Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

Catatanku

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan…

Lihat pos aslinya 2.517 kata lagi

Iklan

Tulisan tentang Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi

Laniratulangi's Blog

FWT Homepage Translator

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi

Pijar-pijar Bintang Kejora dari Timur

Daniel Dhakidae

Harian Kompas, 1/1/2000

Ratulangi dan nasionalisme

Ratulangi lahir sebagai putra bungsu dari kalangan aristokrat Minahasa, seorang kepala distrik Kasendukan, tanggal 5 November 1890. Sebagai seorang aristokrat dia boleh masuk Europesche Lagere School, ELS. Setelah menamatkan sekolah dasar itu dia masuk Hoofdenschool, sebuah sekolah elite lokal untuk pendidikan kaum ambtenaar, terbatas hanya untuk kalangan atas.

Dia tidak puas dengan sekolah itu. Dia ingin pindah dari sana untuk mengejar cita-cita besar dan terutama karena cerita-cerita besar tentang STOVIA, School tot Opleiding van Indische Artsen, yang mendidik dokter-dokter Jawa di Batavia. Ketika ada tawaran beasiswa dari STOVIA, Ratulangi mendaftar dan memenangkan beasiswa. Itulah saat untuk pertama kalinya dia meninggalkan tanah kelahirannya Minahasa menuju Jawa berbekal pesan standar seorang ayah luar Jawa: “…janganlah kembali dengan koper kosong”. Pada tahun keberangkatannya itu, tahun 1904, usianya sangat muda, 14 tahun.

Sekolah dokter Jawa…

Lihat pos aslinya 2.679 kata lagi

Awareness Terhadap Profesi Sejak Dini

“Nanti kalau sudah besar, mau jadi apa nak?”

Pertanyaan diatas ini yang menjadi inspirasi saya menuliskan hal ini. Saya dulu pernah menjadi anak kecil, tentu pernah juga diberikan pertanyaan seperti itu. Lupa saya menjawab apa saat diberikan pertanyaan itu. Suatu hal yang kita tahu sama tahu bahwa jawaban umum dari pertanyaan di atas adalah Pilot, Dokter, Insinyur, Pengacara, Tentara, Guru, Polisi. Inilah profesi-profesi yang kita kenal dulu ketika kecil. Ternyata saat saya mulai kuliah, profesi tak hanya itu saja. Banyak profesi lain yang bahkan jika disebut nama profesinya, kuping terasa asing.

Beruntung bagi anak yang memang dari kecil hingga SMA kelas 3 masih teguh memegang cita-cita yang sering disebut ketika kecil. Jalurnya jelas. Jika ingin jadi dokter, masuklah Fakultas Kedokteran. Ingin jadi tentara, ikut Akademi Militer. Bagi yang belum tahu mau jadi apa, mungkin akan ikut-ikutan orang lain. Inilah yang bahaya. Apa yang orang lain lakukan, belum tentu kita sukai walaupun itu terlihat menyenangkan.

Kesadaran akan jenis profesi yang beragam inilah yang menurut saya masih kurang. Semakin kita tahu banyak berbagai jenis profesi yang ada, semakin kita bisa bandingkan, syukur-syukur ada yang menjadi passion kita karena deskripsi profesi tersebut sesuai dan kita sukai. Banyak motif orang menyukai dan ingin berprofesi tertentu. Dari hal yang umum seperti gaji, lingkungan kerja, sampai ke kebutuhan personal seperti aktualisasi diri. Apa jadinya jika anak-anak yang mau masuk jenjang kuliah hanya tahu profesi yang pernah ia sebutkan ketika kecil? Syukur-syukur ada yang cocok, kalau tidak akan terjadi pemborosan waktu karena kuliah yang diambil tidak sesuai dengan passionnya. Banyak terjadi seseorang yang cerdas dan pintar ketika di SMA, begitu masuk kuliah ia menjadi malas-malasan, kuliah pun tak ada gairah. Bukan karena mendadak bodoh, tetapi merasa kuliah yang dijalaninya tidak ia sukai.

Oleh karena itu, perlu pengenalan berbagai macam profesi sebanyak mungkin sejak dini. Mungkin waktu yang tepat adalah ketika kelas 1 atau kelas 2 SMA. Tujuannya adalah menawarkan kepada mereka inilah profesi-profesi yang bisa kalian geluti saat kalian dewasa nanti. Beginilah deskripsi kerjanya, lingkungan kerjanya, gajinya, dan begini jalurnya. Kalau masih penasaran, panggil seseorang yang sudah berprofesi seperti yang diinginkan. Tanya kepada beliau bagaimana rasanya berprofesi sebagai itu. Jadi setelah merasa cocok dan tertarik, sudah tau apa yang dilakukan, sudah tau jurusan kuliah apa yang akan diambil, dan sudah tau mau berbuat apa setelah kuliah selesai.

Banyak sumber yang bisa didatangi, dibaca, didengar untuk mencari-cari info mengenai suatu profesi. Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah website yang dibuat oleh Department of Labour United States yang bertemakan Occupational Outlook Handbook (OOH). Tahun-tahun sebelumnya, ada cetakan fisik buku OOH ini, tetapi mulai tahun ini hanya ada di websitenya yang bisa dikunjungi di http://www.bls.gov/ooh/. Website ini lengkap dengan deskripsi, lingkungan kerja, pendapatan, bagaimana jalurnya, profesi lain apa yang masih berhubungan dengan profesi itu, dll. Juga lengkap dengan foto ilustrasi seseorang yang berprofesi tersebut.

