Do you hear the people sing?

mis-barricade_2426810k

 

Do you hear the people sing?
Lost in te valley of the night
It is the music of a people who are climbing to the light
For the wretched of the earth there is a flame that never dies
Even the darkest night will end and the sun will rise.

They will live again in freedom in the garden of the Lord
They will walk behind the ploughshed, the will put away the sword.

The chain will be broken and all men will have their reward!

Will you join in our crusade?

Who will be strong and stand with me?
Somewhere beyond the baricade is there a world you long to see?

Do you hear the people sing?

Say do you hear the distant drums
It is the future that they bring when tomorrow comes

Will you join in our crusade?

Who will be strong and stand with me?
Somewhere beyond the baricade is there a world you long to see?

Do you hear the people sing? Say do you hear the distant drums?
It is the future that they bring when tomorrow comes!

Tomorrow comes!!!

Epilouge – Les Miserables

Iklan

ITB dan Kalimantan Tengah

Ada hal yang menarik ketika saya melihat dokumen data dan informasi ITB tahun 2012, terutama di bagian penerimaan mahasiswa baru menurut daerah asal SMU tahun 2011. Dokumen ini mengatakan bahwa tidak ada mahasiswa ITB angkatan 2011 yang berasal dari SMA di provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini tentu menarik minat saya karena pernah bersekolah di Kalimantan Tengah pada tingkat SMP, namun pada saat SMA saya pindah ke DKI Jakarta lalu dapat kuliah di ITB.

Mengapa hal ini terjadi? mengapa tidak ada angkatan 2011 yang berasal dari SMA Kalimantan Tengah tidak ada di ITB? Bahkan selama 4.5 tahun saya berkuliah di kampus ini, saya belum pernah bertemu mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Tengah. Yang ada hanyalah Kalimantan Timur (mayoritas dari Balikpapan dan Bontang), juga Kalimantan Selatan (yang saya kenal berasal dari Banjarmasin dan Kota Baru). Mengapa?

Image
Tidak ada mahasiswa yang berasal dari SMA di Kalimantan Tengah!

Mengapa? inilah yang menarik. Saya yakin secara akademik, siswa-siswa yang berasal dari Kalimantan Tengah mampu bersaing. Tidak serta merta bodoh lalu tidak ada yang diterima di ITB. Itu yang saya lihat di angkatan saya melalui teman-teman saya yang kini ada di setiap penjuru universitas negeri yang ada di pulau Jawa walaupun jumlahnya tidak banyak. Alumnus SMP Negeri 1 Sampit, terutama angkatan saya ada yang berkuliah di UI, UGM, UNDIP, UNAIR, UNIBRAW, lalu saya sendiri di ITB. Ini bukan masalah akademik atau keenceran otak, melainkan kekurangan akses informasi.

Jika melihat secara umum dari yang saya kenal, mungkin ini tidak merepresentasikan keseluruhan. Teman-teman dari Kalimantan Tengah banyak sekali yang berkuliah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Untuk dua tempat yang pertama kali saya sebut ini, disana bukan banyak lagi, melainkan eksodus! Mereka berkuliah di berbagai kampus yang tersebar di penjuru Yogyakarta. Mengenai mengapa memilih kota itu saya kurang tahu. Mungkin juga faktor “pendahulu” sangat berpengaruh. Yang saya maksud adalah mereka cenderung mengikuti kakak kelasnya yang sudah pernah kuliah di suatu kota. Entah siapa yang memulai kuliah disana hehe tapi itulah yang saya amati.

