Dikit – dikit Herbal

“Obat herbal lebih aman, bebas dari bahan kimia”

dan bayangkanlah kalimat – kalimat lain yang bermakna serupa kalau anda bertemu orang yang sedang promosi obat herbal. Kadang saya tertawa geli di dalam hati ketika mendengar atau membaca statement seperti di atas. Ada beberapa yang mengganjal di benak saya tentang itu.

Pernyataan “bebas dari bahan kimia” itulah yang paling aneh. Dari apa yang saya pelajari di kampus, air yang kita minum pun masuk kategori “bahan kimia”. Oksigen yang kita hirup, juga bahan kimia. Tak ada benda yang di Bumi ini yang bukan bahan kimia karena semua benda mengandung unsur kimia yang ada tertera di tabel periodik yang sering kita lihat di sekolah itu. Apakah obat herbal mengandung bahan yang belum ada di tabel kimia? Saya jadi teringat film Battleship. Puing-puing pesawat luar angkasa milik alien tak ada di dalam tabel periodik. Mungkin bisa dijadikan bahan obat herbal.

Okelah, mungkin yang dimaksud “bahan kimia” itu adalah bahan kimia berbahaya. Siapa bilang bahan alami selalu aman dikonsumsi? Saya pernah dengar daun bayam tak baik bagi yang menderita asam urat. Padahal jelas – jelas daun bayam alami. Juga saya punya teman yang alergi dengan kacang. Kasihan sekali kalau alerginya kambuh. Padahal jelas – jelas kacang itu berasal dari alam. Bahan kimia berbahaya pun menjadi relatif. Dosen Kimia Dasar saya dulu mengatakan, kita terlalu takut dengan tahu yang menggunakan formalin. Beliau bilang formalin baru akan berpengaruh buruk ke kesahatan anda kalau anda minum segelas formalin tiap hari. Ternyata berbahaya pun ada kadarnya (saya tak menganjurkan anda makan tahu berformalin selama bertahun-tahun).

Selain itu, gembar – gembor lain obat herbal adalah obat herbal diambil langsung dari alam. Pernah saya diskusi dengan Alde perihal ini. Kata ibunya yang seorang dokter, ketika harus menjelaskan “obat herbal” ke pasien awam, beliau bilang obat “kimiawi” pun dulu asalnya juga herbal. Jadi prosesnya begini. Anggaplah ada dedaunan yang bisa menyembuhkan penyakit batuk. Daun tersebut diteliti, zat apa yang ada di dalamnya yang memang “bertugas” menyembuhkan batuk, karena di dalam tersebut juga ada zat – zat lainnya. Riset jalan bertahun-tahun hingga menghasilkan kesimpulan di dalam daun itu, ada zat yang namanya X yang bisa menyembuhkan batuk. Lalu dicari cara bagaimana membuat zat X tadi di laboratorium sehingga kita tak perlu repot – repot menanam tumbuhan itu dalam skala besar dan hanya diambil daunnya. Voila! Jadilah obat yang pada umumnya kita temui di apotik. Sederhananya begitulah. Obat yang kita sebut “mengandung bahan kimia” itu tak asal sim salabim ala kadabra. Apalagi cuma “dipercaya” seperti yang sering kita dengar bahwa “makanan X dipercaya menyembuhkan bla bla bla”.

Tulisan ini bukan anjuran untuk meninggalkan obat herbal. Saya hanya ingin mengajak para pembaca untuk semakin kritis dan tak mudah tergoda iming-iming sembuh secara instan, apalagi ketika bertemu klaim suatu obat dapat menyembuhkan seribu satu macam penyakit. Mohon maaf apabila ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Pastikan saja obat herbal yang anda konsumsi sudah terdaftar di BPPOM sehingga ada jaminan obat herbal tersebut aman dikonsumsi.

Iklan

Inferno

–Spoiler alert!–

Inferno

Amazing! Inilah satu kata yang tepat untuk menggambarkan serunya cerita Dan Brown kali ini. Menurut saya cerita di buku ini, dari segi criminal mind, inilah yang paling elegan setelah penjahat di Angel & Demon dan Digital Fortress.

Lagi – lagi, khas Dan Brown, buku ini berkisah sekitar 24 jam petualangan Robert Langdon di tiga kota, Florence, Venesia dan Istanbul. Cerita berawal dari ia terbangun di suatu rumah sakit di Florence, menderita amnesia yang menyebabkan ia lupa dengan apapun dua hari kebelakang. Disinilah petualangan dimulai. Bersama dengan Sienna Brooks, memecahkan misteri dari seorang scientist yang terobsesi dengan Inferno, suatu puisi karya penyair Renaisans, Dante Alighieri.

