Lauh Mahfuz : Perjalanan Menembus Langit Ketujuh

Lauh Mahfuzh

 

Ketika keyakinan membelenggu, tanpa sadar memandang agama sebagai tiran, manusia sering lupa, bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang tak akan memenjarakan Ciptaan-Nya dengan jeruji keyakinan dan sekat agama.

Kebebasan adalah esensi kehidupan insan merdeka yang memacu mengembangkan akalnya menggapai masa depan, meraih kemenangan. Sementara, perasaan romantis adalah sebuah realitas kepekaan jiwa, yang membuahkan kerinduan akan kemurnian dan kesalehan hidup masa silam, yang membawa kebahagiaan.

Haruskah dua orientasi dan pandangan ini dijadikan pertentangan, ataukah dapat disikapi dan dihadapi sebagai suatu keniscayaan? Dapatkah sekelompok orang mengklaim surga hanya miliknya dan tidak menyisakan bagi kelompok kepercayan lain?

Tiga paragraf diatas adalah potongan tulisan dari belakang cover buku ini. Buku yang berjudul Lauh Mahfuzh ditulis oleh Nugroho Suksmanto. Jujur saya baru mendengar nama beliau, namun 3 paragraf diatas yang membuat saya tidak perlu menimbang-nimbang lagi untuk membeli dan membaca buku setebal 500 halaman ini. Ekspektasi saya tentang cerita yang indah dari keragaman keyakinan yang ada ternyata cukup terpenuhi oleh buku ini. Buku ini bercerita tentang seorang Panji, yang ingin mengubah catatan suatu kitab yang berisi takdir yang telah dituliskan oleh Allah SWT, yaitu Lauh Mahfuzh yang terletak di langit lapis tujuh. Adalah suatu cerita dengan fantasi yang  ‘menantang’ karena yang saya tahu kitab Lauh Mahfuzh ini hanya bisa ditulis dan diubah isinya oleh Allah sendiri. Bagaimanakah cara Panji merubah catatan isi kitab tersebut?

Awal dari buku ini bercerita latar belakang Panji, dan kembar bersaudara Menuk dan Menik di suatu pedesaan. Kisah ini dimulai ketika terjadi gejolak besar yang pernah ada di negeri ini yaitu peristiwa 30 September yang konon katanya di dalangi oleh PKI. Amarah warga pun tak ayal membuat mereka beringas, menyeret satu per satu orang yang dicurigai terlibat oleh partai komunis itu termasuk ibu dari kembar bersaudara Menuk dan Menik. Dan terjadilah peristiwa pembakaran rumah seorang warga, Menuk meninggal terbakar didalamnya. Menik yang kehilangan rumah ingin menghindar dari kampungnya, namun ketika di perjalanan, bus yang ditumpanginya berhenti mendadak karena ada sebuah sedan yang menabrak. Kepalanya terantuk sehingga ia kehilangan ingatan.

Kejadian menarik lainnya adalah ketika Menik waktu itu mencoba masuk ke dalam sebuah Gereja. Dalam keadaan yang lupa siapa dirinya, ia melihat ada suatu ketenangan didalamnya dan mencoba untuk berdoa kepada Tuhan. Kisah ini menarik karena memperlihatkan suatu hamba yang sebelumnya tidak pernah berdoa kepada Tuhan, kini belajar dari awal bagaimana cara meraih Tuhan. Pada akhirnya Menik berubah namanya menjadi Maria Secunda, kini ia beragama katolik.

