Lauh Mahfuz : Perjalanan Menembus Langit Ketujuh

Lauh Mahfuzh

 

Ketika keyakinan membelenggu, tanpa sadar memandang agama sebagai tiran, manusia sering lupa, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tak akan memenjarakan Ciptaan-Nya dengan jeruji keyakinan dan sekat agama.

Kebebasan adalah esensi kehidupan insan merdeka yang memacu mengembangkan akalnya menggapai masa depan, meraih kemenangan. Sementara, perasaan romantis adalah sebuah realitas kepekaan jiwa, yang membuahkan kerinduan akan kemurnian dan kesalehan hidup masa silam, yang membawa kebahagiaan.

Haruskah dua orientasi dan pandangan ini dijadikan pertentangan, ataukah dapat disikapi dan dihadapi sebagai suatu keniscayaan? Dapatkah sekelompok orang mengklaim surga hanya miliknya dan tidak menyisakan bagi kelompok kepercayan lain?

Tiga paragraf diatas adalah potongan tulisan dari belakang cover buku ini. Buku yang berjudul Lauh Mahfuzh ditulis oleh Nugroho Suksmanto. Jujur saya baru mendengar nama beliau, namun 3 paragraf diatas yang membuat saya tidak perlu menimbang-nimbang lagi untuk membeli dan membaca buku setebal 500 halaman ini. Ekspektasi saya tentang cerita yang indah dari keragaman keyakinan yang ada ternyata cukup terpenuhi oleh buku ini. Buku ini bercerita tentang seorang Panji, yang ingin mengubah catatan suatu kitab yang berisi takdir yang telah dituliskan oleh Allah SWT, yaitu Lauh Mahfuzh yang terletak di langit lapis tujuh. Adalah suatu cerita dengan fantasi yang  ‘menantang’ karena yang saya tahu kitab Lauh Mahfuzh ini hanya bisa ditulis dan diubah isinya oleh Allah sendiri. Bagaimanakah cara Panji merubah catatan isi kitab tersebut?

Awal dari buku ini bercerita latar belakang Panji, dan kembar bersaudara Menuk dan Menik di suatu pedesaan. Kisah ini dimulai ketika terjadi gejolak besar yang pernah ada di negeri ini yaitu peristiwa 30 September yang konon katanya di dalangi oleh PKI. Amarah warga pun tak ayal membuat mereka beringas, menyeret satu per satu orang yang dicurigai terlibat oleh partai komunis itu termasuk ibu dari kembar bersaudara Menuk dan Menik. Dan terjadilah peristiwa pembakaran rumah seorang warga, Menuk meninggal terbakar didalamnya. Menik yang kehilangan rumah ingin menghindar dari kampungnya, namun ketika di perjalanan, bus yang ditumpanginya berhenti mendadak karena ada sebuah sedan yang menabrak. Kepalanya terantuk sehingga ia kehilangan ingatan.

Kejadian menarik lainnya adalah ketika Menik waktu itu mencoba masuk ke dalam sebuah Gereja. Dalam keadaan yang lupa siapa dirinya, ia melihat ada suatu ketenangan didalamnya dan mencoba untuk berdoa kepada Tuhan. Kisah ini menarik karena memperlihatkan suatu hamba yang sebelumnya tidak pernah berdoa kepada Tuhan, kini belajar dari awal bagaimana cara meraih Tuhan. Pada akhirnya Menik berubah namanya menjadi Maria Secunda, kini ia beragama katolik.

Pada suatu ketika Panji telah mampu berkunjung ke alam barzakh tanpa perlu ia meninggal dunia. Disanalah ia bertemu dengan Menuk. Selain itu ia belajar agama di padepokan As-Salaf yang dipimpin oleh Syekh Abu Salaf Al – Rasyidin, seorang yang bersih dan suci jiwanya. Pembelajaran agama ini dimulai dari hal yang sangat mendasar yang mungkin sebagian besar dari kita yang beragama Islam kita terima begitu saja karena orang tua kita menganut agama Islam. Secara garis besar, pak Nugroho Suksmanto, sang penulis melalui tokoh Syekh Abu Salaf telah memberi ingatan segar tentang enam rukun Iman dan lima rukun Islam dengan penjelasan yang baik sekali. Penjelasan mengenai Allah membuat saya terkesima. Panji bertanya dengan lugunya “Apa itu Allah?” lalu Syekh Abu Salaf menjawab dengan penjelasan yang sangat baik. Selain itu saya pernah menuliskan sebelumnya tentang arti sholat menurut Syekh Abu Salaf di blog ini. Penjelasan yang sangat indah, andaikan semua guru agama di Indonesia mengajarkannya seperti ini, bukan hanya menakuti muridnya jika meninggalkan sholat, maka kau akan masuk neraka atau dijanjikan surga bagi yang mendirikan sholat. Itu baru sholat, masih banyak penjelasan lainnya mengenai enam rukun Iman dan lima rukun Islam dijelaskan secara apik di dalam buku ini melalui tokoh Syekh Abu Salaf.

Selain Syekh Abu Salaf, juga ada Syekh Ibnu Khalaf yang masih ada di dunia. Berbeda dengan Syekh Abu Salaf yang sudah berada di alam barzakh. Syekh Ibnu Khalaf lah yang memberi pengetahuan kepada Panji tentang Lauh Mahfuzh. Lauh Mahfuzh, adalah kitab yang berisi catatan takdir apa yang terjadi dari pertama kali diciptakan hingga akhir dari alam semesta. Buku ini menjelaskan konsep Lauh Mahfuz dengan apik, baik dengan cerita dari keyakinan lain tentang catatan serupa, maupun dengan dalil yang ada di ayat-ayat Quran. Selain itu Syekh Ibnu Khalaf lah yang juga memberi pengetahuan kepada panji tentang hari kiamat, Qada dan Qadar, zakat, iman kepada Malaikat, Nabi, dan Kitab Suci. Penjelasannya mampu memberi saya pencerahan dan penyegaran kembali. Sekaligus menjadi pintu gerbang untuk lebih mencari tahu penjelasan tentang berbagai hal tersebut.

