Asal Usul Penggunaan Huruf X dalam Matematika

Tulisan ini saya buat dari berbagai sumber yang ada di Internet yang dapat saya temukan. Berawal dari presentasi Terry Moore di TED tentang topik yang sama. Suatu pertanyaan yang sangat menarik yang bahkan saya yakin mahasiswa jurusan matematika sekalipun belum tahu jawabannya apa yaitu “mengapa menggunakan lambang x dalam matematika untuk sesuatu yang tidak diketahui?”

Untuk menjawab ini, kita perlu tahu suatu topik yang menjadi dasar dan fondasi utama dari matematika yaitu Aljabar. Aljabar diketahui telah ada sejak peradaban Islam Abbasiyah di Persia yaitu Al-Khawarizmi yang menjadi pionir dalam bidang ini. Beliau menulis suatu kitab yang berjudul al-Kitāb al-muḫtaṣar fī ḥisāb al-ğabr wa-l-muqābala yang berisi persamaan dan perhitungan yang kini kita kenal sebagai ekspresi aljabar. Kitab berbahasa arab ini memakai notasi arab شَيْءٌ (dibaca : Sya-i-un) yang berarti sesuatu yang tidak diketahui atau something (inggris).

Singkat cerita pada sekitar abad ke-12 kitab ini mulai diterjemahkan dalam bahasa latin oleh peradaban Spanyol. Sayangnya mereka tidak mempunyai huruf yang berbunyi “sya” atau huruf “syin” sehingga mereka menggunakan lambang \chi (baca : chi/khi) untuk mengganti syaiuun untuk notasi sesuatu yang tidak diketahui. Ketika terjemahan ini diterjemahkan kembali ke dalam bahasa lainnya, lambang \chi lama-kelamaan berubah menjadi X biasa sampai saat ini.

Penggunaan lambang X di dalam bidang matematika pun menjadi berbagai arti. Beberapa dosen saya terutama dosen statistik sangat sering mengingatkan mahasiswa untuk membedakan “X”, “x”, “X“, dan “x” karena 4 hal ini mengandung arti yang berbeda. 2 ‘x’ yang pertama adalah huruf ‘x’ besar yang ditulis besar dan kecil sedangkan 2 ‘x’ selanjutnya adalah huruf ‘x’ kecil yang ditulis besar dan kecil. “X” biasanya digunakan untuk notasi peubah acak (random variable) yang mempunyai peran berbeda dengan variabel biasa yang sering digunakan.

Untuk lebih jelasnya lagi, mungkin pembaca dapat menonton video Terry Moore berikut

Tidak Perlu Membandingkan Indeks Prestasi Mahasiswa Satu Sama Lain

source: collisionscience.co.uk

Indeks Prestasi (IP) adalah yang katanya alat ukur prestasi atau pencapaian akademik dari setiap mahasiswa, baik mulai dari S1 hingga S3 (saya tidak tahu Diploma bagaimana). Menurut buku peraturan akademik kampus saya, Indeks Prestasi adalah

prestasi akademik mahasiswa yang dicapai dalam kurun waktu tertentu atas dasar perhitungan perolehan nilai akhir sejumlah mata kuliah, dimana jika ada mata kuliah yang diulang, nilai yang diperhitungkan adalah nilai terakhir mata kuliah tersebut saja tanpa memperhitungkan nilai mata kuliah tersebut pada pengambilan sebelumnya.

Saya tidak tahu di kampus lain apakah punya definisi atau arti serupa. Yang jelas apapun definisinya, ada satu poin penting disini, IP sangat ditentukan oleh nilai mata kuliah yang kita ambil. Sedangkan hal yang terjadi dalam kegiatan perkuliahan itu banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi IP kita. Sebut saja mulai dari waktu belajar, proses tatap muka kelas, ketersediaan bahan kuliah, kesulitan kuliah, dosen, sampai kegiatan selain kuliah yang kita ambil.

