Film Life of Pi, Eksistensi Tuhan dan Kepercayaan

Life of Pi
Life of Pi

Kira – kira seminggu setelah saya menyelesaikan buku Life of Pi, baru hari ini saya menonton filmnya di bioskop. Mengenai ceritanya seperti apa, mungkin pembaca bisa membaca post saya sebelumnya tentang buku ini disini. Kini saya ingin bercerita mengenai apa yang saya harapkan dari apa yang ada di buku yang bisa dituangkan dalam bentuk film dan kesimpulan apa yang dapat saya ambil dari semua cerita Life of Pi ini.

Ketika mendengar buku ini akan difilmkan, saya mengharapkan beberapa cerita dimasukkan ke dalam film ini antara lain kisah Pi yang menganut tiga agama yaitu Hindu, Kristen, dan Islam; perdebatan antara pandita (pemuka agama Hindu), Imam Masjid, dan Pendeta ketika mereka dipertemukan oleh Pi; dan suasana ‘pulau karnivora’ yang sebenarnya saya tidak terbayang bagaimana visualisasinya ketika membaca bukunya. Cerita yang pertama dan ketiga masuk ke dalam film ini dan digambarkan dengan apik. Sedangkan yang kedua tidak, tentu ini sedikit mengecewakan karena saya ingin tahu cara Ang Lee menyajikan perdebatan seru yang cenderung memojokkan ajaran agama satu sama lain yang dilakukan oleh pemuka ketiga agama ini dan mengambil sebuah pelajaran bahwa Tuhan bukanlah monopoli dari salah satu agama tersebut. Ketiga pemuka agama ini harus belajar dari Pi, bahwa kecintaan kepada Tuhan itulah yang penting, hal ini tercermin dari alasan Pi mengapa harus menganut tiga agama tersebut, yaitu ingin mengasihi Tuhan.

Terakhir adalah suatu kesimpulan. Di bagian buku ini dituliskan bahwa cerita ini akan membuat kita percaya kepada Tuhan. Pada awalnya saya berpikir apakah membuat kita percaya kepada Tuhan itu melalui mukjizat seperti Pi yang mampu bertahan hidup terombang-ambing di tengah samudera Pasifik bersama harimau Royal Bengal bernama Richard Parker? Menurut saya tidak. Kisah Pi di tengah lautan menurut saya hanyalah suatu metode. Metode yang dibuat oleh Yann Martel.

Hal ini saya simpulkan setelah di bagian akhir film ini, Pi menceritakan dua versi cerita yang berbeda mengenai bagaimana ia bertahan hidup di lautan setelah kapal Tsimtsum tenggelam. Ia mengasosiakan bahwa dirinya adalah Richard Parker, ibunya adalah Orang Utan bernama Orange Juice, koki adalah hyena, dan zebra adalah pelaut. Lalu Pi mempersilahkan kepada pendengarnya, cerita mana yang ingin kau percayai?

Saya mencoba menghubungkan beberapa poin besar dari cerita ini yaitu Pi yang menganut tiga agama, dan dibagian akhir Pi membuat alternatif cerita yang mempunyai inti yang sama yaitu kapal Tsimtsum tenggelam, ia menderita selama di lautan, dan ia selamat dengan terdampar di pantai Meksiko. Lalu saya mengasosiasikan versi cerita dengan ajaran agama. Setiap agama mempunyai ceritanya tersendiri, dan ceritanya jelas berbeda-beda. Dari cerita yang berbeda-beda inilah akhirnya keputusan kembali kepada diri kita, ‘cerita’ mana yang ingin kita percayai? Pi juga mengatakan bahwa kedua versi cerita tersebut sama-sama sulit dibuktikan secara logis, sehingga kembali kepada diri kita, cerita mana yang ingin kita percayai? setelah cerita itu kita percayai, maka cerita itu adalah milik kita.

Selain cerita ini, terdapat sebuah pulau karnivora yang merupakan pulau yang aneh dengan banyak meerkat dan misterius. Ada juga potongan adegan yang menunjukkan pulau ini berbentuk Wisnu yang sedang tidur. Menurut teman saya ketika berdiskusi dengan saya, pulau karnivora ini adalah perlambang Tuhan. Apa yang Ia beri, akan Ia ambil kembali.

Dari sekian banyak cerita tersebut, mempunyai inti yang sama. Jika Pi mengatakan bahwa inti dari ceritanya adalah kapal tenggelam, ia menderita di lautan, dan akhirnya ia selamat. Maka definisikanlah masing-masing, apa inti dari berbagai agama yang ada di muka bumi. Ambillah pelajaran dari sana. Itulah jalan yang membuat kita mencintai Tuhan itu sendiri.

Diakhir film, sang penulis tentu ragu, cerita mana yang ingin ia percayai. Keraguan bukanlah suatu kelemahan iman dan bahan cemoohan. Justru dengan ragu itulah yang membuat kita yakin akan cerita apa yang ingin kita percayai. Ragu dalam konteks ini adalah kita telah berpikir tentang cerita mana yang ingin kita percayai, walau semuanya tidak mampu kita raih dengan rasionalitas. Dari sini saya dapat belajar bahwa keraguan itulah yang membuat kepercayaan kita atas suatu cerita semakin bertambah kuat nantinya.