Perjalanan Panji menembus langit ketujuh tidaklah mudah. Ia harus melalui lapis demi lapis langit yang sudah terdapat masalahnya tersendiri disana. Dengan panduan Syekh Abu Salaf dan Pak Ranusiwid, Panji mampu menjalani berbagai ujian yang ada di setiap lapis langitnya. Hingga pada akhirnya Panji mampu mengakses Kitab Lauh Mahfuzh. Diceritakan bahwa kitab tersebut tak ubahnya seperti komputer yang kita gunakan sehari-hari. Fantasi pak Nugroho Suksmanto tentang kitab ini patut diacungi jempol. Panji berusaha merubah takdir yang sudah tertulis disana, yaitu Indonesia bakalan dilanda oleh dua buah bencana alam yang sangat dahsyat. Panji ingin merubah takdir tersebut. Sayangnya Panji tidak dapat merubah sepenuhnya takdir yang telah ada.

Di bagian akhir buku ini menceritakan tentang perkawinan Panji dengan Maria Secunda (yang dulunya bernama Menik). Diceritakan juga bagaimana Panji menghadapi masalah perkawinan beda agama. Pada akhirnya mereka menikah dengan prosesi Katolik dan Islam. Namun ada hal yang tidak diketahui oleh hadirin yang hadir baik di Gereja tempat mereka melaksanakan sakramen maupun Masjid tempat mereka melaksanakan ijab kabul. Akan panjang post ini jika saya menceritakan secara lengkap apa yang terjadi di dua tempat ibadah tersebut :p.

Terakhir cerita saya tentang buku ini. Buku ini membuat saya aware tentang konsep salafi – khalafi dan perdebatan panjang yang sering terjadi dalam dua ‘aliran’ tersebut. Mungkin tidak hanya perdebatan, melainkan bersitegang dan konflik yang terjadi antara salafi dan khalafi. Tentang apa itu salafi dan khalafi, mungkin pembaca bisa mencarinya di internet :p. Terima kasih untuk bapak Nugroho Suksmanto yang telah membuat buku indah ini, semoga bapak selalu dilimpahkan kesehatan oleh Allah SWT, amin.

Judul Buku : Lauh Mahfuzh
Penulis : Nugroho Suksmanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 500 halaman

Iklan

Normal Deviate

GUEST POST: ROB TIBSHIRANI

Today we have a guest post by my good friend Rob Tibshirani. Rob has a list of nine great statistics papers. (He is too modest to include his own papers.) Have a look and let us know what papers you would add to the list. And what machine learning papers would you add? Enjoy.

9 Great Statistics papers published after 1970
Rob Tibshirani

I was thinking about influential and awe-inspiring papers in Statistics and thought it would be fun to make a list. This list will show my bias in favor of practical work, and by its omissions, my ignorance of many important subfields of Statistics. I hope that others will express their own opinions.

  1. Regression models and life tables (with discussion) (Cox 1972). A beautiful and elegant solution to an extremely important practical problem. Has had an enormous impact in medical science. David Cox…

Lihat pos aslinya 501 kata lagi

Ujian Reevaluasi Kalkulus 1A 2012-2013

Bagian A

1. Hitunglah \lim_{x\rightarrow 0}x^2\cos\left(\frac{3}{x}\right)

Jawab :

Gunakan prinsip apit.

-1\leq\cos\left(\frac{3}{x}\right)\leq 1

-x^2\leq x^2\cos\left(\frac{3}{x}\right)\leq x^2

kita tahu bahwa \lim_{x\rightarrow 0} -x^2 = \lim_{x\rightarrow 0} x^2 = 0. Maka  \lim_{x\rightarrow 0}x^2\cos\left(\frac{3}{x}\right) = 0

2. Tentukan persamaan garis singgung kurva y=\frac{1}{x+1} di titik P\left(1,\frac{1}{2}\right)

Jawab :

y'=\frac{-1}{(x+1)^2}, sehingga gradien garis singgung di x=1 adalah m=-\frac{1}{4}. Diperoleh garis singgng di P adalah y=-\frac{1}{4}+\frac{3}{4}

3. Tentukan selang kemonotonan fungsi f dengan memperhatikan grafik f' dibawah ini

Jawab :

Ingat bahwa f monoton naik jika f' >0 dan turun jika f' < 0

f monoton turun pada selang (-\infty,0) dan (0,2). Sedangkan f monoton naik pada selang (2,\infty)

4.  Tentukan konstanta positif a agar \int_0^a(2x+2)\,dx=3

Jawab :

\int_0^a2x+2\,dx = \left[x^2+2x\right]_0^a=3

a^2+2a = 3 sehingga a=1

5. Hitunglah \int_{-1001}^{1001} x^2\sin 3x\,dx dengan menggunakan sifat simetri

Jawab :

\int_{-1001}^{1001} x^2\sin 3x\,dx=0 karena x^2\sin 3x adalah fungsi ganjil.