Atas dasar faktor – faktor yang saya sebutkan tadi, aneh sekali jika masih terdengar dua orang mahasiswa atau lebih membandingkan IP nya masing – masing, entah siapa yang paling rendah atau yang paling tinggi. Ini ibaratnya membandingkan kambing dengan sapi dari segi bobot, suara, susu, dagingnya padahal kesamaan mereka hanya karena dua hewan itu termasuk mammalia. Menurut saya IP dari dua orang mahasiswa hanya dapat dibandingkan secara adil minimal jika keadaan – keadaan ini dipenuhi :

  • jurusan dan kampus yang sama
  • jumlah SKS, dosen dari matakuliah yang diambil dalam satu semester sama
  • kegiatan diluar kuliah yang relatif sama

Jika minimal ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, maka IP tidak bisa dijadikan patokan siapa yang lebih cerdas dan siapa yang kalah cerdas karena apa yang dibandingkan sudah sangat berbeda. Apalagi dijadikan taruhan “ayo tinggi-tinggian IP semester ini”, ini adalah taruhan yang aneh. Bisa saja kita menang taruhan tersebut dengan mudah yaitu ambil saja kuliah-kuliah yang ‘murah nilai’ dan SKS jangan terlalu banyak agar dapat konsentrasi lebih.

Memang kondisi yang sebut diatas adalah kondisi yang sangat ideal. Pada kenyataannya setiap kali saya melihat lowongan kerja, mayoritas dari perusahaan masih mensyaratkan batas IP minimum. Jelas kalau mengikuti apa yang saya katakan diatas perbandingan akan menjadi semakin bias karena sangat memungkinkan terjadi kasus beda universitas. Apalagi bukan rahasia umum bahwa nilai A di universitas X belum tentu sama kemampuannya dengan nilai A di universitas Y. Beberapa selentingan dan gosip yang saya dengar katanya HRD perusahaan sudah tahu cara ‘menyamakan’ IP tersebut dalam menyaring calon karyawan perusahaannya. Entah bagaimana caranya, sistem penyaringan IP seperti ini akan terus berlangsung karena belum ada alat ukur yang dapat menjelaskan secara pasti kemampuan dari mahasiswa.

Saya pernah terpikir mungkin lebih cocok menyaring tenaga kerja berdasarkan ‘apa yang kau bisa’ dibanding ‘IP kamu berapa’. Sepertinya saat ini trennya mulai mengarah kesini. Sistem seperti ini lebih tepat karena kemampuan mahasiswa bahkan dari kampus dan jurusan yang sama itu belum tentu sama dan seragam. Contohnya saya dan teman saya anggap saja si X, walaupun saya dan X sama-sama kuliah di jurusan Matematika, ketika lulus nanti belum tentu skill kami sama. Apalagi di Matematika terpecah lagi menjadi 5 kelompok keahlian di mana kalau sudah masuk ke salah satu kelompok keahlian hampir dipastikan jarang menyetuh topik 4 kelompok keahlian lainnya. Hal ini mengindikasikan pertanyaan ‘apa yang kau bisa’ lebih tepat karena ‘apa yang kau bisa’ itulah yang bisa dan pernah kita kerjakan sehingga mungkin kita tidak perlu waktu lagi untuk belajar hal yang baru (walaupun belajar hal yang baru itu tidak buruk).

Selama proses penyaringan calon tenaga kerja adalah ‘berapa IP kalian’, skill dasar yang mutlak harus dimiliki adalah satu, yaitu kemampuan belajar yang cepat. Makanya jangan heran jika ada seseorang dari jurusan Pertambangan misalnya, dia bekerja di bank padahal selama kuliah yang ia tahu mungkin hanya seluk beluk teknologi pertambangan. Skill belajar cepat itulah yang membuatnya mampu beradaptasi di dunia perbankan. Memang terkesan tidak nyambung dengan apa yang kita pelajari, namun ‘kemampuan belajar’ itulah yang menjadi esensi sebenarnya dari menjadi seorang sarjana.

Demografi ‘Penganut’ Atheis Tahun 2012

Tadi malam saya menemukan suatu dokumen hasil press release survei yang diadakan oleh WIN Gallup International, suatu perusahaan yang bergerak di bidang market research dan polling bermarkas di Swiss. Topik survei yang dibahas sangat menarik yaitu tentang religiousity index dan atheism level. Melalui tulisan ini saya akan menyajikan beberapa fakta menarik tentang religius dan atheisme dari hasil survei tersebut. Untuk hasil yang lebih lengkap saya menyarankan pembaca untuk mencari langsung dokumen press release Global Religious and Atheism Index 2012.

Religiousity Index adalah persentase dari populasi yang mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang religius dengan pertanyaan “Terlepas dari sering hadir di tempat ibadah atau tidak, apakah anda seorang yang religius, tidak religius, atau meyankinkan diri sebagai ateis?”

Sedangkan Atheism Index adalah persentase dari populasi yang mendeskripsikan dirinya sebagai ateis melalu jawaban diatas.

