Tentang Metakognitif

Ketika saya mengikuti online course dari Carnegie Mellon University yaitu tentang topik Statistical Reasoning, sebelum memulai online course tersebut, saya mendapatkan materi tentang metakognitif. Metakognitif mempunyai definisi sebagai :

(definition) Metacognition, or “thinking about thinking,” refers to your awareness of yourself as a learner and your ability to regulate your own learning

Jadi secara umum, metakognitif adalah thinking about thinking. Sedangkan dari yang saya pahami metakognitif adalah kemampuan untuk mempelajari apa yang kita pelajari. Dengan memahami metakognitif ini, kita dapat mempelajari sesuatu dengan lebih mudah, terarah, dan lebih optimal jika dibandingkan dengan belajar secara serampangan.

Menurut tulisan di dalam online course tersebut, metakognitif meliputi 5 kemampuan yaitu :

  1. kemampuan menilai suatu tugas yang akan dikerjakan
  2. kemampuan mengevaluasi kekuatan dan kelemahan diri
  3. kemampuan membuat perencanaan dengan dasar kekuatan dan kelemahan tadi
  4. kemampuan membuat strategi dan monitoring performa diri dalam mempelajari suatu topik
  5. kemampuan melakukan refleksi dan pengaturan ulang strategi jika dibutuhkan

Jika kita lihat kelima kemampuan diatas kembali, beberapa hal tersebut dapat berupa suatu siklus yang dalam keberjalanannya selalu berulang untuk mendapat hasil yang lebih bagus.

Image
Siklus Metakognitif

tentang Indonesia 2045 dan bonus demografi dari dosen saya

H Gunawan's Blog

Seperti apakah sosok Indonesia pada tahun 2045, saat berusia 100 tahun?

Pada milenium pertama, para leluhur kita bisa membangun candi terbesar

di dunia; dan pada milenium kedua Kerajaan Majapahit merupakan pelaku

penting dalam percaturan dunia (lihat ceramah Gita Wirjawan di

http://www.youtube.com/watch?v=6PTuPnKTeSQ). Indonesia sekarang

memasuki milenium ketiga, apa yang bisa diperbuat? Apakah Indonesia

dilirik oleh negara-negara lain hanya sebagai negara yang kaya SDA-nya

tapi hanya bisa meng-ekspor bahan mentah, dan sebagai negara yang

penduduknya besar menjadi pasar potensial produk-produk mereka?

Konon, pada tahun 2045, piramida penduduk Indonesia akan sangat

ideal, dengan penduduk mayoritas berusia 35-45 tahun, usia produktif.

Indonesia, saat itu, akan menikmati apa yang disebut dengan “bonus

demography”. Masalahnya, seperti yang dikemukakan oleh Gita Wirjawan,

adalah seperti apa kualitas mereka (yakni penduduk usia produktif) kelak?

Kita perlu membekali mereka dengan pendidikan yang bermakna dan

berkualitas. Bila kita melihat banyak kasus yang terjadi sekarang ini di

negara kita (kasus perpajakan, politik…

Lihat pos aslinya 175 kata lagi

must read

Fir's Weblog

Artikel dengan judul di atas yang ditulis oleh rekan Dewi Utama Faizah (Direktorat Pendidikan TK dan SD Ditjen Dikdasmen, Depdiknas, Program Director untuk Institut Pengembangan Pendidikan Karakter Divisi dari Indonesia Heritage Foundation) merupakan salah satu artikel favorit saya. Artikel yang dapat memperkaya kita tentang bagaimana seharusnya sikap kita dalam memperlakukan anak-anak.

Lihat pos aslinya 4.438 kata lagi

Sistem dan Seleksi UMPTN 2013

tulisan dibawah ini adalah karya Asan Damanik, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Sanata Dharma Yogyakarta yang dimuat di harian Kompas edisi 15 Februari 2013

———————————-

Kemendikbud melalui Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2013 sudah mengumumkan sistem dan metode seleksi mahasiswa baru tahun 2013.

Pendaftaran mulai 1 Februari 2013 sampai 8 Maret 2013 dengan kuota 50 persen jatah kursi PTN diisi melalui SNMPTN dan 30 persen melalui seleksi bersama masuk PTN. Sisanya, 20 persen seleksi mandiri, diserahkan PTN untuk menentukan sendiri sistem dan seleksi penerimaan mahasiswa baru yang dikehendaki PTN itu.