6. Tentukan \int \frac{\ln x}{x}\,dx

Jawab :

\int\frac{\ln x}{x}\,dx =\int\ln x\,d(\ln x)=\frac{1}{2}\ln^2 x+C

7. Tentukan turunan kedua dari f(x)=e^{-5x}

Jawab :

f'(x)=-5e^{-5x}, diperoleh f''(x)=25e^{-5x}

8. Tentukan solusi \frac{dy}{dx}=2xy dengan y\neq 0

Jawab :

\frac{dy}{dx}=2xy

\frac{dy}{y}=2x\,dx

\int \frac{dy}{y}=\int 2x\,dx

\ln y = x^2 + C

y = Ce^{x^2}

Bagian B

1. Diketahui daerah D merupakan daerah tertutup di kuadran 1 yang dibatasi oleh kurva y=x^2,\, y=2-x dan sumbu y

a. Sketsalah daerah D

b. Misalkan V adalah volume benda putar yang terjadi jika D diputar mengelilingi sumbu y, tuliskan \Delta V kemudian hitunglah V

Jawab :

grafik

b. dengan menggunakan metode kulit tabung

\Delta V = 2\pi x(2-x -x^2)\Delta x

sehingga volume dari benda tsb adalah

V = \int_0^12\pi x(2-x-x^2)\,dx=\frac{5\pi}{6}

2. Kecepatan transmisi sinyal, T , pada suatu kabel telegraf dapat dinyatakan dalam bentuk T(x)=kx^2 \ln \frac{1}{x} dengan x adalah perbandingan jari-jari kawat dalam kabel dan insulatornya, 0<x<1, dan k adalah suatu konstanta positif.

a. Tentukan k jika diketahui T\left(\frac{1}{e}\right) = 1

b. Tentukan titik di mana T mencapai nilai maksimum

Jawab :

a. diketahui $latex T\left(\frac{1}{e}\right) = 1$,

T\left(\frac{1}{e}\right) = k\frac{1}{e^2}\ln e = 1, diperoleh k = e^2.

b. T'(x)=-2xe\ln x - ex = 0 untuk mencari titik stasionernya

ex(-2\ln x - 1) = 0, maka -2\ln x - 1=0, diperoleh x = \sqrt{e}

dengan nilai maksimum di T(\sqrt{e}) = \frac{e}{2}

Islam Sontoloyo

Di dalam surat kabar “Pemandangan” 8 April. Saya membaca suatu perkabaran yang ganjil: seorang guru agama dijebloskan kedalam bui tahanan karena ia memperkosa kehormatannya salah seorang muridnya yang masih gadis kecil. Bahwa orang dijebloskan kedalam tahanan kalau ia memperkosa gadis, itu tidaklah ganjil. Dan tidak terlalu ganjil pula kalau seorang guru memperkosa seorang muridnya. Bukan karena ini perbuatan tidak bersifat kebinatangan, jauh dari itu, tetapi oleh karena memang kadang-kadang terjadi kebinatangan yang semacam itu. Yang saya katakan ganjil ialah caranya si guru itu “menghalalkan” ia punya perbuatan. Cobalah tuan baca yang berikut ini, yang saya ambil over dari “Pemandangan” tadi itu :

Keterangan lain-lain mengenai akalnya guru itu mempengaruhi murid-muridnya; kepada tiap-tiap yang menjadi murid diobroli bahwa ia pernah bicara kepada Nabi Besar Muhammad s.a.w, lalu masing-masing diajarkannya untuk mendekati Allah tiap-tiap malam Jumat berzikir sejak maghrib sehingga subuh, dengan permulaan berseru ramai-ramai “Saya muridnya Kyai Anu”; dengan seruan ini katanya supaya terkenal dan Allah mengampuni dosanya.

Tiap-tiap murid perempuan, meskipun masih kanak-kanak musti ditutup mukanya, jika waktu pertemuan malam Jumat golongan perpempuan dipisahkan dalam rumah, untuk murid lelaki spesial dalam langgar.Kyai itu menerangkan dalam ajarannya: “Perempuan itu boleh disedekah”. Artinya demikian: sebagai atas ditegakkan, murid-murid perempuan itu meskipun kanak-kanak, musti ditutup mukanya, karena haram dilihat oleh lelaki lain yang bukan suaminya, katanya.

Tetapi, dari sebab perempuan-perempuan itu perlu diajar olehnya, dan musti bertemuan dan beromong-omong, maka murid-murid perempuan itu “dimahram dahulu”, kata guru itu. Artinya: Perempuan-perempuan itu musti dinikah olehnya.

Yang jadi kyainya ia juga, yang jadi pengantinnya ia juga.

Caranya demikian:

Kalau seorang murid lelaki yang mempunyai isteri yang jadi murid-muridnya juga, isterinya itu dihadapkan dia lantas menjatuhkan talaknya tiga. Seketika juga perempuan itu dinikahkan dengan lain lelaki (kawan muridnya) sehingga tiga lelaki dalam seketika itu juga berturut-turut tiga kali dinikahkan dan diceraikan lagi, keempat kalinya dinikahkan olehnya sendiri.

Kecuali kalau janda atau gadis, tidak dinikahkan dengan lain orang. Tetapi langsung dinikahkan dengan si Dajal sendiri. Dengan cara demikian tiap-tiap isteri yang jadi muridnya berarti isteri daripada Dajal tersebut dalam pemandangan golongan mereka.

Demikianlah cara yang demikian ini berlaku juga dengan gadis yang jadi perkara ini, oleh karena gadis itu sudah dimahram oleh guru itu.

Demikianlah, maka pada satu hari gadis ini dipikat oleh guru itu masuk kedalam satu rumah, dan disitulah dirusak kehormatannya.

Halal, syah, oleh karena sudah isterinya!

Sungguh kalau reportase disurat kabar “Pemandangan” itu benar, maka benar-benarlah disini kita melihat Islam Sontoloyo! Sesuatu perbuatan dosa dihalalkan menurut hukum fiqh. Tak ubahnya dengan tukan merentenkan uang yang “menghalalkan” ribanya itu dengan pura-pura berjual-beli sesuatu barang dengan orang yang mau meminjam uang daripadanya. Tahukan tuan caranya tukang riba itu menghalalkan ia punya pekerjaan riba? Tuan mau pinjam uang daripadanya f 100,-, dan sanggup bayar habis bulang f 120,-. Ia mengambil sehelai kain, atau sebuah kursi, atau sebuah cincin, ataupun sebuah batu, dan ia jual barang itu “op crediet” kepada tuan dengan harga f 120,-. “Tidak usah bayar kontan, habis bulan saja bayar f 120,- itu”. Itu kain atau kursi atau cincin atau batu kini sudah menjadi milik tuan karena sudah tuan beli, walaupun “op crediet”. Lantas ia beli kembali barang itu dari tuan dengan harga kontan f 100,-. Accord? Nah inilah tuan terima uang pembelian kontan yang f 100,- itu. Asal tuan jangan lupa, habis bulan tuan bayar tuan punya hutang kredit yang f 120,- itu!

