Standar Ganda yang Terjadi Ketika Semua Bencana Adalah Azab Dari Tuhan

Sebenarnya sudah sejak tahun 2005 (Badai Katrina di US) saya sudah terpikir hal demikian. Melihat para orang-orang yang menganggap bencana itu ada atau menimpa suatu daerah karena kelakuan penghuninya. Sering terjadi standar ganda disini. Standar ganda berupa siapa yang mengatakan dan siapa yang menjadi korban dalam bencana alam tersebut.

Saya yakin, setiap bencana alam, ilmuwan sudah membuat sendiri teori-teorinya. Karena pendekatannya empiris, bencana semakin tersingkap ‘kerahasiaan’nya. Bagaimana bisa terjadi, mengapa harus terjadi di suatu lokasi, apa yang harus kita lakukan agar dapat meminimalkan korban baik materi bahkan jiwa. Karena pendekatannya empiris, semua orang dapat mengerti asal muasal dari suatu bencana. Contohnya saja seperti gempa bumi. Gempa bumi terjadi bisa karena sebab vulkanik maupun tektonik. Gempa Aceh tahun 2004 yang sampai menyebabkan tsunami pun ilmuwan sudah mempelajarinya walaupun belum ada ilmuwan yang dapat memprediksi baik waktu dan tempat dimana akan terjadi gempa bumi selanjutnya. Tetapi setidaknya, alasan terjadi gempa bumi dan mengapa terjadi disana dapat dipelajari. Paper-paper yang mempelajari hal tersebut juga banyak.

Namun apa yang terjadi? masih ada saja orang yang berpendapat bahwa setiap bencana terjadi disuatu wilayah, hal itu terjadi karena terkait moral atau keadaan penduduknya. Bahkan tidak sedikit yang mengkaitkannya dengan kehidupan beragama. Namun sering juga terjadi standar ganda disini. Jika terjadi badai Katrina di US, karena mereka benci dengan Amerika dan antek-anteknya, disebutlah itu sebagai azab dari Tuhan. Berbeda halnya ketika Aceh dilanda tsunami. Karena Aceh adalah provinsi yang kental nuansa Islam dan sudah menerapkan peraturan yang berbasiskan syariat Islam, disebutlah bencana tersebut suatu cobaan. Standar ganda

Image
jangan sampai kita berpikir dangkal seperti ini

Mulai saat ini saya sudah ‘tutup kuping’ tentang omongan-omongan seperti contoh diatas. Tiada gunanya membedakan suatu bencana sebagai azab atau cobaan. Kata ‘azab’ lazim digunakan untuk bencana yang menimpa orang-orang yang dianggap tidak mengamalkan ajaran agama. Mungkin orang-orang ini terbawa berbagai kisah ayat Quran misalnya kaum nabi Luth yang ditimpakan bencana maha dahsyat karena homoseksual, atau kaum Nabi Nuh karena tidak mau mengikuti ajaran-ajarannya sehingga ditimpakan banjir. Alih-alih mengambil pelajaran agar kita selalu bertakwa kepada Tuhan, malah kita ‘meniru’ Tuhan dengan menyamakan semua bencana yang terjadi karena kita berbuat seperti kaumnya Nabi Luth maupun Nabi Nuh. Apapun bencananya, kita nggap seperti azab.

Tadi pagi saya menyimak tweet dari ustad Yusuf Mansyur. Saya setuju dengan sikap beliau tentang bagimana cara menyikapi bencana lalu menghubungkannya dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Yaitu dengan cara agar kita berdoa, dekat dengan-Nya, berdoa agar yang ditimpa musibah diberi kesabaran, berdoa agar yang ditimpa musibah dapat menjadi orang yang ingat bahwa manusia itu hal yang kecil jika dibanding alam tempat tinggalnya, berdoa agar yang ditimpa musibah menjadi orang yang lebih baik lagi setelah bencana ini berakhir. Inilah sikap yang sesungguhnya sangat baik.

Menganggap semua bencana alam adalah azab dari Tuhan juga dapat mengkerdilkan Tuhan itu sendiri. Selain menganggap Tuhan seperti tukang pemberi bencana, apa yang terjadi jika ternyata di masa depan manusia dapat mencegah bencana alam tersebut? Atau selain mencegah, apa yang terjadi jika ternyata manusia sudah dapat meminimalisir dampak akibat bencana? Lalu akan dibawa kemana lagi posisi Tuhan? kalah kah dengan manusia karena kita mampu menghindari bencana? silahkan anda pikirkan sendiri

Sebagai renungan bahwa bencana alam yang terjadi hampir tidak ada sangkut pautnya dengan kondisi masyarakat yang terkena bencana alam adalah bandingkan dua tsunami yang terjadi di dua wilayah yaitu Aceh (2004) dan Jepang (2011). Tanpa mengurangi rasa hormat dan ikut berduka cita dengan keluarga korban. Kalau mau bandingkan secara apple to apple kondisi masyarakat Aceh dan Jepang yang sama-sama ditimpa Tsunami. Apakah kita tetap menganggap tsunami di Aceh itu cobaan karena daerah tersebut sudah menerapkan syariat Islam, lalu tsunami di Jepang adalah azab karena yah anggap saja Jepang salah satu negara produsen film porno terbesar di dunia? Tapi lihatlah jumlah korban jiwa yang terjadi. Ternyata Jepang lebih mampu mencegah banyaknya korban jiwa ketimbang Indonesia di Aceh dan rekonstruksi disana terjadi lebih cepat daripada di Aceh. Saya mohon maaf apabila paragraf ini menyinggung pembaca. Tapi inilah fakta yang terjadi di lapangan.

Sekarang Jakarta masih dilanda banjir. Bahkan dibeberapa tempat, ketinggian air lebih dari 2 meter. Semoga kita berhenti untuk selamanya mengkategorikan berbagai bencana alam entah sebagai azab atau cobaan. Biarlah itu urusan Tuhan, kita hanya mampu berikhtiar bagaimana mencegah bencana tersebut, atau minimal mengurangi dampak korban jiwa.

4 pemikiran pada “Standar Ganda yang Terjadi Ketika Semua Bencana Adalah Azab Dari Tuhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s