Sesama Tuhan Jangan Bertengkar – Emha Ainun Nadjib

tuhanmu, ya tuhanmu

tuhanku, ya tuhanku

tuhanmu berbeda dengan tuhanku

menurutmu, tuhanku bukan tuhan

menurutku, tuhanmu bukan tuhan

tuhanmu menciptakan agama yang kamu anut

tuhanku menciptakan agama yang aku anut

agamamu, ya agamamu

agamaku, ya agamaku

menurutmu, aku ini kafir

menurutku, kamu itu kafir

tuhanmu menciptakan surga untukmu

tuhanku menciptakan surga untukku

surga buatan tuhanmu bukan untukku

surga buatan tuhanku bukan untukmu

tuhanmu menciptakan neraka katamu,

neraka buatan tuhanmu itu untukku

tuhanku juga menciptakan neraka

karena neraka buatan tuhanku itu untukmu

tapi kamu berteriak, “kau harus percaya pada tuhanku, agar tak dibuang ke dalam neraka jahanam buatan tuhanku!”

aku pun berteriak, “kau yang harus mengakui tuhanku, agar tak disiksa habis-habisan dalam neraka buatan tuhanku!”

“goblok!” bentakmu. “menurut agamaku, tuhanmu itu hantu!”

“bodoh!” sergahku. “menurut agamaku, justru tuhanmu itu hantu!”

“biadab!” umpatmu. “kau menghujat tuhanku!”

“bedebah!” makiku. “kau menghujat tuhanku!”

maka kamu dan aku saling naik pitam,

saling mencabut parang

saling menyerang hingga parang bersarang dalam erang kesakitan

kamu mati

aku juga mati

kamu menghadap tuhanmu

aku menghadap tuhanku

di langit tuhanmu dan tuhanku mengadakan pertemuan

karena tuhanmu tidak rela menerima kematianmu

dan tuhanku pun tidak rela menerima kematianku

pertemuan menjadi debat tanpa batas kesabaran tuhanmu habis

kesabaran tuhanku juga demikian

lantas tuhanmu berkelahi dengan tuhanku

perkelahian seru dari dendam kesumat purba

langit bergemuruh

halilintar runtuh

di bumi, anakmu bilang, “wah tuhanku marah.

“anakku pun bilang, “tuhanku-lah yang marah.”

“goblok!” bentak anakmu. “tuhanku marah, gara-gara kau tidak mau menyembah tuhanku, bertobat dari kafirmu lalu masuk agamaku!”

“bodoh!” balas anakku. “tuhankulah yang marah,gara-gara kau tidak mau menyembah tuhanku, bertobat dari kafirmu lalu masuk agamaku!”

“biadab!” umpat anakmu. “kau menghina agamaku!”

“bedebah!” maki anakku. “kau menghina agamaku!”

maka anakmu dan anakku saling bersitegang,

saling mencabut parang saling menyerang hingga parang bersarang dalam erang kesakitan

anakmu mati anakku juga mati

anakmu menghadap tuhanmu

anakku menghadap tuhanku

di langit tuhanmu dan tuhanku mengadakan pertemuan lagi

karena tuhanmu tidak ikhlas menerima kematian anakmu

dan tuhanku pun tidak ikhlas menerima kematian anakku

pertemuan kembali menjadi debat tanpa bataskesabaran tuhanmu habis

kesabaran tuhanku juga begitu

lantas tuhanmu berkelahi lagi dengan tuhanku

perkelahian seru dari dendam kesumat purba

langit bergemuruh

halilintar runtuh

di bumi, cucumu bilang, “wah tuhanku murka, sebab iamembenci adanya orang-orang kafir semacam kau!”

cucuku pun bilang, “tuhanku-lah yang murka, sebab ia

membenci adanya orang-orang kafir semacam kau!”

lantas, lagi-lagi saling tebassama-sama nyawa lepas

di suatu tempat, iblis, setan, ruh jahat dan sesamanya berkumpul melingkari meja, menyaksikan semua mereka tertawa terbahak-bahak.