Simple comme bonjour! – Kata orang Prancis. Artinya : “tidak ada yang lebih mudah dari ini!” Bukan! ini bukan riba, ini bukan merentenkan uang, ini dagang, jual-beli, halal, syah, tidak dilarang oleh agama!

Benar, ini syah, ini halal, tapi halalnya Islam sontoloyo! Halalnya orang yang mau main kikebu dengan Tuhan, atau orang yang mau main “kucing-kucingan” dengan Tuhan. Dan, kalau mau memakai perkataan yang lebih jitu, halalnya orang yang mengabui mata Tuhan!

Seolah-olah Tuhan diabui mata! Seolah-olah agama sudah dipenuhi atau sudah diturut, kalau dilahirnya syariat saja sudah dikerjakan! Tetapi tidakkah justru yang demikian ini sering kita jumpakan?

Tidak justru Islam terlalu menganggap fiqh itu satu-satunya tiang keagamaan. Kita lupa, atau kita tidak mau tahu, bahwa tiang keagamaan ialah terutama sekali terletak didalam ketundukan kita punya jiwa kepada Allah. Kita lupa bahwa fiqh itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agam. Belum dapat memenuhi semua syarat-syarat ke-Tuhan-an yang sejati, yang juga berhajat kepada Tauhid, kepada Akhlak, kepada kebaktian Rohani, kepada Allah, dan kepada lain-lain lagi.

Dulu dilain tempat, pernah saja menulis :

“Adalah orang “sayid” yang sedikit terpelajar, tetapi ia tak dapat memuaskan saja, karena pengetahuannya tak keluar sedikitpun jua dari “kitab-fiqh”: mati-hidup dengan kitab-fiqh itu. Qur’an dan Api Islam seakan-akan mati, karena kitab-fiqh itu sajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam ilahi sendiri. Ya, kalau dipikirkan dengan dalam-dalam, maka kitab-fiqh – kitab fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo roh dan semangat Islam. Bisakah, sebagai misal, suatu masyarakat menjadi hidup, menjadi bernyawa, menjadi leved, kalau masyarakat itu hanya dialaskan saja kepada Wetboek van strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, kepada artikel ini dengan artikel itu? Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat. Sebab tandanya masyarakat ialah justru ia punya hidup, ia punya nyawa. Begitu pula, maka dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada Roh, tiada nyawa, tiada api, karena ummat Islam sama sekali tenggelam dialam “kitab-fiqh nya” saja, tidak terbang seperti burung garuda diatas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya Agama Yang Hidup”.

Sesudah beberapa kali membaca saya punya tulisan-tulisan didalam P.I Ini, tuan barangkali lantas mengira, bahwa saya adalah pembenci fiqh. Saya bukan pembeci fiqh, saya malahan berkata bahwa tiada masyarakat Islam dapat berdiri zonder hukum-hukumnya fiqh. Sebagaimana tiada masyarakat satupun dapat berdiri zonder Wetboek van Strafrecht dan Burgerlijk Wetboek, maka begitu juga tiada perikehidupan Islam dapat ditegakkan zonder wetboeknya fiqh. Saya bukan pembenci fiqh, saya hanyalah pembenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fiqh itu saja, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja.

Dan sungguh, tuan-tuan, pendapat yang begini bukanlah pendapat saja yang picik ini saja, juga Farid Wadjdi, juga Muhammad Ali, juga Kwadja Kamaludin, juga Amir Ali berpendapat begitu. Farid Wadji pernah berpidato dihadapan kaum Orientalis Eropa tentang arti fiqh itu buah perikehidupan Islam, dan beliau berkatalah bahwa “kaum Orientalis yang mau mengukur Islam dengan fiqh itu saja, sebenarnya adalah berbuat tidak adil kepada Islam, oleh karena fiqh belumlah Islam seluruhnya, dan malahan kadang-kadang sudahlah menjadi satu sistem yang bertentangan dengan Islam yang sejati!”. Muhammad Ali tidak berhenti-henti berjuang dengan kaum-kaum yang mau membelenggu Islam itu kedalam mereka punya monopoli undang-undang dan Kwadja Kamaludin menulis didalam ia punya “Evangelie van de Daad”, satu kitab yang dulu pernah saya katakan brilian dan saya pujikan keras kepada semua orang Islam dan bukan Islam, sebagai berikut : “Kita hanya ngobrol tentang sembayang dan puasa, dan kita sudah mengira bahwa kita sudah melakukan agama. Khatib-khatib membuat khotbah tentang rahasia-rahasianya surga dan neraka, atau mereka mengajar kita caranya mengambil air wudu atau rukun-rukun yang lain, dan itu sudahlah dianggap cukup buat mengerjakan agama. Begitu jualah keadannya kitab-kitab agama kita. Tetapi yang demikian itu bukanlah gambar kita punya agama yang sebenarnya. “Cobalah kita punya ulama-ulama itu menerangkan kepada dunia wetenschap betapa rupanya etika yang diajarkan oleh Quran. Maka tidak akan sukarlah bangsa-bangsa Barat ditarik masuk Islam, kalau literatur yang demikian itu disebarkan kemana-mana”

