Test Emoticon Kaskus

Saya hanya mengetes emoticon kaskus yang telah saya install melalui plugin 😀 . bisa download disini gan :tkp

thanks to agan user kaskus pakto, sayang belum bisa ngasih :cendolbig

ngacir dulu gan :ngacir2

dan posting ini adalah post penutup di tahun 2009 yang akan berakhir kira-kira setengah jam lagi :hammer:

:maho

Iklan

Kado Tahun Baru, Berupa Mobil Baru, Untuk Menteri Baru

Heboh kasus Prita yang siang ini menunggu pembacaan vonis dari hakim, kasus Century yang makin menjlimet seakan-akan para anggota pansus perlu obat kuat agar cepat selesai, sampai ke kasus buku Geoge Junus Aditjondro yang habis di toko buku yang konon sengaja diborong agar tidak ada yang membaca. Negeri ini memang penuh dengan masalah dan itu yang membuat saya merasa bangga karena saya harap dari banyaknya masalah ini, membuat rakyat mendapatkan pengetahuan tentang pemerintahnya dan membuat kontrolnya semakin ketat.

Terlepas dari kasus diatas, kini ada lagi berita yang membuat rakyat bingung dan kesal. Menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu II kini menunggangi mobil dinas terbarunya yaitu Toyota New Crown Royal Saloon yang harga per buahnya mencapai 1.3 Milyar Rupiah. Wow!. Dan dari media-media mengatakan bahwa jumlah mobil itu 150 buah. Pajaknya pun 62,805 milyar (Kompas.com).

Harga yang lumayan fantastis ditengah masih banyaknya rakyat kecil yang keadaan ekonominya kekurangan. Itulah faktor utama mengapa pengadaan mobil dinas ini banyak dikecam masyarakat. Para menteri yang menerima juga banyak yang kena semprot dan dituding tidak mempunyai rasa empati. Ditengah tudingan, ada pejabat yang menganggap pengadaan mobil dinas akan menambah semangat mereka dalam bekerja dan diterima saja, toh itu mobil pinjaman yang nantinya jika habis masa jabatan akan dikembalikan.

Menurut saya, hal ini bertentangan dengan posting saya sebelumnya yang berjudul 4 Hari Merenung di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta. Hiduplah dengan sewajarnya dengan apa yang kita punya. Dan ini sudah menjauhi batas wajar seakan-akan menunjukkan negeri ini adalah negeri yang kaya.

Toyota Royal Crown Saloon ini mempunyai kapasistas mesin 3.000 cc. Setahu saya mesin segitu adalah mesin yang haus dengan bahan bakar alias boros. Sungguh kurang bijaksana jika digunakaan disaat krisis energi ini. Apalagi ditengah macetnya lalu lintas di kota Jakarta . Meskipun para menteri ini akan mendapat kawalan dari protokoler, namun apakah bisa tetap berjalan dengan lancar jika jalanan sesak dipenuhi dengan mobil-mobil yang antre?

Saya sangat mengapresiasi pendapat para pembaca berita web Kompas yaitu bagaimana jika menteri-menteri dan pejabat kita ini menggunakan Toyota Prius? Tanpa ada maksud promosi dan search dari paman Google, Toyota Prius seharga 600 juta-an (hampir setengah lebih murah) ini merupakan mobil hybrid yang mesinnya dipadukan antara motor listrik dengan bensin sehingga mobil ini lebih irit bensin. Sangat bijaksana digunakan disaat krisis energi. Dan siapa tau rakyat akan ramai-ramai menghemat bahan bakar karena pejabat telah mencontohkan.

Boro-boro teriak-teriak slogan “Ayo Hemat Energi” wong pejabatnya aja ogah.

Monthy Hall Problem

atau yang lebih dikenal dengan Three Door Quiz ini telah membuat orang-orang banyak tertipu dari segi perhitungan probabilitasnya.

Jika saya paparkan lagi apa yang dimaksud dengan Monthy Hall Problem ini adalah. Ada 3 pintu didepan anda, 2 dari 3 pintu itu berisi kambing, dan sisanya adalah sebuah mobil sport mewah yang masih gress. Tugas anda adalah memilih satu dari ketiga pintu tersebut. Apakah anda akan mendapatkan kambing? atau sebuah mobil sport mewah yang masih gress?