Harus dicermati

Beberapa hal mendasar patut dicermati pada sistem dan seleksi SNMPTN 2013. Pertama, panitia SNMPTN 2013 mengatakan, yang berhak ikut SNMPTN adalah sekolah yang sudah mendaftarkan siswa ke pangkalan data sekolah dan siswa (PDSS) dan mendapat rekomendasi dari kepala sekolah. Sementara itu, panitia SNMPTN juga mengatakan, sekolah yang sudah mengirimkan data siswanya ke PDSS baru 11.965 sekolah (SMA/MA/SMK) dari 27.670 sekolah yang ada.

Jika sekolah yang memasukkan data ke PDSS masih jauh dari yang seharusnya, panitia SNMPTN seharusnya berpikir ulang dengan konsep dan sistem seleksi yang ditawarkan. Panitia harusnya bertanya dan koreksi diri atas konsep dan sistem yang dibuat. Jangan-jangan konsep dan sistem seleksi yang dibuat itu hanya berdasarkan asumsi yang tak berdasarkan fakta dan kesiapan sarana dan prasarana di lapangan.

Kedua, panitia SNMPTN juga tidak menjelaskan apa dasar penentuan persentase 50 untuk SNMPTN, 30 persen seleksi bersama PTN, dan 20 persen seleksi mandiri. Mengapa tidak 100 persen saja SNMPTN, mengapa harus ada SNMPTN atau seleksi mandiri masih ada. Sederet pertanyaan lain dapat diajukan untuk mempertanyakan keunggulan sistem seleksi mahasiswa baru PTN 2013. Terkesan seleksi masuk PTN yang ditawarkan pemerintah saat ini seleksi gado-gado yang berusaha mengakomodasi semua kepentingan, tetapi lupa hakikat dari seleksi itu sendiri sebagai alat menjaring bibit-bibit terbaik dari proses pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan.

Ketiga, gagasan untuk menanamkan budaya kejujuran kepada pihak sekolah yang ikut memasukkan data siswanya ke PDSS sesuatu yang baik dan mendidik. Namun, untuk tujuan seleksi masuk PTN, harus diingat siapa yang menanggung akibat perbuatan ketidakjujuran sekolah pada tahun berikutnya. Cukup rasionalkah kita menimpakan kesalahan atau ketakjujuran seorang oknum operator data sekolah kepada siswa yang tak berkaitan dengan masalah data itu?

Menanamkan budaya bersih dan jujur seharusnya ditekankan pada proses pembelajaran dan pendidikan saat proses itu berlangsung. Penekanannya adalah pada peserta didik. Akibat lain yang mungkin terjadi adalah sekolah yang terkena sanksi panitia SNMPTN 2013—istilah panitia SNMPTN 2013 di-black list—boleh jadi pada tahun ajaran baru nanti tidak akan mendapatkan siswa baru lagi sebab siapa yang mau masuk ke sekolah yang sudah di-black list, apalagi bukan sekolah vokasi/keterampilan.

Keempat, SNMPTN 2013 juga terkesan bernuansa pemerataan dan pembatasan. Nuansa pemerataan dan pembatasan itu terlihat dari aturan pemilihan program studi dan PTN yang diperbolehkan. Kalau tujuan pemerataan pendidikan dan kesempatan memperoleh pendidikan yang dimaksud sehingga ada nuansa pemerataan dan pembatasan, bukankah hal itu berbeda secara konseptual dengan tujuan diadakannya seleksi?

Sebuah gugatan

Melirik kepada empat hal yang dikemukakan itu, patut dipertanyakan maksud dan tujuan dilakukannya SNMPTN 2013 serta asumsi yang digunakan sehingga model atau metode seleksi itu dilakukan. Sistem dan metode seleksi dan alat seleksi yang digunakan harus dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya dengan tidak melupakan semangat yang melekat pada sistem pendidikan dan pembelajaran yang dilakukan di sekolah.

Seleksi dilakukan utamanya untuk mencari dan mendapatkan yang terbaik, sekaligus menumbuhkan sikap dan semangat berprestasi. Semangat berprestasi dan menjadi yang terbaik seharusnya menjadi dasar perumusan dan penentuan model seleksi masuk PTN. Sebagian besar masyarakat kita masih memercayai PTN sebagai lembaga pendidikan tinggi yang terbaik dan terjangkau masyarakat luas dibandingkan terhadap lembaga pendidikan tinggi milik swasta.

