Mendiagnosa Kembali “Mendiagnosa Nobel”

Pada suatu hari, saya pernah membaca suatu tulisan dari lembaga dakwah di kampus saya. Tulisan itu berjudul “Mendiagnosa Nobel”. Sebenarnya sudah kira-kira sebulan yang lalu saya membaca tulisan tersebut. Tulisan itu dicetak disebuah kertas lalu dipasang di mading dekat himpunan saya. Namun kemarin saya menemukan kembali tulisan tersebut dicetak pada sebuah lembaran buletin. Jari-jari saya jadi gatel untuk menanggapi tulisan tersebut. Dan menurut saya fair sekali kan kalau tulisan dibalas dengan tulisan. Meskipun saya tidak kenal siapa yang menulis (sepertinya bukan anggota organisasi dakwah itu), jadi saya tulis saja disini. Tetapi sebelum saya memaparkan beberapa ketidaksetujuan dari tulisan tersebut, saya lampirkan tulisan tersebut disini

Karena tadi malam tidak sholat tahajjud, Jabil berencana sholat subuh berjamaah, tentu untuk mencari ganjaran pengganti. Jabil belakangan ini semangat beribadah, bisa jadi karena dikirimi sarung putih 100% katun dari ibundanya tercinta. Jabil sadar bahwa sarung itu hasil kerja keras ibunya yang bekerja menjual daun pisang klutuk. Warna putih sarung menggambarkan keinginan ibunya agar Jabil jadi anak yang berbakti kepada Tuhannya dan orang tuanya. Sholatnya kali ini ingin di tempat lain, bukan di Mushola Al Iman melainkan Masjid At Taqwa.
Hanacaraka, Masjid At Taqwa itu adalah masjid pertama yang dibangun di kota. Dibangun dengan gotong-royong para penduduk dan ‘ulama yang amat dekat dengan masyarakat saat itu, Kiai Syarif. Tidak seperti masjid-masjid zaman ini yang dananya bersumber dari “meletakkan tangan di bawah”, haqqul yakin, semua dari masyarakat dan niatnya untuk sodaqoh jariyah. Selain itu, ada yang spesial di halaman masjid, sebuah Pohon Kurma ! Sungguh aneh. Pohon itu bijinya diambil dari kurma saat Kiai Syarif berhaji. Sepertinya masalah habitat yang tidak tepat bukan halangan Allah men-kun fayakun-kan pohon itu tumbuh pesat dan berbuah lebat, layaknya di Arab saja.
Jabil tidak berangkat sendirian, ada Jadidi di sampingnya. Walaupun agak jauh dan mata belum terbuka sepenuhnya , masjid itu amat membuat Jabil rindu untuk kembali, imamnya pengertian, lama sholatnya sedang, tak cepat, tak juga lambat, suaranya merdu, fashohahnya mantap, makhrojnya sempurna, tak lupa,bau misknya menyebar radius 1 km, mirip Muammar, qori’ kondang itu.
Siang harinya, di kampus, Jabil membuka e-mail dan ada 1 surat yang tak biasa. Dari maillistlangganannya. Potongan isi suratnya begini, “…sebagai pemuda penerus bangsa, apalagi notabene kita berwawasan sains yang tinggi, hendaklah kita berbakti kepada Negara, semua menurut bidang yang kita geluti, bagi yang berkuliah di bidang sains dan terapan , mari meneliti dan persembahkan medali Nobel untuk negeri !” Terngiang terus isi surat tadi, Jabil perlahan mengamini statement itu. Dan Jabil tahu akan membuat alat apa, dispenser tanpa galon ! seperti yang dikatakan Kang Jenang dulu, yang diceritakan oleh Jadidi saat ia bertanya tentang Ghozzah. Barangkali saja ia bisa menang nobel kemanusiaan, membantu orang-orang Ethiopia mendapat air bersih pikirnya. Nanti setelah sholat subuh besok, rencananya Jabil akan mampir ke rumah Kang Jenang, sang sumber ide.
