Negara Sering Bencana, Sudah Saatnya Memanfaatkan Asuransi Bencana

Resiko terbesar Indonesia terletak di daerah cincin api Pasifik, tentunya sering membuat tanah yang kita diami ini “berguncang”. Mulai dari gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami. Negara ini rawan bencana sejak dulu kala, bukan karena kerusakan moral, memang karena berada di daerah yang rawan. Untuk itulah kita harus belajar banyak mengenai mitigasi bencana dengan salah satunya penanganan resiko kerusakan bencana secara finansial. Mengapa secara finansial? ya karena itulah yang manusia bisa lakukan dengan kemampuannya karena kita tidak bisa mengganti nyawa yang hilang karena bencana. Yang bisa kita lakukan adalah awareness atau antisipasi terjadinya bencana, mulai dari sebelum terjadinya bencana hingga pasca terjadinya bencana.

Pernah suatu ketika saya mencari bahan untuk tugas akhir saya mengenai catastrophe modelling atau model katastropik, penelitian di bidang ini banyak dilakukan di Jepang, Amerika Serikat, New Zealand, Turki dan beberapa negara lainnya. Jika kita lihat lebih seksama, negara-negara tersebut mempunyai posisi dekat atau berada di atas patahan lempeng bumi. Walaupun secara penggunaan model katastropik tidak hanya digunakan untuk gempa bumi saja tetapi badai, banjir, kebakaran besar bahkan sampai ancaman keamanan oleh teroris. Namun Indonesia bagamaina?

Kerugian finansial yang besar sangat mungkin terjadi jika terdapat suatu daerah yang vital peran ekonominya dan terletak di daerah rawan bencana. Contoh kecil adalah misalnya terdapat suatu pabrik gula. Pabrik tersebut terletak di kaki sebuah gunung berapi yang mungkin sudah lama tidak meletus tetapi masih aktif. Tetap saja ada kemungkinan gunung tersebut meletus (besarnya kemungkinan harus berdasarkan perhitungan ahli vulkanologi). Bagaimana jika seandainya terjadi letusan gunung berapi tersebut? tentu saja pabrik dapat akan musnah dengan seketika. Kalaupun pabrik tidak hancur, akan ada gangguan bisnis karena para buruhnya harus di evakuasi ke tempat yang lebih aman yang berakibat pabrik tidak beroperasi. Inilah yang harus dipikirkan karena dampak ekonomi yang muncul akan dapat membuat efek bencana ini jauh lebih buruk dari hanya sekedar kerusakan infrastruktur.

Sering saya mendengar setiap kali terjadi bencana yang dapat pemerintah lakukan ketika rekonstruksi adalah mengeluarkan uang dari APBN. Bayangkan jika terdapat bencana beruntun (seperti tahun 2006 dimana Gempa bumi Yogyakarta dan bencana Lumpur Lapindo yang terjadi secara berdekatan) nantinya akan terjadi lagi kejadian serupa di masa depan? tentu APBN kita lama-lama akan tekor. Mungkin perlu dikaji lagi apakah negara kita perlu asuransi bencana secara nasional dan menyeluruh sehingga pengeluaran APBN hanya terjadi untuk membayar premi asuransi bencana setiap tahunnya ketimbang mengeluarkan uang dalam jumlah besar ketika bencana terjadi

Bayangkan jika pemerintah memang menganggarkan setiap tahunnya untuk membayar premi asuransi bencana. Jika terjadi suatu bencana, rekonstruksi infrastruktur yang hancur atau rusak akan cepat diperbaiki karena dananya telah tersedia dari asuransi. Walau cara ini tidak menjamin secara sepenuhnya. Sebagai contoh adalah Gempa bumi dan tsunami di Tohoku Jepang tahun 2011 lalu. Sudah setahun sejak bencana, masih ada korban yang belum memiliki rumah karena rumahnya hancur disapu tsunami, padahal kita tahu Jepang mempunyai mekanisme perlindungan finansial terhadap bencana. Bahkan kata seorang teman saya mengatakan kok bisa-bisanya orang Indonesia bisa hidup tanpa asuransi? Tentu kejadian di Jepang akan jauh lebih buruk dampaknya jika pemerintah setempat tidak bersiap-siap menanggung kerugian finansial akibat bencana.

