebagai bentuk kemunduran suatu bangsa karena banyak ahli-ahli yg meninggalkan negaranya dan karena jg negara yang tidak mampu membuat para ahli-ahli itu tetap meniti karir di negaranya sendiri. Biasanya mereka-mereka yang hijrah ke luar negeri itu adalah ilmuwan, insinyur, dokter, pakar IT, dan ahli-ahli lainnya. Tentu saja ini sebuah kerugian besar karena jika kita telaah lebih lanjut, negara harus menggunakan SDM dari luar negeri sementara di dalam negeri para ahli-ahliny sudah pindah ke luar. Tentu saja, SDM yang diimpor dari luar diiming-imingi bayaran yang lebih tinggi. Hal ini juga yang membuat para ahli-ahli dalam negeri enggan berkarir di negerinya sendiri, banyak perusahaan-perusahaan swasta, bahkan perusahaan milik negara yang bersedia membayar lebih tinggi untuk tenaga impor yang kemampuannya sama dengan tenaga lokal yang dibayar lebih rendah.

Sebenarnya banyak faktor lain yang menyebabkan terjadinya brain drain ini. Faktor ekonomi memang yang utama. Prospek ekonomi di negara maju memang lebih menjanjikan dibanding di negara sendiri. Gaji yang lebih tinggi, kondisi kerja, lingkungan yang aman, etos kerja yang baik di perusahaan yang dituju. Teknologi juga turut berpengaruh, di negara berkembang seperti Indonesia, para ahli-ahli yang mungkin di bidangnya sangat terpengaruh dengan alat-alat atau stuff yang canggih yang bisa saja tidak dimiliki oleh negara ini, terpaksa harus hengkang agar ilmu yang dipelajarinya dapat di aplikasikan.

Ada lagi faktor yang sebenarnya cukup menarik untuk kita ketahui. Bagi para ilmuwan yang mempelajari ilmu-ilmu yang tergolong baru bagi negara asalnya, juga turut menjadi oknum brain drain. Ilmu yang dianggap baru ini mungkin saja tidak atau belum berguna di negara asalnya sehingga sekali lagi seperti alasan diatas, agar ilmu yang dipelajarinya dapat diaplikasikan, maka terpaksa dia harus mencari pekerjaan di luar negeri.

Tidak sedikit juga warga kita yang mencomooh para ahli-ahli yang berkarir di luar negeri. Alasan utama mereka adalah kurangnya rasa cinta tanah air si ahli ini karena mau-maunya bekerja untuk bangsa lain. Namun jika kita simak lebih seksama alasan-alasan yang saya berikan diatas, faktor rasa cinta tanah air sepertinya tidak terlalu berpengaruh. Negara ini harus mencari siasat agar ahli-ahli itu pulang ke negeri ini lalu mengembangkan ilmunya ditanah airnya sendiri.

Sebagai contoh, B.J Habibie, seorang ahli penerbangan asal indonesia, karir beliau memang berkembang sangat pesat di perusahaan tempatnya bekerja di Jerman. Jerman memang pusat teknologi penerbangan. Namun suatu ketika, Presiden Soeharto memintanya kembali ke Indonesia, lalu beliau diberi amanah untuk memimpin IPTN. Hingga suatu saat, IPTN mampu membuat pesawat sendiri. Pertanyaanny, apakah pemerintah sekarang dapat berbuat seperti ini? menarik kembali para ahli-ahlinya di luar negeri untuk membangun negeri ini?

Selain itu, faktor politik juga turut berperngaruh. Saya pernah membaca buku tentang Soekarno. Pada era 50-an, Presiden Soekarno sedang gencar-gencarnya mengirim putra putri terbaik Indonesia untuk belajar ke luar negeri, salah satu negara tujuannya adalah Uni Soviet. Dari sekian banyak ahli-ahli yang dikirim ke Soviet, saya hanya kenal satu orang saja, yaitu Nurtanio. Nurtanio belajar tentang pesawat di Soviet, ketika kembali ke Indonesia, Nurtanio dapat membuat pesawat dari bangkai-bangkai pesawat milik Belanda yang sudah usang. Nurtanio juga sebagai founding fatherny IPTN (Industri Pesawat Terbang Nurtanio) yang pada era Presiden Soeharto huruf N diubah menjadi Nasional(apa Nusantara atau Negeri, hehe). Ada beberapa orang Indonesia yang masih belajar di Soviet saat itu tidak bisa pulang karena peristiwa G-30S PKI. Indonesia menjadi negara yang alergi terhadap komunis sejak peristiwa itu. Dan nasib para ahli yang belajar di Soviet tentu saja menjadi tidak jelas. Sehingga mereka memilih untuk berkarir di luar negeri daripada pulang untuk di tangkap dan dituduh sebagai PKI. Satu paragraf yang saya ceritakan ini pernah diceritakan di acara Kick Andy.