Sekali lagi, yang namanya seleksi adalah mencari yang terbaik dari sejumlah yang ada, bukan pemerataan, apalagi pembatasan. Kejujuran dan sanksi akibat ketidakjujuran pihak sekolah juga bukan menjadi tanggungan peserta didik yang tidak berurusan langsung dengan masalah kejujuran dan sanksi yang akan dikenakan panitia SNMPTN itu.

 Asan Damanik Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Kurikulum Pendidikan Haruslah Memberi Tantangan bagi Siswa

Tulisan dibawah ini adalah karya Suyanto, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta yang dimuat di harian Kompas edisi 15 Februari 2013

——————————–

Para ilmuwan tanpa mengenal lelah telah meneliti berbagai faktor penting yang berkontribusi pada kesuksesan hidup. Mereka tertarik mencari faktor penentu yang secara signifikan bisa digunakan untuk memprediksi sukses kehidupan.

Dari penelitian itu ditemukanlah faktor-faktor penting yang ikut menyumbang kesuksesan seseorang. Faktor-faktor penentu sukses itu akhirnya diterjemahkan oleh para ahli pendidikan ke dalam kurikulum dan program pembelajaran.

Pendek kata, dengan ditemukannya faktor penentu sukses itu, dunia pendidikan juga ikut berlomba-lomba dan berkontemplasi untuk merumuskan filosofi, paradigma, strategi, dan metodologi pembelajaran. Pada gilirannya, rumusan itu digunakan untuk mengonstruksi kurikulum yang mampu memberi bekal ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik untuk mendaki kesuksesan hidup.

Faktor signifikan yang telah mendapat perhatian luas untuk memprediksi sukses seseorang, antara lain intelligence quotient (IQ, kecerdasan otak) dan emotional quotient (EQ, kecerdasan emosional). Kecerdasan yang disebut terakhir, oleh penemunya, Daniel Goleman (1995), diberi nama emotional intelligence, bukan emotional quotient.

Kelahiran EQ membuat arah baru pendidikan secara luas. Sebab, dalam banyak penelitian terbukti IQ tak lagi menjadi satu-satunya prediktor sukses peserta didik di masa datang.

Sebelum muncul EQ, IQ-lah yang didewa-dewakan dunia pendidikan untuk mempermudah pekerjaan pembelajaran dalam memberi bekal atau virus sukses peserta didik atau bahkan mahasiswa sekalipun. Implikasinya, pengembangan kurikulum hampir di seluruh dunia pada era jayanya IQ selalu berorientasi pada upaya bagaimana mengemas program pembelajaran yang bisa memberikan kecerdasan otak secara maksimal kepada para peserta didik.

Setelah EQ ditemukan oleh Goleman, kurikulum serta-merta harus dan mutlak memperhatikan faktor-faktor non-kognitif, seperti kecerdasan sosial, kecerdasan spiritual, pengendalian emosi, dan memahami emosi orang lain. Bahkan, Goleman mengklaim IQ hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan peserta didik setelah mereka hidup dalam masyarakat nantinya. Ternyata 80 persen justru ditentukan oleh faktor lain di luar IQ, di mana EQ masuk di dalamnya secara signifikan.

Oleh karena itu, jika suatu bangsa ingin membuat kurikulum yang bisa mengantarkan para peserta didik jadi orang sukses, kurikulum itu juga harus memberikan menu belajar yang mencakup aspek lain selain kecerdasan, seperti sikap, perilaku, kepribadian, keberagamaan, budi pekerti, dan kecerdasan otot (muscle memory).

Bahkan, praksis pendidikan di Jepang memasukkan aspek memori dan kecerdasan otot dalam kurikulumnya sejak kelas I dan II SD melalui aktivitas otot (keterampilan) dalam bentuk kegiatan origami secara intensif. Origami mampu menanamkan kepada para siswa sifat dan sikap kreatif, inovatif, sekaligus membangun kecerdasan/ingatan otot para siswa.