Masalah ini kadang terlihat sepele. Mayoritas orang-orang akan mengatakan bahwa probabilitas mendapatkan mobil sport mewah dari ketiga pintu adalah 1/3. Iya, saya juga sependapat dengan hal demikian. Tetapi masalahnya adalah ketika kita memilih satu dari tiga pintu tersebut, si pembawa acara (dengan asumsi pembawa acara tahu dimana letak mobil sport mewah tadi) akan membuka 1 dari 2 pintu lain yang tidak kita pilih, dan ternyata pintu tersebut berisi seekor kambing. Kemudian si pembawa acara akan mengadakan tawaran ke kita untuk mengganti pintu dari pintu yang kita pilih pertama tadi, menjadi pintu yang lainnya. Apakah probabilitasnya tetap 1/3? atau malah menjadi 50 : 50?

Peninjauan yang paling mudah adalah seperti ini

Tersedia di depan kita 3 pintu, A, B, C. Kita harus memilih satu dari tiga pintu itu. Anggaplah kita memilih pintu A. Probabilitas saat ini adalah 1/3 dari masing-masing pintu. Cara yang paling cerdas adalah mengelompokkan ketiga pintu ini menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah pintu yang kita pilih, dalam hal ini hanya satu yaitu pintu A. Dan kedua adalah kelompok pintu yang tidak kita pilih (B dan C).

Hal tersebut memudahkan kita dalam menghitung berapa sih sebenarnya probabilitas masing-masing pintu ketika si pembawa acara membuka salah satu pintu yang berisi kambing diantara pintu B atau C yang tidak kita pilih.

Kedua kelompok pintu tadi (A) dan (B, C) masing – masing mempunyai probabilitas awal 1/3 dan 2/3. Tapi misal si pembawa acara membuka pintu C yang berisi kambing, maka probabilitas pintu B akan menjadi 2/3 karena jelas-jelas si pembawa acara memberikan bonus 1/3 kepada kita dengan cara membuka pintu C yang berisi kambing alias menjustifikasi probabilitas 2/3 ada sepenuhnya di pintu B.

Jadi jangan ragu memindahkan pilihan ke pintu B jika si pembawa acara menawarkannya. Tentu siapapun akan memilih yang probabilitasnya 2 kali lebih besar dari lainnya.

Bagaimana Jika ada N pintu?

Pada tahun 1975, D.L Ferguson mengusulkan sebuah generalisasi jika ada N pintu didalam kuis tersebut. Tingkat keberhasilan akan mendekati probabilitas 1 jika semakin banyak jumlah pintu dan si pembawa acara akan membuka seluruh pintu hingga yang tersisa hanya dua pintu, pintu yang kita pilih di awal, dan pintu yang tersisa dari yang tidak kita pilih. Tetapi keberhasilan akan mendekati nol jika ternyata pembawa acara hanya membuka satu pintu dari N-1 pintu yang tidak kita pilih.

Antara UU ITE, Infotainment, dan Luna Maya

Sebenarnya sudah lama saya mau menulis tentang ketiga hal ini. Yaitu sejak Luna Maya dilaporkan ke polisi oleh pekerja infotainment karena pernyataan Luna Maya di twitter yang membuat para pekerja infotainment berang.

UU ITE kepanjangan dari Undang – Undang Informasi Transaksi dan Elektronik yang disahkan oleh DPR bulan Maret tahun lalu ini sempat mengguncang dunia internet Indonesia. Mengapa? karena bagian yang paling menarik dari UU ini adalah di BAB VII (Perbuatan yang Dilarang)  Pasal 27 ayat 3 yang berisi antara lain melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik. Bagian ini sempat dituding sebagai pengekangan berpendapat di dunia maya oleh para pihak – pihak yang aktif sekali menulis opininya di dunia maya, blogger misalnya.

Bagian ini membuat orang-orang yang beropini di dunia maya dapat terkena kasus jika dia mengkritik seseorang dan seseorang tersebut dapat menggugatnya. Iya kalau dalam konteks ini benar-benar menjelek-jelekkan nama seseorang, tapi bagaimana jika tulisan itu dibuat untuk hanya sekedar beropini dengan data faktual?

