Tatang Suhenra – Komik Jaman Dulu

tatang suhenra

Bagi kita yang kelahiran minimal awal tahun 90-an, pasti pernah dulu ketika SD di depan sekolah kita ada yang menjual komik buatan Indonesia, dengan dimensi yg lebih kecil dari komik-komik Jepang yang ada sekarang, dan kertas seperti bungkusan roti, dengan tokoh utama Gareng, Semar, Petruk. Komik itu adalah karya om Tatang suhenra, walaupun tidak semua tapi komik karya beliau yang sangat mendominasi.

Cerita yang disajikan pun tidak jauh-jauh dari kejadian sehari-hari. Yang paling saya ingat adalah cerita-cerita tentang berbagai jenis makhluk gaib, sebut saja wewe gombel, pocong, siluman, kuntilanak dan sejenisnya. Bahkan sesekali dulu saya pernah membaca komik dengan tema penyiksaan-penyiksaan yang ada di neraka. Wow, memang sih cerita-cerita tersebut seperti kurang cocok bagi segmen pembaca anak-anak sekolah dasar. Tapi apalah dikata, kini saya kangen dengan komik-komik om Tatang Suhenra.

Tidak hanya tokoh-tokoh punakawan, saya ingat dulu ada juga komik-komik bertema silat. Tokoh-tokohnya? saya hanya ingat Si Buta dari Goa Hantu dan Wiro Sableng.

NB:dulu saya jarang beli, tapi baca di tempat 😀

Iklan

Nyari Cewek ala Hacker

1. Kumpulin info.
tool : temen-temen target, Yellow pages, Google, Facebook
usage : nama, alamat, ttl, no telpun/HP, dll

2. Scanning Target.
tool : Teropong
Usage : 30 meter dari target, scan bagian2 yg menonjol dan penting

3. Coba masuk ke System Administration dan Injection
tool : mulut, buku puisi, sms
Usage : kata-kata manis, pandai2 aja cari bahan obrolan.

4. Bikin backdoor
tool : HP, Telepon
Usage : Rajin2 sms tiap malam, rajin-rajin telepon

5. Bikin akses Root
Tool : dompet tebal,coklat,bunga
Usage : jgn pelit2 traktirnya

6. Lock the target
Tool : Mulut
Usage : Say I Love U, I Miss U

7. Cinta ditolak dukun bertindak
Tool:Mbah Rewel, Joko Bodho, Kemenyan, kembang tujuh rupa
usage : dibakar klo ditolak, santet sekalian….

8. Suicide
Tool : Obat Nyamuk Cair
Usage : Diminum kalau udah pake dukun masih ditolak

repost dari kaskus.us

Razia KTP – Hidup Layak atau

Fenomena yang sering terjadi pasca libur lebaran khususnya di ibukota Jakarta adalah razia KTP. Pemerintah beranggapan bahwa banyak warga pendatang baru yang memasuki Jakarta mengikuti arus balik mudik. Memang sebenarnya aneh jika kita sebagai warga negara berhak untuk hidup dimana saja. Tapi bagaimana sampai bisa dilarang seperti ini? apalagi sanksi terberat jika terjaring razia KTP biasanya berupa denda atau dipulangkan ke kampungnya masing-masing.

Kita tahu, bahwa Jakarta adalah kota besar dengan beribu impian yang membuat warga daerah ingin mencari peruntungan disana. Mengapa hal ini terjadi? mungkin karena tidak meratanya pembangunan antar daerah, sering kali kita dengar “hanya Jakarta terus yang dipoles, daerah lain dibiarin aja”. Selain itu, warga pendatang ini pada umumnya tidak mempunyai keahlian sebagai bekal untuk dapat hidup di ibukota. Modal nekat! Sekali lagi kita tidak dapat menimpakan kesalahan sepenuhnya kepada para pendatang ini.

Peran media juga sangat berpengaruh terhadap citra dari ibukota sendiri. Sering kita lihat tayangan – tayangan seperti sinetron hampir seluruhnya menampilkan cerita berupa suatu keluarga yang kaya raya dengan mobil sederet, dan yang terakhir, tinggal di Jakarta. Ini seakan-akan mempresentasikan bahwa seluruh orang yang hidup di Jakarta keadaannya seperti itu. Kawan-kawan kita yang berada di daerah terpencil, dengan pengetahuan tentang ibukota yang terbatas (mungkin sebatas dari televisi) tentu akan mudah termakan mimpi-mimpi di siang bolong jika sering menonton tayangan-tayangan seperti itu.