Jika ditinjau dari faktor transportasi, kita ambil saja dua kota terbesar yang ada di Kalimantan Tengah yaitu Sampit dan Palangkaraya. Kota Sampit sejauh yang saya ketahui hingga saat ini masih ada pelabuhan laut dan pesawat udara. Pelabuhan laut mayoritas mempunyai destinasi Tanjung Mas Semarang dan Tanjung Perak Surabaya. Sedangkan untuk pesawat terbang kini sudah ada tujuan Jakarta, Semarang dan Surabaya walaupun jumlahnya tidak sebanyak dari Banjarmasin. Sedangkan Palangkaraya hanya ada akses pesawat udara jika ingin langsung ke pulau Jawa, jumlah penerbangan pun lebih banyak ketimbang Sampit.

Dengan keadaan akses transportasi demikian, seharusnya kita sering menemukan mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Tengah di belahan barat pulau Jawa seperti Jakarta dan Bandung dan mungkin ITB. Saya juga belum survei apakah ada mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Tengah di kampus-kampus selain ITB di Bandung. Berbeda saat saya ke Yogyakarta, saya dapat dengan mudah menemukan sepeda motor berplat KH ketimbang di Bandung :). Sampai saat itu saya pernah bertaruh dengan teman saya, silahkan cari sepeda motor berplat KH selain sepeda motor milik saya di seluruh parkiran ITB! haha.

Jika memang faktor “pendahulu” itu sangat berpengaruh sekali, saya mengharapkan adanya pendobrak tradisi yang menjadikan pulau Jawa bagian barat tidak begitu asing bagi mereka. Semakin mereka menyebar, semakin bagus. Semakin banyak ilmu dan semakin banyak kebudayaan lain yang bisa mereka kenal. Ingin sekali saya datang kesana untuk mempromosikan kampus saya, atau minimal mereka tahu kalau di Jawa Barat itu ada kampus yang namanya ITB. Namun apa daya, saya pergi kesana hanya setiap lebaran saja, itupun jika orang tua saya masih tinggal disana ūüė¶

Setidaknya inilah cara agar adik-adik SMA di Kalimantan Tengah tahu informasi lebih lanjut mengenai ITB. Hal ini sudah dilakukan adik kelas saya di SMP Negeri 1 Sampit, yaitu Noviaji Joko¬†yang aktif mempromosikan Universitas Indonesia ke SMA nya yaitu SMA Negeri 1 Sampit. Jika saya melakukan apa yang seperti dia lakukan, maka saya harus meningkatkan skill SKSD ke komunitas SMA di Kalimantan Tengah karena saya bukan alumni SMA sana ūüėź

Standar Ganda yang Terjadi Ketika Semua Bencana Adalah Azab Dari Tuhan

Sebenarnya sudah sejak tahun 2005 (Badai Katrina di US) saya sudah terpikir hal demikian. Melihat para orang-orang yang menganggap bencana itu ada atau menimpa suatu daerah karena kelakuan penghuninya. Sering terjadi standar ganda disini. Standar ganda berupa siapa yang mengatakan dan siapa yang menjadi korban dalam bencana alam tersebut.

Saya yakin, setiap bencana alam, ilmuwan sudah membuat sendiri teori-teorinya. Karena pendekatannya empiris, bencana semakin tersingkap ‘kerahasiaan’nya. Bagaimana bisa terjadi, mengapa harus terjadi di suatu lokasi, apa yang harus kita lakukan agar dapat meminimalkan korban baik materi bahkan jiwa. Karena pendekatannya empiris, semua orang dapat mengerti asal muasal dari suatu bencana. Contohnya saja seperti gempa bumi. Gempa bumi terjadi bisa karena sebab vulkanik maupun tektonik. Gempa Aceh tahun 2004 yang sampai menyebabkan tsunami pun ilmuwan sudah mempelajarinya walaupun belum ada ilmuwan yang dapat memprediksi baik waktu dan tempat dimana akan terjadi gempa bumi selanjutnya. Tetapi setidaknya, alasan terjadi gempa bumi dan mengapa terjadi disana dapat dipelajari. Paper-paper yang mempelajari hal tersebut juga banyak.