Pada suatu ketika Panji telah mampu berkunjung ke alam barzakh tanpa perlu ia meninggal dunia. Disanalah ia bertemu dengan Menuk. Selain itu ia belajar agama di padepokan As-Salaf yang dipimpin oleh Syekh Abu Salaf Al – Rasyidin, seorang yang bersih dan suci jiwanya. Pembelajaran agama ini dimulai dari hal yang sangat mendasar yang mungkin sebagian besar dari kita yang beragama Islam kita terima begitu saja karena orang tua kita menganut agama Islam. Secara garis besar, pak Nugroho Suksmanto, sang penulis melalui tokoh Syekh Abu Salaf telah memberi ingatan segar tentang enam rukun Iman dan lima rukun Islam dengan penjelasan yang baik sekali. Penjelasan mengenai Allah membuat saya terkesima. Panji bertanya dengan lugunya “Apa itu Allah?” lalu Syekh Abu Salaf menjawab dengan penjelasan yang sangat baik. Selain itu saya pernah menuliskan sebelumnya tentang arti sholat menurut Syekh Abu Salaf di blog ini. Penjelasan yang sangat indah, andaikan semua guru agama di Indonesia mengajarkannya seperti ini, bukan hanya menakuti muridnya jika meninggalkan sholat, maka kau akan masuk neraka atau dijanjikan surga bagi yang mendirikan sholat. Itu baru sholat, masih banyak penjelasan lainnya mengenai enam rukun Iman dan lima rukun Islam dijelaskan secara apik di dalam buku ini melalui tokoh Syekh Abu Salaf.

Selain Syekh Abu Salaf, juga ada Syekh Ibnu Khalaf yang masih ada di dunia. Berbeda dengan Syekh Abu Salaf yang sudah berada di alam barzakh. Syekh Ibnu Khalaf lah yang memberi pengetahuan kepada Panji tentang Lauh Mahfuzh. Lauh Mahfuzh, adalah kitab yang berisi catatan takdir apa yang terjadi dari pertama kali diciptakan hingga akhir dari alam semesta. Buku ini menjelaskan konsep Lauh Mahfuz dengan apik, baik dengan cerita dari keyakinan lain tentang catatan serupa, maupun dengan dalil yang ada di ayat-ayat Quran. Selain itu Syekh Ibnu Khalaf lah yang juga memberi pengetahuan kepada panji tentang hari kiamat, Qada dan Qadar, zakat, iman kepada Malaikat, Nabi, dan Kitab Suci. Penjelasannya mampu memberi saya pencerahan dan penyegaran kembali. Sekaligus menjadi pintu gerbang untuk lebih mencari tahu penjelasan tentang berbagai hal tersebut.

Perjalanan Panji menembus langit ketujuh tidaklah mudah. Ia harus melalui lapis demi lapis langit yang sudah terdapat masalahnya tersendiri disana. Dengan panduan Syekh Abu Salaf dan Pak Ranusiwid, Panji mampu menjalani berbagai ujian yang ada di setiap lapis langitnya. Hingga pada akhirnya Panji mampu mengakses Kitab Lauh Mahfuzh. Diceritakan bahwa kitab tersebut tak ubahnya seperti komputer yang kita gunakan sehari-hari. Fantasi pak Nugroho Suksmanto tentang kitab ini patut diacungi jempol. Panji berusaha merubah takdir yang sudah tertulis disana, yaitu Indonesia bakalan dilanda oleh dua buah bencana alam yang sangat dahsyat. Panji ingin merubah takdir tersebut. Sayangnya Panji tidak dapat merubah sepenuhnya takdir yang telah ada.

Di bagian akhir buku ini menceritakan tentang perkawinan Panji dengan Maria Secunda (yang dulunya bernama Menik). Diceritakan juga bagaimana Panji menghadapi masalah perkawinan beda agama. Pada akhirnya mereka menikah dengan prosesi Katolik dan Islam. Namun ada hal yang tidak diketahui oleh hadirin yang hadir baik di Gereja tempat mereka melaksanakan sakramen maupun Masjid tempat mereka melaksanakan ijab kabul. Akan panjang post ini jika saya menceritakan secara lengkap apa yang terjadi di dua tempat ibadah tersebut :p.

Terakhir cerita saya tentang buku ini. Buku ini membuat saya aware tentang konsep salafi – khalafi dan perdebatan panjang yang sering terjadi dalam dua ‘aliran’ tersebut. Mungkin tidak hanya perdebatan, melainkan bersitegang dan konflik yang terjadi antara salafi dan khalafi. Tentang apa itu salafi dan khalafi, mungkin pembaca bisa mencarinya di internet :p. Terima kasih untuk bapak Nugroho Suksmanto yang telah membuat buku indah ini, semoga bapak selalu dilimpahkan kesehatan oleh Allah SWT, amin.

Judul Buku : Lauh Mahfuzh
Penulis : Nugroho Suksmanto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, 2012
Tebal : 500 halaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s