Bagi pencinta seni Renaisans dan kota Florence, buku ini adalah buku yang tepat untuk memanjakan pikiran dan imajinasi anda. Pak Brown banyak bercerita mengenai karya seni mulai daru lukisan, mural masif, patung, arsitektur, hingga karya sastra Renaisans dengan suduh pandang Langdon. Akhirnya saya baru tahu ada nama perupa Renaisans selain Michelangelo, Donatello, Leonardo Da Vinci, dan Raphael (saya hanya tahu ini karena keempat nama ini adalah nama para Kura – Kura Ninja) yaitu Giorgio Vasari dan Sandro Boticelli.

Cerita di buku ini memang banyak berpusat di Sandro Boticelli, Giorgio Vasari, dan Dante Alighieri. Dimulai dari puisi Dante, Divine Comedy yang mempunyai tiga bagian yaitu Inferno yang mengisahkan perjalanan dia ke neraka yang mempunyai sembilan lapis dengan Iblis berada di neraka paling bawah, lalu Purgatorio suatu gunung dengan jalan melingkar sebanyak sembilan kali sebagai gunung penebusan dosa, dan Paradiso yang berarti surga. Boticelli yang membuat lukisan Inferno versi Dante dengan judul La Mappa dell’ Inferno. Dari sinilah petualangan dimulai

Map of Hell – Sandro Boticelli (konon lukisan ini banyak membuat orang bertobat)

Lalu kejahatan apa yang membuat buku ini menarik? Kejahatan yang terinspirasi dari karya seni memang khas dan menjadi tema utama pada buku – buku pak Brown sejak buku The Da Vinci Code. Kali ini ada scientist yang khawatir dengan populasi manusia yang semakin banyak. Angka populasi manusia yang terakhir tercatat adalah 7 milyar penduduk pada 2011. Di buku ini juga terdapat grafik proyeksi jumlah penduduk yang mencapai 9 milyar pada tahun 2050, juga terdapat grafik eksponensial yang mengerikan tentang masalah yang dihadapi penduduk Bumi yaitu pemanasan global, mencairnya es di kutub, penipisan lapisan ozon, berkurangnya hutan hijau, berkurangnya tangkapan ikan, kadar CO2 di udara, dll. Semua masalah tersebut, ikut naik mengikuti jumlah populasi bumi yang juga naik. Jadi menurut seorang scientist di buku ini, masalah itu ada karena banyaknya penduduk Bumi. Satu – satunya cara menghilangkan masalah itu adalah, kurangi penduduk Bumi.

inferno_dan_brown_original_drm_not_removed__page_106_image_0001-1

Tersebutlah Bertrand Zobrist, scientist dalam bidang genetika yang berhasil membuat suatu virus. Virus tersebut konon akan memusnahkan milyaran orang karena Zobrist terkenal sebagai orang yang mengatakan seharusnya terjadi kiamat yang menyebabkan berkurangnya sepertiga penduduk Bumi. Ia juga mengatakan bahwa Wabah Hitam di Eropa abad 14 adalah suatu anugerah bagi manusia dan Bumi. Disinilah Langdon dan Sienna Brooks mencari – cari di mana virus itu mulai dilepas karena satu – satunya petunjuk lokasinya dimulai dari suatu proyektor kecil bertenaga mekanik yang menunjukkan Map of Hell karya Boticelli yang telah dimodifikasi. Langdon dan Sienna juga harus berjibaku dengan pihak Konsorsium dan tentara SRS (yang belakangan ternyata tentara SRS adalah tentara dari pihak WHO, World Health Organization).

Berbagai intrik, dan ketidakjelasan mana yang antagonis dan protagonis, kedua hal inilah yang membuatnya menarik pada sekitar Bab 60-an ke atas. Kita disodorkan pada dua pilihan: Menekan sebuah tombol yang dapat mengurangi sepertiga penduduk Bumi, namun Bumi selamat. Atau tidak menekan tombol tersebut, tapi peradaban manusia akan hancur dalam waktu kurang dari 100 tahun?.

