Mendaki Gunung Cikuray

Setelah Papandayan pada Desember 2012, kemarin saya mendaki gunung Cikuray. Cikuray juga terletak di wilayah Garut, Jawa Barat. Berbeda dengan Papandayan, gunung Cikuray bentuknya hampir menyerupai kerucut sempurna. Konsekuensinya adalah jalur pendakian terus menanjak dan lumayan terjal. Saya naik gunung ini tidak sendiri, tetapi bersama 15 orang lainnya yang merupakan teman dari teman kantor saya. Inilah serunya dapat teman mendaki baru. Ternyata sebagian dari mereka sebelumnya pernah mendaki bersama gunung Papandayan beberapa bulan yang lalu.

Saya bersama tim  berangkat dari terminal Kampung Rambutan, Jumat jam 11 malam dengan bis tujuan Garut. Sayang sekali bis ini dua kali mogok di jalan. Pertama di kilometer 80an tol Cipularang dan di daerah Cileunyi. Alhasil kami sampai di Tarogong pada pukul 4.30 pagi. Dari Tarogong, kita lanjut dengan mobil pickup sewaan dengan tujuan pos pemancar televisi yang terletak persis di kaki Cikuray. Pos pemancar ini adalah start awal pendakian. Wilayahnya sejuk, berbukit-bukit dengan pemandangan kebun teh. Mobil dapat melewati jalur kebun teh karena jalan cukup lebar tetapi jalanannya berupa batu-batu sehingga kurang nyaman dan mobil tak bisa melaju terlalu cepat. Karena membawa 16 orang plus carrier yang rata-rata berkapasitas 50 liter, mobil ini tak kuat menanjak di tanjakan terakhir sebelum sampai ke stasiun pemancar. Akhirnya kami semua turun🙂

Image

Kami mulai naik pada pukul 9 pagi. Ini terlambat satu jam dari rencana awal yang seharusnya satu atau dua jam lebih dulu karena faktor bis yang mogok tadi😐. Sebelumnya kami repack carrier dan absen logistik terutama air minum. Air minum sangat penting karena di gunung ini katanya tak ada sumber mata air sehingga kita harus membawa air sendiri. Sebenarnya 2 botol air berukuran 1.5 liter cukup untuk pendakian dengan menginap satu malam. Untuk jaga-jaga, saya membawa 3 botol. Setelah repack, isi carrier saya ditambahkan lagi untuk membawa sebuah tenda.

Jalur awal adalah melewati kebun teh. Kita langsung ‘dihajar’ dengan tanjakan awal yang lumayan panjang. Feeling saya mulai tak enak karena baru mulai saja saya sedikit tergopoh-gopoh melewati tanjakan kebun teh itu. Setelah kebun teh, ada tanjakan lagi berupa jalan setapak berpasir. Menurut info dari penjaga gunung, sudah beberapa hari ini tidak hujan, jadi sedikit berdebu. Setelah jalan kaki lagi kurang lebih 15-30 menit, para pendaki mulai memasuki gerbang rimba. Hutan di Cikuray mengingatkan saya mengenai hutan di gunung Burangrang. Rimbun, tetapi sedikit kering. Kurang lebih 1 jam kemudian baru kita sampai di pos pertama, dari delapan pos. Jelas ini catatan waktu yang lumayan buruk. Maklum, saya sendiri masih pemula dan ritme nafas belum juga pas. Setelah pos 3 baru saya menemukan ritme nafas yang enak dan menerapkan 5 menit istirahat untuk setiap jalan 15 menit. Jadi hitung saja sendiri, saya sampai di pos 6 sekitar jam 3 sore. Sejak pos pertama, rombongan kami terpisah menjadi dua. Saya di rombongan paling depan.

Jarak antara pos 1 sampai 2, dan 2 sampai 3 cukup jauh. Berbeda dengan pos 4 ke pos 5 dan pos 6 yang lebih pendek tetapi treknya semakin curam. Treknya memang seperti naik tangga entah berapa anak tangga yg harus dilewati. Pijakan hanya ada akar-akar. Sesekali harus sedikit ‘bermanuver’ karena jalur tertutup pohon yang tumbang. Silahkan dipilih, ada jalur yang ‘dengkul ketemu perut’ sampai ‘dengkul ketemu kepala’ karena saking curamnya. Pokoknya gunung mempunyai trek yang menghabiskan nafas dan mempercepat detak jantung (sampai saking heningnya saya bisa mendengar detak jantung saya sendiri).