Melarang orang untuk tinggal di kota tertentu bukanlah suatu solusi. Itu hanya memperpanjang daftar masalah. Membuat seakan-akan Jakarta menjadi kota yang berada di negara lain, tidak boleh sembarang orang masuk. Mungkin ini dapat menjadi sebuah cermin diri dari kinerja pemerintah. Sumber daya alam yang sebagian besar berasal dari daerah, tetapi daerah tersebut tidak dapat menikmati hasilnya. Pembangunan yang hanya di kota itu-itu saja dan kurangnya lapangan kerja yang ada.

CMIIW

Film Meraih Mimpi – Masa Depan Cerah buat Anak-anak

meraih mimpi

Film baru dengan segmen anak-anak ini adalah berita segar bagi para orang tua yang sudah resah dengan semakin jarangnya film anak-anak buatan putra putri Indonesia. Langkah ini tergolong berani disaat tren film Indonesia saat ini masih di level film horror, percintaan remaja, dan religi. Saat ini anak-anak sepertinya ‘dipaksa’ untuk cepat dewasa karena hampir semua tontonan, dan musik yang mereka tonton dan mereka dengar adalah bukan film atau musik anak-anak, melainkan untuk orang-orang dewasa.

Saya heran mengapa produser kita sepertinya ogah membuat film dengan segmen penonton anak-anak ini. Sampai-sampai film animasi anak di Indonesia sepertinya telah di monopoli oleh luar negeri, sebut saja Pixar, Walt Disney, dan lain-lainnya. Pernahkah produser kita berpikir, membuat film anak-anak merupakan pasar yang besar. Mengapa saya berani menyebutkan seperti itu, coba saja kita lihat. Jumlah anak-anak di Indonesia bisa dikatakan berjumlah besar (walaupun saya tidak dapat menyebutkan jumlah persisnya) karena negara kita penduduknya tergolong besar di dunia. Bolehlah dikurangi lagi oleh terbatasnya bioskop yang hanya ada di kota-kota besar. Namun anak-anak tidak mungkin akan menonton film itu sendirian kan? minimal akan mengajak bapak atau ibunya. Tidak menutup kemungkinan anak tersebut menonton film itu dengan seluruh keluarganya. Jika promosi film anak-anak ini gencar dilakukan, mungkin film ini dapat dikatakan sukses (komentar dari seorang newbie :D:D).

Maksud saya menulis ini bukan berarti saya mengharapkan para produser justru ramai-ramai membuat film anak-anak seramai mereka membuat film-film dewasa seperti saat ini. Apalah artinya jumlah yang banyak dengan rendahnya kualitas yang ada. Diharapkan ada pendobrak-pendobrak baru yang dapat membuka mata para produser di negara ini untuk dapat membuat film anak-anak yang bermutu dan dapat menjadi bahan pelajaran bagi anak-anak selain pelajaran yang didapat di sekolah.

Nasib negeri ini, bergantung oleh bagaimana generasi sekarang mendidik generasi penerusnya

Cukupkah dengan Ramadhan Selama sebulan?

Hari ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh seluruh ummat muslim diseluruh penjuru Bumi. Hari Raya Idul Fitri yang merupakan moment yang datang untuk menyambut pahlawan-pahlawan yang telah berjihad menaklukkan hawa nafsu. Kita turut sedih karena bulan istimewa dan penuh diskon dari Allah ini telah berakhir dan kita belum tentu akan bertemu dengan bulan ini di tahun depan.

Hari Raya Idul Fitri, disunahkan bagi kita untuk melaksanakan sholat Ied. Menurut hadist (lupa euy riwayat siapa), kita diperbolehkan untuk melaksanakan sholat Ied di lapangan dengan adanya pembatas shaf. Di Indonesia yang sering dijadikan tempat sholat Ied biasanya lapangan alun-alun maupun lapangan berbagai perkantoran atau instansi yang sekiranya cukup untuk menampung banyaknya jamaah.

Karena tempat sholat yang outdoor ini, tak lupa kita sering memakai koran sebagai alas sajadah kita agar tidak kotor dan kontak langsung dengan tanah. Inilah kebiasaan kita, meninggalkan koran yang kita bawa sebagai alas sholat. Hati sebenarnya terenyuh melihat begitu berantakannya lapangan tersebut jika sholat Ied selesai. Apa susahnya kita membawa kembali apa yang pada awalnya kita bawa, toh itu tanggung jawab kita. Jika kita ingin berniat untuk membantu saudara-saudara kita yang mencari rezeki melalui koran-koran itu, mengapa tidak langsung mengumpulkannya di suatu tempat yang lebih rapih? apakah koran terasa berat bagi kita?

Inilah sebagai bahan refleksi kita. Jangan sebut “kebersihan itu merupakan sebagian dari iman” secara gamblang jika hal kecil seperti ini saja kita tidak mampu melaksanakannya.