Apakah virus yang disebar oleh Zobrist? Ternyata virus tersebut adalah virus vektor yang menyebabkan penderitanya menjadi steril (mandul). Itulah solusi dari Zobrist untuk mengurangi populasi penduduk. Virus ini tidak membuat orang menderita kesakitan layaknya Black Death, apalagi membuat orang meninggal, virus ini hanya membuat orang steril. Entah bagaimana caranya, tidak semua orang terkena virus ini akan steril. Terinspirasi dari Black Death, hanya sepertiga penduduk dunia yang terkena virus ini yang akan steril sehingga spesies manusia masih bisa bereproduksi. Pada bagian tengah buku juga disebutkan bahwa Zobrist menganggap WHO tidak membantu sama sekali tentang bagaimana cara mengurangi populasi penduduk. Membagikan kondom, sosialisasi keluarga berencana, dll seakan – akan hanya mengobati tumor ganas dengan menggunakan plester band-aid.

Apakah anda setuju dengan Zobrist? Inilah area abu – abunya. Ending dari buku ini pun tidak jelas. Memang Sienna dan Sinskey (kepala WHO) akhirnya pergi ke konferensi Jenewa untuk membahas krisis virus Zobrist dengan para petinggi dunia lainnya. Tapi pak Brown tak menyelesaikan masalah ini. Apakah WHO -dibantu Sienna- akan mencari anti virus? Entahlah.

Saya pikir juga, adakah cara lain yang lebih elegan dari cara Zobrist untuk mengurangi penduduk Bumi?

Ini Indonesia Bung!

Saya pernah menyampaikan uneg – uneg betapa anu – nya transportasi umum di Indonesia via Twitter. Uneg – uneg saya itu terkait ketepatan dan kepastian waktu berangkat dan tiba. Hal ini cukup penting karena tak ada yang bisa tahu pasti kapan bis antar kota berangkat dan sampai di tempat tujuan. Yang kita tahu hanya kita cukup datang di terminal bis (bahkan cukup tunggu saja di pinggir jalan, atau di pinggir tol bahkan), lalu carilah bis yang sesuai dengan tujuan kita. Tahukah kita kapan bis berangkat? tak ada yang tahu. Hanya supir dan kenek yang tahu.

Ketika saya berlibur ke Ijen, Jawa Timur, saya berbarengan dengan sepasang bule yang asalnya dari Jerman. Hal itu dimulai ketika kami baru sampai di terminal Probolinggo

Apa uneg – uneg mereka? :

—-

Kapan bis ini berangkat?” – Menunggu bis penuh dengan penumpang

Sesudah menaiki bis ini, kita lanjut naik bis lagi bukan? Kamu tahu bis tersebut berangkat berapa menit/jam sekali?” – Jelas menunggu bis penuh dengan penumpang

Berapa lama kita naik bis ini?” – Errr… bagaimana kalau saya kasih tahu berapa kilometer?

Di Sulawesi kami bisa menyewa sepeda motor dengan tarif Rp50.000 per hari. Mengapa di sini tidak bisa? Bukankah masih sama-sama di Indonesia?” – Negara kami luas dan tak ada regulasi atau undang – undang yang mengatur sewa-menyewa motor

Mengapa tarif ojek disini mahal sekali. Kalau jarak yang ditempuh 60 km, mereka ingin tarif Rp100.000,- bukankah itu berlebihan? Bukankah disini harga bensin murah?” – Sepertinya saya perlu ajari para tukang ojek itu bahasa Inggris, biar langsung debat dengan Anda.

Dan terakhir….

Kamu mengerti apa yang mereka bicarakan?” (note: Tukang ojek di Bondowoso berbicara dalam bahasa Madura) – Ini Indonesia bung! Emangnya negara Anda :p

Mendaki Gunung Merbabu

2013-12-29 05.44.22

Setelah hiking ke Kawah Ijen, saya dan Alde langsung berangkat menuju Magelang untuk mendaki Merbabu. Kami berdua kembali ke Surabaya dengan menggunakan moda transportasi yang sama. Total waktu yang kami perlukan untuk sampai ke Magelang mungkin sekitar 15 jam.

