Tentang Standar Kebenaran – Belajar Dari Film

Kemarin baru saja saya selesai menonton film Jackie Chan terbaru yang berjudul 12 Chinese Zodiac. Film ini berkisah tentang suatu relik yang bernilai historis sangat tinggi yang berasal dari daratan China yaitu 12 patung kepala hewan Shio yang terbuat dari perunggu, yang dulu ada di suatu istana yang indah. Barang tersebut menjadi buruan kolektor dari rumah lelang di Paris. Suatu cerita yang menarik mengapa relik asli dari China bisa sampai ke Paris karena saat itu China ‘diserang’ oleh tentara ‘kulit putih’, kalah perang, lalu istana dihancurkan dan barang-barang berharga dicuri.

Di tengah film, Jackie mengatakan :

We cannot use today’s civilized standards to judge the mistakes of the past

satu kalimat inilah yang membuat saya ingin menuliskan artikel ini. Kalimat diatas mengandung makna yang dalam. Kalimat diatas diucapkan oleh Martin (yang diperankan oleh Jackie Chan) ketika memisahkan perdebatan antara wanita Prancis yang leluhurnya menjadi salah satu orang yang ikut menyerang China daratan, dengan wanita China yang merasa orang-orang yang menyerang itu barbar.

Ternyata perkataan Jackie itu mau tidak mau harus saya amini. Banyak fakta sejarah yang mengatakan bahwa suatu perbuatan yang dulu dilakukan, belum tentu patut dilakukan lagi pada saat ini. Jika pembaca pernah menonton film Gladiator yang diperankan oleh Russel Crowe, pada saat itu pertarungan antar dua manusia (atau kadang melawan singa) adalah suatu hiburan, siapa saja boleh menonton dan bersorak-sorai gembira ketika jagoannya berhasil membunuh lawannya. Apakah kita mengatakan bahwa peristiwa itu salah? belum tentu, kita telah memakai standar kebudayaan hari ini dimana mengadu dua manusia itu tindakan tidak manusiawi. Inilah yang namanya relatif.

Suatu perbuatan salah-benar tergantung pada masanya. Siapa tahu di masa depan pertandingan tinju yang bisa kita tonton setiap minggu disebut oleh cicit-cicit kita sebagai tontonan yang tidak manusiawi lalu mengubahnya menjadi dua robot yang bertanding untuk menggantikan manusia seperti yang ada di film Real Steel yang diperankan oleh Hugh Jackman.

Contoh yang menarik adalah film Star Trek. Dari berbagai sumber internet, adegan ciuman antara Lt Uhura dan Capt Kirk menjadi suatu kontroversi besar di masa itu (tahun 1960an) karena Lt Uhura yang berasal dari ras kulit hitam. Padahal si pembuat Star Trek menggunakan point of view masa depan (abad ke 23) yaitu dimana semua manusia sama, bahkan bisa berteman dan bekerja sama dengan makhluk ekstraterestial bukan Homo Sapiens seperti ras Klingon, Vulcan, atau Romulan. Memang saat itu pembuat Star Trek mungkin hanya mengira-ngira bahwa di masa depan dapat terjadi suatu kebudayaan tanpa membedakan ras, tetapi kini di tahun 2013 kita bisa lihat Obama menjadi presiden Amerika Serikat. Suatu perkiraan yang menjadi kenyataan.

Jadi kesimpulannya, tetap lihat dimensi waktu sebelum kita menghakimi suatu perbuatan. Ternyata dari film kita bisa belajar bahwa kebenaran itu relatif terhadap kondisi budaya yang sedang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s