Namun apa yang terjadi? masih ada saja orang yang berpendapat bahwa setiap bencana terjadi disuatu wilayah, hal itu terjadi karena terkait moral atau keadaan penduduknya. Bahkan tidak sedikit yang mengkaitkannya dengan kehidupan beragama. Namun sering juga terjadi standar ganda disini. Jika terjadi badai Katrina di US, karena mereka benci dengan Amerika dan antek-anteknya, disebutlah itu sebagai azab dari Tuhan. Berbeda halnya ketika Aceh dilanda tsunami. Karena Aceh adalah provinsi yang kental nuansa Islam dan sudah menerapkan peraturan yang berbasiskan syariat Islam, disebutlah bencana tersebut suatu cobaan. Standar ganda

Image
jangan sampai kita berpikir dangkal seperti ini

Mulai saat ini saya sudah ‘tutup kuping’ tentang omongan-omongan seperti contoh diatas. Tiada gunanya membedakan suatu bencana sebagai azab atau cobaan. Kata ‘azab’ lazim digunakan untuk bencana yang menimpa orang-orang yang dianggap tidak mengamalkan ajaran agama. Mungkin orang-orang ini terbawa berbagai kisah ayat Quran misalnya kaum nabi Luth yang ditimpakan bencana maha dahsyat karena homoseksual, atau kaum Nabi Nuh karena tidak mau mengikuti ajaran-ajarannya sehingga ditimpakan banjir. Alih-alih mengambil pelajaran agar kita selalu bertakwa kepada Tuhan, malah kita ‘meniru’ Tuhan dengan menyamakan semua bencana yang terjadi karena kita berbuat seperti kaumnya Nabi Luth maupun Nabi Nuh. Apapun bencananya, kita nggap seperti azab.

Tadi pagi saya menyimak tweet dari ustad Yusuf Mansyur. Saya setuju dengan sikap beliau tentang bagimana cara menyikapi bencana lalu menghubungkannya dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Yaitu dengan cara agar kita berdoa, dekat dengan-Nya, berdoa agar yang ditimpa musibah diberi kesabaran, berdoa agar yang ditimpa musibah dapat menjadi orang yang ingat bahwa manusia itu hal yang kecil jika dibanding alam tempat tinggalnya, berdoa agar yang ditimpa musibah menjadi orang yang lebih baik lagi setelah bencana ini berakhir. Inilah sikap yang sesungguhnya sangat baik.

Menganggap semua bencana alam adalah azab dari Tuhan juga dapat mengkerdilkan Tuhan itu sendiri. Selain menganggap Tuhan seperti tukang pemberi bencana, apa yang terjadi jika ternyata di masa depan manusia dapat mencegah bencana alam tersebut? Atau selain mencegah, apa yang terjadi jika ternyata manusia sudah dapat meminimalisir dampak akibat bencana? Lalu akan dibawa kemana lagi posisi Tuhan? kalah kah dengan manusia karena kita mampu menghindari bencana? silahkan anda pikirkan sendiri

Sebagai renungan bahwa bencana alam yang terjadi hampir tidak ada sangkut pautnya dengan kondisi masyarakat yang terkena bencana alam adalah bandingkan dua tsunami yang terjadi di dua wilayah yaitu Aceh (2004) dan Jepang (2011). Tanpa mengurangi rasa hormat dan ikut berduka cita dengan keluarga korban. Kalau mau bandingkan secara apple to apple kondisi masyarakat Aceh dan Jepang yang sama-sama ditimpa Tsunami. Apakah kita tetap menganggap tsunami di Aceh itu cobaan karena daerah tersebut sudah menerapkan syariat Islam, lalu tsunami di Jepang adalah azab karena yah anggap saja Jepang salah satu negara produsen film porno terbesar di dunia? Tapi lihatlah jumlah korban jiwa yang terjadi. Ternyata Jepang lebih mampu mencegah banyaknya korban jiwa ketimbang Indonesia di Aceh dan rekonstruksi disana terjadi lebih cepat daripada di Aceh. Saya mohon maaf apabila paragraf ini menyinggung pembaca. Tapi inilah fakta yang terjadi di lapangan.

