4 Hari Merenung di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

Ini merupakan momen yang bisa dibilang tumben. Dari 14 orang di kos, saya yang paling jarang pulang. Selain tak jelas mau pulang kemana, Depok atau Kalimantan, suasana kota Bandung jauh lebih nyaman. Di Jakarta, saya tinggal di kediaman keluarga di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Suatu daerah yang terkenal dengan mal, boulevard, Summarecon, banjir, dan lainnya. Pikiran pertama yang muncul ketika menginjakkan kaki disini adalah, Panas!.

Tetapi kawan, bukan cuaca panas yang akan kubahas disini. Tetapi masalah kelayakan untuk hidup di kota ini. Menurutku kota ini sangatlah kurang nyaman sebagai tempat untuk hidup. Bayangkan, udara yang kotor karena polusi kendaraan bermotor, lahan terbuka hijau yang sedikit, lahan bermain untuk anak-anak yang minim, fasilitas drainase yang selalu tersumbat bahkan hanya diguyur gerimis, dan kemacetan yang selalu menghantui jika kita keluar dari rumah.

Saya menjadi sedikit bingung, mengapa keadaan yang tidak nyaman ini justru membuat orang-orang di daerah pada berbondong-bondong untuk dapat hidup di Jakarta. Tanpa basa-basi seperti para caleg, dapat saya katakan penyebab itu semua adalah uang. Iya, uang, suatu materi berharga masa kini yang membuat orang berlomba-lomba untuk mendapatkannya, bahkan rela hidup ditengah kondisi yang tidak nyaman itu.  DI ibukota, uang tidak hanya berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup yang fundamental seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Tetapi juga sebagai kebutuhan prestise.

Kali ini saya mengesampingkan pembicaraan mengenai keadaan kawan-kawan kita yang mengalami kesulitan ekonomi di Jakarta bahkan hanya untuk sesuap nasi. Yang menarik adalah kehidupan ibukota di kalangan berkecukupan. Itu semua dapat kita lihat di Jakarta kawan!, image Indonesia sebagai negara miskin atau negara dengan hutang besar akan hilang sekejap  jika kau berada di daerah-daerah seperti Kelapa Gading Boulevard, seputaran Sudirman – MH Thamrin, atau Pondok Indah.  Gedung tinggi mentereng, mall-mall besar dengan barang-barang mahal di dalamnya akan mudah kau temui disana.

Jika kau masuk kedalamnya, hawa itu akan lebih terasa kawan. Didalam, kau dipandang dari segi luar yang kelihatan. Maksudku disini adalah apa yang kau kenakan dan kau pegang, itu lah penilaian mereka. Rendah sekali penilaian sesosok manusia jika hanya dilihat dari luarnya. Tak ayal pencapaian seperti inilah yang membuat seseorang berlomba-lomba untuk ke Jakarta. Hidup mewah mentereng seperti yang mereka lihat di televisi. Tak peduli memakai mobil yang sangat mewah untuk menaikkan rasa prestise jika dilihat orang lain, walaupun BPKB mobil itu masih ditahan di dealer karena belum lunas, tak peduli memakai barang branded mahal meski harus mencicil beberapa kali. Bangga menggunakan kartu kredit untuk berbelanja seakan lupa bahwa bahasa Indonesia dari kredit itu adalah "ngutang".

Mungkin apa yang saya ceritakan diatas hanyalah sebuah generalisasi, ada 10 juta lebih penduduk Jakarta dan saya percaya tidak seluruh warga Jakarta bersifat demikian. Ini hanyalah ulah dari segilintir individu, tapi mengapa justru itu yang terlihat?

Hiduplah sewajarnya dengan apa yang kau miliki

Satu pemikiran pada “4 Hari Merenung di Tengah Hiruk Pikuk Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s