Lights All Askew In The Heavens

Ketika Eddington melakukan eksperimen gerhana matahari total pada 1919 untuk menguji Teori Relativitas Umum yang mengatakan bahwa cahaya dari bintang akan melengkung jika melewati medan gravitasi. Kala itu Einstein bukan ilmuwan yang dikenal masyarakat eropa. Apalagi di Inggris yang masih merasa superior karena mempunyai Sir Isaac Newton.

Sir Arthur Eddington (source: itscom.com)

Maret 1919, Eddington berangkat dari Liverpool ke pulau Principe yang berada di lepas pantai Afrika di Samudera Atlantik untuk mengambil foto bintang yang berada di sekitar matahari saat terjadi gerhana matahari total. Jadi foto tersebut akan dibandingkan dengan foto yang lain dalam keadaan tidak sedang gerhana. Kedua foto akan dibandingkan dan kala itu Einstein mengatakan akan terjadi pembelokan cahaya sebesar 1,7 detik busur.

Royal Society kala itu mengadakan acara khusus untuk mempublikasikan hasil eksperimen Eddington. Suasananya sedikit aneh karena di Perang Dunia I, Inggris berseteru dengan Jerman. Dan kali itu seorang ilmuwan Inggris yang juga seorang Quaker akan membuktikan kebenaran (atau membuktikan salah) teori yang dibangun oleh ilmuwan Jerman yang juga Yahudi. Itulah indahnya sains, berlaku untuk seluruh manusia apapun warga negara, suku, dan agamanya.

Selain keanehan tersebut, ada juga suasana yang sedikit mencekam. Jika teori Einstein tentang 1,7 detik busur benar, maka teori Newton yang memperkirakan pembelokan cahaya hanya 0,8 detik busur akan menjadi salah. Parahnya kesalahan tersebut akan dibuktikan oleh ilmuwan Inggris sendiri. Pengumuman hasil eksperimen dilaksanakan di Burlington House, terdapat foto Sir Isaac Newton di sana seakan-akan akan diperlihatkan suatu momen di mana generasi ilmiah kali ini mengkoreksi apa yang ia kerjakan hampir dua abad yang lalu.

Setelah melewati perhitungan yang cukup kompleks, Eddington menyatakan bahwa pembelokan cahaya yang terjadi sebesar 1,6 detik. Sangat dekat dengan hasil yang diperoleh oleh Einstein, dan dua kali lipat dari apa yang diprediksi oleh teori Newton. Momen setelah ini yang merubah dunia. Merubah anggapan bahwa seorang ilmuwan harus berpakaian rapi dan berambut klimis. Karena efek media kala itu lah, mengapa kita sering temukan ilustrasi mengapa seorang ilmuwan harus berambut acak-acakan seperti Einstein.

Albert Einstein (source: wikipedia)

Media kala itu mulai melirik matanya ke Jerman. Warga dunia yang bosan dengan perang kini mulai terasa cerah kembali. Ternyata kultur media yang memberitakan suatu peristiwa dengan ungkapan hiperbolis itu sudah ada sejak awal abad 20. Berikut kata New York Times

ECLIPSE SHOWED GRAVITY VARIATION

Diversion of Light Rays Accepted as Affectiong Newton’s Principles

HAILED AS EPOCHMAKING

British Scientist Calls the Discovery One of the Greatest of Human Achievements

Esok harinya, New York Times kembali memasang headline

LIGHTS ALL ASKEW IN THE HEAVENS

kalau bahasa anak gaul 2013 sekarang, headline diatas cukup masuk kategori lebay. Ini kurang lebih sama dengan pemberitaan penemuan subpartikel Higgs-Boson tahun lalu. Hanya karena ahli fisika partikel tersebut mengatakan Goddamned particle karena partikel ini sulit dibuktikan (atau sulit dicari?), lalu agar terdengar bombastis media memberitakannya menjadi God Particle. Ketika sampai di Indonesia, istilah tersebut kemudian di salah pahami secara sepihak sebagai sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan.

Oh media…

Referensi :

Walter Isaacson, 2013, Albert Einstein, Bentang Pustaka
Einstein and Eddington (TV Movie), 2008, Director: Philip Martin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s