 ”Adversity quotient”

Sudah lengkapkah prediktor kesuksesan yang bisa dikemas dalam kurikulum setelah adanya penemuan IQ, EQ—juga spiritual intelligent (SQ, kecerdasan spritual), dan kecerdasan otot? Ternyata belum! Dunia ilmu pengetahuan tetap melakukan penelitian untuk membuat prediktor kesuksesan memiliki daya prediksi yang makin robust, semakin kecil kesalahannya sampai mencapai derajat kepercayaan 99 persen. Atau tingkat koefisien alpha 0,01 jika kita meminjam terminologi uji signifikansi statistik inferensial. Prediktor baru itu adalah adversity quotient (AQ).

Dua tahun setelah Daniel Goleman menemukan EQ, muncullah AQ yang ditemukan oleh Paul Stoltz (1997). Aplikasi AQ dalam proses pendidikan memang belum seluas aplikasi EQ dan SQ. Saat ini, AQ banyak diaplikasikan dalam perusahaan besar untuk kepentingan rekrutmen dan pelatihan pegawainya.

Dunia pendidikan juga harus memanfaatkan temuan Paul Stoltz ini. Mengapa demikian? Karena AQ pada hakikatnya merupakan kapasitas seseorang untuk menghadapi berbagai bentuk tekanan dan ketidaknyamanan hidup dalam situasi tertentu.

Orang yang AQ-nya tinggi akan tahan banting, dalam arti fisik, mental, dan kejernihan berpikir. Lebih penting lagi, ia segera bisa kembali ke keadaan normal setelah berhadapan dengan berbagai tekanan dan tantangan. Sebaliknya, orang yang AQ rendah akan selalu menyalahkan lingkungan ketika dia gagal sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan untuk menuju sukses. Bidang keilmuan AQ ditopang tiga pilar utama: psychoneuroimmunology;, neuropsychology, dan cognitive psychology.

Orang hidup tak ada yang bebas dari tekanan dan tantangan. Dokter punya tekanan saat di meja operasi, wartawan memiliki tekanan dan tantangan ketika harus menghadapi tenggat berita, menteri dan presiden selalu menghadapi tekanan dari ekspektasi masyarakat. Siswa pun selalu menghadapi tekanan dan tantangan ketika harus belajar materi baru yang jauh lebih sulit, datang dan pulang tepat waktu, dan menyerahkan tugas individu serta kelompok. Kalau semua tekanan itu berhasil dilewati, sukseslah mereka. Kalau gagal, akan reduplah suasana hati dan pikiran saat itu.

Hidup adalah tantangan

Oleh sebab itu, kapasitas untuk bisa menghadapi berbagai tekanan harus diajarkan dan dilatih sejak mereka duduk di bangku sekolah. Siswa perlu mengalami sendiri berbagai prosedur serta proses ilmu dan pengetahuan. Kerena itu, kegiatan mengamati, bertanya, menalar, bereksperimentasi, juga pengalaman membangun jejaring perlu diakomodasikan dalam sebuah kurikulum.

Dengan cara seperti itu, siswa akan bisa merespons berbagai kemungkinan dan tekanan hidupnya kelak setelah hidup dalam masyarakat. Respons positif terhadap tekanan yang dihadapi siswa akan memberi jalan kepada kesuksesan hidup kelak.

Belajar tidak cukup hanya yang bersifat menyenangkan, tetapi juga harus menantang bagi siswa kita. Mengapa begitu? Karena hidup identik dengan tantangan.

Kurikulum dan proses pembelajaran perlu memberi tempat yang cukup agar siswa bisa melakukan observasi, analisis, hipotesis, sintesis, dan mencari solusi terhadap tantangan yang dihadapi dalam proses belajarnya. Sebab, pada saatnya nanti, meminjam konsepnya Jerome Brunne, para siswa akan melakukan apa yang disebutnya transfer of learning and principles dalam kehidupan nyata.

Jadi, belajar tidak cukup dengan pendekatan yang menyenangkan semata. Selebihnya, harus menantang agar siswa bisa berlatih untuk membangun AQ-nya. Semoga begitu.

 Suyanto Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta

Wapres dan Gagasan Kuliah “Online”

tulisan di bawah ini adalah karya Budi Widianarko yang termuat di dalam harian Kompas edisi 14 Februari 2013

———————————–

Dalam pembukaan Konvensi Kampus Ke-9 dan Temu Tahunan Ke-15 Forum Rektor Indonesia di Semarang, Januari lalu, Wakil Presiden Boediono mengangkat sebuah gagasan yang layak dikaji oleh kalangan pendidikan tinggi di negeri ini.

