Hiking Parongpong – Tangkuban Perahu

Hiking ini dimulai dari kebun teh Sukawana, Parongpong. Saya berangkat berdua dengan teman saya, Eve. Karena perjalanan ini cukup cepat (hanya berkisar 3-4 jam saja), jadi saya tidak membawa perlengkapan yang terlalu lengkap, hanya bawa air minum 1,5 liter dan makanan kecil untuk ngemil di jalan. Kami berangkat dari pos Polisi Gandok Ciumbeleuit kemudian naik angkot ke Ledeng. Setelah disana kami menyebrang ke jalan Sersan Bajuri dan naik angkot putih Ledeng – Parongpong. Ngetemnya cukup lama, kira-kira setengah jam. Sekitar 8.30 kami sampai di gerbang menuju kebun teh Sukawana.

Kebun Teh Sukawana - Ikuti saja tiang listriknya

Dari pinggir jalan menuju kebun teh Sukawana hanya perlu 10 menitan, kebun tehnya cukup luas dan jalannya berbatu. Disana kami berhenti dulu di warung karena Eve belum sarapan. kata pemilik warung jalur yang mudah itu ikuti saja kabel listrik ke arah utara hingga habis, kemudian masuk hutan dan nanti ketemu jalan berbatu. Oke kita ikutin aja itu tiang listrik lewat kebun teh. Kira-kira 40 menit kami mencapai ke ujung kebun teh Sukawana yang berbatasan langsung dengan hutan. Iya memakan waktu 40 menit karena kami beberapa kali berhenti untuk berfoto-foto, hehe :D. Setelah tiang listrik habis, kami merayap masuk hutan karena banyak semak-semak menutupi jalan setapak sehingga beberapa kali kami harus sedikit menunduk (mungkin yang badannya pendek bisa tinggal jalan aja ya hehe). Hutannya benar-benar lembab dan jalanannya agak basah, jadi hati-hati bisa terpeleset.

Hutan Setalah Kebun Teh

Kira-kira 10-20 menit masuk hutan yang rimbun itu, kami menemukan jalan berbatu, persis dengan perkataan bapak pemilik warung di kebun Teh Sukawana tadi. Akhirnya kami ke arah kiri dimana jalanan mulai menanjak tapi landai. Jalanan inilah yang nantinya akan menuju ke tower (entah tower apa itu saya kurang tahu). Perjalanan dari mulai ketemu jalan berbatu sampai tower memakan waktu kira2 satu jam, saya kurang tahu persis berapa jarak yang ditempuh karena saya benar-benar blank jalurnya. Jalanan itu sepi sekali, sesekali kami bertemu dengan penduduk sekitar yang mengambil rumput dan berburu (membawa senapan angin). Setelah sampai di tower yang berada di kiri jalan, kami mulai masuk ke jalan setapak hutan dengan berbelok sedikit ke kanan. Disana mulai berkabut, lumayan tebal dan dingin.

Jalanan setapak ini cukup sempit dan banyak sarang laba-labanya. Untung saya mengambil tongkat kayu di sepanjang jalanan berbatu tadi. Sehingga layaknya pemain aikido, posisi tongkat itu saya pegang layaknya memegang pegang untuk menyapu sarang laba-laba yang menghalangi jalan karena tidak enak sekali kalau kena muka :(. Beberapa kali kami menemukan trek berlumpur dan becek karena disini kabut sangat tebal. Kira-kira satu jam-an kami sampai di tower penelitian petir ITB. Disana ada persimpangan yaitu lurus menuju parkiran Tangkuban Perahu dan kiri adalah kawah. Kami mengira bahwa mengambil jalur kiri dapat sekalian ke arah parkiran dengan menyusuri pinggiran kawah, ternyata tidak. Jalur kiri banyak sekali turunan curam dan sedikit tanjakan. Dan benar saja, kawah adalah benar-benar pinggir kawah dan jalan buntu, tidak ada jalan lagi. Saat itu kawah sedang diselubungi kabut sehingga kami tidak dapat melihat apa-apa disana, hanya jurang menganga dan kabut dibawahnya serta bau belerang dan suara uap kawah dari bawah.

Kembali ke persimpangan menara petir inilah yang berat. Berat karena tanjakan dan cuaca mulai hujan deras. Beberapa kali kami hampir terpeleset karena jalanan licin. Setelah sampai kembali di menara petir, kami berteduh dulu di sebuah pos mirip pangkalan ojek cuman tidak ada motor disana. Setelah hujan reda, kami berangkat lagi mengambil jalur ke parkiran Tangkuban Perahu. Keadannya jalurnya tidak terlalu berbeda dengan jalan batu ke menara petir. Sempit, becek dan banyak sarang laba-laba. Makin jauh kami berjalan, makin terdengar bunyi bising mobil-mobil dan suara orang, pertanda bahwa kami semakin dekat. Kami sampai di bagian selatan dari parkiran setelah susah payah menuruni turunan berbatu dengan tanah liat yang licin karena hujan (disana juga sedang hujan berangin). Hujan berangin, kami membuka payung, ide yang sangat buruk sekali karena angin disini sangat kencang.

Setelah sampai ke “peradaban manusia”, kami beristirahat sambil mengeringkan baju. Makan siomay haha. Ada hal lucu, orang2 disini pada masih cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Kita berdua sampai disini dengan sepatu kotor karena becek, tampang lusuh karena lelah, dan baju basah.

Kami pulang dengan naik angkot menuju lembang, lalu lanjut lagi dengan angkot Lembang – ST Hall. Kami turun di pertigaan deket jalan Ciumbeleuit.

kalau tidak hujan, sepertinya kami akan kembali lewat jalur hutan hehe

selanjutnya gunung Burangrang. Rencananya minggu ini 😀

Iklan

3 pemikiran pada “Hiking Parongpong – Tangkuban Perahu

    1. gw dulu naik ini cuma berdua, cuma bawa daypack, dan sepatu kets biasa. masalah buat nahan hujan pun cuma pake payung (dan ini ga bagus banget pas di sekitar kawah karena anginnya gede)

      yuk kalau mau mah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s