Tentang Kecantikan

“Siapa yang paling cantik se-dunia?”

Kalau di kalangan lelaki, pasti jawabannya akan beragam dan penuh dengan subjektifitas dari masing-masing individu. Kalau saya akan jawab pertanyaan itu dengan “yang pertama Mamah saya, yang kedua istri saya”. Mungkin ada juga pembaca yang menjawab dengan jawaban yang saya berikan tadi. Tetapi jika kita mengingat adanya kontes kecantikan sampai level dunia, jawaban saya diatas seharusnya salah. Lho kok bisa? Namanya juga kontes kecantikan level dunia, yang menang berarti yang paling cantik dari ketiga sisi yang mereka kedepankan yaitu Beauty, Brain, and Behaviour. Adalah suatu konsekuensi logis jika kecantikan diadu, pemenangnya menjadi yang tercantik. Seperti lomba sprint 100 m, yang juara satu adalah yang tercepat. Maka jawaban saya diatas salah. Yang paling cantik seharusnya adalah Miss Universe!

Tapi nyatanya tidak. Semua orang tetap punya pilihan siapa yang paling cantik dan itu tentu bukan Miss Universe. Seperti saya, yang paling cantik menurut saya adalah Mamah saya dan istri saya. Jadi acara kontes kecantikan itu seharusnya diubah namanya. Saya juga tidak setuju parameter cantik hanya 3 tadi. Masih banyak yang lainnya. Kalau benar-benar kontes kecantikan, seharusnya parameter yang digunakan harus disetujui terlebih dahulu oleh orang di seluruh dunia (universe), lalu kita cari yang memenuhi parameter tersebut dan siapa yang meraih poin tertinggi, dialah yang benar-benar paling cantik se-dunia. Dan nantinya semua lelaki di planet ini jika diberikan pertanyaan diatas, semuanya akan kompak dan setuju bahwa yang paling cantik adalah yang menang kontes tadi. Tapi apakah ini mungkin? Menurut saya tidak. Ini sama saja seperti membahagiakan semua orang. Suatu kegiatan yang amat sulit dilakukan.

Perempuan muda ketika berdandan, terpikir olehnya agar terlihat cantik oleh semua orang. Mungkinkah? Mungkin tidak semua, yang mungkin terjadi adalah banyak orang. Bagaimana caranya? Nah tinggal samakan saja definisi cantik dari banyak orang tadi. Inilah pekerjaan produk-produk kecantikan.

Produk-produk kecantikan selalu dipasarkan dengan model yang mereka anggap cantik. Lalu pemasaran tersebut dilakukan secara masif, dilihat banyak orang, banyak lelaki. Mereka disetir persepsi cantiknya bahwa cantik adalah seperti model iklan tadi. Secara tidak sadar banyak lelaki yang memegang definisi cantik ini. Akhirnya para perempuan yang berdandan dengan mengikuti model iklan tadi seakan-akan berhasil mengerti definisi cantik dari banyak lelaki, dan voila! jadilah perempuan cantik di depan banyak lelaki.

Saya jadi terpikir apa yang terjadi jika ada lelaki yang tidak pernah melihat iklan televisi, artis, dll. Saya ingin tahu cantik versi lelaki tersebut seperti apa. Bagaimana reaksinya ketika ada perempuan yang berdandan seperti model? Apakah tetap menganggapnya cantik?

Mungkin banyak orang yang tidak sadar bahwa cantik pun definisinya bergeser dari zaman ke zaman. Lihat lukisan Monalisa yang dibuat oleh Leonardo da Vinci. Tidak mungkin oppa Leonardo membuat lukisan dari wanita yang tidak cantik (di zamannya). Itulah cantik versi zaman Leonardo. Perempuan yang body-nya rada gendut untuk ukuran wanita zaman sekarang. Beda dengan sekarang dimana cantik sering dipersepsikan sebagai wanita yang kurus tinggi langsing. Saya pernah melihat iklan lama tahun 1950an, bahwa ada produk kecantikan penggemuk badan! Ternyata cantik itu yang badannya sedikit berisi, setidaknya di tahun 1950an. Bagi yang pernah ke Borobudur, coba cek relief-relief wanita yang menggambarkan wanita zaman dulu. Wanita seperti itulah yang dianggap cantik di zaman Borobudur dibangun.

Setelah saya tahu definisi cantik ternyata dinamis, tidak ada alasan lagi perempuan menjadi minder karena dirinya tidak cantik. Jangan pernah salahkan Tuhan karena anda dilahirkan tidak cantik. Tapi salahkan mereka yang menyetir definisi cantik sehingga membuat anda menjadi tidak cantik

Iklan

Satu pemikiran pada “Tentang Kecantikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s