Tidak Perlu Membandingkan Indeks Prestasi Mahasiswa Satu Sama Lain

source: collisionscience.co.uk

Indeks Prestasi (IP) adalah yang katanya alat ukur prestasi atau pencapaian akademik dari setiap mahasiswa, baik mulai dari S1 hingga S3 (saya tidak tahu Diploma bagaimana). Menurut buku peraturan akademik kampus saya, Indeks Prestasi adalah

prestasi akademik mahasiswa yang dicapai dalam kurun waktu tertentu atas dasar perhitungan perolehan nilai akhir sejumlah mata kuliah, dimana jika ada mata kuliah yang diulang, nilai yang diperhitungkan adalah nilai terakhir mata kuliah tersebut saja tanpa memperhitungkan nilai mata kuliah tersebut pada pengambilan sebelumnya.

Saya tidak tahu di kampus lain apakah punya definisi atau arti serupa. Yang jelas apapun definisinya, ada satu poin penting disini, IP sangat ditentukan oleh nilai mata kuliah yang kita ambil. Sedangkan hal yang terjadi dalam kegiatan perkuliahan itu banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi IP kita. Sebut saja mulai dari waktu belajar, proses tatap muka kelas, ketersediaan bahan kuliah, kesulitan kuliah, dosen, sampai kegiatan selain kuliah yang kita ambil.

Atas dasar faktor – faktor yang saya sebutkan tadi, aneh sekali jika masih terdengar dua orang mahasiswa atau lebih membandingkan IP nya masing – masing, entah siapa yang paling rendah atau yang paling tinggi. Ini ibaratnya membandingkan kambing dengan sapi dari segi bobot, suara, susu, dagingnya padahal kesamaan mereka hanya karena dua hewan itu termasuk mammalia. Menurut saya IP dari dua orang mahasiswa hanya dapat dibandingkan secara adil minimal jika keadaan – keadaan ini dipenuhi :

  • jurusan dan kampus yang sama
  • jumlah SKS, dosen dari matakuliah yang diambil dalam satu semester sama
  • kegiatan diluar kuliah yang relatif sama

Jika minimal ketiga hal tersebut tidak terpenuhi, maka IP tidak bisa dijadikan patokan siapa yang lebih cerdas dan siapa yang kalah cerdas karena apa yang dibandingkan sudah sangat berbeda. Apalagi dijadikan taruhan “ayo tinggi-tinggian IP semester ini”, ini adalah taruhan yang aneh. Bisa saja kita menang taruhan tersebut dengan mudah yaitu ambil saja kuliah-kuliah yang ‘murah nilai’ dan SKS jangan terlalu banyak agar dapat konsentrasi lebih.

Memang kondisi yang sebut diatas adalah kondisi yang sangat ideal. Pada kenyataannya setiap kali saya melihat lowongan kerja, mayoritas dari perusahaan masih mensyaratkan batas IP minimum. Jelas kalau mengikuti apa yang saya katakan diatas perbandingan akan menjadi semakin bias karena sangat memungkinkan terjadi kasus beda universitas. Apalagi bukan rahasia umum bahwa nilai A di universitas X belum tentu sama kemampuannya dengan nilai A di universitas Y. Beberapa selentingan dan gosip yang saya dengar katanya HRD perusahaan sudah tahu cara ‘menyamakan’ IP tersebut dalam menyaring calon karyawan perusahaannya. Entah bagaimana caranya, sistem penyaringan IP seperti ini akan terus berlangsung karena belum ada alat ukur yang dapat menjelaskan secara pasti kemampuan dari mahasiswa.

Saya pernah terpikir mungkin lebih cocok menyaring tenaga kerja berdasarkan ‘apa yang kau bisa’ dibanding ‘IP kamu berapa’. Sepertinya saat ini trennya mulai mengarah kesini. Sistem seperti ini lebih tepat karena kemampuan mahasiswa bahkan dari kampus dan jurusan yang sama itu belum tentu sama dan seragam. Contohnya saya dan teman saya anggap saja si X, walaupun saya dan X sama-sama kuliah di jurusan Matematika, ketika lulus nanti belum tentu skill kami sama. Apalagi di Matematika terpecah lagi menjadi 5 kelompok keahlian di mana kalau sudah masuk ke salah satu kelompok keahlian hampir dipastikan jarang menyetuh topik 4 kelompok keahlian lainnya. Hal ini mengindikasikan pertanyaan ‘apa yang kau bisa’ lebih tepat karena ‘apa yang kau bisa’ itulah yang bisa dan pernah kita kerjakan sehingga mungkin kita tidak perlu waktu lagi untuk belajar hal yang baru (walaupun belajar hal yang baru itu tidak buruk).

Selama proses penyaringan calon tenaga kerja adalah ‘berapa IP kalian’, skill dasar yang mutlak harus dimiliki adalah satu, yaitu kemampuan belajar yang cepat. Makanya jangan heran jika ada seseorang dari jurusan Pertambangan misalnya, dia bekerja di bank padahal selama kuliah yang ia tahu mungkin hanya seluk beluk teknologi pertambangan. Skill belajar cepat itulah yang membuatnya mampu beradaptasi di dunia perbankan. Memang terkesan tidak nyambung dengan apa yang kita pelajari, namun ‘kemampuan belajar’ itulah yang menjadi esensi sebenarnya dari menjadi seorang sarjana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s