Sepakbola Bukan Matematika?

Judul tulisan ini lah yang membuat saya tersenyum kalau kalau ada orang yang mengucapkannya. “Sepakbola bukan matematika” sering diucapkan kalau ketika ada tim yang mau bertanding, sang komentator melihat statistik atau histori pertemuan antara dua tim lalu membandingkannya. Jika di statistik tim A dan B, ternyata tim A lebih sering menang daripada B, tentu saja kita bisa berasumsi yang menang di pertandingan selanjutnya adalah A. Tetapi sekali lagi dipatahkan dengan suatu ucapkan “sepakbola bukan matematika”, haha.

Saya sih sadar, ternyata sebagian besar orang indonesia masih beranggapan bahwa ilmu matematika itu hanya sekedar menghitung, sehingga muncullah anggapan matematika sebagai ilmu pasti. 1+1 pasti hasilnya sama dengan 2. Tapi setelah saya kuliah matematika selama hampir 4 tahun di kampus gajah ini, saya semakin bingung sebenarnya matematika itu apa? sains? jelas bukan karena … (bakal panjang dan out of topic kalau saya paparkan disini).

Jelas saya menolak keras kalau mengatakan matematika itu tidak pasti karena dari tingkat 2 sampai detik ini saya belajar ketidakpastian lewat peluang. Iya peluang, hal yang sering dilupakan orang-orang kalau peluang ini juga dipelajari di matematika. Dan tentu saja peluang itu tidak pasti, karena bernilai diantara selang 0 sampai 1 saja, atau beberapa orang sering menyebutnya dengan 0% sampai 100%. Berapa peluang saya mendapatkan angka “5” jika saya melempar dadu?, seperti itulah.

Begitu juga dengan sepakbola. sangat tidak tepat jika mengatakan sepakbola itu bukan matematika karena masih relevan kok sepakbola itu ternyata memang matematika. Jika contoh kasus yang saya paparkan diatas itu diteliti secara peluang, dan mengambil contoh yang sangat sederhana sekali dengan hanya melihat data statistik berapa frekuensi tim A atau tim B yang menang ketika kedua tim itu bertemu, kita bisa tahu peluang tim A menang itu berapa, peluang tim B menang berapa. Namanya juga peluang, hal yang tidak pasti. Jika peluang saya salah ketik di tulisan ini adalah 0.05, kecil memang karena saya pengetik yang baik, tapi kecilnya 0.05 itu bisa saja terjadi kan?

Karena kita hanya mengambil variabel “menang-kalah”, tentu hasilnya tidak bisa dipertanggung jawabkan karena variabel lainnya seperti kualitas pemain, main kandang atau tandang, mental pemain, bahkan sampai kondisi lapangan ikut berpengaruh ke menang atau tidaknya suatu tim. Dan jelas, model peluang jika mengikutkan seluruh variabel itu sangat rumit jika dikaji, tapi memungkinkan untuk dilakukan.

Kesimpulannya, berhentilah mengatakan “sepakbola itu bukan matematika”, sekarang beralihlah ke “sepakbola itu memang matematika”.

2 pemikiran pada “Sepakbola Bukan Matematika?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s