“sesungguhnya, kita tahu siapa tuhan yang sebenarnya itu,” kata mereka

Iklan

Puncak Sesat Pikir: Jembatan Selat Sunda

bacaan yang menarik untuk direnungkan

Indonesia berasal dari lautan yang ditaburi beberapa pulau di atasnya. Bukan daratan yang diguyur oleh lautan

faisal basri

Inkonsistensi MP3EI

Dokumen MP3EI cukup banyak mengetengahkan karakteristik Indonesia yang unik sebagai negara kepulauan. Berikut kutipannya:

1. “Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki wilayah dengan panjang mencapai 5.200 km dan lebar mencapai 1.870 km. Lokasi geografisnya juga sangat strategis (memiliki akses langsung ke pasar terbesar di dunia) karena Indonesia dilewati oleh satu Sea Lane of Communication (SLoC), yaitu Selat Malaka, di mana jalur ini menempati peringkat pertama dalam jalur pelayaran kontainer global (lihat Gambar 1.6).” (MP3EI, hal.18)

2. ” Berdasarkan data United Nations Environmental Programme (UNEP, 2009) terdapat 64 wilayah perairan Large Marine Ecosystem (LME) di seluruh dunia yang disusun berdasarkan tingkat kesuburan, produktivitas, dan pengaruh perubahan iklim terhadap masing-masing LME. Indonesia memiliki akses langsung kepada 6 (enam) wilayah LME yang mempunyai potensi kelautan dan perikanan yang cukup besar, yaitu: LME 34 – Teluk Bengala; LME 36 – Laut Cina Selatan; LME 37 – Sulu Celebes; LME 38 – Laut-laut…

Lihat pos aslinya 1.169 kata lagi

Berkunjung ke makam mbah Pram

H-1 lebaran, saatnya saya mudik ke rumah nenek di Depok. Tetapi sehari sebelumnya saya menonton film De Grote Postweg, Jalan Raya Pos. Film ini dirilis tahun 1996 yang berkisah tentang Jalan Raya Pos yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Jalan raya ini mempunyai rentang sekitar 1000 km yang terbentang dari Anyer hingga Panarukan.

Yang menarik dari film ini adalah, narasinya langsung dari Pramoedya Ananta Toer, yang kelak melahirkan buku berjudul Jalan Raya Daendels. Buku ini sudah saya baca dulu ketika akan masuk kuliah. Buku kedua saya setelah Cerita Calon Arang yang saya baca di perpustakaan sekolah. Diceritakan bahwa pembangunan jalan raya ini memakan banyak korban pribumi. Nyawa mereka seakan tak ada harganya. Narasi yang dibuat untuk film ini lebih kepada menceritakan pengalaman pribadi mbah Pram (saya sering memanggil beliau dengan sebutan ini) di jalan raya ini.

Di tengah film terkadang mbah Pram “diganggu” oleh beberapa anak kecil, mungkin cucunya. Bersahaja sekali beliau. Apalagi ketika masa film itu dibuat, beliau merasa tak aman karena buku yang berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu baru saja dibredel oleh Kejaksaan Agung. Ia tetap merokok, mengetik, membaca, seperti biasa. Sosoknya sangat menginspirasi saya karena melalui karya-karyanya, saya belajar mengenai arti manusia, menjadi manusia, dan memanusiakan orang lain.

Tak lengkap rasanya jika saya belum mengunjunginya. Sayang, saya telat lahir, atau telat membaca karya-karyanya. Suatu penyesalan tersendiri karena tak pernah berjumpa langsung dengannya. Jadi rasa kagum itu saya wujudkan untuk berkunjung ke pusara terakhirnya. Di blok AA1-40, no 63, TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Setelah berhasil menemukan letak makamnya, seketika langsung merinding saya. Merinding karena tulisan yang ada di batu nisan makam mbah Pram

Pemuda harus melahirkan pemimpin

Sayang sekali mbah, jika melihat kandidat yang akan maju sebagai Presiden tahun depan, rasanya pesan terakhirmu ini belum terlaksana, bahkan masih proses yang harus dilalui.

Islam Kaset Dengan Kebisingannya – Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Gara-gara om @BonnieTriyana yang ngetweet tentang artikel lama yang ditulis oleh almarhum Gus Dur pada tahun 80an. Setelah saya googling, saya memperoleh artikel tersebut dari sebuah milis. Berikut isi artikel itu

——-

‘Islam Kaset’ dengan Kebisingannya

Oleh: KH. Abdurrahman Wahid

SUARA bising yang keluar dari kaset biasanya dihubungkan dengan musik kaum remaja. Rock ataupun soul, iringan musiknya dianggap tidak bonafide kalau tidak ramai.

