Masalah SARA

Isu yang lagi hangat akhir-akhir ini, bahkan sampai menyeret seorang penyanyi dangdut (bahkan Rajanya pula) yang saya gemari. Saking hangatnya membuat suhu dingin Bandung menjadi lebih sedikit hangat ketika membicarakan ini. SARA adalah akronim dari Suku Agama dan Ras. Ketiga hal itu adalah identitas bagi mayoritas manusia dibawa sejak lahir (dengan asumsi agama adalah pemberian orang tua dan tidak berubah hingga mati). Karena sifat ‘bawaan’ seperti ini, hal ini sangat sensitif sekali untuk dibawa-bawa ke ranah publik.

Mengapa saya mengatakan ranah publik? mudahnya begini, publik adalah kumpulan berbagai macam jenis manusia, SARA nya belum tentu sama semuanya meskipun ada satu poin dari tiga itu yang sama. Iya, ranah publik, inilah yang harus diperhatikan sebelum ber-SARA ria. Pastikan semua unsur SARA itu cocok untuk semua hadirin yang hadir sebelum melakukan tindak ber-SARA ria agar tidak ada pihak yang tersinggung.

Lah berarti saya mendukung ber-SARA ria? tidak. Saya bukan mendukung, tetapi SARA ini, karena bawaan lahir, pasti ada saja celahnya dan sulit untuk dibendung di tengah kondisi masyarakat yang masih memegang teguh primordialisme ini. Karena sulit dibendung, hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah melokalisasi kegiatan ber-SARA ria. Jika ingin ber-SARA ria, pilihlah tempat seperti lokalisasi pekerja seks komersial. Silahkan anda memakai jasa PSK itu tetapi jangan melakukan hal tersebut di ranah publik, kan malu.

Nah balik lagi ke Raja Dangdut yang saya gemari itu. Beliau tidaklah salah, ah pasti pembaca berpikir saya subjektif terhadap kasus ber-SARA ria ini. Memang, di ayat Quran ada ayat yang mengatakan janganlah memilih pemimpin dari orang kafir. Namanya juga ayat Quran, merupakan suatu ajaran agama, salah satu dari tiga poin SARA. Lakukanlah ini di tempat tertutup dan jangan sampai muncul di ranah publik agar orang-orang yang ber-SARA tidak sama dengan kita tak tersinggung. Gimana tidak tersinggung, SARA kan bawaan lahir, menyinggung SARA berarti telah menyinggung seseorang hingga ke leluhurnya (diasumsikan leluhurnya juga mempunyai SARA yang sama). Saya berani jamin, siapa sih yang tidak marah kalau leluhurnya di ejek?

Saya jadi sering berpikir, kapan ya umat manusia dapat bersatu tanpa memandang SARA? saya yakin mau SARA seperti apapun kita ini 1. diciptakan oleh Tuhan yang sama (khusus untuk yg percaya Tuhan) atau 2. masih spesies yang sama (khusus untuk yg tidak percaya Tuhan). Apakah kita harus menunggu alien menyerang bumi baru kita bersatu tanpa memandang SARA dan sama-sama berjuang atas satu nama yaitu kemanusiaan? Alien cukup lah ada di film, saya yakin kita dapat bersatu sebelum alien datang, karena kita makhluk yang berpikir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s