Survei ini dibangun berdasarkan sampel berukuran 51927 orang yang diwawancarai dari 57 negara yang ada di dunia. Wawancara dilakukan lewat telepon, tatap muka, dan secara online dilakukan dalam rentang waktu November 2011 sampai Januari 2012. Margin error dalam survei ini yaitu 3-5% dengan tingkat kepercayaan 95%.

  • Secara umum, 59% responden mengaku sebagai orang yang religius. Religius di sini didefinisikan sebagai orang yang rajin beribadah. 23% tidak religius (masih beragama tetapi jarang beribadah), 13% mengaku sebagai atheis (non – believer juga termasuk), dan 5% lainnya menolak untuk menjawab.
  • Ternyata orang yang berpenghasilan rendah 17% lebih religius ketimbang orang yang berpenghasilan tinggi. Tingkat penghasilan dibagi menjadi 5 kategori mulai dari yang terendah hingga yang tertinggi disesuaikan dengan keadaan negara tersebut. Proporsi masing kategori penghasilan yaitu 66%, 65%, 56%, 51%, dan 49%. Orang yang berasal dari kategori penghasilan terbawah 66% mengaku sebagai orang yang religius sedangkan orang yang berasal dari kategori penghasilan teratas hanya 49% yang mengaku religius
  • Ateis didominasi oleh orang yang berumur tidak lebih dari 65 tahun
  • Semakin tinggi pendidikan yang dicapai, semakin tinggi jumlah orang yang ateis. Tingkat pendidikan dibagi menjadi tiga kategori yaitu no-education, secondary, dan high level (university). Pada golongan no-education hanya 7% yang mengaku sebagai atheis sedangkan pada high level education 19% mengaku sebagai atheis.
  • Atheis didominasi oleh pria
  • Ghana, Nigeria, Armenia, Fiji dan Macedonia merupakan lima negara paling religius (Religiousity Index-nya terbesar)
  • China, Jepang, Rep Ceko, Prancis, dan Korea Selatan merupakan lima negara paling tinggi nilai atheism index nya
  • Dibandingkan dengan hasil survei tahun 2005, Vietnam dan Irlandia yang paling banyak mengalami penurunan religiousity index hingga -24%
  • Dibandingkan dengan hasil survei tahun 2005, Prancis dan Rep Ceko yang paling banyak mengalami kenaikan atheism index hingga 15%.
  • Atheis paling banyak ditemukan di bagian Asia Utara dan Eropa Barat (total 56% dari keseluruhan atheis). Sedangkan orang yang religius paling banyak ditemukan di Afrika, Amerika Latin dan Asia Selatan.
  • 14% dari populasi negara anggota G-7 (US, Kanada, Jerman, Prancis, Italia, Jepang) adalah atheis. Hanya 48% yang mengaku sebagai orang yang religius.

Hasil survei diatas sangat menarik, jika dilihat sekilas, mayoritas negara dengan populasi atheis terbesar adalah negara maju. Hal ini mungkin terjadi apabila seseorang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak terpikir lagi olehnya sisi agama maupun kepercayaan. Memang dalam merayakan natal atau hari keagamaan lainnya masih banyak ditemui di negara-negara tersebut. Tetapi merayakan hari besar keagamaan hanya dipandang sebagai tradisi, bukan sebagai hari besar keagamaan.

Mungkin ada yang bertanya-tanya dimana posisi Indonesia? sayang sekali, Indonesia tidak masuk dalam 57 negara yang disurvei. Padahal melihat populasi agama di Indonesia sangat menarik. Menurut data BPS hasil sensus penduduk 2010, 87% penduduk Indonesia beragama Islam, 7% beragama Kristen, 3% beragama Katolik, 2% beragama Hindu, 1% beragama Buddha dan sisanya Konghucu termasuk agama lainnya (kepercayaan lokal, kejawen, dll). Berhubung negara kita masih lumayan tabu mengaku sebagai atheis, tetapi hal ini tentu tidak mengurangi seberapa menariknya jikalau Indonesia masuk dalam pengambilan sampel survei ini. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, survei ini menggunakan metode interview, bukan dari pengambilan sampel lalu dilihat kartu tanda penduduknya (KTP), saya meragukan di luar negeri sana ada atau tidak KTP mencantumkan agama atau kepercayaan. Kalau ditanya langsung, itu lebih akurat ketimbang melihat agama di KTP.

