Polemik Lembaga Survei

Hari – hari ini, terutama setelah tanggal 11 Juli minggu lalu, hasil quick count Pilkada DKI Jakarta menjadi sorotan utama media. Terlepas calon berkumis yang pede dengan satu putarannya, dibalik itu ada hal yang lebih menarik diperbincangkan yaitu melesetnya lembaga survei. Lembaga survei ini mayoritas membuat kesimpulan kalau calon berkumis dapat menang satu putaran, itu artinya dalam pemilihan pada tanggal 11 Juli lalu, calon berkumis ini mendapatkan lebih dari 50% suara. Wow, sangat jumawa memang. Tapi kenyataannya berbeda. Ternyata pasangan Jokowi – Ahok yang menang dan harus putaran kedua dengan finalis Jokowi – Ahok dan calon berkumis tadi. Lembaga survei meleset!

Haruskah menyalahkan lembaga survei?

Melesetnya hasil survei ini tentu mengejutkan banyak pihak. Pilkada dan Pemilu sebelumnya, lembaga survei ini lumayan akurat. Baik dari segi angka dan urutan pemenang pemilu. Tingkat keakuratan masing – masing lembaga juga berbeda tetapi cenderung memperlihatkan urutan yang sama. Tetapi mengapa Pilkada DKI tidak “nurut” dengan survei ini? inilah yang menarik. Untuk menjawab pertanyaan ini kita memerlukan sudut pandang dari dua sisi intern dari lembaga survei itu sendiri sampai ke persepsi masyarakat terhadap lembaga survei, atau bagaimana cara masyarakat menyikapi hasil dari lembaga survei ini

Dari sisi lembaga survei, ada hal yang sedikit menganggu saya sebagai orang yang sedang belajar statistika. Sepengetahuan saya, tidak ada lembaga survei yang secara gamblang memaparkan metode pengambilan sampel yang digunakan. Pengambilan sampel ini penting karena tidak mungkin lembaga survei mengambil keseluruhan data populasi yang ada. Berapa jumlahnya, dimana tempat mengambilnya, bagaimana bentuk pertanyaan survei nya, dan lain – lain yang lebih bersifat teknis. Masyarakat hanya dipaparkan hasil akhirnya saja. Menurut saya masyarakat berhak tau bagaimana metode yang digunakan agar dapat membandingkan dan memilih hasil yang lebih akurat. Ya walaupun tidak secara gamblang disampaikan, mungkin terkait juga dengan “rahasia dapur” lembaga survei, minimal diberitahukan secara singkat dan jelas bagaimana metode yang digunakan.

Dari sisi masyarakat, seharusnya masyarakat lebih bijak dalam melihat hasil dari survei. Selain mempertimbangkan sisi teknis tadi, masyarakat harus menanam sikap di dalam benaknya bahwa lembaga survei hanyalah sebuah survei, sebuah hasil dari penelitian sejumlah sampel yang diharapkan merepresentasikan perilaku dari sebuah populasi sehingga jangan sampai tergiring opininya hanya karena hasil survei. Kita tidak tahu, apakah yang disurvei itu kebetulan pengambilan sampelnya berada di basis pendukung salah satu calon? memang hasilnya benar, tapi cacat karena pengambilan sampel yang salah dan tidak acak lagi. Cara yang bijak untuk menanggapi hasil dari survei adalah menanamkan sifat skeptisisme. Skeptis dalam artian positif yang berarti tidak termakan hasil survei secara bulat – bulat, tetapi mempertanyakan mengapa hasilnya bisa seperti itu? ini lebih baik. Ya seperti kita memperoleh berita di media, mencari fakta – fakta yang saling berhubungan sehingga menghasilkan suatu hasil seperti hasil dari lembaga survei.

Lembaga Survei Bayaran?

Inilah bagian paling krusial, dari apa yang saya perhatikan, banyak orang berpendapat jika lembaga survei disokong dananya oleh suatu calon, maka sifat independennya dipertanyakan atau cenderung mendukung calon tersebut sehingga hasil surveinya sengaja dimanipulasi untuk membentuk opini. Saya tidak setuju dengan anggapan ini.

Jika lembaga survei menerima dana dari suatu calon, itu masih lumrah. Karena untuk melakukan survei atau mencari data, perlu dana yang tidak sedikit. Bayangkan jika survei suatu pilkada gubernur dengan daerah provinsi yang luas, anggap lah seperti Jawa Barat. Jika sampel yang diambil harus ada di setiap kabupaten/kota, bayangkan ada berapa jumlahnya, ongkos dari kota ke kota, akomodasi untuk si pengambil data, dll. Se-independen-independennya sebuah lembaga survei, tetap saja butuh dana operasional tadi. Kecuali ada orang yang super kaya membuat lembaga survei tanpa perlu bayaran lagi oleh calon – calon kepala daerah tadi.

Jadi mungkin alurnya begini. Pertama si calon ingin tahu elektabilitasnya, sehingga ia butuh jasa lembaga survei. Diberikanlah sejumlah uang untuk operasional. Lalu mulailah lembaga survei bekerja, setelah hasilnya sudah ada, hasil tersebut di presentasikan ke client yaitu si calon tadi. Mengenai perlu atau tidaknya lembaga survei menyampaikan hasil survei ke media menurut saya tidak perlu. Dalam kondisi masyarakat yang masih mudah tergiring opini, hasil itu cukup menganggu pikiran, sehingga hasil survei seharusnya hanya untuk intern tim kampanye sebagai hasil evaluasi kinerja mesin partai (mesin dari tim kampanye kalau calon independen).

Nah, letak kesalahannya, karena merasa sudah membayar, si calon ini bisa saja mempunyai suatu kehendak untuk menempatkan dirinya sendiri serta calon pesaing ke posisi tertentu, lalu meminta hasilnya diberitakan ke publik sehingga diharapkan masyarakat tergiring opininya. Disinilah letak ketidak-independen-an dari lembaga survei jika meng-iya-kan kemauan orang yang membayar.

Namun sulit untuk dapat mengetahui terjadi atau tidak perilaku seperti itu. Bahkan ada suatu lembaga survei yang sudah memploklamirkan diri sebagai tim pemenangan salah satu calon, ini lebih salah lagi karena sudah jelas survei yang dihasilkan hanya untuk menggiring opini, sisi akademis dari pelaksanaan survei begitu saja dicampakkan karena rupiah.

Jika alur dari survei seperti apa yang saya inginkan, normal seperti itu. Apakah suatu calon yang memakai jasa lembaga survei, sudah membayar mahal, tetapi lembaga survei menghasilkan fakta yang tidak enak dari si calon, misalkan dalam kasus survei elektabilitas, si calon menempati posisi terakhir. Jika kasusnya seperti ini, hasil itu jelas tidak perlu diberitakan ke publik, juga tidak perlu dimanipulasi, hanya untuk bahan evaluasi bagi tim kampanye untuk bekerja lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s