ITB dan Kalimantan Tengah

Ada hal yang menarik ketika saya melihat dokumen data dan informasi ITB tahun 2012, terutama di bagian penerimaan mahasiswa baru menurut daerah asal SMU tahun 2011. Dokumen ini mengatakan bahwa tidak ada mahasiswa ITB angkatan 2011 yang berasal dari SMA di provinsi Kalimantan Tengah. Hal ini tentu menarik minat saya karena pernah bersekolah di Kalimantan Tengah pada tingkat SMP, namun pada saat SMA saya pindah ke DKI Jakarta lalu dapat kuliah di ITB.

Mengapa hal ini terjadi? mengapa tidak ada angkatan 2011 yang berasal dari SMA Kalimantan Tengah tidak ada di ITB? Bahkan selama 4.5 tahun saya berkuliah di kampus ini, saya belum pernah bertemu mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Tengah. Yang ada hanyalah Kalimantan Timur (mayoritas dari Balikpapan dan Bontang), juga Kalimantan Selatan (yang saya kenal berasal dari Banjarmasin dan Kota Baru). Mengapa?

Image
Tidak ada mahasiswa yang berasal dari SMA di Kalimantan Tengah!

Mengapa? inilah yang menarik. Saya yakin secara akademik, siswa-siswa yang berasal dari Kalimantan Tengah mampu bersaing. Tidak serta merta bodoh lalu tidak ada yang diterima di ITB. Itu yang saya lihat di angkatan saya melalui teman-teman saya yang kini ada di setiap penjuru universitas negeri yang ada di pulau Jawa walaupun jumlahnya tidak banyak. Alumnus SMP Negeri 1 Sampit, terutama angkatan saya ada yang berkuliah di UI, UGM, UNDIP, UNAIR, UNIBRAW, lalu saya sendiri di ITB. Ini bukan masalah akademik atau keenceran otak, melainkan kekurangan akses informasi.

Jika melihat secara umum dari yang saya kenal, mungkin ini tidak merepresentasikan keseluruhan. Teman-teman dari Kalimantan Tengah banyak sekali yang berkuliah di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Untuk dua tempat yang pertama kali saya sebut ini, disana bukan banyak lagi, melainkan eksodus! Mereka berkuliah di berbagai kampus yang tersebar di penjuru Yogyakarta. Mengenai mengapa memilih kota itu saya kurang tahu. Mungkin juga faktor “pendahulu” sangat berpengaruh. Yang saya maksud adalah mereka cenderung mengikuti kakak kelasnya yang sudah pernah kuliah di suatu kota. Entah siapa yang memulai kuliah disana hehe tapi itulah yang saya amati.

Jika ditinjau dari faktor transportasi, kita ambil saja dua kota terbesar yang ada di Kalimantan Tengah yaitu Sampit dan Palangkaraya. Kota Sampit sejauh yang saya ketahui hingga saat ini masih ada pelabuhan laut dan pesawat udara. Pelabuhan laut mayoritas mempunyai destinasi Tanjung Mas Semarang dan Tanjung Perak Surabaya. Sedangkan untuk pesawat terbang kini sudah ada tujuan Jakarta, Semarang dan Surabaya walaupun jumlahnya tidak sebanyak dari Banjarmasin. Sedangkan Palangkaraya hanya ada akses pesawat udara jika ingin langsung ke pulau Jawa, jumlah penerbangan pun lebih banyak ketimbang Sampit.

Dengan keadaan akses transportasi demikian, seharusnya kita sering menemukan mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Tengah di belahan barat pulau Jawa seperti Jakarta dan Bandung dan mungkin ITB. Saya juga belum survei apakah ada mahasiswa yang berasal dari Kalimantan Tengah di kampus-kampus selain ITB di Bandung. Berbeda saat saya ke Yogyakarta, saya dapat dengan mudah menemukan sepeda motor berplat KH ketimbang di Bandung🙂. Sampai saat itu saya pernah bertaruh dengan teman saya, silahkan cari sepeda motor berplat KH selain sepeda motor milik saya di seluruh parkiran ITB! haha.

Jika memang faktor “pendahulu” itu sangat berpengaruh sekali, saya mengharapkan adanya pendobrak tradisi yang menjadikan pulau Jawa bagian barat tidak begitu asing bagi mereka. Semakin mereka menyebar, semakin bagus. Semakin banyak ilmu dan semakin banyak kebudayaan lain yang bisa mereka kenal. Ingin sekali saya datang kesana untuk mempromosikan kampus saya, atau minimal mereka tahu kalau di Jawa Barat itu ada kampus yang namanya ITB. Namun apa daya, saya pergi kesana hanya setiap lebaran saja, itupun jika orang tua saya masih tinggal disana😦

Setidaknya inilah cara agar adik-adik SMA di Kalimantan Tengah tahu informasi lebih lanjut mengenai ITB. Hal ini sudah dilakukan adik kelas saya di SMP Negeri 1 Sampit, yaitu Noviaji Joko yang aktif mempromosikan Universitas Indonesia ke SMA nya yaitu SMA Negeri 1 Sampit. Jika saya melakukan apa yang seperti dia lakukan, maka saya harus meningkatkan skill SKSD ke komunitas SMA di Kalimantan Tengah karena saya bukan alumni SMA sana😐

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s