Dan bagaimana perkataan Sajid Amir Ali? Mempelajari kitab-kitab fiqh tidaklah cukup buat mengenal semangat dan rohnya Islam yang sejati. malahan kitab-kitab fiqh itu kadang-kadang berisi hal-hal yang berlawanan dengan Rohnya Islam yang sejati. Dan maukah tuan mendengar pendapatnya orang lain alim yang bukan Islam? Masih ingatkah tuan akan perkataan Prof Snouck Hurgronje yang saya siti dalam P.I dua minggu yang lalu? Yang mengatakan bahwa Quran kini yang menjadi wetboeknya orang Muslim pada umumnya, tetapi apa yang “dicabutkan oleh ulama-ulama dari segala waktu dari Quran itu dan sunnah itu”? Maka ini ulama-ulama dari segala waktu adalah terikat pula kepada ucapan-ucapannya ulama-ulama yang terdahulu dari mereka. Masing-masing didalam lingkungannya mahzabnya sendiri-sendiri. Mereka hanya dapat memilih antara pendapat-pendapatnya autoriteit-autoriteit yang terdahulu dari mereka. Maka syariat itu seumumnya akhirnya tergantung kepada ijma’ dan tidak kepada maksud-maksudnya firman yang asil. Atau ambillah misalnya lagi pendapatnya Prof Tor Andres! Professor inipun berkata : “Tiap-tiap agama akhirnya hilang ia punya jiwa yang dinamis oleh karena pengikut-pengikutnya lebih ingat kepada ia punya wettensysteem saja, daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Islam pun tidak luput dari paham ini.”

Tuan barangkalai berkata, apa kita pusingkan pendapat orang lain? Janganlah tuan berkata begitu. Orang lain sering kali mempunyai pendapat yang lebih benar diatas agama kita, sering kali mempunyai pendapat yang lebih “onbevangen” diatas agama kita dairpada kita sendiri, oleh karena mereka tidak terikat oleh tradisi pikiran yang mengikat kita, tidak terikat oleh “cinta buta” yang mengikat kita kepada agama kita, tidak pula, benarkah mereka punya pendapat itu bahwa tidak ada orang asing yang benar? Apakah tidak ada orang asing yang tepat didalam pendapatnya?

Cobalah kita mengambil satu contoh. Islam melarang kita makan daging babi. Islam juga melarang kita menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, menyekutukan Tuhan yang Esa itu. Malahan yang belakangan ini dikatakan dosa yang terbesar, dosa datuknya dosa. Tetapi apa yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain, musyrik didalam tuan punya pikiran atau perbuat, maka tidak banyak orang yang akan menunjuk kepada tuan dengan jari seraya berkata : tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan daging babi, walau hanya sebesar biji asam pun dan seluruh dunia akan mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambarnya jiwa Islam sekarang ini: terlalu mementingkan kulih saja, tidak mementingkan isi. Terlalu terikat kepada “uiterlijke vormen” saja, tidak menyala-nyalakan “intrinsieke waarden”. Dulu pernah saya melihat satu kebiasaan aneh disalah satu kota kecil di tanah Priangan. Disitu banyak sundal, banyak bidadari-bidadari yang menyediakan tubuhnya buat pelepas nafsu yang tersebut. Tetapi semua “bidadari-bidadari” itu bidadari “Islam” bidadari yang tidak melanggar sesuatu ajaran agama. Kalau tuan ingin melepaskan tuan punya birahi kepada salah seorang dari mereka, maka adalah seorang penghulu yang akan menikahkan tuan lebih dulu dengan dia buat satu malam. Satu malam ia tuan punya isteri yang syah, satu malam tuan boleh berkumpul dengan dia zonder melanggar larangan zina. Keesokan harinya bolehlah tuan jatuhkan talaq tiga kepada tuan punya kekasih itu tadi! Dia mendapat “nafkah” dan “mas kawin” dari tuan, dan mas penghulupun mendapat persen dari tuan. Mas penghulu ini barangkalai malahan berulang-ulang juga mengucapkan syukur kepada Tuhan, bahwa Tuhan telah memperkenankan dia berbuat suatu kebajikan, yakni menghindarkan dua orang anak Adam daripada dosanya perzinaan!

Tidakkah bernah perkataan saya, bahwa ini bernama main kikebu dengan Tuhan, atau mau mengabui mata Tuhan? Perungklukan, persundalan, perzinaan, di-“putarkan” menjadi perbuatan yang halal! Tetatpi juga: tidakkah benar ini hanya satu faset saja dari gambarnya masyarakat kita seluruhnya, yang lebih mementingkan fiqh saja, haram makruh saja, daripada “intrinsieke waarden” yang lain-lain?

Ah, saya meniru perkataan budiman Kwadja Kamaludin: alangkah baiknya kita disampingnya fiqh itu mempelajari juga dengan sungguh-sungguh etiknya Quran, intrinsieke waardennja Quran. Alangkah baiknya pula kita meninjau sejarah yang telah lampau, mempelajari sejarah itu, melihat dimana letaknya garis menaik dan dimana letaknya garis menurun dari masyarakat Islam, akan menguji kebenarannya perkataan Prof Tor Andrea yang mengatakan bahwa juga Islam terkena kehilangan jiwanya yang dinamis, sesudah lebih ingat kepada ia punya sistem perundang-undangan daripada kepada ia punya ajaran jiwa. Dulupun dari Endeh pernah saya tuliskan : “Umumnya kita punya kyai-kyai dan kita punya ulama-ulama tak ada sedikitpun “feeling” kepada sejarah”, ya boleh saja katakan kebanyakan tak mengetauhi sedikitpun dari sejarah itu. Mereka punya minat hanya menuju kepada agama khusus saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqh. Sejarah, apalagi bagian “yang lebih dalam”, yakni yang mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuannya atau kemundurannya sesuatu bangsa, sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian. Pdahal disini, disinilah padang penyeledikan yang maha penting! Apa sebab mundur? Apa sebab maju? Apa sebab bangsa ini dizaman ini begini? Apa sebab bangsa itu di zaman itu begitu? Inilah pertanyaan – pertanyaan yang maha-penting yang harus berputar, terus – menerus didalam kita punya ingatan, kalau kita mempelajari naik-turunnya sejarah itu.