Sekarang Jakarta masih dilanda banjir. Bahkan dibeberapa tempat, ketinggian air lebih dari 2 meter. Semoga kita berhenti untuk selamanya mengkategorikan berbagai bencana alam entah sebagai azab atau cobaan. Biarlah itu urusan Tuhan, kita hanya mampu berikhtiar bagaimana mencegah bencana tersebut, atau minimal mengurangi dampak korban jiwa.

Risalah Sarjana, oleh Sartika Dian Nuraini

berikut adalah tulisan berjudul Risalah Sarjana, karya Sartika Dian Nuraini yang dimuat oleh harian Kompas, 16 Januari 2013

———-

Sarjana adalah potret terang di depan kamera. Ia menyungging senyum semringah, memakai toga dan baju kebesaran, dengan latar belakang lukisan buku-buku berjilid klasik yang sangat jarang ada di Indonesia, ditambahi kehangatan senyum anggota keluarga. Foto itu kelak adalah tanda sejarah yang meneguhkan keberadaan hingga prestise seseorang, bahkan seluruh keluarganya. Klik!

Kesarjanaan adalah perayaan kerumunan dan keramaian, pengeras suara, acara makan bersama, dan doa. Dalam proses pengesahan seorang sarjana dalam wisuda. Kegirangan dan keceriaan dengan mengabsenkan keheningan dan kekhusyukan. Perayaan kesarjanaan bukan perayaan literasi.

Kata-kata tidak lagi menjadi pengesahan kesarjanaan sebagai bentuk sumbangan pemikiran bagi peradaban. Setiap tahun, ribuan orang boleh saja ditahbiskan menjadi sarjana, tetapi sungguh sangat sedikit yang akan meninggalkan kata-kata yang berharga hasil permenungan, pengendapan dalam pikiran, dan kegelisahan intelektualitas kesarjanaan. Tak ada tagihan moral dan akademis tentang keilmuan, intelektualitas, kecendekiaan, serta kemanusiaan yang bersifat sosial, politik, pendidikan, dan budaya.

Manusia ekonomistik

Sebagai gantinya, menjadi sarjana adalah menjadi manusia ekonomistik. Sarjana adalah manusia pencari dan pencetak uang bagi keluarga, masyarakat, dan negara. Maka, pengesahan dilakukan dengan mencari kerja. Pengukuhan seseorang menjadi sarjana disempurnakan dengan menjadi pekerja. Kutukan seorang sarjana jika dirinya menganggur. Orangtua, lembaga pendidikan, masyarakat, dan negara akan menagih seorang sarjana untuk cepat-cepat menjadi manusia pencari kerja. Maka, para sarjana bergerak dan berjejal menjadi manusia pelamar kerja dalam bursa kerja.

Dalam kerumunan di bursa kerja ini, tak perlu lagi membedakan latar belakang studi sastra, teknik, politik, sejarah, dan lain-lain. Tak penting ilmu yang mereka pelajari di kampus selama beberapa tahun, toh perusahaan juga sadar bahwa sarjana itu harus dididik lagi agar sesuai dengan dunia kerja.

Di Indonesia, menjadi sarjana adalah menjadi manusia kota dan menjadi manusia kantoran. Dalam imajinasi mereka, sarjana adalah manusia tanpa keringat, manusia yang enggan melipatkan lengan baju ke atas, manusia yang enggan menyentuh tanah.

