Main Hitung-Hitungan TransJakarta

Image
Bis TransJakarta

Pagi ini (6/7) saya membaca sebuah berita di harianThe Jakarta Post tentang janji gubernur jakarta yang terpilih tahun 2007 lalu, yaitu Fauzi Bowo yang terbukti ingkar janjinya untuk membangun 15 koridor, dan hanya berhasil membuat 11 koridor yang akan dibuka akhir tahun ini. Itupun 11 koridor mayoritas peninggalan gubernur yang lalu yaitu Sutiyoso. Lalu saya menemukan sebuah data berikut dari harian tersebut :

The city now operates at total of 554 Transjakarta buses on 11 routes that cover 183.6 kilometers.

Dengan iseng, saya mengolah data diatas untuk mengetahui sebab mengapa saya harus menunggu minimal 20 menit sampai 1 jam untuk dapat naik bis TransJ saat pulang kantor.

554 bis terdapat di 11 rute (koridor), berarti masing-masing koridor mempunyai sekitar 50 buah bis. Karena bis-bis ini melayani perjalanan pulang pergi, jadi kita bagi dua lagi menjadi 25 buah bis. Dan area jalan yang tercover oleh TransJ ini 183.6 kilometer, jika kita bagi rata dengan 11 koridor, masing-masing koridor mempunyai jarak sekitar 16.7 km. Sangat masuk akal perhitungan jarak koridor ini.

Selanjutnya, jika saya distribusikan 25 bis itu ke jarak 16.7 km. Anggaplah jarak 16.7 km ini sebuah garis lurus, jika jarak bis itu sama, maka jarak antar bis adalah 1.5 km. Dan saya jadi ingat bis ini hanya boleh melaju maksimal dengan kecepatan 50 km/jam (dalam kenyataannya bisa kurang atau bahkan lebih?). Anggap lah jika bis ini selalu melaju dengan 50 km/jam, maka untuk satu titik halte tempat saya menunggu, saya harus menunggu selama 1.8 menit yang diperoleh dari 1.5 km dibagi dengan 50 km/jam.

1.8 menit itu waktu yg sebentar saudara-saudara. tapi yg saya alami sehari-hari selama satu bulan lebih ini bisa 10 kalinya. Mengapa?

Pertama adalah metode saya menghitung sampai keluar angka 1.8 menit itu. Terlalu ideal sekali. Tidak mungkin bis ini selalu melaju dengan kecepatan konstan 50 km/jam. Seakan-akan Jakarta itu kota Kuala Kapuas yang jalanannya hanya ramai ketika malam takbiran dan malam tahun baru. Saya tidak memperhitungkan jalanan macet, jalur TransJ yg diserobot mobil/motor, lampu merah, rombongan atau konvoi pengajian, supporter Persija, dan lain-lain. Belum lagi apakah benar 554 bis itu benar-benar fungsional? saya juga meragukan. Belum lagi distribusi jumlah bis tiap koridor yang jelas tidak sama, koridor 1 keliatannya lebih banyak daripada koridor 2 (mungkin). Belum lagi mengantri karena banyaknya pengguna moda transportasi ini. Memang perlu sekali-kali saya mencatat waktu saya menunggu mulai dari membayar tiket masuk hingga terangkut ke dalam bis.

Lalu apakah hitungan saya ini berguna? kadang perhitungan kasar seperti ini, dengan banyak asumsi, ikut membantu bagaimana menyelesaikan masalah ini. Mungkin metode probabilistik akan jauh lebih akurat lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s