Rumah Kita

Pasti teman-teman pernah mendengar salah satu karya terbaik anak bangsa, lagu yang sangat legendaris dari grup musik God Bless yang berjudul Rumah Kita. Syairnya yang polos, seakan-akan menohok kita agar kita mencintai dan mensyukuri apa yang kita punya, bisa dianalogikan menjadi mencintai negeri kita sendiri, karena semuanya ada disini. Berikut liriknya

Hanya bilik bambu

tempat tinggal kita

tanpa hiasan, tanpa lukisan

Beratap jerami, beralaskan tanah

namun semua ini punya kita, memang semua ini milik kita, sendiri …

Hanya alang-alang, pagar rumah kita

tanpa anyelir, tanpa melati

Hanya bunga bakung, tumbuh dihalaman

namun semua itu, punya kita

memang semua itu milik kita…

Harusnya, kita beranjak ke kota

yang penuh dengan tanya …

Reff:

Lebih baik disini, rumah kita sendiri

segala nikmat dan anugerah yang Kuasa

semuanya ada disini …, rumah kita …

begitu sederhana namun dalam syair-syair diatas dinyanyikan. Lagu ini mengandung banyak nilai. Nilai kesederhanaan, kesetiaan, kebanggaan, dan rasa bersyukur. Walaupun lagu ini termasuk kategori lagu lama (saya sendiri belum lahir ketika lagu ini baru pertama kali dibawakan), namun nilai yang terkandung didalamnya tentu saja masih relevan jika kita kaitkan dengan berbagai fenomena saat ini.

Buat apa kita bermewah-mewah, apalagi diluar kemampuan kita sendiri. Lebih celaka lagi bermewah-mewah dengan yang bukan punya kita sendiri.

Dalam konteks negara, lagu ini dapat dijadikan pelajaran untuk pejabat-pejabat sana berulang kali harus “menjual” bangsanya ke pihak asing. Takut dengan embargo. Sebenarnya mereka yang butuh dengan kita. Kita sudah punya semua disini, minyak, gas, hutan, air, tanah, udara, laut, dan lainnya yang sudah Tuhan berikan ke negeri ini. Merekalah yang membutuhkan kita. Jika kita mampu mengolahnya sendiri, tentu kita akan menjadi negara superpower. Namun itu semua diperlukan kerja keras untuk mengolah hasil alam, bukan menjual. Kegemaran kita juga untuk menjual bahan mentah dengan murah. Padahal jika kita mampu mengolahnya, tentu nilai jual barang mentah itu akan berkali-kali lipat nantinya jika sudah masuk pasar.

Apakah kekayaan alam yang diberikan ini sebuah kutukan dari Tuhan? membuat kita malas mengolahnya. Kita hanya sibuk menggali, lalu menjual. Ini ibarat seseorang yang 24 jam selalu berdoa meminta rezeki, lalu mengharapkan rezeki jatuh dari langit. Sekarang rezeki negeri ini sudah keliatan secara gamblang, tinggal kita saja yang mau mengolahnya atau tidak. Alasan teknologi kita belum sampai untuk mengambil dan mengolah itu hanyalah alasan jaman kita baru saja menjadi negara. Kemana saja selama 65 tahun ini? apakah sudah ada riset tentang membuat alat untuk menggali dan mengambil hasil alam? atau sengaja kita di ninabobok-kan agar kita terus menerus bergantung oleh pihak asing? dan alasan “kita tidak mempunyai teknologinya” akan menjadi alasan abadi, seiring dengan perpanjangan kontrak tangan-tangan asing di negeri ini.

Mudah-mudahan menginspirasi, mohon koreksi jika ada yang salah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s