26 Januari 2013 (Kawah Ijen – Terminal Bungurasih)

Jam 15.00, kami berdua turun dari Kawah Ijen. Dilanjutkan dengan ojek langsung ke Gardu Atak dan menunggu minibus tujuan Situbondo di daerah Wonosari (di depan Indo*maret) karena kami harus repack ulang tas dan cek logistik. Kira-kira mendekati maghrib, kami baru dapat bis menuju Situbondo. Pada tulisan sebelumnya, saya mengatakan bahwa kedua bule Jerman berangkat duluan dari Paltuding, kami bertemu lagi di bis yang sama ketika menuju Situbondo. Waktu itu bis lumayan penuh, saya duduk di bangku deretan paling belakang, menikmati angin bersuana senja. Kurang lebih satu jam kemudian, kami sampai di terminal Situbondo, kami naik bis bumel AKAS menuju Probolinggo. Bis tersebut bertuliskan “Surabaya – Banyuwangi”, jadi saya pikir saya tak perlu mengulangi kesalahan yang sama seperti kemarin yaitu harus ganti bis di Probolinggo. Ternyata hal tersebut salah besar, mendadak kenek bis berteriak kalau yang ingin ke Surabaya, pindah ke bis sebelah. Saat itu bis yang saya tumpangi sedang berada di suatu pom bensin. Oh okelah, ternyata bis ini memang sampai Probolinggo saja, tiketnya pun menurut saya murah, tak sampai sepuluh ribu tiap orang, lebih murah daripada tarif Karawaci – Blok M dengan Mayasari Bhakti AC34. Bis yang kami tumpangi juga bis bumel tujuan Madura yang ternyata ngebutnya minta ampun. Di Probolinggo lah kita berpisah dengan dua bule Jerman ini karena mereka ingin ke Bromo.

Sekitar tengah malam kira-kira jam 23.00 atau jam 00.00, kami sampai di terminal Bungurasih. Di terminal kami istirahat untuk makan, mandi (WC umum disini lumayan bersih), dan sekedar “meluruskan” kaki karena berjam-jam berada di bis. Kami berencana naik bis Eka. Tadinya saya ingin coba jajal Sumber Kencono yang sekarang namanya menjadi Sumber Selamat / Sugeng Rahayu. Ternyata bis yang terkenal sebagai jet darat tanah Jawa itu tak ada yang ke Magelang, hanya ke Yogyakarta atau Semarang saja. Bis Eka sangat menarik karena di kaca depan bis ditempel tulisan besar-besar “CEPAT”. Semoga benar-benar CEPAT.

27 Januari 2013 (Terminal Bungurasih – di tengah Hutan Gunung Merbabu)

Tak banyak yang ingin diceritakan mengenai perjalanan dengan bis Eka ini. Yang saya ingat, saya mulai tidur setelah bis melewati tanggul lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo. Saya sempat terbangun beberapa kali tapi memang tak mau tau sudah sampai di mana. Sekitar jam 5 pagi, ketika hari sudah mulai terang, kami sampai di daerah Ngawi, masih Jawa Timur. Sebelah kiri bis saya dapat melihat gagahnya Gunung Lawu. Bis berhenti di rumah makan Duta, saya sarapan rawon. Bis berangkat, saya tidur lagi.

Bis masuk kota Solo sekitar jam 8 pagi. Alde banyak bercerita tentang Ibunya di kota ini. Juga bercerita tentang Sate Jamu yang ternyata terbuat dari daging anjing. Jalanan lumayan padat, jadi dipastikan bis yang kami tumpangi lumayan terlambat sampai Magelang, bahkan tak sampai Magelang. Lagi – lagi kami “dipaksa” turun oleh kenek bis di terminal Giwangan. Bis Eka tak sampai Magelang karena mereka terlambat. Yang menarik adalah bahasa yang digunakan oleh kru bis Eka ketika mengatakan bis hanya sampai Yogyakarta saja. Ya, ia menggunakan bahasa Jawa yang halus dan enak didengar. Kami pikir, orang mana yang bakal marah kalau bahasa yang digunakan seperti itu? Uang tiket dikembalikan Rp20.000,- yang ternyata itu tarif bis bumel dari Yogyakarta ke Magelang. Kira – kira tengah hari kami sampai di Giwangan. Lanjut ke Magelang dengan bis Sumber Waras yang kata Alde sudah terkenal tukang ngebut. Padahal jalur Yogyakarta – Magelang jalurnya berupa tanjakan panjang. Sekitar 2 jam kemudian, kami sampai di terminal Magelang. Makan siang terlebih dahulu, lalu melanjutkan perjalanan menuju desa Wekas dengan menggunakan minibus tujuan Salatiga via Kopeng. Tarifnya hanya Rp6000,-. Bis ini seperti Metro Mini atau Kopaja kalau di Jakarta.

