Tuhan dan Aqidah

Kemampuan berpikir manusia itu memang terbatas, tapi batas itu sendiri kita tidak tahu. Persoalannya apakah keterbatasan kita itu akan kita gunakan secara maksimum ataukah akan kita gunakan setengah – setengah.

Yang paling dekat untuk mengerti yang mutlak (Tuhan) itu adalah puncak dari kenisbian akal dan bukan bagian tengah atau bawahnya. Karena itu pertinggi… dan pertinggilah terus puncak dari akal yang nisbi itu. Kejar dan kejar terus puncak kenisbian itu. Hanya dengan demikian kita akan makin dekat pada kemutlakan dari Yang Maha Mutlak.

Lantas apakah isi aqidah itu? Inilah yang harus didiskusikan antara kita, sebab kita belum sama sependapat. Apakah aqidah itu melarang adanya suatu pertanyaan dalam akal yang meragukan sebagian dari isi aqidah itu? Di sinilah kita berbeda pendapat. Mungkin secara tidak sadar sebagian orang telah berkata bahwa: aqidah anti terhadap “anti aqidah“. Menurut saya aqidah itu demokratis, yaitu aqidah mencintai sekaligus juga menghargai “anti aqidah”, walaupun aqidah tidak menyetujui isinya. Hanya dengan demikian orang akan sampai pada aqidah yang sebenar-benarnya dan bukan “pseudo aqidah” atau “aqidah slogan”. Biarlah semua ulama – ulama tua dan calon – calon ulama itu berbeda pendapat dengan saya. Saya ingin berbicara langsung dengan Tuhan dan berkenalan langsung dengan Muhammad. Saya yakin bahwa Tuhan mencintai dan menghargai pikiran – pikiran yang meragukan sebagai ajarannya. Tuhan memberi hak hidup dan memberi kesempatan pada “musuh – musuhnya” untuk berpikir untuk kemudian menjadi “sahabat – sahabatnya”.

Sesungguhnya, bagaimana orang disuruh sukarela percaya pada Tuhan ada, kalau tidak boleh memikirkan kemungkinan benarnya “kepercayaan” bahwa Tuhan tidak ada. Bagaimana kita bisa yakin seluruh ajaran Islam benar kalau kemungkinan adanya kelemahan pada ajaran Islam tidak pernah terlintas di pikiran untuk selanjutnya dipikirkan kemungkinan betulnya. Apalagi kalau ada hasrat untuk memikirkan itu kemudian dinyatakan terlarang dan salah.

Si A dinyatakan salah umpamanya. Dan setiap pertanyaan dalam pikiran akan kemungkinan tidak salahnya A dianggap salah. Jadi bukan hanya si A yang dianggap salah, tapi juga setiap orang yang bertanya tentang si A. Alangkah kejamnya! Saya percaya Tuhan tidak suka pada sikap orang yang kejam ini, walaupun Tuhan menyalahkan si A. Tuhan menyalahkan si A, dan Tuhan tersenyum pada setiap orang yang bertanya tentang benar salahnya tentang si A.

Saya berpendapat, akal itu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Meninggalkan akal bisa. Tapi inipun memakai akal. Menggunakan akal untuk meninggalkan akal. Menggunakan akal dalam meninggalkan obyektivitas menuju subyektivitas untuk sampai pada kebenaran.

Ahmad Wahib – 15 Oktober 1969

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s