Ketika Pemerintah dan Penegak Hukum “Mager”

Seperti yang kita ketahui, kita sebagai rakyat biasa mayoritas tidak tahu peraturan yang sedang berlaku kalau kita berbuat sesuatu. Entah tidak tahu ataupun tidak mau tahu. Misalkan apa yang kita perbuat ternyata salah di mata hukum karena sudah ada undang-undang atau peraturan lainnya dalam bentuk tertulis, karena kita tidak tahu peraturan tersebut, kita terus melaksanakan hal itu tanpa adanya rasa bersalah, malah sudah menganggap melakukan perbuatan yang benar tanpa tiada salah. Benar kata suatu pepatah, kesalahan yang dilakukan berulang-ulang lama-lama akan menjadi sebuah kebenaran.

Kemudian siapa yang salah? mungkin bisa keduanya, tetapi bisa juga salah satu pihak. Keduanya salah maksudnya adalah kita sebagai rakyat kecil tidak mencari tahu apakah yang kita lakukan itu melanggar hukum atau tidak. Dan pihak lainnya yaitu si Pemerintah dan Penegak Hukum yang “Mager” untuk memberitahu kita bahwa kita melanggar suatu peraturan. Akibatnya apa? seperti pada paragraf sebelumnya. Kedua pihak sama-sama saling acuh tak acuh, kita sebagai rakyat hidup dalam suatu kesalahan yang tersembunyi, atau tinggal menunggu sebuah bola salju berukuran raksasa yang siap menghantam kita kapan saja.

Malah kasus terparah adalah ketika si Pemerintah dan/atau Penegak Hukum membuat kegiatan yang tidak sesuai peraturan tadi menjadi kegiatan yang legal! Entah itu datang dari janji-janji manis si penguasa yang mengatakan “oh anda boleh kok melakukan hal itu” atau berupa peraturan sementara yang posisinya kurang kuat di mata hukum. Dalam keadaan inilah kita semakin dibuat tidur senyenyak mungkin sementara bola salju berukuran besar terus mendekat. Modus lain dari ‘pembenaran kesalahan’ ini adalah si Pemerintah maupun Penegak Hukum melegalkan kegiatan kita dengan cara memberikan sebuah jaminan yang kompensasinya kita harus membayar sejumlah uang ke mereka. Karena merasa sudah membayar, kita merasa mendapatkan hak penuh atas kesalahan yang kita perbuat. Melegalkan hal yang salah melalui beberapa lembar Rupiah. Ironis

Contoh nyata dari kasus diatas adalah fenomena pemukiman liar dan pedagang liar. Saya teringat suatu peristiwa penggusuran suatu wilayah pemukiman karena berdiri diatas tanah suatu perusahaan milik negara. Parahnya pemukiman tersebut sudah berdiri sejak puluhan tahun, bahkan sudah ada RT/RW, instalasi listrik, dan lain-lain. Dari luar tampak seperti pemukiman normal lainnya. Sayangnya si pemilik tanah “mager” ketika zaman dahulu ketika tanah kosong itu mulai berdiri sebuah tempat tinggal, tetapi malah membiarkannya untuk tinggal disana. Seiring waktu, tumbuhlah tempat tinggal lainnya hingga tempat tersebut penuh sesak. Penghuninya pun telah beranak pinak entah berapa generasi. Generasi yang termudalah yang sial. Alih-alih dapat tumbuh besar dengan tenang di ‘tanah kelahiran’nya, tapi harus siap digusur sewaktu-waktu karena ia tidak tahu kalau leluhurnya dulu hanya menumpang di tanah tersebut. Si pemilik tanah, yang secara hukum benar-benar dia yang memiliki tanah mungkin mager karena saat itu ia tak punya rencana tanah itu akan dibangun apa, namun ketika sudah mempunyai rencana, ia harus menghadapi suatu kenyataan bahwa tanah yang ia miliki sudah ditempati orang lain. Terpaksa ia harus membayar biaya ekstra atas kemagerannya yaitu memberikan ganti rugi kepada orang-orang yang tinggal secara ilegal di tanah mereka.

Kasus lain yang sering ditemui adalah pedagang liar. Pedagang liar ini maksudnya adalah pedagang yang berdagang, membuka usahanya di tempat yang seharusnya tidak boleh dibuat berdagang. Mungkin pada waktu tempat itu masih bersih dari pedagang liar, satu per satu pedagang berdatangan, hingga penuh dengan pedagang. Efeknya adalah suatu bola salju raksasa yang bernama penggusuran akibat mager-nya pemerintah melarang mereka berdagang sejak ada satu orang pedagang yang mulai berdagang disana. Mungkin kondisi terparah adalah pedagang sampai diberikan izin usaha, instalasi listrik, bahkan ditarik retribusi yang entah apa gunanya retribusi itu. Kebanyakan mempunyai modus keamanan. Keamanan semu. Bagaimana nasib pedagang yang tidak tahu menahu bahwa tempat ia berdagang memang dilarang untuk berdagang? Tentu saja nasibnya sama dengan pemukiman liar seperti yang saya ceritakan di paragraf sebelumnya. Bayangkan fasilitas yang dapat membuat mereka merasa legal berdagang disana tadi, bayangkan bagaimana perasaan mereka bahwa mereka dijanjikan dapat berdagang secara nyaman disana oleh oknum-oknum penjahat baik di Pemerintahan maupun dari Penegak Hukum padahal secara hitam diatas putih, mau bagaimanapun fasilitas yang diberikan, entah retribusi, instalasi listrik, izin berusaha, tetap saja pedagang berada dalam posisi yang salah di mata hukum karena memang tempat itu bukan untuk berdagang.

Inilah yang terjadi di negeri ini. Entah siapa yang salah atau yang ‘lebih’ salah dari kasus diatas. Tetapi ada suatu pelajaran yang dapat diambil adalah ternyata kita belum banyak yang melek hukum.

Lalu apa yang dapat kita lakukan? Saya rasa jelas dari poin yang saya paparkan diatas, salah satu solusi yang mungkin adalah kita bertindak sebagai pemerintah yaitu memberi tahu bahwa tempat anda tinggal atau berdagang memang ilegal lalu mencari solusi relokasi yang sesuai. Atau bertindak seperti warga negara yang melek hukum, mencari tahu apakah tempat mereka tinggal atau berdagang ilegal atau tidak. Tentu saja ini hanya mungkin dilakukan sebelum kita tahu bahwa ada bola salju besar yang menghantam kita dari belakang. Inilah sikon yang pas, mulailah berpikir nanti gimana ketimbang gimana nanti  karena gimana nanti itu suatu sikap yang ceroboh dan sembrono meskipun gimana nanti ini baru kejadian entah beberapa tahun atau dekade mendatang. Ingat kalau bola salju raksasa itu sekali menghantam membuat kita hancur lebur, bukan lecet-lecet saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s