Saatnya Pengguna Jejaring Sosial Waspada

Siapa yang tidak kenal situs web jejaring sosial? Penggunaannya kini bisa dibilang menjadi salah satu sisi yang mungkin harus ada di kehidupan manusia. Jika dulu harus bertemu, berkenalan, berbincang-bincang, jalan bersama, saling berkunjung ke rumah masing-masing, memperkenalkan keluarga, lalu terjalinlah suatu pertemanan yang baik, kini orang cukup bertemu, berkenalan sejenak lalu saling bertukar account untuk di “Add” sebagai teman di dunia maya.

Jika kita lihat, nampak lebih praktis dibandingkan metode konvensional biasa, tapi lebih banyak mengandung kebocoran informasi yang seharusnya belum tepat kita share kepada teman baru kita itu. Jaman dulu kita tidak mudah memberitahu kapan ulang tahun kita, nama orang tua, saudara-saudara kita, alamat rumah, nama pasangan kita, dan lainnya hanya dengan baru berkenalan. Tapi kini kita memberikan itu semua dengan “gratis” hanya dengan sekali klik. Bahkan tidak jarang kita mau-maunya saja menggaprove orang yang sama sekali belum pernah bertemu di dunia nyata.

Masalah kewaspadaan hanya muncul kepada orang-orang yang cepat sadar akan bahaya. Waspada tidak akan muncul bagi orang-orang yang kalap dan terlalu asyik meneruskan kelemahan diatas. Ada beberapa modus kejahatan yang dapat dilakukan dengan modal biodata gratis tadi. Sebut saja pemalsuan identitas, perampokan rekening bank maupun kartu kredit, dan lain-lain. Apalagi sudah tersedianya informasi yang sangat pribadi seperti tanggal lahir dan nama orang tua saja sudah cukup untuk melaporkan kehilangan kartu kredit.

Saya juga bisa membuat KTP palsu dengan identitas palsu juga yang saya dapat dari account web jejaring sosial. Tentu akan sangat berbahaya jika KTP tersebut beredar dan disalah gunakan. Bayangkan anda duduk santai dirumah, namun identitas anda melakukan kejahatan di luar sana. Atau anda sedang santai minum kopi di pagi hari sambil membaca koran, tapi identitas anda membawa kabur sejumlah uang pinjaman.

Sedikit tips, walaupun penggunaan web jejaring sosial masih penting saat ini, tetaplah jaga privacy anda. Jangan mengumbar-umbar informasi secara gratis ke khalayak. Atau solusi lain adalah hanya approve orang-orang yang anda kenal baik di dunia nyata dan web jejaring sosial digunakan untuk melakukan kontak jika posisi anda sedang jauh dari teman anda itu.

Berpikirlah sebagai penjahat agar kita tidak diperlakukan secara jahat

Patung Obama

Saya cukup terkaget-kaget setelah melihat beberapa situs media berita yang menceritakan telah ada berdiri patung anak kecil yang saat ini telah kita kenal sebagai presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Patung tersebut kini berada di salah satu sudut Taman Menteng Jakarta Pusat. Cukup terhenyak melihat sesosok patung orang luar negeri berdiri kokoh di negara Indonesia yang tercinta ini. Patung seharga 100 juta rupiah ini didirikan oleh sebuah LSM Friends of Obama dengan alasan bahwa dengan patung ini, pemuda Indonesia akan terinpirasi bahwa Obama yang tadinya hanya anak kecil yang suka bermain di Taman Menteng, dan kini menjadi orang besar. Bahkan patung ini ikut diresmikan oleh si “Ahli” Fauzi Bowo. Yang saya heran, apakah di negeri ini tidak ada lagi sosok inspiratif yang cocok dibuatkan patung?

Patung Obama

Di Indonesia, menurut saya masih banyak tokoh-tokoh besar yang dapat menginspirasi kita. Sebut saja Habibie, Hatta, Sjahrir, Soekarno, dan lain-lain. Ada pula beberapa insinyur yang mungkin hanya beberapa dari kita saja yang tahu padahal jasa beliau yang besar untuk pembangunan di negeri ini. Ada Tjokorda Raka Sukawati, penemu teknik Sosrobahu untuk membuat jembatan layang tanpa mengganggu lalu lintas dibawahnya, dan saat ini banyak orang luar negeri yang menerapkan teknik yang sama untuk membangun jalan layang. Karya beliau kini dapat kita lihat di kota Jakarta, jalan layang yang membentang dari Cawang hingga Tanjung Priok.

Saya tidak bisa menerka apa yang terjadi jika kedepannya Obama melakukan hal buruk sebagai resiko orang yang masih hidup di dunia, berarti masih bisa melakukan kesalahan.

Sekali lagi saya dibuat kecewa