Perjalanan Magelang – Wekas sangat menarik. Udaranya mulai sejuk dan pemandangannya sangat oke. Kita dapat melihat Merapi dan Merbabu sekaligus. Merapi ada di bagian kanan bis, dan Merbabu ada di depan. Saat itu cuaca sedang cerah, puncak kedua gunung itu pun tak ada kabut jadi pemandangan sangat jelas terlihat. Saya kira perjalanan menuju Wekas hanya satu jam saja. Ternyata lebih lama, sekitar 2 jam karena jalan raya juga berupa tanjakan. Sampai gerbang desa Wekas, saya membeli 1 liter spiritus dan dua botol air mineral untuk keperluan memasak di atas sana. Kami lanjut dengan ojek bertarif Rp20.000,- per orang menuju basecamp pendakian Wekas.

Sesampainya basecamp Wekas, kami repack ulang tas agar enak dibawa. Seingat saya kami mendaki mulai pukul 16.30. Memang terlalu sore, tapi apa boleh buat. Trek awal masih berupa perkampungan dan perkebunan penduduk. Jalanannya juga masih berbatu seperti ketika naik ojek dari gerbang desa. Setelah beberapa menit, kami melewati jalan paving block sampai sebuah makam. Belok kanan, jalur mulai jalan setapak dengan kiri kanannya pohon pinus. Sesekali dapat ditemui sungai kecil bagi yang ingin sekedar cuci muka atau mengisi persediaan air.

Target kami hari itu sebenarnya sampai Pos 2 (Pipa Bocor). Tetapi kita memutuskan untuk hanya sampai Pos 1 (kemudian kami baru tahu bahwa tak ada Pos 1) karena mulai mendaki terlalu sore. Trek selalu menanjak, jarang ada bonus. Kiri kanan masih dipenuhi pohon pinus, sesekali pohon cemara. Waktu itu jalur pendakian sepi walaupun sesekali kami bertemu dengan beberapa rombongan yang turun. Kecepatan kami mendaki juga terhitung santai karena kami memang belum istirahat dengan baik setelah semalaman berada di bus. Ketika malam tiba, Alde mengusulkan untuk berhenti dan membuka tenda sebelum sampai Pos 2. Saja juga tak mau jalan malam karena tak tahu jalan dan belum pernah mendaki Merbabu.

Akhirnya kami buka tenda yang jaraknya sekitar 1-2 jam menuju Pos 2, memang tanggung, tapi apa boleh buat karena kondisi kami berdua sudah kelelahan, dan saya tak mau ambil risiko untuk jalan malam hari. Tak ada kegiatan yang terlalu berarti selama di tenda. Alde memasak, saya dirikan tenda. Saat itu hari sudah gelap kira-kira pukul 19.00. Kita langsung tidur.

2013-12-27 18.17.36
Sunset dari tempat camp

Setelah ini merupakan bagian yang lumayan bikin seram. Kira – kira jam 21.00 atau jam 22.00, kami berdua terbangun karena di luar berisik. Ada sesuatu yang grasak grusuk di luar tenda. Entah itu binatang atau apa saya sendiri tak berani cek keluar. Untuk jaga – jaga, saya pindahkan golok ke tempat yang mudah dijangkau, lalu resleting tenda diikat dengan menggunakan karet gelang. Kami lanjut tidur.

28 Januari 2013 (Hutan Merbabu – Pos 2)

Kami bangun kira – kira pukul setengah 7 pagi. Alde memasak sarapan nasi dengan telur agar hari itu lebih bertenaga. Jam setengah 9 pagi kami mulai jalan kembali, target awalnya adalah langsung puncak untuk menikmati sunset. Kenyataannya, kira – kira jam 11.00 siang kami telah sampai di Pos 2 Pipa Bocor. Perjalanan agak lama karena di tengah jalan kami mencuci piring dan bekas makanan, saya juga melakukan “ritual pagi” mumpung ada air yang mengalir di dekat jalur pendakian. Tanda – tanda bahwa sudah dekat dengan Pos 2 adalah jalur bersinggungan dengan pipa air berwarna putih. Kadang ada bagian pipa air yang bocor sehingga membentuk sebuah pancuran.

Begitu sampai Pos 2, ternyata sudah ada beberapa tenda di sana. Kurang lebih ada sekitar 6 sampai 7 tenda, tapi kebanyakan dari mereka ingin turun hari itu. Sebagian habis dari puncak. Sebagian lagi ada yang sudah 2 hari di Merbabu via jalur lain, turun lewat jalur Wekas.