Profesi impian saya, Aktuaris (Bagi beberapa orang, duduk di depan komputer setiap hari itu membosankan, seperti gambar ini)

Website ini juga membantu teman-teman yang belum kuliah agar memilih jurusan yang tepat. Ingat kata pepatah yang tertulis di pistol milik Jason Statham di film The Mechanic, Amat Victoria Curam — Victory Loves Preparation. Dunia kini memerlukan orang yang ahli di bidang yang spesifik, karena luas dan kehidupan yang kompleks, mungkin sudah hampir tidak ada seseorang yang jenius di berbagai bidang.

Website ini juga diperlukan untuk membantu datangnya restu orang tua. Ingat, orang tua kitalah yang membiayai kuliah kita nanti (mungkin juga ada yang lewat beasiswa). Kadang ada orang tua yang sudah menyetir anaknya untuk menjadi apa yang mereka mau, bukan yang kita mau. Kadang ada restu orang tua yang tidak keluar akibat kurangnya pengetahuan si orang tua terhadap profesi yang kita cita-citakan. Inilah tugas kita sebagai anak. Kita berikan mereka pemahaman bahwa profesi yang kita inginkan seperti ini, itu, begini, dan begitu. Jelaskan kepada mereka dari A sampai Z tentang profesi yang ingin kita capai. Di paragraf berikutnya saya akan berikan beberapa kisah buatan saya sendiri tentang tidak keluarnya restu dari orang tua karena kurangnya pengetahuan profesi yang kita inginkan.

Ada seorang anak, ia bercita-cita sebagai welding engineer, oleh karena itu ia ingin kuliah di institut teknologi negeri untuk melancarkan jalannya menjadi welding engineer . Ia utarakan hal itu ke ayahnya bahwa ia ingin menjadi welding engineer. Ternyata sang ayah baru mendengar “welding engineer”. Karena nama profesi ini berbahasa Inggris, ia buka kamus dan baru tahu bahwa welding itu artinya las, atau bahasa sehari-hari kita ngelas. Alhasil cita-cita sang anak ditolak mentah-mentah oleh sang ayah. Menurut sang ayah, buat apa capek-capek kuliah sarjana kalau ujung-ujungnya hanya mengelas pagar, tangga, atau teralis? Padahal seorang welding engineer ini jika sudah bersertifikat internasional, bayarannya mahal. Pekerjaannya pun tentu saja bukan ngelas teralis atau pagar, tetapi suatu konstruksi yang masif seperti pipa minyak & gas, pembangkit listrik, mesin pesawat, dll. Yah mungkin bisa juga ngelas pagar kalau perlu. Dan biaya pelatihan untuk menjadi certified welding engineer bisa mencapai belasan juta. Kalau diterangkan seperti ini, apakah sang ayah akan menolak? Apakah sang ayah akan tetap mengira bahwa welding engineer itu tukang las pagar?

Atau cerita kedua, ada anak yang bercita-cita menjadi sound engineer. Kan berabe kalau orang tua anak itu anggap sound engineer = tukang sound system organ tunggal?

Begitu juga apa yang saya alami tetapi tak seekstrim cerita diatas. Ketika tingkat 4, saya bertekad untuk menjadi aktuaris. Saya tahu profesi ini sejak kelas 2 SMA ketika saya datang ke pameran pendidikan Australia. Saya memperoleh semacam brosur yang berisi jurusan yang ada di Australia tetapi yang tidak ada di Indonesia, salah satunya jurusan Actuarial Science. Begitu saya utarakan niat ini ke orang tua saya, ternyata beliau berdua tidak tahu apa itu aktuaris. Begitu saya bilang aktuaris itu kerjanya di perusahaan asuransi, orang tua saya sudah terbayang bahwa pekerjaan aktuaris itu keliling kota cari nasabah, atau telepon orang-orang untuk menawarkan produk asuransi. Dengan sedikit guyonan, saya bilang aktuaris itu yang ngitung dan ngisi angka di tabel premi yang dibawa oleh orang-orang yang keliling cari nasabah hehe. Memang pekerjannya tidak serta merta seperti itu. Tetapi itulah yang saya lakukan. Buat apa saya jelaskan ke orang tua saya bahwa aktuaris itu bermain tabel mortalita, fungsi peluang, ekspektasi, cadangan, present value of money, annuity,  value of new bussiness, profit margin, risk premium, dan sebagainya. Toh dengan itu saja orang tua saya mengerti bahwa orang Matematika berada di jalur yang sesuai untuk menjadi aktuaris. Akhirnya restu yang saya tunggu datang. Sebenarnya tak perlu saya jelaskan pun orang tua saya mendukung untuk menjadi apa saja yang saya mau asalkan itu baik dan berguna untuk masyarakat.

Jadi kesimpulannya, di dunia yang semakin kompleks ini, profesi beragam, tak sesederhana profesi yang kita sebutkan ketika masih kecil dulu. Tugas kitalah sebagai anak untuk bisa menjelaskan hal ini ke orang tua agar mendukung cita-cita yang kita inginkan