Bagaimana menyikapi hasil survei ini ya sikapilah dengan kepala dingin. Janganlah kita seperti kaum bigot diluar sana yang memaksakan keyakinan ke orang lain. Jangan anggap hasil diatas sebagai “oh yaudah, berarti kita atheis aja, toh mereka ga perlu berdoa ama Tuhan bisa jadi negara maju”. Pernyataan ini sangat salah. Mereka adalah orang yang bekerja keras duluan baru meraih sukses dan cenderung jadi atheis. Bukan menjadi atheis duluan baru meraih sukses. Amat salah paham sekali kalau tiba-tiba saya menjadi atheis agar tingkat pendidikan saya menjadi tinggi. Fakta diatas hanya mengatakan bahwa orang yang berpendidikan tinggi cenderung menjadi seorang atheis. Bukan sebaliknya. Jadi hanya mimpi di siang bolong kalau setelah baca post ini anda menjadi atheis lalu dipandang sebagai orang yang berpendidikan tinggi. Hal serupa juga berlaku dalam hal kategori income.

Sekian post kali ini tentang Global religiousity index dan atheism index 😀

ini nih yg kita butuhkan untuk referensi memilih gubernur/wakil gubernur tahun depan 😀

rizasaputra

seperti kita ketahui bersama, gubernur dan wakil gubernur terpilih Jawa Barat saat ini adalah Ahmad Heryawan & Dede Yusuf.

naah, apa saja hal yang mereka janjikan pada saat kampanye? berikut ini daftarnya:

1. Mengakomodasi pembentukan Propinsi Cirebon
2. Kontrak politik yang diajukan BEM se-Jabar

  • Jaminan cagub-cawagub untuk merealisasikan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun secara gratis selambat-lambatnya 2 tahun masa jabatan.
  • Transparansi penyaluran dana bantuan pendidikan.
  • Membuka ruang publik untuk komunikasi dengan masyarakat.
  • Kebijakan berorientasi pemberdayaan usaha kecil menengah.
  • Pemerintahan bersih korupsi, kolusi, dan nepotisme.
  • Membuat peraturan daerah yang transparan.
  • Menghapus dan menindak tegas pungutan liar.
  • Membasmi mafia peradilan.

3. Pemekaran Kab. Sukabumi.
4. Pengembangan seni dan budaya di Jawa Barat melalui pembangunan gedung-gedung kesenian bertaraf internasional, mematenkan kesenian khas Jabar.
5. Pengembangan dan penataan kembali kawasan Jatinangor.
6. Membuat kawasan olah raga dan sarana pendukung untuk meningkatkan prestasi olah raga Jabar.
7. Pertahankan eksistensi pasar tradisional melalui penataan berdaya…

Lihat pos aslinya 286 kata lagi

Fetih 1453

 

Baru saja saya selesai menonton film ini. Overall film ini bagus, walau kadang efek yg digunakan menurut saya masih lebih bagus film Kingdom of Heaven yang punya genre serupa (perang antar agama, kolosal, dsb). Bercerita tentang penaklukkan Konstantinopel oleh Kesultanan Islam Ottoman yang dipimpin oleh Sultan Mehmed II (Muhammad Al Fatih).  Memang jarang film serupa yang mempunyai sudut pandang dari Islam. Entah karena umat Islam kurang berminat membuat film atau bagaimana, yang jelas film ini sedikit banyak mampu menghadirkan suasana tersendiri bagi umat Islam yang menontonnya.

Dengan durasi 2 setengah jam lebih, menurut saya filmnya terlalu lama di bagian sebelum perang dimulai (Soalnya saya sangat menantikan sekali adegan berperangnya :p). Tetapi ketika bagian perangnya sudah dimulai, mata saya tak bisa melirik kemana-mana lagi selain ke monitor. Banyak adegan yang menyentuh seperti pengorbanan kelompok penggali tanah agar tembok dapat diruntuhkan, pengorbanan Hasan dalam mengibarkan panji bendera di menara tetapi kondisi badannya yang telah kena beberapa anak panah, maupun adegan khas di film perang yang ada pasukan Muslimnya yaitu sholat berjamaah di medan perang (di film Kingdom of Heaven juga ada adegan serupa, pasukan Sholahuddin al Ayyubi yang sholat berjamaah di depan benteng Jerussalem).

Bagian penutup film ini adalah ketika Sultan Mehmed II berhasil merebut kota Konstantinopel, dan film ditutup dengan adegan Sultan masuk ke gereja dan mempersilahkan umat Kristen Ortodoks untuk tetap menganut agamanya, suatu hal yang paling menyetuh menurut saya karena Islam bukanlah paksaan.