2013-12-28 17.35.56
Pos 2

Pos 2 berupa tanah lapang dengan sesekali ada semak. Banyak monyet liar di sana. Jadi hati – hati dengan barang dan logistik, simpan di tempat yang aman (dalam tenda). Tetapi tak papa, toh monyet – monyet itu takut dengan manusia. Sulit sekali berada di dekat mereka karena begitu mereka melihat manusia mendekat, mereka kabur.

Tak banyak juga kegiatan selama di Pos 2. Saya hanya berkeliling Pos 2 untuk mengenal medan, bertanya – tanya mengenai jalur ke puncak, dan berkenalan dengan orang – orang baru. Ternyata ada juga yang mendaki Merbabu berdua, kalau tak salah mereka dari Bekasi. Yang menarik adalah mereka membuka tenda tepat di pinggir jurang di bagian selatan Pos 2. Saya hanya terpikir angin yang kencang di sana. Saya sendiri memilih lokasi agak jauh dari jurang atau tebing tersebut, lebih ke arah Utara, dengan posisi tenda mendekati semak. Tenda juga saya dirikan di bawah pohon agar tidak terlalu panas atau jaga – jaga jika nanti malam hujan. Di dekat kami buka tenda, ada rombongan yang baru datang sekitar pukul 19.00 malam. Orang Magelang, tiga –tiganya cowok.

Dari Pos 2, kita dapat melihat puncak pemancar di arah utara. Puncak pemancar ini harus dilewati pendaki yang melewati jalur Cunthel. Saya baru tau hal ini ketika nyasar di punggungan esok harinya J

Hari itu kami tidur lebih cepat, kalau tak salah pukul 20.00 kami sudah tidur. Sayup – sayup terdengar lagu “buka sitik Joss” atau “Oplosan” di Pos 2. Sesekali juga ada Dream Theater, Netral, dll. Rupanya rombongan yang baru datang, yang membuka tenda di dekat tenda kami ada salah satu pendaki tipe broadcaster di sana. Jadi berpikir apakah ada pendaki broadcaster yang menyetel lagu – lagu yang biasa diputar di radio – radio Jakarta? (sebut saja Rihanna, Katty Perry, atau Bruno Mars)

29 Januari 2013 (Pos 2 – Puncak Janagiri & Puncak Geger Sapi – Pos 2 – Basecamp – Magelang – Yogyakarta)

Kami bangun pukul 02.00 dinihari. Kira – kira pukul setengah 3 pagi, kami berangkat menuju puncak. Target hari itu jelas, ketiga puncak yang kami idamkan sebelum naik Merbabu yaitu puncak Syarief (3.119 mdpl), Kenteng Songo (3.140 mdpl), dan Triangulasi (3.142 mdpl). Kenyataan? Hanya dua puncak yang berhasil kami lewati, itupun bukan bagian dari ketiga puncak yang saya sebut di atas.

Kami berdua mulai berangkat. Hanya bermodalkan penerangan headlamp, kami menelusuri jalan setapak menuju puncak. Jalur mulai menanjak lagi seperti jalur antara Basecamp – Pos 2. Hanya perbedaannya, kini jalur menanjak tersebut dihiasi dengan bebatuan yang lumayan besar. Ada satu batu yang besar sekali, tapi sayang penuh dengan coretan tangan – tangan usil. Di sana kami sedikit jalan ke bagian kanan. Saya yakin batu besar inilah yang dimaksud oleh kawan – kawan yang pernah ke Merbabu via Wekas sebagai percabangan menuju puncak pemancar – puncak Syarief. Ternyata hal tersebut salah. Saya justru menuju –yang setelah turun saya baru tahu- air terjun. Pantas saja, di tengah kegelapan pagi, sayup – sayup saya mendengar bunyi air terjun. Saya baru tahu ada air terjun di sini. Tetapi belum sampai air terjun yang dimaksud, saya sudah menyadari bahwa kami salah jalur. Hal itu berasal dari entah intuisi atau apa, juga bukti bahwa wajah saya selalu terkena sarang laba – laba. Saya pikir tak mungkin jalur ini tertutup sarang laba – laba padahal ditengah perjalanan tadi, kami berdua didahului oleh dua orang pria yang membuka tenda di sebelah saya. Akhirnya saya berinisiatif untuk balik lagi. Saya mengingat ada jalan setapak berbelok ke arah kiri, tak sampai 100 m dari tempat saya berhenti untuk kembali.