Biografi sarjana Indonesia mengesankan bahwa menjadi sarjana adalah manusia yang enggan pulang membangun tempat asalnya. Soedjatmoko (1972) pernah mengatakan, ‚ÄĚLulusan universitas-universitas di Indonesia makin lama makin berorientasi pada kota-kota. Harapan mereka tentang karier, tingkat hidup, serta gaya hidup seolah-olah terikat pada kota. Padahal, sudah menjadi terang bahwa sebagian kemampuan kita harus kita memanfaatkan tidak hanya untuk memperluas sektor modern, tetapi juga untuk menggairahkan kembali dan memperkuat kehidupan di desa-desa.‚ÄĚ

Masuk perguruan tinggi adalah jalan meninggalkan desa-desa dengan menjadi manusia kantor mewarisi rasa elite-birokrat yang priayi.

Namun, saat bekerja, sebagian besar makna kerja perlahan mulai menghilangkan rasa kemanusiaan, keilmuan, religiusitas. Semua hal yang sakral dan vital itu akan terpinggirkan oleh pamrih uang dan gengsi sosial. Kerja yang merakyat dianggap merendahkan. Mereka alpa makna bekerja.

Kehilangan martabat

Makna pendidikan dalam bekerja terasa kabur dan dangkal. Latar belakang dan jenjang pendidikan di Indonesia sepertinya sudah tidak memartabatkan.

Kita telah kehilangan figur sarjana dalam arti keilmuan dan pengabdian sebagai laku kesarjanaan. Suluh dan risalah pemartabatan manusia menguap dalam mentalitas dan etos kesarjanaan yang kian memudar dan buram. Sarjana kini adalah hamba ekonomi dan bisa melakukan apa pun untuk memenuhinya, menjual martabat ilmu, menggadaikan kemanusiaan, dan mengubur etos belajar.

Saya teringat sajak Agus R Sarjono berjudul Sajak Palsu yang ditulis tahun 1998: ‚ÄĚMasa sekolah demi masa sekolah berlalu, mereka pun lahir sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, ahli pertanian palsu, insinyur palsu, sebagian menjadi guru, ilmuwan atau seniman palsu.‚ÄĚ Sarjana semestinya bermartabat!

SARTIKA DIAN NURAINI Penyair, Anggota Bale Sastra Indonesia-Solo

Ketika Pemerintah dan Penegak Hukum “Mager”

Seperti yang kita ketahui, kita sebagai rakyat biasa mayoritas tidak tahu peraturan yang sedang berlaku kalau kita berbuat sesuatu. Entah tidak tahu ataupun tidak mau tahu. Misalkan apa yang kita perbuat ternyata salah di mata hukum karena sudah ada undang-undang atau peraturan lainnya dalam bentuk tertulis, karena kita tidak tahu peraturan tersebut, kita terus melaksanakan hal itu tanpa adanya rasa bersalah, malah sudah menganggap melakukan perbuatan yang benar tanpa tiada salah. Benar kata suatu pepatah, kesalahan yang dilakukan berulang-ulang lama-lama akan menjadi sebuah kebenaran.

Kemudian siapa yang salah? mungkin bisa keduanya, tetapi bisa juga salah satu pihak. Keduanya salah maksudnya adalah kita sebagai rakyat kecil tidak mencari tahu apakah yang kita lakukan itu melanggar hukum atau tidak. Dan pihak lainnya yaitu si Pemerintah dan Penegak Hukum yang “Mager” untuk memberitahu kita bahwa kita melanggar suatu peraturan. Akibatnya apa? seperti pada paragraf sebelumnya. Kedua pihak sama-sama saling acuh tak acuh, kita sebagai rakyat hidup dalam suatu kesalahan yang tersembunyi, atau tinggal menunggu sebuah bola salju berukuran raksasa yang siap menghantam kita kapan saja.

