Apakah Kita Siap Berkompetisi?

Kompetisi, menurut Deaux, Dane, & Wrightsman (1993) penulis buku “Social psychology in the 90’s ” adalah aktivitas mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam suatu situasi. Sedangkan menurut ilmu biologi kompetisi berarti saling mengatasi dan berjuan antar individu untuk memperebutkan objek yang sama.

Dari definisi yang saya pakai diatas, tentu jelas dari sisi manusia kompetisi adalah suatu hal yang tidak dapat dielakkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari sebelum dilahirkan, kita telah berkompetisi dengan jutaan sel sperma lain di rahim ibu kita, untuk memperebutkan hal yang sama (sel telur). Dan ketika menginjak bangku sekolah kita berkompetisi untuk mendapatkan nilai yang baik. Hingga nanti di kehidupan sebenarnya, orang tua akan berkompetisi dengan orang tua-orang tua lainnya agar keluarganya dapat hidup layak.

Meskipun tidak dapat dielakkan dari kehidupan sehari-hari, apakah manusia telah siap untuk berkompetisi? sayangnya ada beberapa manusia yang belum siap untuk berkompetisi. Kompetisi hanya dipandang sebagai suatu kesulitan yang mempersulit jalan menuju zona nyaman. Kompetisi dianggap sebagai pengganggu hidup dan membuat tidur tidak nyaman. Hingga jika kesulitan mencapai puncak, tidak jarang ada individu yang memilih jalan pintas untuk dapat menjadi pemenang karena takut berkompetisi.

Kompetisi memang dapat diidentikkan dengan kalah dan menang. Menang berarti anda berhak mendapatkan rewardnya, dan kalah tidak mendapatkan reward. Dua sisi mata uang ini akan selalu ada di dalam kompetisi. Namun apakah serendah itu pandangan kita terhadap suatu kompetisi? Kompetisi dapat dijadikan bahan pembelajaran dan instropeksi diri bagi yang kalah, dan bahan peningkatan kualitas diri untuk menjadi individu yang lebih baik bagi si pemenang. Sayangnya tidak seluruh manusia mempunyai pemikiran seperti itu.

Inspirasi saya menulis ini karena dari berita yang baru saya dengar. Sopir taksi liar yang biasa mangkal di stasiun Gambir mengadakan demonstrasi karena mereka tidak diperbolehkan lagi mencari penumpang didalam lingkungan stasiun. Hal itu pun dilakukan oleh pihak Stasiun karena mereka sering mendapatkan laporan keluhan dari pengguna stasiun bahwa taksi liar yang ada disana memperlakukan penumpang tidak sebagaimana mestinya penumpang diperlakukan. Taksi yang tidak memakai argo tapi memakai tarif seenaknya, calo-calo yang memborong tiket agar dapat menjualnya lagi dengan harga berkali-kali lipat, dan oknum-oknum pemeras lainnya. Alhasil, pihak stasiun hanya membolehkan taksi-taksi “bermerk” sebagai taksi yang boleh mengambil penumpang disana. Akibatnya pada aksi demonstrasi tadi, ada oknum supir-supir taksi liar yang melempari taksi “bermerk” yang sedang melewati lokasi demonstrasi.

Seperti yang saya katakan di paragraf sebelumnya. Kompetisi tidak hanya sekedar anda dapat uang atau anda tidak dapat uang. Tetapi dapat berarti orang lain dapat uang atau bagaimana agar saya bisa menjadi orang tersebut untuk mendapatkan uang? Tidak perlu menyalahkan orang lain yang sudah sukses tanpa kita melihat apa yang membuat dia sukses. Bisa saja taksi yang diperbolehkan mengambil penumpang di stasiun adalah taksi dengan pelayanan yang baik, tarif sesuai argo, dan tanpa memaksa-maksa sehingga membuat penumpang merasa nyaman.

Kasus lain yang dapat dikaitkan dengan topik ini adalah C-AFTA. C-AFTA adalah penerapan pasar bebas antara negara-negara ASEAN dengan China. Penerapan pasar bebas ini memungkinkan barang-barang dari China membajir di pasaran lokal sehingga produk lokal tersaingi, atau malah kalah bersaing. Apakah kita sudah terlalu nyaman karena tidak ada saingan? Memang sekilas kebijakan ini tidak perlu karena Indonesia sendiri dapat membuat sendiri jika kita mau. Negara tetangga menyambut gembira kebijakan C-AFTA ini karena mereka dapat bersaing dengan produk-produk China, mereka dapat meningkatkan kualitas barang-barang hasil produksi agar dapat mengalahkan produk dari China. Tetapi mengapa kita hanya sibuk memikirkan takut bersaing, lalu kalah bersaing?

Yang saya tulis disini hanyalah kompetisi, latar belakang lainnya saya kesampingkan terlebih dahulu karena saya hanya membahas kompetisi 😀

source : Google, Wikipedia, Kompas, Metro TV

Iklan

3 pemikiran pada “Apakah Kita Siap Berkompetisi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s