Merasionalisasikan Kecantikan

sayang kalau nggak di reblog :p

aseptia

topeng

Malam ini saya cukup geregetan. Sebagian karena pengaruh software  yang dari beberapa jam yang lalu selalu gagal saya instal, sebagiannya lagi karena saya cukup muak melihat konten salah satu situs kompetisi kecantikan tingkat dunia. Tampaknya, bukanlah kaum adam yang ‘menjatuhkan’ martabat perempuan, melainkan kebanyakan perempuan sendiri. Ah, saya bukanlah seorang feminis total, meskipun saya cukup sering debat dengan beberapa lelaki di kandang gajah karena merasa disana perempuan masih didiskriminasi. Tapi kali ini saya berpikir, usaha perempuan untuk menorehkan identitas ‘cantik’ di dirinya kebanyakan konyol, tidak logis dan malah menjatuhkan martabat perempuan itu sendiri– semacam ; sepertinya banyak perempuan yang tidak bisa pakai otak *semoga asumsi ini salah*.

Jebakan Industri Kecantikan

Nyalakanlah televisi, maka ditiap jadwal iklan akan kita dapatkan iklan produk-produk kecantikan. Pergilah ke supermarket, maka akan kita dapatkan koridor penuh produk-produk kecantikan. Bukalah majalah wanita, maka akan kita dapatkan pula trend fashion paling up to date. Tontonlah sinetron, 

Lihat pos aslinya 1.402 kata lagi

Kurang Piknik!

“Kurang piknik” sering saya gunakan jika menemui suatu tweet yang bernada alergi dengan perbedaan, mempunyai sudut pandang bak kacamata kuda, hingga sampai suatu pemaksaan kehendak. Entah siapa yang pertama kali mempopulerkan istilah ini. Hanya saja saya suka sekali dengan istilah ini.

Jika seseorang mulai dikomentari dengan “Kurang piknik”, bisa berarti orang tersebut memang butuh piknik. Kalau bisa piknik ke tempat yang jauh sekali dari lingkungan tempat ia berasal. Lingkungan dalam hal ini tidak hanya dalam konteks wilayah geografis saja. Tetapi juga lingkungan dalam konteks ide atau pemikiran. Seseorang yang terbiasa di lingkungan dengan ide yang itu-itu saja cenderung mudah terseret ke dalam jurang penghakiman atas ide yang baru ia dengar. Ini hanyalah kesimpulan yang saya buat dari apa yang pernah saya hadapi. Lebih berbahaya lagi jika sudah memasuki stadium parah, maka orang tersebut sudah terprogram menjadi langsung dilepeh tanpa dikunyah, yang merupakan antonim dari langsung telan bulat-bulat.

Karena konteks “kurang piknik” yang juga di ranah ide-pemikiran, maka dapat pula piknik berarti mulai berkenalan, mengindentifikasi, menelaah, dan mempelajari ide-ide baru diluar lingkungan sehari-hari. Dapat dilakukan dengan cara membaca artikel, tulisan, atau buku-buku yang mempunyai genre yang sama sekali berbeda dengan apa yang biasa dibaca.

Jika diartikan secara literal pun, istilah “kurang piknik” juga dapat diartikan benar-benar sebagai “silahkan pergi piknik! Carilah lingkungan yang benar-benar baru”. Kalau bisa tak ada orang yang anda kenal di sana. Orang yang terbiasa mencari-cari perbedaan dari dalam dirinya, begitu dijebloskan ke dalam lingkungan yang sangat berbeda, kesan pertama yang mungkin timbul adalah yang bersangkutan semakin semangat membuat daftar apa saja yang berbeda dari orang-orang di lingkungan barunya ini. Karena lingkungan yang baru, semakin banyak saja daftar yang ia miliki hingga ia bosan dengan daftar tersebut, lalu mencari apa kesamaan yang ada.

Seseorang yang “sering piknik” acapkali terbiasa dengan perbedaan, lalu tak mudah terpancing atau tersulut apapun oleh perbedaan itu. Boleh jadi orang tersebut tak setuju dengan perbedaan yang ada dari luar dirinya. Padahal menerima perbedaan bukan berarti kita harus setuju dengan perbedaan itu kan?

Yuk Piknik!

Karawaci, yang menulis ini pun merasa dirinya kurang piknik