Jalannya 68.400 detik lebih sedikit telah berlalu. Ternyata saat keluar dari Masjid Taqwa, Jabil dan Jadidi dihampiri Kang Jenang dari belakang, rupanya ia baru saja pulang dari Pare-pare, habis menguji tesis mahasiswa S2. Ia bukan dosen, tapi sering diajak temannya yang dosen untuk turut menguji tesis, ya karena memang Kang Jenang orangnya kritis. “Kang, kami mampir ya ke rumah Kang Jenang”, kata Jabil. “Lho, mau apa Bil?”, Kang Jenang heran. Jabil tak menjawab, hanyaprangas-pringis sendiri, Jadidi manut saja.
Di rumah, Kang Jenang diceritai Jabil apa yang dialaminya. Lalu, Jabil berkata -dengan mengambil pose Chairil Anwar – “Nobel Kang ! Beri aku restumu !” Jadidi santai saja, lebih fokus ke makanan di depannya.
“Indonesia akan bangga padamu, begitukah ?”
“Iya Kang.”
“Indonesia akan bisa berjalan tegak di hadapan negara lain tanpa menunduk seperti biasanya ha?”
“Benar sekali Kang.”
“TKI di luar negeri akan berjingkrak, tak malu lagi dengan KTP mereka ?”
“Otomatis !”
“Bodoh !”
“Lho, kenapa Kang ?” Tanya besar dalam hati Jabil.
“Kau taruh dimana akal sehatmu Bil ? Kau titipkan di penjual es dawetkah ?”
“Maksud Kang Jenang ?”
“Pasti dalam niat belajar kau ingin pintar ya ? Itulah kesalahan yang sering diperbuat orang. Kenapa niatmu bukan untuk menghilangkan kebodohan. Inilah hasilnya, kebodohanmu tetap ada walau dirimu bertambah pintar”, kata Kang Jenang. “Nobel, lupakan saja !”, lanjut Kang Jenang lagi. Jabil ingin berontak tapi tak bisa, ada sesuatu yang menghalangiya.
“Tahu apa kau tentang Nobel ? Katanya, katanya, dan katanya, itulah yang kau tahu tentang Nobel.”
“Yaa ayyuhalladziina aa manuu laa ta’ kulurribaaa adh ‘aa fammudhoo’afah , janganlah kamu memakan riba !” Kang Jenang meminum wedang rondenya dan berkata lagi dengan nada halus, “Bil, hadiah nobel itu bersumber dari bunga bank tabungan Nobel -nama orang-, hadiah itu diberikan kepada orang-orang yang katanya berjasa di bidangnya, lagipula, ajang itu nantinya mendorongmu untuk sombong, gaya, pecicilan, walau niat awalmu mulia.”
“Dan rasanya kau sudah tahu kalau riba terkecil saja sama dengan menggauli ibu kandung sendiri, mau kau menabung dosa sebesar itu ?”
“Jadi ku ulangi, Indonesia akan bangga padamu, begitukah ?”
Diam.
“Indonesia akan bisa berjalan tegak di hadapan negara lain tanpa menunduk seperti biasanya ha?”
Diam.
“TKI di luar negeri akan berjingkrak, tak malu lagi dengan KTP mereka ?”
Diam sediam-diamnya.
“Jadi lebih baik kau ciptakan alat yang memang mudah dan bermanfaat bagi masyarakat, penghargan dari masyarakat tentunya lebih jujur dan apa adanya meski tak ada SK dari bupati. Bantu nelayan kecil, ciptakan dinamo berbahan bakar minyak ikan, besarkan nilai efisiensinya, nanti juga kau akan digelari insinyur oleh masyarakat meski kau tidak kuliah. Atau tetap ciptakan dispenser tanpa galon itu, meski Singapura sudah mendahuluimu…”
“……………”
“Jadi alhamdulillah juga ya orang Indonesia belum ada yang dapat nobel”, Jadidi yang dari tadi diam sekarang nyeletuk.
Gara-gara Jadidi, semua tertawa. “Ya Allah, jadikan kedua anak ini berbakti kepadaMu, kepada gurunya, dan kepada orang tuanya”, ucap Kang Jenang sambil mengusap kepala keduanya.
Dari jauh, ibu Jabil tiba-tiba merasa tentram, telinganya berdenging sesaat.