Tetapi bagaimana kita punya kyai-kyai dan ulama-ulama? Tajwid membaca Qur’an, hafidz ratusan hadits, mahir didalam ilmu syarak, tetapi pengetahuannya tentang sejarah umumnya nihil. Paling mujur mereka hanya mengetahui “tarikh Islam” saja, dan inipun terambil dari buku-bukunya tarikh Islam yang kuno, yang tak dapat tahan ujiannya ilmu pengetahuan modern!

Padahal dari tarikh Islam inipun saja mereka sudah akan dapat menggali juga banyak ilmu yang berharga. Kita umumnya mempelajari hukum, tetapi kita tidak mempelajari caranya orang-dulu mentanfidzkan hukum itu.

Kita cakap mengajikan Quran seperti maha-guru di Mesir, kita kenal isinya kitab-kitab fiqh seperti seorang advokat kenal isinya ia punya kitab hukum pidana dan hukum perdata, kita mengetahui tiap-tiap perintah agama dan tiap-tiap larangan agama sampai yang sekecil-kecilnyapun juga, tetapi kita tidak mengetahui betapa caranya Nabi, sahabat-sahabat, tabiin-tabiin, khalifah-khalifah mentanfidzkan perintah-perintah dan larangan-larangan itu didalam urusan sehari-hari dan didalam urusannya negara. Kita sama sekali gelap dan buta buat didalam hal pentanfidzkan itu, oleh karena kita tidak mengenal tarikh.

Dan apakah Pengajaran Besar, yang tarikh itu kasihkan kepada kita? Pengajaran Besar tarikh ini ialah, bahwa Islam di zamannya yang pertama dapat terbang meninggi seperti burung garuda diatas angkasa, oleh karena fiqh tidak berdiri sendiri, tetapi ialah disertai dengan tauhid dan ethieknya Islam yang menyala-nyala.

Fiqh pada waktu itu hanyalah “kendaraan” saja, tetapi kendaraan ini dikusiri olehnya Rohnya Ethiek Islam serta Tauhid yang hidup, dan ditarik oleh kuda-sembrani yang diatas tubuhnya ada tertulis ayat Quran: “Janganlah kamu lembek, dan janganlah kamu mengeluh, sebab kamu akan menang, asal kamu mukmin sejati”. Fiqh ditarik oleh Agama Hidup, dikendarai Agama Hidup, disemangati Agama Hidup: Roh Agama Hidup yang berapi-api dan menyala-nyala! Dengan fiqh yang demikian itulah umat Islam menjadi cakrawarti diseparuh dunia!

Tetapi apakah pula kebalikan dari Pengajaran Besar ini? Kebalikan Pengajaran Besar ini ialah Pengajaran Besa pula yang tarikh itu mengasihkan kepada kita didalam periodenya yang kedua. Pengajaran Besar, bahwa sejak Islam-studie dijadikan fiqh-studie dari pusakanya Imam yang Empat saja dan bahwa sejak fiqh-studie ini mendapat kedudukan sentral dalam Islam-studie itu, disitulah garis-kenaikan itu menjadi membelok dibawah, menjadi garis yang menurun. Disitulah Islam lantas “membeku” menurut katanya Essad Bey, membeku menjadi satu sistem formil belaka. Lenyaplah ia punya ketangkasan yang mengingatkan kepada ketangkasannya harimau. Kendaraan tiada lagi ia punya kuda, tiada lagi ia punya kusir. Ia tiada bergerak lagi, ia mandek!

Dan bukan saja mandek! Kendaraan mandek lama-lamapun menjadi amoh. Fiqh bukan lagi menjadi petunjuk dan pembatas hidup, fiqh kini kadang-kadang menjadi penghalalannya perbuatan-perbuatan kaum soontoolooyoo!

Maka benarlah perkatannya Halide Edib Hanum, bahwa Islam di zaman akhir-akhir ini “bukan lagi agama pemimpin hidup, tetapi agama pokrol-bambu”.

Jikalau umat Islam tetap tidak mengindahkan Pengajaran – pengajaran Besar sejarahnya sendiri, jikalau pemuka-pemuka Islam di Indonesia tidak mengikuti jejaknya pemimpin besar di negeri lain seperti Muhammad Ali, Farid Wadjdi, Kwadja Kamaludin, Amir Ali dll yang menghendaki satu grentelijke wedergeboorte (kebangunan roh baru) didalam dunia Islam, jikalau pemuka-pemuka kita itu hanya mau bersifat ulama-ulama-fiqh saja dan bukan pemimpin kejiwaan sejati, maka janganlah ada harapan umat Islam Indonesia akan dapat mempunyai Kekuatan Jiwa atau Kekuatan Jiwa yang hebat untuk menjunjung dirinya dari keadaan aib yang sekarang ini.

Janganlah kita ada harapan dapat mencapai persanggupannya Allah yang tertulis diatas tubuhnya kuda-sembrani tadi itu.

Janganlah kita kira diri kita sudah mukmin tetapi hendaklah kita insyaf, bahwa banyak dikalangan kita yang Islamnya masih Islam Sontoloyo!