Karena tulisan ini ditulis berdasarkan pengetahuan saya di bidang asuransi bencana yang masih sangat minim, mungkin nantinya terdapat suatu ketidakakuratan mengenai apa yang saya tulis. Mungkin akan terdengar lucu jika saya baca kembali tulisan ini setelah saya magang di sebuah perusahaan re-asuransi yang menangani asuransi gempa. Tetapi itulah ilmu, akan tetap nyangkut kalau ditulis Open-mouthed smile

Iklan

Angin Ribut atau Angin apa?

Terjadi kemarin, 4 April 2012, antara jam 1 sampai jam 3, saya lupa persisnya karena sedang asik kuliah statistika matematika di GKU Timur lantai atas. Hujan deras sekali, sampai pohon di depan GKU Timur itu menghentak-hentak jendela kelas yang kami gunakan.

Setelah selesai kuliah, hujan sudah reda. Tetapi ketika jalan ada beberapa pohon di ITB yang tumbang. Untungnya bukan pohon tua yang berukuran besar, tapi rata-rata pohon2 yang masih pendek. Salah satunya pohon diantara GKU Timur dengan Labtek VIII, serta pohon di areal sunken court diantara perpustakaan pusat dengan gedung PAU (yang ini ga sempet foto)

IMG_20120404_145022

Sepakbola Bukan Matematika?

Judul tulisan ini lah yang membuat saya tersenyum kalau kalau ada orang yang mengucapkannya. “Sepakbola bukan matematika” sering diucapkan kalau ketika ada tim yang mau bertanding, sang komentator melihat statistik atau histori pertemuan antara dua tim lalu membandingkannya. Jika di statistik tim A dan B, ternyata tim A lebih sering menang daripada B, tentu saja kita bisa berasumsi yang menang di pertandingan selanjutnya adalah A. Tetapi sekali lagi dipatahkan dengan suatu ucapkan “sepakbola bukan matematika”, haha.

Saya sih sadar, ternyata sebagian besar orang indonesia masih beranggapan bahwa ilmu matematika itu hanya sekedar menghitung, sehingga muncullah anggapan matematika sebagai ilmu pasti. 1+1 pasti hasilnya sama dengan 2. Tapi setelah saya kuliah matematika selama hampir 4 tahun di kampus gajah ini, saya semakin bingung sebenarnya matematika itu apa? sains? jelas bukan karena … (bakal panjang dan out of topic kalau saya paparkan disini).

Jelas saya menolak keras kalau mengatakan matematika itu tidak pasti karena dari tingkat 2 sampai detik ini saya belajar ketidakpastian lewat peluang. Iya peluang, hal yang sering dilupakan orang-orang kalau peluang ini juga dipelajari di matematika. Dan tentu saja peluang itu tidak pasti, karena bernilai diantara selang 0 sampai 1 saja, atau beberapa orang sering menyebutnya dengan 0% sampai 100%. Berapa peluang saya mendapatkan angka “5” jika saya melempar dadu?, seperti itulah.

Begitu juga dengan sepakbola. sangat tidak tepat jika mengatakan sepakbola itu bukan matematika karena masih relevan kok sepakbola itu ternyata memang matematika. Jika contoh kasus yang saya paparkan diatas itu diteliti secara peluang, dan mengambil contoh yang sangat sederhana sekali dengan hanya melihat data statistik berapa frekuensi tim A atau tim B yang menang ketika kedua tim itu bertemu, kita bisa tahu peluang tim A menang itu berapa, peluang tim B menang berapa. Namanya juga peluang, hal yang tidak pasti. Jika peluang saya salah ketik di tulisan ini adalah 0.05, kecil memang karena saya pengetik yang baik, tapi kecilnya 0.05 itu bisa saja terjadi kan?

Karena kita hanya mengambil variabel “menang-kalah”, tentu hasilnya tidak bisa dipertanggung jawabkan karena variabel lainnya seperti kualitas pemain, main kandang atau tandang, mental pemain, bahkan sampai kondisi lapangan ikut berpengaruh ke menang atau tidaknya suatu tim. Dan jelas, model peluang jika mengikutkan seluruh variabel itu sangat rumit jika dikaji, tapi memungkinkan untuk dilakukan.

Kesimpulannya, berhentilah mengatakan “sepakbola itu bukan matematika”, sekarang beralihlah ke “sepakbola itu memang matematika”.