Senyum Karyamin

1302796

Senyum Karyamin adalah buku ketiga karya Ahmad Tohari yang selesai saja baca setelah Ronggeng Dukuh Paruk dan Orang-Orang Proyek. Seperti buku-buku lainnya, karya Ahmad Tohari selalu diisi dengan deskripsi pedesaan yang kuat dan indah hingga merasuk ke dalam pembacanya. Saya sebagai pembacanya yang kini hidup di hiruk pikuk egoisme perkotaan jadi sempat melupakan suasana perkotaan tsb ketika membaca buku Senyum Karyamin ini. Buku ini adalah kumpulan 13 cerita pendek karya Tohari yang salah satu judul cerpennya dijadikan judul buku, yaitu Senyum Karyamin.

Senyum Karyamin berisi cerita tentang Karyamin yang bekerja sebagai pengambil batu. Cerita ini masih lekat oleh suasana pedesaan lengkap dengan deskripsi manusianya. Terdapat suatu ironi yang kental didalam setiap kalimatnya. Betapa Karyamin yang juga mengalami kesulitan hidup harus dituntut untuk membantu kelaparan di benua Afrika. “Senyum” nya kini abadi, Senyum yang berlandaskan ironi hidup.

Kehidupan desa yang lengkap dengan segala dinamikanya mampu disajikan dengan apik. Terdapat beberapa karakter buatan Tohari yang kadang kita sepelekan jika bertemu di dunia nyata. Sebut saja namanya Blokeng, seorang wanita yang mengalami gangguan jiwa yang biasa hidup di tumpukan sampah pasar tradisional. Blokeng yang hidup sendiri ini tiba-tiba mengandung seorang bayi. Manusia mana yang tega menghamili Blokeng? Tohari memberikan kelucuan penuh ironi di mana manusia desa mulai bertindak nyeleneh karena ulah Blokeng yang menebak-nebak siapa pria yang menghamilinya. Ketika Blokeng berkata pria yang menghamilinya adalah bukan pria yang botak, mendadak mode rambut botak tenar di seluruh kampung

Cowet, anakku. Ayahmu itu mbuh. Tetapi jangan bersedih ya. Lihallah itu, orang-orang gundul. Lucu, ya?

Banyak hikmah yang dapat kita ambil sebagai manusia yang tak dapat hidup sendiri di dunia ini. Antara lain cerita yang berjudul Wangon Jatilawang. Bercerita tentang orang dengan keterbelakangan mental yang tak jelas arahnya tetapi memberikan pelajaran tentang ketulusan dan saling memberi.

Ada pula cerita tentang Minem Beranak Bayi. Keluguan tercipta karena orang tua Minem yang terheran-heran mendengar kabar Minem melahirkan. Ia bingung Minem kok bisa beranak bayi, padahal Minem masih bocah. Itulah yang membuatnya heran, kok bisa bocah melahirkan seorang bocah? Inilah cerita tentang perkawinan usia dini yang masih lazim di pedesaan.

Bagaimanapun, disinilah keunggulan dan yang menjadi ciri khas Tohari. Mampu memberikan suasana desa yang penuh dengan kepolosan, keluguan, dan kesederhanaan. Buku ini menjadi oase tersendiri bagi saya yang setiap harinya sumpek dengan kemacetan, egoisme, kekurangtulusan, dan kemunafikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s