Soekarno

Pandji Islam, 1940
Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1, hal 493-499

Serapium Reading Challenge 2013

Serapium Reading Challenge (SRC) ini adalah event yang dibuat oleh serapers (penghuni subforum Buku di Kaskus) berupa tantangan membaca buku dengan tema bulanan yang ditentukan di awal tahun dan membuat review dari buku itu setiap bulannya. Tahun ini juga telah diadakan tetapi saya belum ikutan, tahun depan saya mencoba untuk ikut, hitung-hitung menghabiskan stok buku yang belum dibaca yang mangkrak karena lebih konsentrasi membaca textbook kuliah -.-

Ini list buku yang rencananya saya akan baca tahun depan

Image

Image

Image

Januari : Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca – Pramoedya Ananta Toer (kalau seminar TA dah kelar mungkin bisa ketiganya)

Image
Februari : Rumah Tangga yang Bahagia (Family Happiness) – Leo Tolstoy

ImageMaret : To Kill a Mockingbird – Harper Lee (pernah ada filmnya kan ya?)

ImageApril : Siti Nurbaya – Marah Rusli

Image
Mei : Catatan Bawah Tanah (Notes from Underground) – Fyodor Dostoevsky

ImageImage
Juni : Sherlock Holmes (Memoar dan Koleksi Kasus) – Sir Arthur Conan Doyle

Image

Juli : Alice in Wonderland – Lewis Caroll

Image

Agustus : Desersi – M.T.H Perelaer

Image
September : Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Image
Oktober : The Hobbit – J.R.R Tolkien

Image
November : Cerita Cinta Enrico – Ayu Utami
Desember : –

tulisan lama dari Samy tentang kalkulus. must read

Math and Adventure 🙂

Calculucifer… Itu kata-kata yang paling saya ingat dari salah satu buku Kalkulus II yang saya liat di kover buku temen. Udah lupa siapa nama temennya tapi yang pasti kata-kata itu selalu teringkat.

Gabungan calculus+lucifer benar-benar mengejutkan buat saya. Lucifer yang disebut-sebut raja setan yang asalnya dari surga. Yang pasti dari sesuatu yang bagus jadi jebrok dan hancur dan bangkit jadi sesuatu yang menakutkan.

Ungkapan ini ternyata tidak salah–bagi sebagian orang. Alhamdulillah, kalkulus sudah saya ambil sekitar 3 taun yang lalu.

Kenyataan ITB saat ini ternyata mengungkapkan apa kekhawatiran terbesar saya. Ya, ratusan mahasiswa baru gagal di mata kuliah Kalkulus I!

Buat saya sih, kayanya Kalkulus I gak segitunya susahnya. Well, mungkin yang jadi jebakan betmennya adalah UTS nya. UTS di ITB tau sendiri kan, cuma ada 5-6 soal (sistem baru sekarang jadi 8 soal pendek 3 soal panjang, yang kayanya gak terlalu ngaruh). Jadi, kalo ada satu soal esai di…

Lihat pos aslinya 697 kata lagi

Bukan Jawaban UAS Kalkulus IA 2012-2013

Perhatian :

– Ini jawaban versi saya sendiri, jadi belum tentu benar, tolong di cek kembali

– saya tidak bertanggung jawab atas kerugian-kerugian yang timbul akibat post ini 😛

—–

Bagian A

1. Tentukanlah F(x), jika F(x) merupakan anti turunan fungsi f(x)=2x^2-\cos x yang memenuhi F(0)=-1

Jawab :

F(x)=\int 2x^2-\cos x\,dx = \frac{2}{3}x^3-\sin x + C. Dengan informasi F(0)=-1, maka F(x)=\frac{2}{3}x^3-\sin x - 1

2. Tentukan hampiran luas daerah D menggunakan jumlah Riemann kiri dengan tiga selang bagian (n=3).

Jawab :

Dari gambar kita dapat tentukan a=0.5 dan b=2 sehingga \Delta x = \frac{b-a}{n}=\frac{2-0.5}{3}=0.5, karena yang diminta adalah jumlah Riemann kiri, maka x_1=0.5,x_2=1,x_3=1.5 atau x_i=0.5+(i-1)0.5,i=1,2,3. Sehingga jumlah Riemann kiri nya adalah

\sum_{i=1}^3f(0.5+(i-1)0.5)\cdot 0.5=\sum_{i=1}^3\left(1+\frac{1}{0.5+(i-1)0.5}\right)\cdot 0.5

3. Nyatakan limit jumlah Riemann :

\lim_{n\rightarrow\infty}\sum_{i=1}^n\left(\cosh \frac{3i}{n}\right)\frac{3}{n}

sebagai integral tentu dengan batas bawah integral a=0. (Tidak perlu dihitung).

Jawab :

karena a=0, dan \frac{b-a}{n}=\frac{3}{n}, maka diperoleh b=3 sebagai batas bawah integral. Sehingga integralnya menjadi

\int_0^3\cosh x\,dx (Tidak perlu dihitung :p)

4. Hitunglah \int_{-2}^2e^{|x|}\,dx

ingat kembali apa arti dari |x|, integral diatas menjadi

\int_{-2}^2e^{|x|}\,dx=\int_{-2}^0e^{-x}\,dx +\int_0^2e^x\,dx

= \left[-e^{-x}\right]_{-2}^0+\left[e^x\right]_0^2 = 2e^2-2.