Kasus terkenal dari UU ITE adalah kasus Prita Mulyasari. Prita Mulyasari dituntut oleh rumah sakit Omni Internasional karena beliau menuliskan keluhannya lewat milis. Keluhan tersebut tentang pelayanan rumah sakit yang kurang baik yang dialaminya ketika beliau berobat disana.

Kini, UU ITE kembali menunjukkan taringnya lewat kasus yang dialami Luna Maya vs Infotainment beberapa waktu yang lalu. Kasus ini diawali oleh Luna Maya yang nampaknya sudah kesal sekali dengan tingkah polah para pekerja infotainment ini. Saya lupa persis apa yang ditulis Luna Maya di twitter-nya, yang saya ingat dia menulis "info-TAI-nment". Yang jelas intinya, Luna Maya menganggap infotainment lebih kejam dari pembunuh.

Alhasil, infotainment pun ikut berang sejadi-jadinya. Mereka melaporkan Luna Maya dengan UU ITE ini sebagai pencemaran nama baik.

Jika melihat tingkat polah para pekerja infotainment ini, saya sependapat dengan Luna Maya. Mengapa saya setuju? anda dapat lihat bagaimana acara infotainment yang ada di televisi sekarang. Tidak menunjukkan sama sekali etika wartawan yang benar dan sebagai mana mestinya. Mereka gemar sekali membicarakan aib para selebriti untuk dijadikan berita. Bahkan dengan narasumber yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang dialami selebriti seperti paranormal misalnya. Setahu saya, seorang wartawan adalah seorang yang menjunjung tinggi kebenaran data dan fakta. Bukan orang-orang yang gemar menggunjing dan menjelek-jelekkan.

Jika kita telaah lagi bunyi Pasal 27 ayat 3 di UU ITE dengan apa yang dilakukan Luna Maya ini, tidak ada tercantum didalam post Twitter Luna Maya menunjuk ke suatu nama seseorang atau nama sebuah usaha.

Saya lebih setuju jika para pekerja infotainment ini cukup memboikot berita tentang Luna Maya. Toh Luna Maya akan gembira karena tidak akan dikejar-kejar lagi oleh infotainment. Tapi apakah infotainment berani? hahaha.

Kalau melihat kasus para pekerja infotainment melaporkan Luna Maya ke Polisi, ini cuma sekedar untuk membuat berita. Didalam infotainment, berita yang baik adalah berita yang buruk. Bahkan prinsip itu juga ada di dalam prinsip media.

Mudah-mudahan infotainment harus memberikan tayangan yang lebih berkualitas dan berbobot, tidak sekedar membicarakan keburukan artis. Ketika infotainment membicarakan keburukan, tidak ada untungnya bagi para pemirsa yang menonton acara tersebut. Yang untung ya infotainmentnya, mereka dapet rating yang tinggi dan permintaan iklan yang semakin meningkat, ironis sekali ketika uang adalah segalanya.

4 Hari Merenung di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

Ini merupakan momen yang bisa dibilang tumben. Dari 14 orang di kos, saya yang paling jarang pulang. Selain tak jelas mau pulang kemana, Depok atau Kalimantan, suasana kota Bandung jauh lebih nyaman. Di Jakarta, saya tinggal di kediaman keluarga di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Suatu daerah yang terkenal dengan mal, boulevard, Summarecon, banjir, dan lainnya. Pikiran pertama yang muncul ketika menginjakkan kaki disini adalah, Panas!.

Tetapi kawan, bukan cuaca panas yang akan kubahas disini. Tetapi masalah kelayakan untuk hidup di kota ini. Menurutku kota ini sangatlah kurang nyaman sebagai tempat untuk hidup. Bayangkan, udara yang kotor karena polusi kendaraan bermotor, lahan terbuka hijau yang sedikit, lahan bermain untuk anak-anak yang minim, fasilitas drainase yang selalu tersumbat bahkan hanya diguyur gerimis, dan kemacetan yang selalu menghantui jika kita keluar dari rumah.

Saya menjadi sedikit bingung, mengapa keadaan yang tidak nyaman ini justru membuat orang-orang di daerah pada berbondong-bondong untuk dapat hidup di Jakarta. Tanpa basa-basi seperti para caleg, dapat saya katakan penyebab itu semua adalah uang. Iya, uang, suatu materi berharga masa kini yang membuat orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya, bahkan rela hidup ditengah kondisi yang tidak nyaman itu.  DI ibukota, uang tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup yang fundamental seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Tetapi juga sebagai kebutuhan prestise.