Feeling saya kami mulai salah jalur sejak batu besar penuh coretan itu. Seharusnya mengambil jalan ke arah kiri karena bagian kiri dari jalan yang kami lalui saat itu berupa tebing tinggi. Jalur menuju puncak pastilah lewat jalur di sebelah tebing ini. Tanpa perlu berbalik sampai ke batu besar tadi, kami melewati jalur yang saya lihat tak sampai 100 meter dari tempat kami berputar. Berbelok ke kanan, saya sorot headlamp, hampir mendongak saya dibuatnya. Jalur ini curam sekali, mungkin mempunyai kemiringan lebih dari 70 derajat, tetapi sudah ada pijakan yang menandakan jalur ini pernah dilewati orang.

Akhirnya kami lewat jalur tersebut. Langit mulai terang. Itu berarti kami gagal mencari sunrise di puncak. Ah sudahlah, kini yang penting kami kembali ke “jalur yang benar”. Kami benar – benar mendaki, bahkan memanjat ketika melewati jalur itu. Kaki saya terhitung panjang, jadi enak saja melewatinya. Berbeda dengan Alde yang perlu pijakan lebih banyak. Di beberapa tempat, jalur semakin vertikal. Sebagai ilustrasi, jika anda berdiri, pijakan yang ada selanjutnya berada di ketinggian leher anda. Tempat berpegang hanya di akar dan batang pohon Edelweis saja. Pengalaman saya mendaki gunung, ini trek yang sulit, tetapi menantang. Jadi saya nikmati saja trek ini sembari menikmati sinar lembut matahari di pagi hari.

2013-12-29 05.42.21
Trek merayap

Kira – kira satu jam kemudian, kami berhasil berada di atas tebing. Saya kira bagian atas tebing ini adalah jalur yang sebenarnya. Padahal jalur yang benar masih ada di tebing satu lagi. Jadi ada dua punggungan, tempat saya berdiri, dan satu lagi yang dipisahkan oleh lembah yang dalam yang merupakan jalur yang benar. Saya bisa melihat pendaki lain berada di persimpangan batu besar antara puncak pemancar dengan puncak Syarief. Akhirnya kami telusuri punggungan bukit tersebut, hingga di suatu titik paling tinggi, ternyata ada papan bertuliskan puncak Janagiri. Terus terang saya baru tahu ada puncak Merbabu yang bernama Janagiri. Kami istirahat di sana sekitar 10 menit untuk memikirkan bagaimana caranya menuju kembali ke jalur yang benar, tanpa melewati jalur yang curam tadi. Saya melihat sebuah jalan setapak yang menurut saya tidak terlalu jelas karena sudah banyak ditumbuhi rumput, ternyata jalan tersebut menuju puncak Geger Sapi. Saya tahu itu puncak Geger Sapi karena ada papan yang mengatakan hal itu. Tak jauh dari sana, bertemu suatu pertigaan, kanan menuju puncak Syarief, dan kiri menuju kembali ke Wekas. Akhirnya kami bertemu dengan jalur yang benar.

2013-12-29 05.45.01
Pemandangan dari puncak Janagiri

Kami memutuskan untuk tidak ke puncak Syarief (berarti juga tidak ke puncak Kenteng Songo dan Triangulasi), karena Alde mengalami sakit di betisnya. Saya juga tak mau memaksakan berhubung trek menuju puncak Syarief lumayan terjal. Begitu juga saya masih memikirkan perlu tenaga juga untuk kembali sampai ke Pos 2. Toh puncak Syarief – Kenteng Songo – Triangulasi tak bakal tutup, saya masih bisa mengujunginya lain waktu. Akhirnya kami kembali ke Pos 2, memasak makan, dan membereskan tenda. Dari Pos 2 menuju kembali ke Basecamp Wekas ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Saat itu cuaca sedang mendung. Hal ini jelas berbeda 2 hari dan 2 malam sebelumnya di mana cuaca sangat cerah.

Jalur menuju Puncak Syarief, dilihat dari Puncak Geger Sapi
Jalur menuju Puncak Syarief, dilihat dari Puncak Geger Sapi

Kami sampai di Yogyakarta sekitar pukul 8 malam. Saya di rumah orang tua Alde selama 3 hari 2 malam. Kata seorang teman, 3 hari 2 malam di rumah orang tua pacar itu ujian mental. Ternyata tidak, orang tua Alde asik 😀

Perjalanan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena saya telah mengalahkan ego saya, tak pergi ke puncak sendirian.

Benar kata soundtrack film Gie, berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya. Ya saya orang yang egois dan saya berhasil kalahkan itu.