Pukul 3 sore, saya sampai di pos 6. Ternyata disana sudah penuh dengan tenda para pendaki yang lain. Saya dan 5 orang lainnya sudah sampai di pos 6. Yang lain masih menyusul. Akhirnya berdua, saya naik lagi ke atas tanpa carrier untuk mencari tempat untuk berkemah. Saya naik lagi hingga pos ke 7, disana sempit, dan sudah ada dua tenda yang berdiri. Lalu naik lagi hingga banyak bertemu tanah yang datar dan juga sudah banyak tenda di sana, dan akhirnya sampai di puncak Cikuray terhitung sekitar satu jam dari pos 6. Di puncak Cikuray sudah berdiri sekitar 4-6 tenda. Sejenak saya istirahat di puncak untuk istirahat dan melihat pemandangan. Saat itu sore, sekitar setengah 5 kurang. Sebentar lagi sunset, tetapi arah barat tertutup oleh gumpalan awan sehingga matahari tertutup, sayang sekali. Akhirnya saya turun lagi ke pos 6, dan ternyata yang lain sudah sampai dan dua tenda plus satu dapur sudah ada di sana. Tenda yang kami dirikan di tanah yang sedikit miring. Mungkin sekitar 30 derajat sehingga sewaktu tidur, kaki saya lebih rendah ketimbang kepala saya. Bahkan tenda pun sedikit merosot ke bawah karena carrier saya masukkan ke dalam. Mungkin lain kali orang yang berdengkul racing harus jalan terlebih dahulu untuk mencari spot untuk mendirikan tenda. Apalagi di di liburan ‘senin-terjepit’ seperti sekarang (beberapa orang mengaku tak masuk hari Senin :p).

Malam hari di Cikuray menurut saya dingin sekali. Bahkan sekitar pukul 6 saya sudah mendapatkan ‘serangan dingin’. Tanda-tandanya mendadak menggigil, gigi gemertakan dan kaki bergetar-getar. Setelah makan malam, saya langsung tidur bertiga di tenda yang harusnya untuk 2 orang, dan tenda itu berdiri di tanah yang sedikit miring.

Jam 3 pagi kami semua bangun, saatnya summit attack. Karena kemarinnya saya sudah pernah ke puncak Cikuray dan tahu berapa lama jarak yang harus di tempuh, kami semua sampai di puncak Cikuray sesaat sebelum matahari naik. Kita sampai sekitar jam setengah 5 pagi. Garis orange-kuning sudah terlukis di langit bagian timur. Pemandangannya benar-benar bagus. Angin cukup kencang bertiup, serasa ‘ditiup’ oleh AC dengan ‘PK’ yang besar. Sekitar jam 5 yagi, akhirnya matahari muncul keluar dari lapisan awan. Patut diketahui bahwa puncak Cikuray berada di atas lapisan awan!

ImagePemandangan sunrise ini menjadi daya tarik utama para pendaki Cikuray. Mereka semua berfoto-foto dengan latar belakang awan dan matahari. Keadaan di puncak Cikuray saat itu sangat ramai seperti pasar. Di puncak CIkuray ada bangunan berukuran sekitar 2 x 4 meter terbuat dari beton. Entah bangunan itu untuk apa. Kosong. Tetapi ada yang menginap didalamnya. Atau di beberapa blog yang membahas pendakian Cikuray, sesekali orang mendirikan tenda di dalam bangunan itu.

Setelah matahari sedikit tinggi, pemandangan selanjutnya adalah di bagian barat puncak Cikuray. Jika kita melihat ke arah barat, akan terlihat sebuah bayangan berbentuk segitiga besar sekali yang merupakan bayangan gunung Cikuray. Indah sekali!

Image

 

Pemandangan bayangan segitiga ini hanya dapat dinikmati sebentar saja sebelum matahari meninggi. Saya beberapa kali melihat pemandangan sunrise yang indah, tetapi untuk yang satu ini, baru kali ini saya mengalaminya. Terbayarkan semua lelah ketika mendaki gunung ini.

Jika saat naik dari pemancar menuju pos 6 menghabiskan waktu sekitar 6 jam, saat turun gunung, kami hanya butuh waktu sekitar 2.5 jam saja. Tetapi proses turun gunung ternyata sama sakitnya saat naik karena kaki harus menahan bobot badan. Kami berangkat dari pos 6 sekitar pukul setengah 11 dan sampai pada 1 siang. Setelah itu kabut mulai turun, dan hujan deras tetapi tak lama kemudian hujan berhenti. Kami pulang dengan mobil pickup langsung ke terminal Guntur, Garut. Bis baru berangkat pukul 7 malam.

Menurut saya, gunung ini tak disarankan untuk pemula. Kecuali jika anda memiliki fisik, otot paha-betis, dan nafas yang oke. Ada salah satu dari kelompok saya yang mengaku bahwa Cikuray adalah gunung pertamanya, tetapi ia dapat naik hingga ke puncak dan turun dengan selamat. Kami beruntung karena selama pendakian Sabtu-Minggu cuaca sangat baik dan cerah. Tak terbayang jika menaiki gunung ini saat kondisi hujan. Dari pengamatan saya, jalur pendakian ada juga yang merupakan jalur aliran air. Tanahnya pun akan menjadi sangat licin. Oleh karena itu selalu gunakan sepatu dengan sol yang bagus.

Rencana saya selanjutnya, mungkin gunung Gede-Pangrango atau Ciremai🙂

 

4 pemikiran pada “Mendaki Gunung Cikuray

  1. 🙂 seneng kalo liat yang naik gunung.. seruuu. haha. terakhir naik gunung burangrang itupun pertama kali nya naik gunung.. ciremai katanya terjal juga track nya.🙂 semoga bisa mendaki lebih banyak puncak lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s