Alangkah Lucunya (Kacaunya) Negeri Ini

Baru saja kita merayakan hari yang sangat istimewa bagi seluruh rakyat Indonesia yaitu hari Kemerdekaan yang ke 65 Republik Indonesia. Memang kita sudah merdeka secara fisik kawan, tidak ada lagi penjajah yang dengan ganasnya menduduki negeri ini dengan peluru dan mesiunya. Tapi ingatlah, negeri kita belum lepas dari penjajahan mental. Metode penjajahan tercanggih dan modern.

Penjajahan mental adalah penjajahan yang lebih sulit dilawan karena penjajahan ini menyerang langsung akal dan batin manusia. Berbeda sekali dengan penjajahan fisik, musuh berada diluar jiwa kita, berbentuk nyata, dan dapat langsung kita lawan. Dalam penjajahan mental, musuhnya bisa siapa saja, bahkan teman terdekat, orang terhormat, pejabat, bahkan presiden sekalipun. Tak perlu orang asing yang langsung datang ke negeri ini untuk menjajah, tetapi hanya memerlukan orang dalam yang sudah terjajah akalnya.

Salah satu contoh penjajahan mental adalah kebodohan dan merasa diri inferior. Dua hal ini cukup untuk membuat bangsa yang seakan-akan merdeka padahal terjajah. Kita dapat lihat Indonesia saat ini, banyak SDA kita yang dikuasai asing dengan dalih kita tidak mampu mengeksplorasi dan mengeskploitasinya karena teknologi kita belum sampai kesana, salah satu kita telah terkena penjajahan “merasa diri inferior” sekaligus menjustifikasi kita bahwa kita bodoh. Mari kita ambil contoh Freeport yang telah mengeksploitasi tanah Papua sejak tahun 1967 (wikipedia). Okelah saat itu kita adalah negara yang baru mengalami gejolak politik pada September 1965. Tetapi sudah lebih dari 30 tahun kawan mereka mengambil kekayaan alam kita. Kemanakah kita selama lebih dari 30 tahun itu? apakah kita tidak memulai sama sekali riset atau penelitian mengenai alat-alat tambang dari dulu? sementara kita terus bergantung kepada mereka untuk mengambil bahan tambang kita. Semakin lama saja alasan “teknologi kita belum sampai” itu dipakai sebagai alat pembenaran agar mereka dapat terus menghisap kekayaan alam kita.

Manusia makhluk sosial, memerlukan individu lain untuk dapat hidup, bukan berarti “harus” bergantung dengan yang lain agar dapat hidup. Kita dapat mandiri tanpa perlu bantuan negara lain. Daripada kita jauh-jauh mengikuti kebijakan Amerika untuk diterapkan disini, mengapa kita tidak meniru saja negara berkembang lain, ambil contohlah Iran. Mereka telah lama diembargo oleh Amerika serikat dalam hal persenjataan, dan kini yang terbaru adalah sanksi ekonomi. Tetapi mereka masih tetap dapat berkarya. Sedangkan Indonesia yang tidak mendapatkan sanksi apapun, masih begini-begini saja. Padahal dari segi jumlah penduduk, Iran sudah kalah telak. Hanya tinggal usaha kita saja mungkin masih kurang. Kita perlu pemimpin pemberani dan bertangan besi, bukan pemimpin peragu dan tukang curhat.

Alangkah kacaunya negeri ini