Hukum di Negeri Ini Lebih Seru Daripada Acara Termehek-mehek

Jika ada pembaca yang tidak tahu acara Termehek-mehek itu apa? acara itu adalah semacam acara “reality show” yang mengisahkan ada seseorang yang mencari orang yang disayanginya (atau dikenalnya) ditemani dengan kru acara tersebut. Di tengah jalan ada berbagai konflik hingga sering terjadi perkelahian. Dan tentu saja, acara itu berjalan diatas skrip, jadi sudah ada skenario.

Hehe, saya berani memasang judul diatas karena memang kenyataan lapangan seperti itu. Lihat saja, yang nampak sekali sudah ketahuan percakapannya untuk menyuap penegak hukum dan memanipulasi BAP sekarang orang itu masih saja bisa berkeliaran dengan bebas, jadi pembicara di stasiun televisi, bahkan malah menuntut balik orang yang “menuduhnya” dengan dalih pencemaran nama baik. Ini ibarat aku membunuh orang di depan mata kepala seorang polisi, tapi polisi itu tidak menangkapku, polisi itu malah kuajak makan bareng di tenda kaki lima, berbicara layaknya dua orang kawan lama.

Sementara, di belahan bumi Indonesia lain, ada seorang nenek yang divonis 15 hari penjara dengan masa percobaan 30 hari karena mencuri 3 buah kakao (kalau dijual seharga Rp1500) milik perusahaan perkebunan. Alasan nenek itu mencuri karena kemiskinan, beliau berencana menanam kembali biji kakao sebagai penghidupannya nanti. Akan tetapi, berita terakhir yang saya baca, nenek itu tidak menjalani vonis pengadilan. Apakah hanya karena heboh diberitakan ke seluruh negeri? bagaimana jika tidak ada media yang meliputnya? apa si Nenek tetap menjalani hukuman penjaranya?

sumber berita si Nenek :

http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=111270
http://jakartapress.com/news/id/10021/Hakim-Menangis-Saat-Jatuhkan-Vonis.jp
http://video.vivanews.com/read/6745-sidang_nenek_pencuri_3_buah_kakao

2 cerita aneh bin ajaib tadi benar-benar terjadi dan kita tidak bisa berpura-pura tuli atau buta!

ketika hukum ditegakkan hanya untuk rakyat tertindas
ketika pengadilan dapat diatur golongan tertentu
negara ini tinggal menunggu waktu saja

Habibie di Aula Barat ITB

Habibie di Aula Barat

foto by salmanitb.com

Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie, mungkin hampir seluruh orang di Indonesia mengenalnya. Mendengar nama Habibie, mungkin seketika di kepala kita hadir berbagai macam istilah teknologi. Sebut saja N250 Gatot Kaca, IPTN, pesawat terbang, pintar, jerman, dan lain-lainnya. Hari Rabu, 4 November 2009 bertempat di Aula Barat ITB, beliau datang untuk mengisi kuliah umum yang bertajuk “Indonesia 2045: Superpower baru?”. Saya mengetahui kegiatan ini melalui baligho besar di gerbang depan.

ITB, rumah lama Habibie

Hari itu, dengan setelah jas kremnya, Habibie mengisi kuliah umumnya diatas mimbar. Beliau bercerita romantisme jaman dulu yaitu tahun 1952 beliau berada di ruangan yang sama sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia, Fakultas Teknik. 1962 beliau ceramah tentang keilmuan beliau di bidang penerbangan, dan pada tahun 1977 ketika beliau dinobatkan sebagai guru besar ITB. Memang dari berbagai sumber yang saya baca tentang kehidupan BJ Habibie. Habibie sempat kuliah selama 6 bulan di tempat yang dulunya bernama Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, 7 tahun sebelum Institut Teknologi Bandung diresmikan oleh Bung Karno. Tentu saja itu menjadi kebanggaan saya sendiri, menjadi seorang mahasiswa yang sama dari seorang BJ Habibie. Beliau menyebut ITB sebagai “My intelectual home!”

Indonesia Superpower 2045?

Menanggapi tema yang diangkat. Beliau menganggap bahwa menjadi negara superpower tidaklah penting. Superpower sendiri tergantung dilihat dari segi manakah? Apakah itu dari segi militer? tetapi masih banyak orang tidak mempunyai kesempatan kerja. Atau dari segi ekonomi? tetapi masih banyak orang yang kelaparan. Beliau berpendapat bahwa yang terpenting dari sebuah negara adalah bagaimana rakyatnya bisa sejahtera dan tentram. Tentram sendiri dalam artian rakyat kira-kira tahun besok bagaimana. Tidak seperti sekarang, rakyat tidak tahu apakah besok masih tetap bisa makan atau tidak.

Menurut beliau, peradaban adalah suatu sinergi positif dari ketiga elemen yaitu budaya, pegangan hidup (agama/iman takwa), dan ilmu pengetahuan. Beliau menganalogikan sebuah pesawat yang memiliki dua buah sayap. Kedua sayap tersebut haruslah seimbang. Jika salah satu sayap itu tidak seimbang, maka pesawat akan jatuh. Beliau memisalkan sayap kanan adalah iman, serta sayap kiri adalah takwa. Dan ilmu pengetahuan sebagai jet propulsi yang membuat pesawat itu dapat terbang dengan cepat.