Demi meningkatkan mutu dan daya saing di ranah internasional, Wapres Boediono menyarankan agar perguruan tinggi Indonesia memanfaatkan mata kuliah online yang banyak tersedia saat ini. Menurut Wapres, ”Materi dan proses pengajaran itu umumnya disusun dan diolah oleh pendidik dan pengajar dari lembaga-lembaga pendidikan ternama di dunia di luar negeri. Oleh karena itu, standarnya dijamin memenuhi standar internasional.”

Gagasan Wapres terkesan menjanjikan. Alih-alih menunggu tersedianya dosen bermutu nan mumpuni di kampus-kampus seluruh Nusantara, mengapa kita tidak langsung saja ”mengudap” hasil ramuan para pengajar hebat dari kampus-kampus ternama di luar negeri.

Bisnis pendidikan tinggi

Wapres rupanya terpikat tawaran Massive Open Online Courses (MOOCs), sebuah wabah yang sedang melanda bisnis pendidikan tinggi internasional, terutama di Amerika Serikat. Apalagi, saat ini MOOCs umumnya tersedia secara prodeo. Para penyedia MOOCs, seperti Coursera, Audacity, EdX, MITx, dan Khan Institute, masih membebaskan bea bagi para pengguna jasa kuliah online mereka.

Pembebasan bea tadi tentu tak selamanya. Penyedia MOOCs sudah merancang langkah-langkah taktis untuk meraup penghasilan. Peter Lange, provost salah satu universitas mitra Coursera—Duke University—dengan optimistis menyatakan, ”Kami akan menghasilkan uang ketika Coursera menghasilkan uang. Saya pikir hal itu akan terjadi tidak lama lagi. Kita tak ingin mengulang kesalahan industri surat kabar yang menggratiskan produk online mereka terlalu lama.” (Jakarta Post, 8/1).

Coursera, yang dibangun dua profesor ilmu komputer di Stanford University, Daphne Koller dan Andrew Ng, telah menyiapkan strategi untuk mendapatkan aliran uang masuk. Coursera merancang penarikan biaya dari: (1) sertifikasi (sertifikat kelulusan peserta); (2) rekrutmen karyawan (akses terhadap data nilai dan prestasi peserta); (3) tutorial tatap muka dan penilaian; (4) sponsor; (5) uang kuliah; dan (6) penjualan platform MOOCs kepada lembaga penyelenggara kuliah. Butir yang terakhir rupanya telah punya pasar. Disadari atau tidak, solusi ala Wapres itulah yang justru ditunggu-tunggu para penyedia MOOCs.

Dengan keleluasaan finansial yang dimiliki, kiranya tidak sulit bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membeli platform MOOCs dan memberikan akses kepada perguruan tinggi. Namun, solusi yang disarankan Wapres harus dipertanyakan secara kritis. Perlu disadari, dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi tidak ada resep yang instan dan mujarab.

Konsep MOOCs sendiri masih sarat kontroversi. Pada awal peluncurannya, portal MOOCs berhasil memikat begitu banyak peminat; melampaui sukses jejaring sosial Facebook dan Twitter. Hingga Desember 2012, pendaftar kuliah Coursera telah mencapai lebih dari dua juta. Setiap minggu, ada 70.000 pendaftar untuk 200 mata kuliah yang ditawarkan. Hanya dalam waktu empat bulan sejak diluncurkan, Coursera mampu menggandeng 33 universitas mitra dalam pengembangan bahan kuliah, dan mampu menarik modal ventura sebesar 16 juta dollar AS.

Istilah MOOCs diangkat pertama kali oleh Dave Cormier dan Bryan Alexander untuk menyebut perkuliahan online tentang ”Connectivism and Connective Knowledge” oleh George Siemens dan Stephen Downes di Universitas Manitoba, Kanada. Kuliah online dalam platform MOOCs adalah rekaman video perkuliahan biasa yang dipilah dalam segmen 15 menit.

Setiap minggu, peserta mendapat semacam ujian dengan soal pilihan ganda. Ujian ini dirancang untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah (algoritme), bukan penguasaan konsep. Setelah mengerjakan soal, peserta kuliah tak mendapatkan umpan balik apa pun kecuali nilai. Dalam telaahnya atas sejumlah institusi peserta Coursera, Amstrong (2012) menengarai kurangnya keterlibatan ahli pedagogi dalam pengembangan mata kuliah online yang mereka tawarkan.