Terakhir, Pemerintah harus dapat menarik kembali para ahli-ahlinya yang sudah belajar di luar negeri. Kalau yang ini namanya reverse brain drain atau istilah lainnya Brain Gain. India mampu melakukan Brain Gain sehingga saat ini India menjadi negara yang patut diperhitungkan di Benua Asia. Hal ini dapat ditunjukkan oleh berdirinya markas Microsoft di India. Bahkan Bangalore, sudah dijuluki Indian Silicon Valley, Silicon Valley adalah tempat riset perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti IBM, Hewlett-Packard, dan Microsoft.

sumber:

Brain Drain, Masalah Besar Bagi Negara Berkembang
oleh Hariyanto EP FE UNS Surakarta

Lapar lapar

Berhubung menteri konsumsi dan pangan sedang tutup (baca aja warung nasi). Kita penghuni kosan lapar di malam hari ini. Akhirnya bertiga sepakat kita makan dari delivery order. Muncullah beberapa menu yg udah ada di perut. Makanan cepat saji ala Amerika, atau makanan jepang (cem HokBen, GoTepp).Ā  Saya teringat posting dari Tiara tentang Farfallepasta yang bisa dipesan secara delivery namun dengan harga yg terjangkau. Weh, dah lama jg nggak makan pasta sejak terakhir di Warung Pasta di depan kampus gajah itu. Semula kita ga yakin kalau mas-mas yang nganter bakal sampai di kosan, berhubung kosan ini sangat rumit jalanannya haha. Tapi tenang, masih keliatan kok kalau kita memakai Google Earth dengan koordinat 107Ā°36’51.51″EĀ Ā  6Ā°52’23.11″S.

Setelah hampir 1 jam, pesanan kita akhirnya sampai juga. Kosan kita bernomor 271, tapi mas-mas yang anter selalu nelpon kita dengan menganggap nomor kosan kita adalah 27, wuih jauh bener gan. Finally, lapar pun hilang šŸ˜€

Setelah Setahun Kuliah …

Tingkat I selesai, ditutup dengan Research Based Learning di mata kuliah Fisika. Tugasnya kelihatannya sederhana, pelontar magnetik :-P. Pertanyaan yang sangat penting bagi anak-anak TPB 2008, apa yang kita dapat setahun ini? mungkin jawabannya bervariasi. Kalau saya sendiri, dengan mudah akan saya jawab, CAPEK. Haha bercanda gan!. Kalau dilihat dari mata kuliah2 yang dipelajari setahun ini, tentu saja ada perbedaan yang sangat mencolok jika kita balik ke masa SMA dulu.

Oke, jika sudah selesai menjawab pertanyaan tadi, bagaimana jika kita lanjut ke pertanyaan berikutnya. Kita sudah tahu apa yang kita dapat, apa buktinya kalau kita sudah mendapat apa yang kita jawab di pertanyaan pertama? Pertanyaan ini dapat diartikan, karya apa yang sudah kita buat selama setahun? bisa saja kita jawab dengan catatan-catatan kuliah kita, soal-soal yang sudah kita kerjakan, nilai-nilai yang sudah kita dapat, atau sebagainya.

Sip, apa yang kita dapat, sudah ada, bukti dari apa yang kita dapat, sudah ada, sekarang lanjut ke pertanyaan selanjutnya. Kita sebagai mahasiswa, sebagai orang yang diberi nikmat untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dimana orang-orang lain belum tentu mendapatkannya, tentunya kita mempunyai tanggung jawab untuk mencerdaskan masyarakat dengan bermodalkan ilmu yang kita dapat, nah, pertanyaannya, apakah kita sudah melakukan itu? maksud saya pengabdian kita ke masyarakat? atau minimal ikut serta dalam berpikir membantu masalah yang ada di masyarakat? sudahkah kita melakukan itu?

