Habibie di Aula Barat ITB

Habibie di Aula Barat

foto by salmanitb.com

Sosok Bacharuddin Jusuf Habibie, mungkin hampir seluruh orang di Indonesia mengenalnya. Mendengar nama Habibie, mungkin seketika di kepala kita hadir berbagai macam istilah teknologi. Sebut saja N250 Gatot Kaca, IPTN, pesawat terbang, pintar, jerman, dan lain-lainnya. Hari Rabu, 4 November 2009 bertempat di Aula Barat ITB, beliau datang untuk mengisi kuliah umum yang bertajuk “Indonesia 2045: Superpower baru?”. Saya mengetahui kegiatan ini melalui baligho besar di gerbang depan.

ITB, rumah lama Habibie

Hari itu, dengan setelah jas kremnya, Habibie mengisi kuliah umumnya diatas mimbar. Beliau bercerita romantisme jaman dulu yaitu tahun 1952 beliau berada di ruangan yang sama sebagai mahasiswa baru Universitas Indonesia, Fakultas Teknik. 1962 beliau ceramah tentang keilmuan beliau di bidang penerbangan, dan pada tahun 1977 ketika beliau dinobatkan sebagai guru besar ITB. Memang dari berbagai sumber yang saya baca tentang kehidupan BJ Habibie. Habibie sempat kuliah selama 6 bulan di tempat yang dulunya bernama Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, 7 tahun sebelum Institut Teknologi Bandung diresmikan oleh Bung Karno. Tentu saja itu menjadi kebanggaan saya sendiri, menjadi seorang mahasiswa yang sama dari seorang BJ Habibie. Beliau menyebut ITB sebagai “My intelectual home!”

Indonesia Superpower 2045?

Menanggapi tema yang diangkat. Beliau menganggap bahwa menjadi negara superpower tidaklah penting. Superpower sendiri tergantung dilihat dari segi manakah? Apakah itu dari segi militer? tetapi masih banyak orang tidak mempunyai kesempatan kerja. Atau dari segi ekonomi? tetapi masih banyak orang yang kelaparan. Beliau berpendapat bahwa yang terpenting dari sebuah negara adalah bagaimana rakyatnya bisa sejahtera dan tentram. Tentram sendiri dalam artian rakyat kira-kira tahun besok bagaimana. Tidak seperti sekarang, rakyat tidak tahu apakah besok masih tetap bisa makan atau tidak.

Menurut beliau, peradaban adalah suatu sinergi positif dari ketiga elemen yaitu budaya, pegangan hidup (agama/iman takwa), dan ilmu pengetahuan. Beliau menganalogikan sebuah pesawat yang memiliki dua buah sayap. Kedua sayap tersebut haruslah seimbang. Jika salah satu sayap itu tidak seimbang, maka pesawat akan jatuh. Beliau memisalkan sayap kanan adalah iman, serta sayap kiri adalah takwa. Dan ilmu pengetahuan sebagai jet propulsi yang membuat pesawat itu dapat terbang dengan cepat.

Mengenai kecintaan beliau kepada Indonesia. Kita dapat melihat sosok beliau dari keinginannya berkontribusi untuk negara ini setelah sekian tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Jerman. Jika kita proyeksikan pada saat ini, hal tersebut masihlah jarang. Selain itu beliau menyebut gugusan kepulauan Indonesia sebagai “Benua Maritim”. Istilah tersebut pertama kali beliau kemukakan di Amerika Serikat pada tahun 1970-an ketika beliau meilhat citra satelit gugusan kepulauan Indonesia. Dilihat dari segi geografis, memang Indonesia tampak indah jika dilihat dari langit. Kita dapat melihat dua buah warna biru yang sangat luas di bagian timur laut (Samudera Pasifik) dan di bagian barat daya (Samudera Hindia). Selain itu Indonesia juga diapit kedua benua Asia dan Australia yang tampak berwarna coklat.

Beliau menampilkan beberapa slide yang berisi data-data mengenai keadaan Indonesia. Dari data Badan Pusat Statistik, menurut beliau jumlah penduduk Indonesia pada saat 2025 adalah 273.219.200 jiwa. Dan dengan proyeksi BPS, beliau memperkirakan penduduk Indonesia pada tahun 2045 adalah 364.101.076. Tingkat kemiskinan secara persentase menurun sedangkan secara abosolut, jumlah penduduk yang masih miskin pun meningkat dengan asumsi kategori miskin adalah siapa yang mendapat pemasukan kurang dari $2 per orang. Menurutnya, tolak ukur tingkat kemiskinan harus sesuai dengan tempatnya seperti di Eropa misalnya, kategori miskin adalah siapa-siapa yang berpenghasilan dibawah 700 Euro per bulan. Jumlah penduduk miskin yang masih banyak di negeri ini, menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan dan rasa tentram itu belum ada.

Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu

Selain itu, tingkat kemiskinan yang tinggi diperkuat lagi dengan tidak meratanya lapangan pekerjaan. Saat ini lapangan pekerjaan terpusat seluruhnya di perkotaan yang menimbulkan efek arus urbanisasi. Beliau juga menampilkan slide yang berisi tentang pertumbuhan jumlah penduduk perkotaan dari tahun ke tahun. Sayang sekali saya lupa mencatatnya. Bertambahnya penduduk perkotaan tentu saja berakibat banyak hal. Hal-hal tersebut antara lain kota sebagai tempat aglomerasi kegiatan ekonomi, sebagian besar investasi berada di kota, peran kota semakin penting, beban penduduk kota terus meningkat, dan kualitas kota akan menurun.

Beliau juga menjadi pelopor suatu Kawasan Pembangunan Ekonomi Terpadu (KAPET) sebagai bentuk dan upaya menanggulangi arus urbanisasi. KAPET ini telah dirumuskan oleh berbagai tokoh dan pakar nasional dari hasil diskusi selama ribuan jam. Lokasi KAPET ini merupakan kawasan luar kota yang berpotensi untuk dibangun berbagai sarana pembangkit energi maupun transportasi. Namun sayangnya KAPET ini belum dapat berjalan sepenuhnya. Beliau juga menyayangkan masih adanya oknum yang beranggapan dan masih membedakan-bedakan “orde baru” atau yang lainnya.

Menerima Penghargaan

Pada kesempatan kali itu, ITB melalui rektor Djoko Santoso memberikan penghargaan tertinggi ITB yaitu Penghargaan “Ganesha Prajamanggala Bakti Kencana” sebagai bentuk apresiasi jasa Habibie bagi negeri ini yang telah banyak membangun dan berkontribusi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Habibie di Aula Barat ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s