Peubah Acak Kontinu Positif

Misalkan X>0 adalah peubah acak kontinu positif. Peubah acak seperti ini digunakan untuk hal-hal yang bernilai positif, misalkan sisa umur manusia dalam tahun, kerugian asuransi, dll. Beberapa properties yang dimiliki oleh peubah acak kontinu positif ini (khususnya momen) sangat menarik. Misalnya dua hal dibawah ini

1. E[X]=\int_0^\infty (1-F(x))\,dx

dan

2. E[X^2]=\int_0^\infty 2x(1-F(x))\,dx

pada tulisan ini akan saya buktikan kedua sifat diatas.

Seperti yang diketahui, momen pertama dari peubah acak X adalah E[X]=\int_0^\infty x\,f(x)\,dx dengan f(x) adalah fungsi kepadatan peluang dari peubah acak X. Ingat teorema dasar kalkulus pertama, x untuk X seuatu peubah acak positif bisa kita tuliskan sebagai

x=\int_0^x\,dt

Subtitusikan persamaan ini ke dalam $ latex E[X]$ diatas menjadi

E[X]=\int_0^\infty\int_0^x\,f(x)\,dt\,dx

tukarkan urutan integral diatas, sehingga diperoleh

E[X]=\int_0^\infty\int_t^\infty f(x)\,dx\,dt=\int_0^\infty (1-F(t))\,dt

dengan sifat peluang F(\infty)=1 maka kita peroleh persamaan untuk momen pertama X seperti di awal bagian tulisan ini. Untuk sifat yang kedua, kita dapat mengganti x^2 dengan \int_0^x ,t\,dt, lakukan cara yang sama seperti saat kita mencari E[X] diatas.

Bagaimana dengan E[X^n] ?

x^n dapat kita ubah bentuknya menjadi x^n=\int_0^x nt^{n-1}\,dt, maka diperoleh

E[X^n]=\int_0^\infty\int_0^xnt^{n-1}f(x)\,dt\,dx

tukar urutan integral diatas menjadi

E[X^n]=\int_0^\infty \int_t^\infty nt^{n-1} f(x)\,dx\,dt=\int_0^\infty nt^{n-1}(1-F(t))\,dt

Terlihat bahwa kita dapat mencari bentuk umum dari E[X^n] adalah \int_0^\infty nx^{n-1} (1-F(x))\,dx , namun integral ini belum tentu ada (CMIIW).

Mendiagnosa Kembali “Mendiagnosa Nobel”

Pada suatu hari, saya pernah membaca suatu tulisan dari lembaga dakwah di kampus saya. Tulisan itu berjudul “Mendiagnosa Nobel”. Sebenarnya sudah kira-kira sebulan yang lalu saya membaca tulisan tersebut. Tulisan itu dicetak disebuah kertas lalu dipasang di mading dekat himpunan saya. Namun kemarin saya menemukan kembali tulisan tersebut dicetak pada sebuah lembaran buletin. Jari-jari saya jadi gatel untuk menanggapi tulisan tersebut. Dan menurut saya fair sekali kan kalau tulisan dibalas dengan tulisan. Meskipun saya tidak kenal siapa yang menulis (sepertinya bukan anggota organisasi dakwah itu), jadi saya tulis saja disini. Tetapi sebelum saya memaparkan beberapa ketidaksetujuan dari tulisan tersebut, saya lampirkan tulisan tersebut disini