Logikany, dengan kemampuan dan tools yang sudah kita dapat selama setahun ini, minimal kita dapat berbuat sesuatu. Mungkin ada celetukan yang beredar di kalangan mahasiswa. “Ah, ngapain, kita kan belum lulus, ntar deh kalau udah lulus, gw janji untuk bla bla bla bla”. Wah gan jika kita berpikir seperti ini, kita kalah dong ama orang yang kursus menjahit, kursus reparasi handphone. Mereka cukup beberapa bulan kursus, sudah menghasilkan karya nyata di masyarakat.

Disinilah kelemahan terbesar kita gan, kita memang banyak belajar, kita memang cerdas, tapi itu hanya di kepala gan. Memang sih, saya sendiri jg masih merasa seperti itu gan. Inti dari tulisan ini, mari kita buat karya nyata sebagai salah satu cara untuk menunjukkan eksistensi dan bakit kita di masyarakat. Sebagai mahasiswa, tentu saja banyak cara. Akhir semester, merupakan liburan, ayolah menggunakan liburan ini untuk membuat karya nyata itu, buktikan dengan modal setahun ini, kita dapat berbuat banyak (bukan berarti jg saya nyumpahin kita kuliah cuman setahun, ampun gan!). Libur sangat basi sekali jika kita gunakan buat bengong. Ayo bikin rencana, apa yang kita perbuat di liburan ini. šŸ˜€

Kasusnya Prita

Prita Mulyasari (32), seorang yang pernah berobat di RS Omni Internasional Tangerang, ditahan hanya karena menulis keluhan tentang pelayanan rumah sakit itu di milis internet. Logikanya, jika ditahan, harus ada pasal yg dilanggar, ternyata pasal2 itu adalah Pasal 27 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), dan pasal 310 KUHP dengan ancaman hukuman 1,4 tahun, pasal 311 dengan ancaman 4 tahun penjara dan UU ITE pasal 27 ayat 3 dengan ancaman 6 tahun penjara. Wew, sepertinya negara ini mulai tidak ramah dengan orang-orang yang berpendapat. Mudah-mudahan bu Prita menulis di milis dengan niat baik, agar orang-orang lain tidak mengalami hal yang sama. Namun apa yang dia dapat? ditahan sejak 13 Mei.

Kronologis cerita mengapa Prita ditahan :
http://www.detiknews.com/read/2009/06/03/092047/1141807/10/penahanan-prita-kesalahan-mutlak-kejaksaan-dan-pembuat-uu
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/03/1629136/polri.kami.tidak.pernah.menahan.prita.
http://www.detiknews.com/read/2009/06/03/092047/1141807/10/penahanan-prita-kesalahan-mutlak-kejaksaan-dan-pembuat-uu
http://www.inilah.com/berita/politik/2009/06/03/112214/kasus-prita-tragedi-kebebasan-beropini/

orang bisa bilang, rumah sakit itu tidak adil, main seenaknya untuk menggugat orang yg mengkritik pelayanan mereka. Coba kita dengan dari pihak rumah sakitnya sendiri, ada di link ini
http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/06/03/18114960/rs.omni.prita.tidak.beritikad.baik

Yang menarik adalah link yg bertajuk “Penahan Prita Kesalahan Mutlak Kejaksaan dan Pembuat UU”, memang dalam berbagai survei, Parlemen dan Birokrasi hukum merupakan salah satu lembaga yang paling korup, source : http://www.detiknews.com/read/2009/06/03/172523/1142225/10/survei-tii-parlemen-dan-peradilan-lembaga-terkorup
hehe, ini sangat lucu sekali menurut saya. Kedua lembaga itu memegang peranan yang sangat vital dalam penegakan hukum. Sudah berapa jaksa yang ditahan karena kasus korupsi? sudah berapa anggota dewan yang ditahan dengan kasus seperti itu? Ini menunjukkan mental dari bangsa ini yang sudah dalam kondisi rendah. Tapi ada lagi jika kita iseng bertanya ke diri sendiri, mengapa bisa terjadi hal seperti itu? siapakah yang salah? mereka yang korup, atau KITA yang memilih mereka dalam Pemilu? hayo loh, jangan sampai kita kebagian dosa karena memilih orang untuk memberikan kesempatan dia melakukan dosa.