 

Saya akui, penulis “Mendiagnosa Nobel” (selanjutnya saya singkat saya MN) sangat baik membungkus ide yang dia buat menjadi sebuah cerita pendek, suatu hal yang saya sendiri belum bisa saya lakukan hehe. Tetapi yang saya permasalahkan adalah menganggap Nobel itu suatu hal yang memalukan hanya karena setidaknya dua hal : 1. Uang hadiah nobel yang berasal dari deposito tabungan Alfred Nobel sehingga hasil riba, 2. Nobel menyebabkan sombong, gaya, pencicilan, dll

Penghakiman ini memang sangat aneh di otak saya. Penulis MN ini hanya menganggap Nobel itu hadiah uang semata, atau kasarnya hadiah uang karena seseorang pintar dibidangnya. Ini merupakan pemikiran yang aneh. Mungkin penulis MN ini harus lebih gaul lagi dan harus banyak membaca lagi apa itu Nobel. Nobel bukan hanya hadiahnya saja, pesta seremoninya saja, tetapi bisa dimanfaatkan untuk menyebarkan kebaikan, inspirasi, semangat ke seluruh penjuru dunia. Saya tidak mengada-ada tapi inilah kenyataannya. Seseorang begitu memperoleh penghargaan ini, dia akan dikenal diseluruh dunia. Dikenal oleh seluruh dunia juga bukan hal yang negatif. Justru manfaatkanlah hal itu untuk menyebarkan kebaikan karena kau adalah peraih Nobel. Saya kira kemampuan seperti ini jauh lebih penting ketimbang hadiah uang yang disebut hasil riba itu. Bayangkan jika ada orang Indonesia siapapun itu memperoleh Nobel, misalkan saja Nobel Fisika. Bayangkan jika orang tersebut datang di sebuah SD di kabupaten Muara Teweh, Kalimantan Tengah sana. Apa yang terjadi? Murid-murid SD akan lebih semangat kembali untuk belajar, kemauan belajar akan meningkat karena seorang peraih Nobel telah mengunjunginya.

Saya mengalami hal diatas secara langsung, semangat menuntut ilmu setelah bertemu orang yang sukses dibidang itu, Oktober 2011 ITB program studi Matematika ITB mendatangkan Cedric Villani, seorang peraih Field Medal, suatu penghargaan tertinggi bidang Matematika sampai-sampai orang mengatakan bahkan Field Medal ini adalah Nobel-nya Matematika. Mr Villani pada presentasi di TED (bisa ditonton di Youtube), sebelum meraih Field Medal, hidupnya biasa saja, berkutat di kampus, meneliti, mengajar. Tetapi begitu dia dinobatkan sebagai penerima Field Medal, hidupnya berubah seketika. Dia sering diundang ke berbagai acara di penjuru dunia, bertemu mulai dari kaum papa hingga pejabat negara, berkunjung ke sekolah hingga daerah konflik, berfoto di kampus hingga di majalah. Bayangkan, image matematikawan yang terbanyangnya sebagai sosok berambut putih, berkulit pucat, susah berkomunikasi hilang seketika ketika melihat Cedric Villani. Dia jauh dari ciri-ciri tersebut. Waktu itu saya menjadi panitia acara yang diadakan oleh Matematika ITB, saya sempat menemani Mr Villani berjalan kaki dari hotel Preanger sampai kampus ITB dan berfoto bersama di jalan Braga. Semangat untuk mempelajari matematika lebih banyak lagi menjadi bertambah segunung sejak hari itu. Hal inilah yang dilupakan oleh penulis MN, hanya memandang sebuah Nobel atau penghargaan lainnya itu dari uang yang diterima.

Saya setuju dengan bagian isi tulisan itu yang menyatakan bahwa kita harus berkarya di masyarakat tanpa perlu memikirkan penghargaan. Namun apa lantas semua yang dapat Nobel itu mengharapkan penghargaan? kalau pernyataan ini benar, sesuai aturan logika, cukup saya berikan contoh salah maka statement tersebut akan runtuh. John Nash tidak pernah mengira teori equilibriumnya yang membawanya pemenang Nobel Ekonomi tahun 1994. Menganggap seluruh peraih Nobel mencari-cari penghargaan itu suatu pernyataan yang keluar dengan tidak melalui banyak pertimbangan. Apalagi menyatakan bahwa Nobel membuat orang menjadi gaya, sombong, pencicilan itu juga statement semborono. Atas dasar apa penulis MN ini bisa mengeluarkan statement tersebut? Jika John Nash tidak mendapatkan Nobel, siapa yang akan mengira orang yang mengidap penyakit schizophrenia dapat memperoleh penghargaan Nobel?

Bagian yang paling menyedihkan adalah diakhir tulisan MN yang menyatakan bahwa alhamdulillah belum ada orang Indonesia yang meraih Nobel. Saya langsung istighfar begitu membaca bagian ini. Alangkah anehnya pemikiran penulis MN ini. Jika uang hadiah Nobel yang sebanyak kurang lebih 11 Milyar Rupiah (8 Juta Krona Swedia) itu adalah hasil riba, cukup tolak saja toh uang nya, atau ambil tapi jangan pakai sepeserpun, buang ke tengah lautan (jika menganggap menyumbangkan uang tersebut ke panti asuhan juga berdosa). Mensyukuri belum ada orang Indonesia yang meraih nobel itu ibaratnya sudah tidak mampu, sombong pula, dan bangga dengan ketidakmampuan tersebut. Suatu hal yang bodoh apabila tidak senang melihat republik ini bangga salah satu putra/putri bangsa meraih penghargaan Nobel yang nantinya akan membangkitkan semangat belajar 250 juta rakyat lainnya.

Satu pemikiran pada “Mendiagnosa Kembali “Mendiagnosa Nobel”

  1. hahaha, memang akan selalu banyak sudut padang, tp yang jelas peraih perain nobel perdamayan itu membawa tongkat paradaban. … tak sabar menunggu ada ornag Indonesia di sana; shg sang MN tau bahwa ada sudut pandang lain di luarnya:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s