Malah kasus terparah adalah ketika si Pemerintah dan/atau Penegak Hukum membuat kegiatan yang tidak sesuai peraturan tadi menjadi kegiatan yang legal! Entah itu datang dari janji-janji manis si penguasa yang mengatakan “oh anda boleh kok melakukan hal itu” atau berupa peraturan sementara yang posisinya kurang kuat di mata hukum. Dalam keadaan inilah kita semakin dibuat tidur senyenyak mungkin sementara bola salju berukuran besar terus mendekat. Modus lain dari ‘pembenaran kesalahan’ ini adalah si Pemerintah maupun Penegak Hukum melegalkan kegiatan kita dengan cara memberikan sebuah jaminan yang kompensasinya kita harus membayar sejumlah uang ke mereka. Karena merasa sudah membayar, kita merasa mendapatkan hak penuh atas kesalahan yang kita perbuat. Melegalkan hal yang salah melalui beberapa lembar Rupiah. Ironis

Contoh nyata dari kasus diatas adalah fenomena pemukiman liar dan pedagang liar. Saya teringat suatu peristiwa penggusuran suatu wilayah pemukiman karena berdiri diatas tanah suatu perusahaan milik negara. Parahnya pemukiman tersebut sudah berdiri sejak puluhan tahun, bahkan sudah ada RT/RW, instalasi listrik, dan lain-lain. Dari luar tampak seperti pemukiman normal lainnya. Sayangnya si pemilik tanah “mager” ketika zaman dahulu ketika tanah kosong itu mulai berdiri sebuah tempat tinggal, tetapi malah membiarkannya untuk tinggal disana. Seiring waktu, tumbuhlah tempat tinggal lainnya hingga tempat tersebut penuh sesak. Penghuninya pun telah beranak pinak entah berapa generasi. Generasi yang termudalah yang sial. Alih-alih dapat tumbuh besar dengan tenang di ‘tanah kelahiran’nya, tapi harus siap digusur sewaktu-waktu karena ia tidak tahu kalau leluhurnya dulu hanya menumpang di tanah tersebut. Si pemilik tanah, yang secara hukum benar-benar dia yang memiliki tanah mungkin mager karena saat itu ia tak punya rencana tanah itu akan dibangun apa, namun ketika sudah mempunyai rencana, ia harus menghadapi suatu kenyataan bahwa tanah yang ia miliki sudah ditempati orang lain. Terpaksa ia harus membayar biaya ekstra atas kemagerannya yaitu memberikan ganti rugi kepada orang-orang yang tinggal secara ilegal di tanah mereka.

Kasus lain yang sering ditemui adalah pedagang liar. Pedagang liar ini maksudnya adalah pedagang yang berdagang, membuka usahanya di tempat yang seharusnya tidak boleh dibuat berdagang. Mungkin pada waktu tempat itu masih bersih dari pedagang liar, satu per satu pedagang berdatangan, hingga penuh dengan pedagang. Efeknya adalah suatu bola salju raksasa yang bernama penggusuran akibat mager-nya pemerintah melarang mereka berdagang sejak ada satu orang pedagang yang mulai berdagang disana. Mungkin kondisi terparah adalah pedagang sampai diberikan izin usaha, instalasi listrik, bahkan ditarik retribusi yang entah apa gunanya retribusi itu. Kebanyakan mempunyai modus keamanan. Keamanan semu. Bagaimana nasib pedagang yang tidak tahu menahu bahwa tempat ia berdagang memang dilarang untuk berdagang? Tentu saja nasibnya sama dengan pemukiman liar seperti yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya. Bayangkan fasilitas yang dapat membuat mereka merasa legal berdagang disana tadi, bayangkan bagaimana perasaan mereka bahwa mereka dijanjikan dapat berdagang secara nyaman disana oleh oknum-oknum penjahat baik di Pemerintahan maupun dari Penegak Hukum padahal secara hitam diatas putih, mau bagaimanapun fasilitas yang diberikan, entah retribusi, instalasi listrik, izin berusaha, tetap saja pedagang berada dalam posisi yang salah di mata hukum karena memang tempat itu bukan untuk berdagang.