5. Nyatakan volume benda putar yang terjadi, jika daerah D diputar mengelilingi garis y=-1 dalam bentuk limit jumlah Riemann dan integral tentunya. (Tidak perlu dihitung)

Jawab :

y=\sqrt{x+1}, \Delta x=\frac{3-0}{n}=\frac{3}{n}. Dengan menggunakan limit jumlah Riemann kiri

x_i=\frac{3i}{n}. Dengan menggunakan metode cakram, \Delta V=\left(\pi (f\left(\frac{3i}{n}\right) +1)^2 -\pi\right)\frac{3}{n}. Sehingga diperloeh

V=\lim_{n\rightarrow\infty}\frac{3\pi}{n}\sum_{i=1}^n\left( (f\left(\frac{3i}{n}\right) +1)^2 -1\right). Sedangkan dalam bentuk integral

V=\pi \int_0^3\left(\sqrt{x+1}+1\right)^2-1\,dx (lagi-lagi tak perlu dihitung)

6. Apakah fungsi y=xe^{-x} merupakan solusi dari persamaan diferensial xy'+(1+x)y=e^{-x}? Jelaskan jawaban Anda.

Jawab :

cara yang termudah adalah dengan tidak mencari solusinya, melainkan cocokkan saja y dengan persamaan diferensial tsb. y'=e^{-x}-xe^{-x}

Sehingga x(e^{-x}-xe^{-x})+(1+x)xe^{-x}=xe^{-x}-x^2e^{-x}+xe^{-x}+x^2e^{-x}=2xe^{-x}\neq e^{-x}

7. Gunakan sifat logaritma untuk menentukan \frac{dy}{dx}, jika

y=\left(\frac{(x^2+3)^{\frac{2}{3}}(3x+2)}{\sqrt{x+1}}\right)

Jawab :

\ln y= \frac{2}{3}\ln (x^2+3)+2\ln (3x+2)-\frac{1}{2}\ln (x+1)

\frac{1}{y}\frac{dy}{dx}=\frac{2}{3}\frac{2x}{x^2+3}+\frac{6}{3x+2}-\frac{1}{2(x+1)}

\frac{dy}{dx}=y\cdot\left(\frac{2}{3}\frac{2x}{x^2+3}+\frac{6}{3x+2}-\frac{1}{2(x+1)}\right)

\frac{dy}{dx}=\left(\frac{(x^2+3)^{\frac{2}{3}}(3x+2)}{\sqrt{x+1}}\right)\cdot\left(\frac{2}{3}\frac{2x}{x^2+3}+\frac{6}{3x+2}-\frac{1}{2(x+1)}\right)

8. Diketahui \frac{d}{dx}\tan^{-1}x=\frac{1}{1+x^2}, Tentukan \int\frac{3}{1+4x^2}\,dx.

Jawaban :

\int\frac{3}{1+4x^2}\,dx=\frac{3}{2}\int \frac{1}{1+(2x)^2}\,d(2x)=\frac{3}{2}\tan{-1}(2x)+C

Bagian B

1. Diketahui F(x)=\int_2^{2x}e^{2t}(t^4+1)\,dt

a. Tentukan F'(x)

b. Tunjukkan bahwa F mempunyai invers

c. Tentukan \left(F^{-1})(0)\right).

Jawab :

a. \frac{d}{dx}F(x)=\frac{d}{dx}\int_2^{2x}e^{2t}(t^4+1)\,dt

F'(x)=2e^{4x}((2x)^4+1)

b. F mempunyai invers karena F'(x)>0 untuk setiap x.

c. Karena F mempunyai invers. maka $latex  F^{-1}(0)$ dapat dicari dengan menggunakan

$latex  F^{-1}(0) =\frac{1}{F^{-1}(1)}=\frac{1}{2e^4(2^16+1)}$

Dipilih 1 karena yang menghasilkan F(x)=0 adalah untuk x=1 (Integral dari \int_2^2 f(x)\,dx=0)

2. Hitunglah titik pusat massa lamina homogen yang dibatasi oleh grafik y=4-x^2 dan sumbu x.

Jawab :

Karena lamina homogen, asumsikan \delta=1 sehingga m=\int_0^24-x^2\,dx=4x-\frac{2}{3}x^3=8-\frac{16}{3}=\frac{8}{3}

M_x=\frac{1}{2}\int_0^2 (4-x^2)^2\,dx dan M_y=\int_0^2 x(4-x^2)\,dx (silahkan hitung sendiri hehe)

maka \bar{x}=\frac{M_y}{m} dan \bar{y}=\frac{M_x}{m}

3. Ami mengundang teman-temannya untuk makan malam bersama yang dimulai tepat puku 7 malam nanti. Untuk mempersiapkan hidangan makan malam hingga matang pada temperatur 90 C, diperlukan waktu tepat 3 jam. Jika dibiarkan selama 15 menit setelah matang, temperatur hidangan akan menjadi 80 C. Hidangan baru bisa disantap jika temperaturnya mencapai 50 C. Tentukan kapan Ami mulai menyiapkan hidangan tersebut. Asumsikan temperatur ruangan tetap sebesar 25 C. (Petunjuk : Menurut Hukum Pendinginan Newton, laju perubahan temperatur suatu benda, sebanding dengan perbedaan temperatur benda tersebut dengan temperatur lingkungannya)

Jawab :

Memasak perlu waktu 3 jam hingga suhu pada t=0 adalah T=90. Model pendinginan Newton sesuai dengan petunjuk adalah

\frac{dT}{dt}=k(T-T_1)

dengan T_1 adalah suhu ruangan. Dengan menggunakan metode separasi, solusi dari persamaan diferensial di atas adalah

T(t)=T_1+T_0e^{kt}, dengan T_0=90 persamaan ini menjadi

T(t)=25 +90e^{kt}. Sekarang tugas kita adalah mencari besar dari k. Saat t=15, suhu hidangan menjadi 80 C.

80 = 25 +90e^{15k} diperoleh k = \frac{\ln (55/90)}{15}. Sehingga bentuk lengkap dari persamaan adalah

$latex T(t)=25 +90e^{\ln(55/90)t/15}$. Kita tingga mencari berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 50 C

50 = 25 +90e^{\ln (55/90)t/15} diperoleh t = \frac{15\ln(25)-15\ln(90)}{\ln(55)-\ln(90)} karena disini saya boleh menggunakan kalkulator, hasilnya adalah sekitar 39 menit. Sehingga Ami harus mulai memasak pada pukul 7 yang dikurangi oleh (3 jam + $latex \frac{15\ln(25)-15\ln(90)}{\ln(55)-\ln(90)}$ menit). Atau sekitar pukul 3.21