Berkunjung ke makam mbah Pram

H-1 lebaran, saatnya saya mudik ke rumah nenek di Depok. Tetapi sehari sebelumnya saya menonton film De Grote Postweg, Jalan Raya Pos. Film ini dirilis tahun 1996 yang berkisah tentang Jalan Raya Pos yang diprakarsai oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels. Jalan raya ini mempunyai rentang sekitar 1000 km yang terbentang dari Anyer hingga Panarukan.

Yang menarik dari film ini adalah, narasinya langsung dari Pramoedya Ananta Toer, yang kelak melahirkan buku berjudul Jalan Raya Daendels. Buku ini sudah saya baca dulu ketika akan masuk kuliah. Buku kedua saya setelah Cerita Calon Arang yang saya baca di perpustakaan sekolah. Diceritakan bahwa pembangunan jalan raya ini memakan banyak korban pribumi. Nyawa mereka seakan tak ada harganya. Narasi yang dibuat untuk film ini lebih kepada menceritakan pengalaman pribadi mbah Pram (saya sering memanggil beliau dengan sebutan ini) di jalan raya ini.

Di tengah film terkadang mbah Pram “diganggu” oleh beberapa anak kecil, mungkin cucunya. Bersahaja sekali beliau. Apalagi ketika masa film itu dibuat, beliau merasa tak aman karena buku yang berjudul Nyanyi Sunyi Seorang Bisu baru saja dibredel oleh Kejaksaan Agung. Ia tetap merokok, mengetik, membaca, seperti biasa. Sosoknya sangat menginspirasi saya karena melalui karya-karyanya, saya belajar mengenai arti manusia, menjadi manusia, dan memanusiakan orang lain.

Tak lengkap rasanya jika saya belum mengunjunginya. Sayang, saya telat lahir, atau telat membaca karya-karyanya. Suatu penyesalan tersendiri karena tak pernah berjumpa langsung dengannya. Jadi rasa kagum itu saya wujudkan untuk berkunjung ke pusara terakhirnya. Di blok AA1-40, no 63, TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat.

Setelah berhasil menemukan letak makamnya, seketika langsung merinding saya. Merinding karena tulisan yang ada di batu nisan makam mbah Pram

Pemuda harus melahirkan pemimpin

Sayang sekali mbah, jika melihat kandidat yang akan maju sebagai Presiden tahun depan, rasanya pesan terakhirmu ini belum terlaksana, bahkan masih proses yang harus dilalui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s