Dalam konteks daya saing, praksis penggunaan MOOCs justru berpotensi mereduksi makna dan menurunkan mutu pendidikan tinggi, serta mengancam kebebasan akademik. Penggunaan MOOCs di kampus-kampus kita sejatinya mereduksi kegiatan pengajaran jadi sekadar usaha waralaba. Kampus hanya jadi pembeli lisensi paket pengajaran dari pihak pengembang MOOCs. Kalaupun nanti tersedia MOOCs versi Indonesia dan gratis, risiko yang mengadang sama saja.

Anjuran penggunaan MOOCs sebenarnya berisiko menggerus kebebasan akademik. Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menyebutkan kebebasan akademik ”Merupakan kebebasan sivitas akademika dalam pendidikan tinggi untuk mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi secara bertanggung jawab melalui pelaksanaan Tridharma” (ayat 2).

Dalam kebebasan akademik melekat otonomi keilmuan, yaitu ”..Otonomi sivitas akademika pada suatu cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dalam menemukan, mengembangkan, mengungkapkan, dan/atau mempertahankan kebenaran ilmiah menurut kaidah, metode keilmuan, dan budaya akademik” (ayat 3). Jadi, setiap dosen justru harus mengembangkan bahan perkuliahannya sendiri, bukan hanya mengasongkan paket perkuliahan yang disusun dan dikemas dosen lain.

Tentu saja dalam mengembangkannya sang dosen selayaknya didorong memanfaatkan kekayaan sumber ilmu, baik konvensional maupun online, termasuk melongok isi MOOCs. Namun, sekali lagi, bukan sekadar mencomot dan menggunakan modul yang sudah tersedia.

Sekadar ”sopir tembak”

Dalam ranah praktis, penggunaan MOOCs justru dapat menjerumuskan para dosen jadi sekadar ”sopir tembak”. Hal ini tentu saja bertabrakan langsung dengan rumusan tugas dosen dalam Pasal 12 UU No 12/2012.

Dua ayat pertama dalam pasal itu menegaskan bahwa dosen (1) sebagai anggota sivitas akademika bertugas mentransformasikan ilmu pengetahuan dan/atau teknologi yang dikuasainya kepada mahasiswa dengan mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran sehingga mahasiswa aktif mengembangkan potensinya, dan (2) sebagai ilmuwan memiliki tugas mengembangkan suatu cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi melalui penalaran dan penelitian ilmiah serta menyebarluaskannya.

Artinya, para dosen harus berupaya keras dan terus mengembangkan ilmu dan menularkannya kepada mahasiswa melalui proses belajar-mengajar yang interaktif dalam rumah universitas magistrorum et scholarium. Jalan terjal masih harus dilalui untuk mengatasi keterbatasan sumber daya dosen kompeten dan mumpuni yang banyak diidap perguruan tinggi kita saat ini. Dalam dunia pendidikan, jalan pintas memang tidak pernah ada.

Budi Widianarko Rektor Unika Soegijapranata

Anak Semua Bangsa : Tempat, Waktu Kelahiran, dan Orang Tua Hanyalah Suatu Kebetulan

1398044

Judul: Anak Semua Bangsa

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara 2006

Tebal: 536 halaman

Buku ini adalah seri kedua dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sebenarnya saya sendiri dulu sudah mulai membaca buku ini hanya saja terputus entah di mana akhirnya sehingga mengulang lagi dan sekalian menjadi buku favorit untuk SRC Serapium bulan Januari

Sesuai dengan apa yang dikatakan pada bagian awal setiap buku dari Tetralogi Pulau Buru. Anak Semua Bangsa (kemudian disingkat ASB) menimbulkan suatu keheranan atas bangsa sendiri, mengapa bangsa ini amat mudah dibodohi oleh Eropa? Eropa dengan segala keagungannya mampu melesakkan kehidupan bangsa ini hingga ke tatanan yang paling bawah. Di buku ini bahkan diceritakan bagaimana kaum pribumi menjadi sangat takut dengan seseorang yang memakai jas dan sepatu (pakaian Kristen). Apa hubungan hal tersebut dengan feodalisme. Dan membawa kesadaran bahwa bangsa ini sebenarnya tidak benar-benar dijajah oleh Belanda, tetapi juga dijajah oleh bangsa pribumi sendiri.

