Sholat menurut Syekh Abu Salaf

Paparan dibawah ini adalah salah satu potongan isi buku karya Nugroho Suksmanto yang berjudul Lauh Mahfuz. Jikalau nanti tulisan ini dianggap melanggar hak cipta, dengan rela saya akan hapus postingan blog ini. Semoga turut membantu pak Nugroho untuk mempromosikan bukunya itušŸ™‚

Perihal salat, Syekh Abu Salaf menyampaikan :

“Mengacu kepada Alquran, sebagaimana dinyatakan dalam awal surat Al-Baqarah (Ayat 1-4), setelah yakin atau percaya kepada yang gaib, maka umat Islam diperintahkan untuk beribadah secara vertikal atau transeden, yang berarti menjangkau Sang Khalik ke luar batas semesta alam.

“Dan secara horizontal berupa tuntutan kesungguhan akan kepedulian kepada sesama umat manusia. Inilah konsep paling mendasar dari ibadah Islam, yang disebut sebagaiĀ hablum-minallah danĀ hablum-minannas.Ā Hal itu mengandung pengertian ‘segala yang kulakuan adalah penghambaan kepada Allah semata dan segala karunia-Nya, akan kusyukuri dan sebagian kusisihkan bagi kemaslahatan manusia’.

“ManifestasiĀ hablum-minallah adalah sebagaimana diperintahkan Tuhan, yaitu dengan mendirikan salat. Syariat lain yang melengkapi Rukun Islam adalah : menunaikan zakat, puasa pada bulan Ramadan, dan naik haji.

“Salat arti semantiknya adalah doa. Didahului dengan kata mendirikan, mengandung arti harus dijalankan dengan disertai niat yang kuat serta dilakukan dengan penuh kesungguhan. Hingga menumbuhkan nuansa atau suasana khusyuk. Apalagi Tuhan kemudian menetapkan rukun – rukun yang sangat jelas menyertai. Tanpa itu ritual yang dijalani hanyalah semacam olahraga belaka atau prosesi tanpa arti.

“Rukun – rukun tersebut menyiratkan akan hakikat diciptakannya manusia, yaitu sebagai makhluk yang dibekali kemampuan menangkap perlambang atau simbol, atau yang disebut sebagai makhluk simbolik. Perlambang atau simbol tersebut merupakan kekayaan budaya dan peradaban manusia. Dengan menggunakan simbol – simbol itulah komunikasi atau hubungan tali rasa dengan Tuhan dilakukan, … dengan tanpa perantara. Simbol atau perlambang dalam berkomunikasi dengan Tuhan adalah melalui rukun – rukun dalam salat, yaituĀ takbir, rukuk, sujud,Ā danĀ salam.

“Sebenarnya, doa dari para penganut agama samawi sebelumnya, juga memiliki rukun yang sama. Namun, sekarang ini terlupakan sebagai sebuah ritual simbolik transenden yang sebenarnya paling dikehendaki oleh Tuhan. Yang tertinggal hanya berbagai prosesi yang diciptakan, baik merupakan kreasi sendiri atau melalui lembaga keagamaan. Puji – pujian serta dakwah ulama kemudian menjadi unsur utama dalam melakukan renungan atau kebaktian. Karena itulah melalui Alquran Tuhan mengingatkan kembali agar mendirikan salat, sebagai ritual doa transenden saat berkomunikasi atau melakukan kontak batiniah dengan-Nya.

“Transendensi juga diisyaratkan secara simbolis oleh Tuhan melalui turunnya ayat Kursi, yaitu ayat ke – 255 surat Al-Baqarah. Esensinya, yang bermakna simbolik, adalah menerangkan bahwa kolong dari kursi atau singgasana Tuhan adalah alam semesta atau jagat raya. Dengan demikian Tuhan tentu tidak berada bersama manusia di alam atau kosmos yang sama. Karena itulah diperlukan cara bagaimana menjangkau Tuhan yang berada di kosmos atauĀ realm yang berbeda. Dengan sangat jelas dan tegas, dalam Alquran, Tuhan memberikan jalan atau cara, yaitu melalui salat.”

“Apa sebenarnya yang akan didapat manusia dengan mendirikan salat, Syekh?” tanya Panji.

“Setiap agama menuntun umatnya pada suatu perenungan. Perenungan yang mengarahkan batin menukik tajam ke dalam kalbu dilakukan melalui meditasi. Salat adalah meditasi tertinggi dalam Islam.

“Manfaat salat tentu amatlah banyak, baik yang membawa dampak positif secara fisik, psikologis, ataupun medis.

“Coba simak yang diungkapkan oleh cendekiawan Budiman Mustofa:

‘Pertama, salat dapat digunakan sebagai penyaluran atau aktualisasi peran penghambaan atauĀ ubudiyah manusia kepada Sang Khalik. Allah berfirman dalam surat adz-Dzariyat, ‘Tidaklah Aku ciptakan manusia melainkan agar mereka menghamba/menyembah kepada-Ku.’

“Kedua, untuk memperoleh penguatan jiwa. Karena dengan menjalankan salat, jiwa seseorang akan mendapat semangat baru dariĀ Rabbul ‘Izzati, Allah, saat dia merasakan kedekatan dirinya dengan Sang Khalik.