Inilah yang terjadi di negeri ini. Entah siapa yang salah atau yang ‘lebih’ salah dari kasus diatas. Tetapi ada suatu pelajaran yang dapat diambil adalah ternyata kita belum banyak yang melek hukum.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Saya rasa jelas dari poin yang saya paparkan diatas, salah satu solusi yang mungkin adalah kita bertindak sebagai pemerintah yaitu memberi tahu bahwa tempat anda tinggal atau berdagang memang ilegal lalu mencari solusi relokasi yang sesuai. Atau bertindak seperti warga negara yang melek hukum, mencari tahu apakah tempat mereka tinggal atau berdagang ilegal atau tidak. Tentu saja ini hanya mungkin dilakukan sebelum kita tahu bahwa ada bola salju besar yang menghantam kita dari belakang. Inilah sikon yang pas, mulailah berpikir nanti gimana ketimbang gimana nanti  karena gimana nanti itu suatu sikap yang ceroboh dan sembrono meskipun gimana nanti ini baru kejadian entah beberapa tahun atau dekade mendatang. Ingat kalau bola salju raksasa itu sekali menghantam membuat kita hancur lebur, bukan lecet-lecet saja.

Apa Hadiah Untuk Indonesia Yang Berumur 100 Tahun Pada Tahun 2045?

Pada tahun 1995, di ulang tahun yang ke-50, Republik ini diberikan hadiah ulang tahun yang sangat istimewa dari putera-puteri terbaiknya, yaitu pesawat terbang N250 Gatotkoco.

Image
N250 Gatotkoco. source : Wikipedia

Bagi saya yang kelahiran 1980an akhir atau 1990an awal, saya belum mengerti hebatnya pesawat itu apa. Saya tidak tahu arti dari istilah turboprop dan¬†fly by wire, yang saya tahu adalah N250 Gatotkoco adalah pesawat yang dibuat oleh orang Indonesia. Saat itu saya juga belum mengerti apa sih artinya kalau orang Indonesia mampu membuat pesawat? Belum mengerti arti dari istilah¬†kemajuan teknologi. Saya hanya anak kecil yang sering berteriak “pak pilot!! minta duit dong!!!” bersama teman-teman ketika ada pesawat melintas diatas kepala saya. Ya, mungkin itulah yang dilakukan anak-anak seumur saya pada era 1990an ketika melihat pesawat terbang. Tidak tahu apakah tradisi tersebut masih berlangsung saat ini karena saya belum pernah melihat anak-anak kecil berlaku seperti saya kecil dulu.

Di tahun 2013, usia dari Republik Indonesia adalah 68 tahun. Berarti 32 tahun lagi, yaitu pada tahun 2045 Republik Indonesia akan berumur 100 tahun. Dan ingatlah, pada tahun 2045, yang memimpin Republik Indonesia adalah putera-puteri Indonesia kelahiran 1980an dan 1990an yang saat itu berumur 55 hingga 65 tahun. Saya dan teman-teman seangkatan saya lah yang akan memegang nasib dari keberlanjutan republik ini. Entah republik ini jadinya seperti apa nanti pada tahun 2045, itu tergantung dari apa yang diimpikan dan dilakukan oleh angkatan saya sekarang.

Saya mempunyai uneg-uneg, 32 tahun sebelum tahun 1995 yang menjadi peluncuran pertama pesawat N250 Gatotkoco adalah tahun 1963. Saat itu pak Habibie, pencetus ide pesawat N250 masih berkuliah di RWTH Aachen Jerman dan berusia 27 tahun. Saya tidak tahu apakah pada saat itu pak Habibie sudah terpikirkan untuk memberikan kado istimewa ulang tahun republik ini ketika berumur setengah abad. Andaikan beliau sudah memikirkan hal itu, lalu apa yang kita lakukan sekarang? Seorang Habibie yang cerdas dan jenius itu saja, berdasarkan asumsi saya, sudah bercita-cita sejak 32 tahun sebelum pesawat itu benar-benar terwujud. Kini tahun 2013, adalah 32 tahun sebelum republik ini berumur 100 tahun, satu abad. Sudah kita, angkatan 1980an dan 1990an memikirkan hal ini. Kado ulang tahun satu abad apa yang akan kita berikan kepada Republik Indonesia nanti?