Kali ini saya mengesampingkan pembicaraan mengenai keadaan kawan-kawan kita yang mengalami kesulitan ekonomi di Jakarta bahkan hanya untuk sesuap nasi. Yang menarik adalah kehidupan ibukota di kalangan berkecukupan. Itu semua dapat kita lihat di Jakarta kawan!, image Indonesia sebagai negara miskin atau negara dengan hutang besar akan hilang sekejap  jika kau berada di daerah-daerah seperti Kelapa Gading Boulevard, seputaran Sudirman – MH Thamrin, atau Pondok Indah.  Gedung tinggi mentereng, mall-mall besar dengan barang-barang mahal di dalamnya akan mudah kau temui disana.

Jika kau masuk kedalamnya, hawa itu akan lebih terasa kawan. Didalam, kau dipandang dari segi luar yang kelihatan. Maksudku disini adalah apa yang kau kenakan dan kau pegang, itu lah penilaian mereka. Rendah sekali penilaian sesosok manusia jika hanya dilihat dari luarnya. Tak ayal pencapaian seperti inilah yang membuat seseorang berlomba-lomba untuk ke Jakarta. Hidup mewah mentereng seperti yang mereka lihat di televisi. Tak peduli memakai mobil yang sangat mewah untuk menaikkan rasa prestise jika dilihat orang lain, walaupun BPKB mobil itu masih ditahan di dealer karena belum lunas, tak peduli memakai barang branded mahal meski harus mencicil beberapa kali. Bangga menggunakan kartu kredit untuk berbelanja seakan lupa bahwa bahasa Indonesia dari kredit itu adalah "ngutang".

Mungkin apa yang saya ceritakan diatas hanyalah sebuah generalisasi, ada 10 juta lebih penduduk Jakarta dan saya percaya tidak seluruh warga Jakarta bersifat demikian. Ini hanyalah ulah dari segilintir individu, tapi mengapa justru itu yang terlihat?

Hiduplah sewajarnya dengan apa yang kau miliki

Sang Pemimpi : Ketika bermimpi masih gratis

Sang pemimpi, sekuel kedua dari tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata sudah ada di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Dari keempat buku tetralogi tersebut, saya memang lebih menyukai buku kedua ini dan memang sangat menunggu bagaimana jika buku ini di filmkan. Dan sesuai ekspektasi saya, film ini bakal menginspirasi saya untuk kembali ke dunia nyata setelah selama satu semester saya berjalan tanpa arah. Jika buku membuat saya bermimpi agar dapat berkuliah di tempat terbaik, kini, film dari buku Sang Pemimpi saya harap akan membawa suasana kuliah saya yang lebih kondusif dan sempat tanpa tujuan selama 6 bulan belakangan.

Memang rada bernada curhat. Manusia membutuhkan mimpi agar ada yang membuatnya berbuat sesuatu dan membuat hidupnya lebih bergairah. Saya pernah merasakan keduanya. Hidup tanpa atau dengan mimpi, sungguh suasana yang sangat berbeda. Saya adalah tipe kayu bakar. Akan redup dan habis menjadi abu jika tidak dikipas maupun diberi minyak tanah. Bersyukurlah saat ini sepertinya saya mendapatkan salah satu keduanya, entah itu kipas maupun minyak tanah yang mampu mengobarkan semangat untuk dapat bertahan di salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia ini.

Bermimpi memang murah, bahkan gratis. Bermimpi adalah satu-satunya hiburan all-in-one yang pernah ada. Walaupun di dunia telah ada Taman Impian, atau apapun lah itu, tentu saja hanya memberikan kesan sesaat, dimulai dari pintu masuk dan berakhir di pintu keluar lalu sirna ketika sampai dirumah. Mimpi jugalah yang membuat seorang manusia tidak dapat secara langsung dikategorikan sebagai binatang walaupun teori biologi yang menyebutkan demikian. 

Film beginilah yang saya tunggu, film yang membawa efek baik bagi para penontonnya. Siapkah untuk bermimpi?