“Ketiga, terangkatnya martabat atau harga diri seseorang. Karena dengan salat seseorang akan merasa dirinya bersandar pada Dzat Yang Mahamulia, yang kemudian akan juga menumbuhkan rasa percaya diri, sebab merasa dirinya seorang hamba yang mulia.

“Keempat, salat akan menjadi rehat jiwa atau yang disebutĀ rahan nafsiyyah dan membuahkan ketenangan rohani atauĀ thuma ninah ruhiyyah, yang menjauhkan manusia dari kelalaian yang memalingkan dari tujuan mulianya. Dalam khusyuk salat, manusia diarahkan untuk lepas dari masalah duniawi atau yang terkait dengan kebendaan, yang kemudian akan meraih ketenangan dan kedamaian jiwa.

“Kelima, salat akan merupakan pijakan untuk melakukan loncatan dari dunia atau kehidupan yang sempit mengurungnya, munuju dunia atau kehidupan yang sangat luas tak terbatas. Karena itu terlepaslah perasaan yang memenjarakan. Muncullah kebebasan yang meruntuhkan penghalang pikiran atauĀ mind block, yang akan membuahkan kemampuan berekspresi dan menumbuhkan kreativitas dan inovasi.

“Keenam, dengan salat manusia akan terbiasa dengan disiplin dan keteraturan. Karena itu dalam melakukan tugas – tugas lain akan merasa tak terbebani, karena rasa enggan dan malas dikikis melaui salat.

“Ketujuh, dengan salat akan tumbuh jiwa persaudaraan, kebersamaan, dan kesetaraan yang kita kenal sebagai jiwa gotong royong. Karena dalam salat tiada keistimewaan bagi pelaku salat atau umat. Semua menjalankan ritual yang sama.

“Kedelapan, yaitu yang paling penting, salat akan menumbuhkan akhlak mulia, melalui lafal dan doa yang maknanya diresapi.””

“Mengapa salat harus menghadap ke kiblat, Syekh?”

“Nuansa yang diupayakan sewaktu menunaikan salat adalah khusyuk. Karena itu segala sikap dan tindakan harus diarahkan untuk mencapai kekhusyukan itu. Diawali niat yang melahirkan kesadaran penuh yang mengalir, dilanjutkan dengan orientasi kepada pusat kesucian Islam yaitu Kakbah, yang telah ditetapkan sebagai kiblat.

“Sebelum Kakbah menjadi kiblat, pernah Masjidil Aqsha menjadi arah menghadap ketika umat Islam menunaikan salat. Perubahan kiblat terjadi ketika Nabi sedang salat, menerima perintah untuk mengalihkan kiblat. Karena itu masjid tempat Nabi melakukan salat dan kemudian menerima perintah mengubah kiblat, dinamakan Masjid Qiblatain.

“Sikap – sikap lain menunjang kekhusyukan kemudian menyertai, seperti kebersihan diri, pakaian yang dikenakan, tegaknya berdiri, fokus pandangan, konsentrasi, dan lain-lainnya.”

“Lalu, sebenarnya apa yang harus dilafalkan dalam salat?”

“Lafal atau bacaan salat dapat bermacam-macam. Tetapi semua ulama mengatakan bahwa salat tidaklah sah tanpa membaca Al-Fatihah, sebagaimana Rasul pernah bersabda,Ā ‘Tidaklah sah salat seseorang yang tidak membaca fatihatul kitab.’

“Kalaupun takbir kemudian disertai kataĀ Allahu akbar, karena sudah dari asalnya dua hal itu menjadi satu kesatuan. Demikian pula menyatunya salam dengan kalimatĀ assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh.

“Untuk kesempurnaan salat, para ulama Salaf menerbitkan fatwa, dengan menganjurkan sebagaimana dilakukan Rasul dan para sahabatnya, untuk menyampaikan satu bacaan yang dinamakan bacaan pendahulu sebelum membaca Al-Fatihah.

“Ini menyiratkan bahwa seseorang telah masuk dalam salat dengan menghadapkan wajah kepada Allah dan memberikan kesaksian bahwa apa yang dilakukan baik dalam salat dan memberikan kesaksian hidup serta matinya adalah hanya untuk Allah.

“Dan para ulama Salaf menganjurkan pula pada dua rakaat pertama salat, untuk membacakan cuplikan ayat-ayat Alquran setelah mengakhiri pembacaan Al-Fatihah.

“Aku kira dari uraian di atas, kamu dapat memahami, mengapa salat harus dilaksanakan dengan menggunakan bahasa aslinya, yaitu bahasa Arab.”

“Ya, Syekh. Sepenuhnya saya mengerti sekarang. Salat adalah ritual simbolik yang diperintahkan Allah untuk menjalin tali rasa dengan-Nya, yang harus dijalankan dengan khusyuk dan perlu diresapi makna lafalnya. Nuansa itu kurang mencapai atau sasaran serta tidak memberikan kesempurnaan dalam khidmat, ketika dilakukan dengan menggunakan bahasa selain Arab.”

Satu pemikiran pada “Sholat menurut Syekh Abu Salaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s