Jadi inilah yang kesimpulan saya menanggapi statement ‘cerita ini akan membuat anda percaya adanya Tuhan’, bukan dari kisah bertahan hidup Pi bersama Richard Parker sampai selamat. Karena kalau hanya kisah bertahan hidup saja yang dijadikan alasan adanya Tuhan, tentu cerita ini tidak menarik. Kita cukup hanya tahu bahwa ada seorang remaja berhasil selamat terombang-ambing di samudera Pasifik bersama harimau Royal Bengal, tentu ini semua atas campur tangan Tuhan. Kalau hanya begini saja, ngapain saya membaca buku ini. Cukup tau itu saja toh?

Setidaknya ini yang ada di kepala saya sebelum keluar dari bioskop, bagaimana dengan kalian?

4 pemikiran pada “Film Life of Pi, Eksistensi Tuhan dan Kepercayaan

  1. 1.Untuk versi filmya, Pi pertama-tama mengucapkan terimakasih pada ayahnya yg mengajarkan utk lebih menggunakan logika dan bukan fantasi ( dg contoh memberi umpan pada Richard Parker).
    2. Cerita versi ke 1 adalah cerita yg dibuat Pi sebagai pengalihan dari kenyataan hidup yg amat pahit. Richard parker adalah wujud sifat liar dan buas yg ada dlm diri setiap manusia (terutama dlm keadaan spt yg dialami Pi). Dalam ajaran spiritual, makin seseorang menolak suatu hal, maka sebenarnya dia memberi lebih banyak energi pd hal yg dia tolak itu. Sama halnya dg Pi thd sisi kebinatangannya itu. Pertama-tama dia mau menolak, membunuh dan mengendalikan Richard Parker, tapi akhirnya ketika dia bisa menerima dan menyayanginya, itu artinya dia sudah berdamai dg dirinya sendiri dan sifat kebinatangannya hilang sendiri tanpa pamit. Mengapa Pi merasa sedih ketika hal itu terjadi, baiknya kita ingat ungkapan Kahlil Gibran dalam the Prophet bahwa ketika seseorang hendak berpisah dg hari2 penuh derita yg sdh terlalu lama dijalani toh juga terasa berat dan membuatnya berduka.(Dlm hal Pi, berpisah dg sifat2 buasnya).

  2. Pemikiran ku lebih sederhana sih, dengan dia menceritakan versi yang ada manusianya, itu lebih masuk akal,.. dan lebih diterima sama orang banyak, padahal itu cerita yg bohong. Sedangkan yg ada harimaunya sepertinya gak masuk akal,.. masak iya, dia bisa bertahan hidup di lautan satu sekoci sama harimau dan dia gak dimakan sama si harimau,.. Tapi itu cerita sesungguhnya, yang jujur dan benar terjadi. Begitu juga Tuhan,.. sepertinya sulit di bayangkan dan hampir-hampir gak masuk akal, tapi memang Tuhan itu nyata dan kita mesti percaya. Korelasi nya (kalau menurutku) dengan kita percaya sama cerita yg ada harimau nya yg gak masuk akal itu, begitu lah kita mestinya percaya sama Tuhan,. IMO 🙂

  3. Menurut saya yg dimaksud sang pengarang bahwa cerita ini akan membuat orang percaya pada Tuhan, bukan berarti menerima hal yg tidak masuk akal. Pi dari awal sudah percaya pada Tuhan (lewat doa, ritual dan keyakinan mentah), tapi apa yg terjadi dg hidupnya? Pi menemukan Tuhan lewat pengalaman hidup yg dahsyat, menyedihkan dan akhirnya kepasrahan utk menerima bahwa Tuhan tdk dapat kita mengerti….So goes it with god.

  4. ane udah nnton pelemnya,,tpi jujur,,,korelasinya bnyk yg bikin bingung,,,,msih btuh pmikiran yg dalm buat paham ni cerita,,ni pnlisnya psti punya mksd tersndiri dalam pelem ni,,,klo kata saya crita yg kdua yg sbnernya terjdi,,tpi pi ngebungkusnya dalam crta pertama agar qt lebih percya pada tuhan(krna crta prtama yg lyak dijdikan acuan adanya tuhan,sedangkn yg k2 memang rill tpi tdak lgi mambuktikan nilai keagamaan),buktinya pada ending crita waktu pi nyeritain kisanya yg k2 pke acara nangis dengan 2 orang jepang entu,,
    ane bru ngerti dikit stlah nnton yg k2x nya,nnton yg k2 krakter pi nya pas dilautan diilangin d dari pkiran,,,cma ada hrimau bengal itu doang,,
    😀

    tpi kyknya ane msih ragu satu hal,,
    diending pelem ada percakapan kyk gini
    a:cerita mana yg lbih kamu suka?
    b:yang ada harimaunya,,,karna itu lebih baik…
    a:bgitu juga halnya dengan tuhan.

    bner gak analisa ane ya gan,,klo crita yg pertama lbih identik ke”kepercayaan trhdap tuhan”?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s