Karena tadi malam tidak sholat tahajjud, Jabil berencana sholat subuh berjamaah, tentu untuk mencari ganjaran pengganti. Jabil belakangan ini semangat beribadah, bisa jadi karena dikirimi sarung putih 100% katun dari ibundanya tercinta. Jabil sadar bahwa sarung itu hasil kerja keras ibunya yang bekerja menjual daun pisang klutuk. Warna putih sarung menggambarkan keinginan ibunya agar Jabil jadi anak yang berbakti kepada Tuhannya dan orang tuanya. Sholatnya kali ini ingin di tempat lain, bukan di Mushola Al Iman melainkan Masjid At Taqwa.
Hanacaraka, Masjid At Taqwa itu adalah masjid pertama yang dibangun di kota. Dibangun dengan gotong-royong para penduduk dan ‘ulama yang amat dekat dengan masyarakat saat itu, Kiai Syarif. Tidak seperti masjid-masjid zaman ini yang dananya bersumber dari “meletakkan tangan di bawah”, haqqul yakin, semua dari masyarakat dan niatnya untuk sodaqoh jariyah. Selain itu, ada yang spesial di halaman masjid, sebuah Pohon Kurma ! Sungguh aneh. Pohon itu bijinya diambil dari kurma saat Kiai Syarif berhaji. Sepertinya masalah habitat yang tidak tepat bukan halangan Allah men-kun fayakun-kan pohon itu tumbuh pesat dan berbuah lebat, layaknya di Arab saja.
Jabil tidak berangkat sendirian, ada Jadidi di sampingnya. Walaupun agak jauh dan mata belum terbuka sepenuhnya , masjid itu amat membuat Jabil rindu untuk kembali, imamnya pengertian, lama sholatnya sedang, tak cepat, tak juga lambat, suaranya merdu, fashohahnya mantap, makhrojnya sempurna, tak lupa,bau misknya menyebar radius 1 km, mirip Muammar, qori’ kondang itu.
Siang harinya, di kampus, Jabil membuka e-mail dan ada 1 surat yang tak biasa. Dari maillistlangganannya. Potongan isi suratnya begini, “…sebagai pemuda penerus bangsa, apalagi notabene kita berwawasan sains yang tinggi, hendaklah kita berbakti kepada Negara, semua menurut bidang yang kita geluti, bagi yang berkuliah di bidang sains dan terapan , mari meneliti dan persembahkan medali Nobel untuk negeri !” Terngiang terus isi surat tadi, Jabil perlahan mengamini statement itu. Dan Jabil tahu akan membuat alat apa, dispenser tanpa galon ! seperti yang dikatakan Kang Jenang dulu, yang diceritakan oleh Jadidi saat ia bertanya tentang Ghozzah. Barangkali saja ia bisa menang nobel kemanusiaan, membantu orang-orang Ethiopia mendapat air bersih pikirnya. Nanti setelah sholat subuh besok, rencananya Jabil akan mampir ke rumah Kang Jenang, sang sumber ide.
Jalannya 68.400 detik lebih sedikit telah berlalu. Ternyata saat keluar dari Masjid Taqwa, Jabil dan Jadidi dihampiri Kang Jenang dari belakang, rupanya ia baru saja pulang dari Pare-pare, habis menguji tesis mahasiswa S2. Ia bukan dosen, tapi sering diajak temannya yang dosen untuk turut menguji tesis, ya karena memang Kang Jenang orangnya kritis. “Kang, kami mampir ya ke rumah Kang Jenang”, kata Jabil. “Lho, mau apa Bil?”, Kang Jenang heran. Jabil tak menjawab, hanyaprangas-pringis sendiri, Jadidi manut saja.
Di rumah, Kang Jenang diceritai Jabil apa yang dialaminya. Lalu, Jabil berkata -dengan mengambil pose Chairil Anwar – “Nobel Kang ! Beri aku restumu !” Jadidi santai saja, lebih fokus ke makanan di depannya.
“Indonesia akan bangga padamu, begitukah ?”
“Iya Kang.”
“Indonesia akan bisa berjalan tegak di hadapan negara lain tanpa menunduk seperti biasanya ha?”
“Benar sekali Kang.”
“TKI di luar negeri akan berjingkrak, tak malu lagi dengan KTP mereka ?”
“Otomatis !”
“Bodoh !”
“Lho, kenapa Kang ?” Tanya besar dalam hati Jabil.
“Kau taruh dimana akal sehatmu Bil ? Kau titipkan di penjual es dawetkah ?”
“Maksud Kang Jenang ?”
“Pasti dalam niat belajar kau ingin pintar ya ? Itulah kesalahan yang sering diperbuat orang. Kenapa niatmu bukan untuk menghilangkan kebodohan. Inilah hasilnya, kebodohanmu tetap ada walau dirimu bertambah pintar”, kata Kang Jenang. “Nobel, lupakan saja !”, lanjut Kang Jenang lagi. Jabil ingin berontak tapi tak bisa, ada sesuatu yang menghalangiya.
“Tahu apa kau tentang Nobel ? Katanya, katanya, dan katanya, itulah yang kau tahu tentang Nobel.”
“Yaa ayyuhalladziina aa manuu laa ta’ kulurribaaa adh ‘aa fammudhoo’afah , janganlah kamu memakan riba !” Kang Jenang meminum wedang rondenya dan berkata lagi dengan nada halus, “Bil, hadiah nobel itu bersumber dari bunga bank tabungan Nobel -nama orang-, hadiah itu diberikan kepada orang-orang yang katanya berjasa di bidangnya, lagipula, ajang itu nantinya mendorongmu untuk sombong, gaya, pecicilan, walau niat awalmu mulia.”
“Dan rasanya kau sudah tahu kalau riba terkecil saja sama dengan menggauli ibu kandung sendiri, mau kau menabung dosa sebesar itu ?”
“Jadi ku ulangi, Indonesia akan bangga padamu, begitukah ?”
Diam.
“Indonesia akan bisa berjalan tegak di hadapan negara lain tanpa menunduk seperti biasanya ha?”
Diam.
“TKI di luar negeri akan berjingkrak, tak malu lagi dengan KTP mereka ?”
Diam sediam-diamnya.
“Jadi lebih baik kau ciptakan alat yang memang mudah dan bermanfaat bagi masyarakat, penghargan dari masyarakat tentunya lebih jujur dan apa adanya meski tak ada SK dari bupati. Bantu nelayan kecil, ciptakan dinamo berbahan bakar minyak ikan, besarkan nilai efisiensinya, nanti juga kau akan digelari insinyur oleh masyarakat meski kau tidak kuliah. Atau tetap ciptakan dispenser tanpa galon itu, meski Singapura sudah mendahuluimu…”
“……………”
“Jadi alhamdulillah juga ya orang Indonesia belum ada yang dapat nobel”, Jadidi yang dari tadi diam sekarang nyeletuk.
Gara-gara Jadidi, semua tertawa. “Ya Allah, jadikan kedua anak ini berbakti kepadaMu, kepada gurunya, dan kepada orang tuanya”, ucap Kang Jenang sambil mengusap kepala keduanya.
Dari jauh, ibu Jabil tiba-tiba merasa tentram, telinganya berdenging sesaat.