Kini, berita terakhir yang saya baca, Prita sudah dibebaskan dan dapat bertemu kembali dengan kedua anaknya. Apakah harus begini cara kita mengungkap kebenaran? dengan bombardir berita di internet, 2 calon presiden yang membantu Prita seolah-seolah memanfaatkan dan tidak mau ketinggalan momen ini? mudah-mudahan tidak menjelang kampanye saja :D. Tapi ini menjadi pelajaran kita, dari peristiwa ini banyak yang kita dapat. Kebebasan berpendapat memang hak asasi, tapi jangan sampai kita mengorbankan hak asasi orang lain. Banyak taktik atau cara untuk mengungkapkan ekspresi dengan baik. Dan bagi para blogger, jangan pernah berhenti menulis kebenaran! jangan takut dengan UU ITE yang tidak jelas juntrungan dan maksudnya itu (mungkin bagi anggota dewan maksudnya jelas, mereka dapat tunjangan bonus untuk membahas suatu RUU :-P). Begitu juga bagi pihak rumah sakit, tidak rugi jika rumah sakit memberikan pelayanan yang bagus, toh mereka akan dicap sebagai rumah sakit yang baik, dan dimata masyarakat rumah sakit itu akan baik, tentu saja uang jg lari kesitu (saya tidak bermaksud mendoakan orang untuk sakit :D).

100% tidak lulus, eh UN malah diulang

coba deh main ke link ini http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=72481

100% tidak lulus karena para siswa diketahui mencontek kunci jawaban yang salah. Lebih anehnya lagi, untuk sekolah itu akan diadakan ujian nasional ulang pada 8-12 Juni. Ini sungguh keterlaluan. Bukankah itu konsekuensi bagi yang mencontek? salah sendiri. Mengapa tidak menggunakan kemampuan anda sendiri? percaya dengan jawaban itu seakan-akan contekan itu yang membawa anda lulus dari bangku SMA?

Jika benar kasus ini terjadi karena semua siswa mencontek kunci jawaban yang salah, sungguh lebih keterlaluan lagi jika diadakan ujian ulangan. Ini akan membuat sekolah-sekolah lain yang angka kelulusannya rendah atau sama seperti sekolah tadi cemburu, ingin ikut-ikutan juga mengadakan ujian nasional ulang. Hancurlah lama-lama kualitas lulusan kita. Lulusan instan yang tidak tahu apa-apa, masuk kosong keluar juga kosong.

Nah mungkin muncul pertanyaan dari diri kita, mengapa bisa sampai ada muncul kunci jawaban? seperti yang sering saya dengar, ini adalah bagian dari pencitraan sekolah. Saat ini doktrin yang diterima oleh masyarakat adalah bahwa sekolah favorit adalah sekolah yang bisa meluluskan banyak dari siswanya, atau kalau perlu hingga 100% lulus. Tidak peduli lulusannya itu “berisi” atau tidak, yang penting 100%. Inilah bukti bahwa saat ini, yang terpenting adalah hasil, tak peduli kita peroleh darimana hasil itu, yang penting kita melihat selembar kertas ijazah yang menyatakan kita lulus.

Mudah-mudah kita mempunyai atau akan menjadi orang tua yang selalu bertanya kepada anaknya “bagaimana pelajaran hari ini nak? apa kamu ngerti pelajarannya? jika belum mengerti bagian yang mana?” dibandingkan dengan bertanya “gimana nilai ulangan pelajaran ini? kamu bisa dapat nilai tinggi nggak? bapak tidak akan memberikan uang jajan jika kamu mendapat nilai jelek, jika nilai kamu bagus bapak akan membelikan mainan baru”

huff, alhamdulillah orang tua saya akan menanyakan “bagaimana aa’? bisa ujiannya?” setiap setelah saya menghadapi berbagai ujian yang saya hadapi, dari dulu masa sekolah hingga kuliah saat ini. šŸ˜€