Interpretasi Harfiah, Fundamentalis, Literalis, dan Cinta

Ini adalah salah satu isi dari buku Life of Pi karya Yann Martell

…Tapi sepatutnya kita tidak berpegang pada interpretasi harfiah. Celakalah para fundamentalis dan literalis! Aku teringat cerita tentang Batara Krishna ketika menjadi penggembala sapi. Setiap malam dia mengundang gadis-gadis pemerah susu untuk menari dengannya di dalam hutan. Mereka pun datang dan menari. Malam gelap, api unggun di tengah-tengah mereka berkobar-kobar dan berderak-derak, irama musik mengalun makin cepat dan makin cepat, gadis-gadis itu menari, menari, dan terus menari dengan junjungan mereka yang telah membuat dirinya berlipat ganda, sehingga bisa menari dengan setiap gadis. Tapi begitu gadis-gadis itu mulai posesif, begitu seorang gadis menganggap Krishna hanya untuk dirinya, sang batara pun menghilang. Begitu pula kita, tidak seharusnya posesif terhadap Tuhan.

Paragraf diatas sangatlah menarik. Yann Martell mampu membungkus makna spiritual dengan baik. Dan saya kira ini bukan hanya untuk agama Hindu saja. Namun semua agama yang mungkin beberapa penganutnya mulai ‘posesif’ terhadap Tuhannya masing-masing.

Ketika membicarakan ini, Alde bertanya, apakah ada cinta yang tidak posesif? Bukankah cinta itu harus posesif? Saya bilang tergantung, jika saya mencintai Alde saya bilang tidak ada wanita lain yang saya cintai selain dia. Tetapi jika definisi yang digunakan adalah cinta secara universal maka saya harus mengakui bahwa saya tidak hanya menduakan kamu, tapi menggandakan cinta itu untuk beberapa hal lainnya seperti cinta kepada Orang tua, hobby, matematika, statistik, laptop dan lain-lainnya.

Begitu pula Tuhan, mengapa kita bisa bertindak posesif sama Tuhan? seakan-akan tugas Tuhan itu hanya untuk ngurusin kita saja. Yang lain juga butuh kasih sayang Tuhan, mulai dari makhluk hidup paling sederhana, rerumputan, pepohonan, hewan-hewan, hingga planet dan galaksi yang ada di luar angkasa sana. Sadarlah manusia itu kecil kawan.

Jika cinta kepada lawan jenis itu adalah hubungan one to one, Boleh saya bilang bahwa hubungan cinta Tuhan ke hambanya itu one to many. Apakah kita berhak ber-posesif terhadap Tuhan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s