Kalaupun ada unsur keagamaan dalam kaset, biasanya justru dalam bentuk yang lembut. Sekian buah baladanya Trio Bimbo, atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja. Sudah tentu tidak ada yang mau membeli kalau ada kaset berisikan musik agama yang berdentang-dentang, dengan teriakan yang tidak mudah dimengerti apa maksudnya.

Tetapi ternyata ada “persembahan” berirama, yang menampilkan suara lantang. Bukan musik keagamaan, tetapi justru bagian integral dari upacara keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadat, dilontarkan dari menara-menara masjid dan atap surau.

Apalagi malam hari, lepas tengah malam di saat orang sedang tidur lelap. Dari tarhim (anjuran bangun malam untuk menyongsong saat shalat subuh) hingga bacaan Quran dalam volume yang diatur setinggi mungkin. Barangkali saja agar lebih “terasa” akibatnya: kalau sudah tidak dapat terus tidur karena hiruk-pikuk itu, bukankah memang lebih baik bangun, mengambil air sembahyang dan langsung ke masjid?

Bacaan Al Quran, tarhim dan sederet pengumuman, muncul dari keinginan menginsafkan kaum musilimin agar berperilaku keagamaan lebih baik. Bukankah shalat subuh adalah kewajiban? Bukankah kalau dibiarkan tidur orang lalu meninggalkan kewajiban? Bukankah meninggalkan kewajiban termasuk dosa? Bukankah membiarkan dosa berlangsung tanpa koreksi adalah dosa juga? Kalau memang suara lantang yang mengganggu tidur itu tidak dapat diterima sebagai seruan kebajikan (amar ma’ruf), bukankah minimal ia berfungsi mencegah kesalahan(nahi munkar)?

Sepintas lalu memang dapat diterima argumentasi skolastik seperti itu. Ia bertolak dari beberapa dasar yang sudah diterima sebagai kebenaran: kewajiban bersembahyang, kewajiban menegur kesalahan dan menyerukan kebaikan. Kalau ada yang berkeberatan, tentu orang itu tidak mengerti kebenaran agama. Atau justru mungkin meragukan kebenaran Islam? Undang-undang negara tidak melarang. Perintah agama justru menjadi motifnya. Apa lagi yang harus dipersoalkan? Kebutuhan manusiawi bagaimanapun harus mengalah kepada kebenaran Ilahi. Padahal, mempersoalkan hal itu se benarnya juga menyangkut masalah agama sendiri.

Mengapa diganggu?

Nabi Muhammad mengatakan, kewajiban (agama) terhapus dari tiga macam manusia: mereka yang gila (hingga sembuh), mereka yang mabuk (hingga sadar), dan mereka yan tidur (hingga bangun). Selama ia masih tidur, seseorang tidak terbebani kewajiban apa pun. Allah sendiri telah menyedia kan “mekanisme” pengaturan bangun dan tidurnya manusia. dalam bentuk metabolisme badan kita sendiri.

Jadi tidak ada alasan untuk membangunkan orang yang sedang tidur agar bersembahyang – keculai ada sebab yang sah menurut agama, dikenal dengan nama ‘illat. Ada kiai yang menotok pintu tiap kamar di pesantrennya untuk membangunkan para santri. ‘Illat-nya: menumbuhkan keiasaan baik bangun pagi, selama mereka masih di bawah tanggung jawabnya. Istri membangunkan suaminya untuk hal yang sama, karena memang ada ‘illat: bukankah sang suami harus menjadi teladan anak-anak dan istrinya di lingkungan rumah tangganya sendiri?

Tetapi ‘illat tidak dapat dipukul rata. Harus ada penjagaan untuk mereka yang tidak terkena kewajiban: orang jompo yang memerlukan kepulasan tidur, jangan sampai tersentak. Wanita yang haid jelas tidak terkena wajib sembahyang. Tetapi mengapa mereka harus diganggu? Juga anak-anak yang belum akil baligh (atau tamyiz, sekitar umur tujuh delapan tahunan, menurut sebagian ahli fiqh mazhab Syafi’i).

Tidak bergunalah rasanya memperpanjang illustrasi seperti itu: akal sehat cukup sebagai landasan peninjauan kembali “kebijaksanaan” suara lantang di tengah malam — apalagi kalau didahului tarhim dan bacaan Al Quran yang berkepanjangan. Apalagi, kalau teknologi seruan bersuara lantang di alam buta itu hanya menggunakan kaset! Sedang pengurus masjidnya sendiri tenteram tidur di rumah.

 

TEMPO, 20 Februari 1982