Ini memang keinginan kolektif. Tidak bisa terwujud hanya dari saya sendiri yang bahkan masih belum tahu kado ulang tahun apa yang ingin saya berikan nanti. Tapi jika setiap dari pemuda-pemudi Indonesia kelahiran 1980an hingga 1990an memikirkan hal ini sekarang, saya yakin nanti pada tahun 2045 kehidupan negara ini akan lebih berwarna. Bayangkan setiap orang akan merencanakan kado terbaiknya yang ingin diberikan ke negara yang berumur satu abad ini. Oleh karena itu mulailah memikirkan cita-cita tersebut. Tidak perlu terprovokasi dengan hadiah yang diberikan Habibie yang berupa pesawat terbang itu. Kita harus berikan sesuatu yang jauh lebih spesial nanti dan rupanya tidak perlu suatu pengembangan teknologi. Memang pada awalnya saya pribadi ikut terprovokasi Habibie, saya terpikir angkatan saya akan membuat pesawat ulang alik yang jauh lebih hebat daripada Discovery atau Atlantis milik NASA. Atau terpikirkan angkatan saya nantilah yang berhasil mengirimkan salah satu putera-puterinya berkoloni planet Mars. Atau angkatan saya nanti yang mempersembahkan hadiah Nobel atau First Medal di bidang Matematika murni. Memang tidak ada yang salah dengan cita-cita itu, dan itu adalah juga kado yang hebat. Tetapi saya lebih suka pada tahun 2045 nanti, angkatan saya sukses memimpin negeri ini dengan baik dan benar. Yang ada di angan-angan saya, pada tahun 2045 Komisi Pemberantasan Korupsi sudah dibubarkan. Dibubarkan bukan karena ada mafia disana, tetapi karena memang tidak ada lagi yang korupsi sehingga lembaga tersebut menjadi tidak berguna lagi.

Oleh karena itu, ayolah teman-teman, 32 tahun lagi, sewaktu Republik Indonesia berumur 100 tahun, kita lah yang memegang kepemimpinan republik ini. Oleh karena itu sejak dari sekarang belajar lah dengan sungguh-sungguh. Asah terus karakter dan nalar kalian. Dan yang terpenting adalah menjadi pribadi yang jujur. Bayangkan jika semua pemuda-pemudi angkatan 1980an dan 1990an menjadi pribadi yang jujur. Pada tahun 2045, kita akan memberikan kado yang paling indah dalam sejarah umat Nusantara, yaitu suatu angkatan atau generasi yang jujur yang dapat memimpin negeri yang kaya raya ini menuju kemakmuran. Dan saya adalah orang yang percaya bahwa karakter diri yang baik, atau kualitas diri yang baik, tentu akan berdampak pada karya yang dihasilkannya nanti. Memang saya tidak terbayang bentuk dari hadiah ulang tahun ke-100 untuk Republik Indonesia ini, tapi hanya itulah yang dapat saya bayangkan, jika dari sekarang kita sudah meninggalkan ketidakjujuran, maka tahun 2045 kita akan tuai hasilnya.

Mungkin statement dari penulis kesukaan saya, Pramoedya Ananta Toer dapat memberikan gambaran betapa generasi tua sangat berharap sekali dengan generasi mudanya :

Angkatan tua saya tidak percaya, seluruhnya. Dan angkatan muda itu mewakili hari depan. Indonesia mau begini begitu terserah angkatan muda, mau hijau, biru, putih silahkan, asalkan lebih baik dari sebelumnya. (Pramoedya Ananta Toer, 23 Agustus 1999)