 

Saya akui, penulis “Mendiagnosa Nobel” (selanjutnya saya singkat saya MN) sangat baik membungkus ide yang dia buat menjadi sebuah cerita pendek, suatu hal yang saya sendiri belum bisa saya lakukan hehe. Tetapi yang saya permasalahkan adalah menganggap Nobel itu suatu hal yang memalukan hanya karena setidaknya dua hal : 1. Uang hadiah nobel yang berasal dari deposito tabungan Alfred Nobel sehingga hasil riba, 2. Nobel menyebabkan sombong, gaya, pencicilan, dll

Penghakiman ini memang sangat aneh di otak saya. Penulis MN ini hanya menganggap Nobel itu hadiah uang semata, atau kasarnya hadiah uang karena seseorang pintar dibidangnya. Ini merupakan pemikiran yang aneh. Mungkin penulis MN ini harus lebih gaul lagi dan harus banyak membaca lagi apa itu Nobel. Nobel bukan hanya hadiahnya saja, pesta seremoninya saja, tetapi bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan, inspirasi, semangat ke seluruh penjuru dunia. Saya tidak mengada-ada tapi inilah kenyataannya. Seseorang begitu memperoleh penghargaan ini, dia akan dikenal diseluruh dunia. Dikenal oleh seluruh dunia juga bukan hal yang negatif. Justru manfaatkanlah hal itu untuk menyebarkan kebaikan karena kau adalah peraih Nobel. Saya kira kemampuan seperti ini jauh lebih penting ketimbang hadiah uang yang disebut hasil riba itu. Bayangkan jika ada orang Indonesia siapapun itu memperoleh Nobel, misalkan saja Nobel Fisika. Bayangkan jika orang tersebut datang di sebuah SD di kabupaten Muara Teweh, Kalimantan Tengah sana. Apa yang terjadi? Murid-murid SD akan lebih semangat kembali untuk belajar, kemauan belajar akan meningkat karena seorang peraih Nobel telah mengunjunginya.

Saya mengalami hal diatas secara langsung, semangat menuntut ilmu setelah bertemu orang yang sukses dibidang itu, Oktober 2011 ITB program studi Matematika ITB mendatangkan Cedric Villani, seorang peraih Field Medal, suatu penghargaan tertinggi bidang Matematika sampai-sampai orang mengatakan bahkan Field Medal ini adalah Nobel-nya Matematika. Mr Villani pada presentasi di TED (bisa ditonton di Youtube), sebelum meraih Field Medal, hidupnya biasa saja, berkutat di kampus, meneliti, mengajar. Tetapi begitu dia dinobatkan sebagai penerima Field Medal, hidupnya berubah seketika. Dia sering diundang ke berbagai acara di penjuru dunia, bertemu mulai dari kaum papa hingga pejabat negara, berkunjung ke sekolah hingga daerah konflik, berfoto di kampus hingga di majalah. Bayangkan, image matematikawan yang terbanyangnya sebagai sosok berambut putih, berkulit pucat, susah berkomunikasi hilang seketika ketika melihat Cedric Villani. Dia jauh dari ciri-ciri tersebut. Waktu itu saya menjadi panitia acara yang diadakan oleh Matematika ITB, saya sempat menemani Mr Villani berjalan kaki dari hotel Preanger sampai kampus ITB dan berfoto bersama di jalan Braga. Semangat untuk mempelajari matematika lebih banyak lagi menjadi bertambah segunung sejak hari itu. Hal inilah yang dilupakan oleh penulis MN, hanya memandang sebuah Nobel atau penghargaan lainnya itu dari uang yang diterima.

