Benar, Menurut Siapa dan Apa Dasarnya

Sudah lama saya menulis tentang ini, tentang relativisme terutama terkait dengan kebenaran. Saya tidak puas tentang penjelasan relativisme versi buku Islam Liberal 101 yang ditulis oleh kawan Akmal. Saya lupa dihalaman berapa (karena saya menulis post ini ketika tidak bersama buku itu) saudara Akmal menyebutkan salah satu contoh yang menurut saya absurd tentang relativisme yaitu 1+1 = 5. Menurutnya apakah kita harus setuju dengan orang yang menganggap 1+1=5?

Di dalam matematika, 1+1 tidak selalu sama dengan 2. Bisa saja 5 dan itu benar karena kita belum bilang kita sedang bermain di sistem matematika yang mana. Di kuliah struktur aljabar, kita diajarkan dan diberi pemahaman bahwa kita dapat membuat sistem matematika buatan kita sendiri. Mulai dari himpunan bilangan apa yang ikut disana, sampai operasi apa yang ingin kita sertakan. Dari sana saya sadar bahwa operasi “+” belum tentu “+” yang kita kenal di kehidupan sehari-hari. Juga arti dari “1” belum tentu berarti “1” seperti yang ada di kehidupan sehari-hari. Bisa saja orang yang mengajukan 1+1=5 itu benar karena ia telah membuat sistem matematikanya sendiri. Lalu apakah salah membuat sistem matematika sendiri? tidak. Disitulah tugas kita yaitu mengerti “sistem matematika” orang lain dan dapat mengerti apa tujuannya ia membuat sistem matematika seperti itu. Bukan langsung menjudge bahwa hal itu salah total (hanya karena kita menggunakan operasi “+” biasa dan sistem bilangan desimal).

7 x 7 = 1 ??
7 x 7 = 1 ?? (Klein 4-Group) – Wikipedia

Contoh lainnya adalah kita tahu bahwa setiap segitiga mempunyai jumlah sudut 180 derajat. Ini benar, tapi JIKA di bidang Euclid. Ternyata ada segitiga yang jumlah sudutnya bisa lebih dari 180 derajat jika segitiga tersebut berada di bidang bola misalnya. Lalu apakah kita bilang segitiga ini salah? tentu tidak. Salah jika kita bermain di bidang Euclid, namun benar jika bermain di bidang bola.

Segitiga ini jumlah sudutnya 230 derajat loh – Wikipedia

Penting bagi kita untuk menyamakan definisi agar mencapai sebuah statement yang kita mengerti yang berasal dari orang lain. Suatu offside besar jika kita langsung menghakimi suatu point of view seseorang tanpa melihat apa dasar berpikirnya.

Oke, maafkan saya yang telah bermain banyak istilah matematika. Lalu adakah kebenaran yang tidak relatif (baca: absolut)? Menurut saya tidak ada. Kebenaran kitab suci pun juga merupakan suatu kebenaran yang relatif. Yaitu relatif terhadap kitab suci itu. Atau secara luas relatif terhadap Tuhan yang menurunkan kitab suci itu.  Inipun terjadi jika kita telah benar menterjemahkan/menafsirkan apa yang Tuhan mau, jika ternyata tidak? ya tentu relatif terhadap si penafsir kitab suci.

Lalu jika semuanya serba relatif, kita harus berpegang terhadap apa? Ini pertanyaan yang menarik. Namun izinkan saya memberikan suatu contoh yaitu  terkait hukum mekanika dalam fisika. Yang saya tahu ada beberapa hukum fisika yang berlaku di alam tertentu, tapi tidak berlaku di kondisi tertentu. Mekanika Newton contohnya, berlaku jika benda bergerak ‘lambat’ dan berukuran besar. Oleh karena itu Mekanika Newton tak bisa diterapkan ke benda yang mempunyai kecepatan hampir menyamai kecepatan cahaya.

Bagan Hukum Fisika (Dimana String Theory?) – Wikipedia

Pelajarannya adalah gunakan reference yang cocok dimana kasus itu terjadi. Jangan kita menghitung kecepatan sebuah mobil dengan hukum relativitas, meskipun bisa dilakukan, tapi tak praktis (percaya deh sama saya). Kira-kira seperti itulah bagaimana menyikapi sebuah kebenaran yang relatif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s