Mengenai kecintaan beliau kepada Indonesia. Kita dapat melihat sosok beliau dari keinginannya berkontribusi untuk negara ini setelah sekian tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Jerman. Jika kita proyeksikan pada saat ini, hal tersebut masihlah jarang. Selain itu beliau menyebut gugusan kepulauan Indonesia sebagai “Benua Maritim”. Istilah tersebut pertama kali beliau kemukakan di Amerika Serikat pada tahun 1970-an ketika beliau meilhat citra satelit gugusan kepulauan Indonesia. Dilihat dari segi geografis, memang Indonesia tampak indah jika dilihat dari langit. Kita dapat melihat dua buah warna biru yang sangat luas di bagian timur laut (Samudera Pasifik) dan di bagian barat daya (Samudera Hindia). Selain itu Indonesia juga diapit kedua benua Asia dan Australia yang tampak berwarna coklat.

Beliau menampilkan beberapa slide yang berisi data-data mengenai keadaan Indonesia. Dari data Badan Pusat Statistik, menurut beliau jumlah penduduk Indonesia pada saat 2025 adalah 273.219.200 jiwa. Dan dengan proyeksi BPS, beliau memperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2045 adalah 364.101.076. Tingkat kemiskinan secara persentase menurun sedangkan secara abosolut, jumlah penduduk yang masih miskin pun meningkat dengan asumsi kategori miskin adalah siapa yang mendapat pemasukan kurang dari $2 per orang. Menurutnya, tolak ukur tingkat kemiskinan harus sesuai dengan tempatnya seperti di Eropa misalnya, kategori miskin adalah siapa-siapa yang berpenghasilan dibawah 700 Euro per bulan. Jumlah penduduk miskin yang masih banyak di negeri ini, menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan dan rasa tentram itu belum ada.

Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu

Selain itu, tingkat kemiskinan yang tinggi diperkuat lagi dengan tidak meratanya lapangan pekerjaan. Saat ini lapangan pekerjaan terpusat seluruhnya di perkotaan yang menimbulkan efek arus urbanisasi. Beliau juga menampilkan slide yang berisi tentang pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan dari tahun ke tahun. Sayang sekali saya lupa mencatatnya. Bertambahnya penduduk perkotaan tentu saja berakibat banyak hal. Hal-hal tersebut antara lain kota sebagai tempat aglomerasi kegiatan ekonomi, sebagian besar investasi berada di kota, peran kota semakin penting, beban penduduk kota terus meningkat, dan kualitas kota akan menurun.

Beliau juga menjadi pelopor suatu Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) sebagai bentuk dan upaya menanggulangi arus urbanisasi. KAPET ini telah dirumuskan oleh berbagai tokoh dan pakar nasional dari hasil diskusi selama ribuan jam. Lokasi KAPET ini merupakan kawasan luar kota yang berpotensi untuk dibangun berbagai sarana pembangkit energi maupun transportasi. Namun sayangnya KAPET ini belum dapat berjalan sepenuhnya. Beliau juga menyayangkan masih adanya oknum yang beranggapan dan masih membedakan-bedakan “orde baru” atau yang lainnya.

Menerima Penghargaan

Pada kesempatan kali itu, ITB melalui rektor Djoko Santoso memberikan penghargaan tertinggi ITB yaitu Penghargaan “Ganesha Prajamanggala Bakti Kencana” sebagai bentuk apresiasi jasa Habibie bagi negeri ini yang telah banyak membangun dan berkontribusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Negeri Para Bedebah

Hari Selasa, tampak seperti biasa. Setelah pulang kuliah, biasa, ku setel televisi untuk melihat beberapa berita. Sedih hati ini, setelah melihat kenyataan bahwa hukum di negeri ini dapat diatur. Polisi, Kejaksaan, bahkan lembaga perlindungan saksi pun ada mafianya. Sampah memang semua!

Di salah satu stasiun televisi, ada yang menampilkan sebuah puisi yang berkaitan dengan apa yang saya kemukakan di paragraf sebelumnya. Negeri para bedebah! Iya, negeri ini sudah menjadi negeri para bedebah! Suatu penilaian secara general akibat ulah beberapa oknum jahat.

Negeri Para Bedebah

by Adhie Massardi

Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala

Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentah

Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya

Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan

sumber : Jakarta Today

kilobytes ke terrabytes dalam 20 tahun

Dunia teknologi, khususnya di bidang komputer memang terkenal mempunyai dinamika yang sangat cepat. Berbagai vendor berlomba-lomba meluncurkan produk teranyar, terkuat, dan terbaru mereka. Disisi lain, para provider software juga semakin giat membuat perangkat lunak yang memakan banyak resource dan storage sehingga mau tak mau konsumen harus mengikuti itu semua agar segala kebutuhannya terpenuhi.

Perlombaan ini tentu saja berdampak perkembangan teknologi yang sangat cepat, mari kita balik ke tahun 1989, saya melihat memory card pertama yang diluncurkan dengan kapasitas 128 kilobytes.

128kilobytes

dan saat ini, hasil search ketika saya tanya ke om google berapa kapasitas terbesar untuk sebuah memory card saat ini, juaranya adalah Sony Memory Stick Duo, dengan kapasitas 2 terrabytes. Berarti dalam 20 tahun, memory card telah mengalami peningkatan sebanyak hampir 16 juta kali. Wow!

memory stick duo 2 terrabytes

kalau mau sedikit bercanda dengan asumsi perkembangan kapasitas memory card itu secara linear, maka 20 tahun lagi akan ada memory card dengan kapasitas 32 EB (Exabytes). hehe