Saya setuju dengan bagian isi tulisan itu yang menyatakan bahwa kita harus berkarya di masyarakat tanpa perlu memikirkan penghargaan. Namun apa lantas semua yang dapat Nobel itu mengharapkan penghargaan? kalau pernyataan ini benar, sesuai aturan logika, cukup saya berikan contoh salah maka statement tersebut akan runtuh. John Nash tidak pernah mengira teori equilibriumnya yang membawanya pemenang Nobel Ekonomi tahun 1994. Menganggap seluruh peraih Nobel mencari-cari penghargaan itu suatu pernyataan yang keluar dengan tidak melalui banyak pertimbangan. Apalagi menyatakan bahwa Nobel membuat orang menjadi gaya, sombong, pencicilan itu juga statement semborono. Atas dasar apa penulis MN ini bisa mengeluarkan statement tersebut? Jika John Nash tidak mendapatkan Nobel, siapa yang akan mengira orang yang mengidap penyakit schizophrenia dapat memperoleh penghargaan Nobel?

Bagian yang paling menyedihkan adalah diakhir tulisan MN yang menyatakan bahwa alhamdulillah belum ada orang Indonesia yang meraih Nobel. Saya langsung istighfar begitu membaca bagian ini. Alangkah anehnya pemikiran penulis MN ini. Jika uang hadiah Nobel yang sebanyak kurang lebih 11 Milyar Rupiah (8 Juta Krona Swedia) itu adalah hasil riba, cukup tolak saja toh uang nya, atau ambil tapi jangan pakai sepeserpun, buang ke tengah lautan (jika menganggap menyumbangkan uang tersebut ke panti asuhan juga berdosa). Mensyukuri belum ada orang Indonesia yang meraih nobel itu ibaratnya sudah tidak mampu, sombong pula, dan bangga dengan ketidakmampuan tersebut. Suatu hal yang bodoh apabila tidak senang melihat republik ini bangga salah satu putra/putri bangsa meraih penghargaan Nobel yang nantinya akan membangkitkan semangat belajar 250 juta rakyat lainnya.

Sense of Googling

Kalau pernah dengar istilah “sense of belonging”, maka saya mengusulkan seorang mahasiswa harus mempunyai sense of googling yang kuat. Sense of googling adalah suatu tools untuk membantu mahasiswa yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Sudah bukan jamannya lagi kita bertanya hal-hal definitif di ruang kelas seperti “apa sih bu artinya xxx?” atau “siapa bu yang pertama kali menerapkan teori YYY?”. Suasana dan waktu yang ada di kelas akan banyak terbuang percuma jika hanya pertanyaan-pertanyaan itu yang dilontarkan. Mengapa? karena tidak perlu seorang dosen untuk menjawab hal-hal tersebut, cukup buka handphone, browser, lalu lontarkan pertanyaan tersebut ke Google dan carilah web-web yang pantas untuk dijadikan referensi sehingga kelas akan menjadi ajang diskusi argumentatif, bukan definitif lagi.

Dari pengalaman saya selama menjadi mahasiswa dan mencari informasi di google, saya memang berangkat dari Wikipedia dan Wolfram (karena bidang saya matematika). Beberapa kampus termasuk kampus saya mengharamkan mengambil referensi dari Wikipedia. Tapi bukan berarti lantas kita tidak boleh membaca dari sana. Wikipedia bagus sebagai informasi awal dari apa yang kita cari, bacalah halaman yang kita inginkan lalu setelah mengerti, silahkan lihat di bagian “pranala luar” atau reference, biasanya yang dijadikan reference adalah buku-buku terkait. Itulah yang kemudian harus kita cari selanjutnya dan kita jadikan bahan referensi sebenarnya.

Cara lain adalah mencari paper atau jurnal ilmiah di google. Saya sering sekali menggunakan perintah tambahan “filetype:pdf” untuk mencari dokumen-dokumen yang bisa saya baca terkait suatu hal yang saya cari. Sangat membantu sekali.