Mengambil plot waktu era 1800-an akhir, Minke, tokoh utama dalam buku ini perlahan mulai bisa menerima kehilangan Annelies yang dibawa paksa darinya ke tanah Belanda oleh otoritas pengadilan putih. Nyai Ontosoroh juga perlahan bangkit kembali. Sayangnya, Annelies telah meninggal dunia di tanah leluhurnya sendiri. Suatu keanehan yang membuat dahi mengkerut bahwa orang-orang di sana (Belanda) sangat cuek dengan keadaan Annelies hanya karena beberapa masalah sepele. Dia bukan ‘totok’.

Pada buku ini Minke belajar banyak dari Khouw Ah Soe, seorang pemuda yang berasal dari Tiongkok, aktivis yang ingin membawa bangsanya maju, seorang aktivis yang ingin menyadarkan banyak pihak bahwa Jepang perlahan akan masuk ke tanah Cina. Namun sayang, ia dibunuh oleh suatu kelompok yang tak setuju dengan pemikiran dia. Dari sini saya belajar bahwa Touchang, rambut kunciran yang sering kita lihat di film-film vampire Cina itu adalah tanda rasial yang diwariskan oleh kaum Mongol. Suatu pertanda bahwa mereka berbeda dengan bangsa Mongol, tetapi orang-orang Cina merasa bangga dengan identitas itu. Berbeda dengan Khouw Ah Soe yang merasa tak perlu lagi memakai touchang karena itu lambang penindasan kaumnya.

Cerita yang tidak kalah menariknya adalah ketika Minke berkunjung ke rumah kerabat Nyai Ontosoroh di Sidoarjo, yang kala itu terdapat suatu kebun tebu dan pabrik gula yang dibangun oleh Belanda. Ia melihat berbagai ketidakadilan seperti cerita bos pabrik Gula yang ingin mengawini paksa seorang anak pribumi dengan cara yang tak bisa dikatakan lagi sebagai cara manusia. Seorang petani yang tidak tahu apa-apa yang tetap bertahan di tanah miliknya meskipun tentara Kompeni telah melakukan berbagai cara-cara kotor. Ketika berkunjung ke Sidoarjo, Minke menginap beberapa hari di rumah petani tersebut. Akhirnya ia merasakan bagaimana hidup sebagai pribumi ‘aslinya’ yang bukan priyayi. Berbeda dengan Minke yang anak bupati kabupaten B. Hal menarik adalah ketika anak-anak dari petani itu begitu takut dengan baju dan sepatu (pakaian Kristen) yang dikenakan oleh Minke.

Akhir dari buku ini adalah ketika Tuan Mellema, keluarga ayah Annelies yang berasal dari Belanda datang untuk mengambil alih Borderij Buitonzorg dari tangan Nyai Ontosoroh. Konflik ini menarik karena memainkan perasaan campur aduk dari Nyai ketika mengetahui bahwa modal dari Borderij Buitonzorg berasal dari pabrik Gula Tulangan Sidoarjo yang diperoleh dengan cara yang haram, Borderj Buitonzorg yang merupakan hasil kerja keras dari Nyai Ontosoroh, tidak mau kehilangan apapun setelah kehilangan Annelies, dan suatu kisah mengharukan bahwa Nyai Ontosoroh mempunyai cucu dari Robert Mellema yang telah meninggal di seberang laut karena penyakit kotor.

Overall, buku ini sangat baik, penuh dengan ajaran-ajaran humanisme salah satunya adalah bahwa kita ini semua adalah manusia, segala macam embel-embel yang mengikuti kelahiran kita seperti ras, orang tua, agama, dan lain-lain itu hanya sebatas embel-embel. Kita adalah anak semua bangsa. Tidak mengenal berbagai embel-embel tersebut. Tidak ada alasan lagi bagi kita bahwa kita membeda-bedakan seseorang dari embel-embel tersebut.

 Dengan rendah hati aku mengakui: aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat.

Terakhir, Pram telah mengajarkan saya bagaimana sikap menjadi seorang sarjana (mentang-mentang bentar lagi sarjana beneran ) lewat quote dibawah ini. Quote ini berhasil membuat #jleb

 Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan orang yang berpikir. Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berpikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminil, biar pun ia sarjana