Hiking ke Kawah Ijen

Kawah Ijen
Kawah Ijen

Lihatlah tingginya gunung itu

Lihatlah hijaunya lembah dan bukit, serta birunya langit waktu itu

Lihatlah jalan menuju puncak yang berliku itu

Raung menyapa dari arah barat, minta untuk dikunjungi

Merupakan ide dari Alde untuk bermain ke Kawah Ijen yang terletak di perbatasan Bondowoso dan Banyuwangi, Jawa Timur. Kami berdua berangkat dari Bandung tanggal 25 Desember 2013 dengan menggunakan kereta Pasundan. Kereta berangkat pukul 5.30 dan sampai di Stasiun Gubeng sekitar pukul 21.00. Perjalanan yang agak panjang dan sulit tidur karena kereta ini bukan kereta malam yang bisa kita lewatkan begitu saja pemandangannya karena dari kaca kereta hanya gelap saja. Termasuk kami melihat gagahnya gunung Lawu di sebelah kanan kereta ketika kereta ini sudah melewati stasiun Solo Jebres.

Sesampainya di Gubeng, kami lanjutkan perjalanan ke terminal Bungurasih. Beruntung di dalam angkot F, bertemu dengan seorang ibu dengang dua anaknya yang dulunya mantan anak pecinta alam ketika SMA. Begitu katanya sembari menggendong anaknya. Mungkin ia tahu setelah melihat kita berdua memakai keril ‘full tank’. Terima kasih bu atas tipsnya tentang malam hari di kota Surabaya yang ternyata juga banyak copet. Angkot F hanya sampai terminal Joyoboyo, Wonokromo. Lanjut lagi dengan menggunakan angkot kuning jurusan Sidoarjo. Kami diturunkan persis di bawah jembatan penyebrangan yang langsung menuju pintu keluar terminal Bungurasih.

Terminal Bungurasih, jadi teringat masa kecil saya dulu di Jawa Timur. Mata saya sudah akrab dengan bis Eka, Mira, Akas, Restu dan Harapan Jaya. Hanya saja bis-bis tersebut kini tampak jauh lebih keren ketimbang terakhir kali saya melihatnya akhir tahun 1990an. Bentuk terminal pun sudah berubah, hanya bagian ruang tunggu penumpang yang masih sama seperti dulu. Disana kami makan dan meluruskan kaki sembari mencari bis menuju Situbondo.

Dengan menumpang Akas Patas AC jurusan Banyuwangi, kami sukses hanya sampai Probolinggo saja karena ternyata bis ini lewat Jember sebelum ke Banyuwangi. Di terminal Probolinggo, kami lanjut dengan bis bumel Akas menuju Situbondo. Kami berdua bertemu dua bule asal Jerman berumur kira-kira 50 tahunan yang tak jelas mau kemana, dan tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke Ijen juga. Saya pikir mereka berdua ingin pergi ke Bromo. Oke, kini kita berempat.

Bis menuju Situbondo bukan bis ber AC. Saya lebih suka menyebutnya Bumel. Suatu istilah yang biasa dipakai di komunitas Bismania yang merupakan akronim dari mlebu kumel. Heran saya dengan supir bis di Jawa Timur ini. Doyan ngebut dengan suntikan musik dangdut koplo yang lagi trendi (buka sitik joss!). Alhasil saya tak bisa tidur, di kepala berputar bagaimana seandainya bis ini terguling, menabrak truk dari arah berlawanan (sembari perhatikan jalan yang berkelok-kelok di sekitar Paiton). Saya lihat ke deretan kursi belakang bis, bapak Jerman tadi sudah tidur telentang di bangku berkonfigurasi 2-3 ala Bumel.

Sampai Situbondo kurang lebih jam setengah 6. Kami turun, saya keluarkan keril dari bagasi, dan langsung pergi pipis ke WC terdekat. Sudah ada lagi minibis (kalau di Jakarta mungkin seperti Metro Mini atau Kopaja) jurusan Situbondo – Bondowoso. Inilah bis yang kami tumpangi sebelum menuju ke Ijen. Ongkosnya murah, hanya 6 ribu rupiah (saya sampai bilang “twelve thousand” ke bapak bule untuk memastikan bahwa kedua bule itu membayar dengan jumlah yang sama).  Sepanjang jalan Situbondo – Bondowoso akan melewati lahan tebu, rel lori tebu (entah lorinya ke mana), dan bagian yang saya suka: Gunung Argopuro di sebelah kanan jalan. Tidak sampai 2 jam kira-kira pukul 8, kami turun di daerah yang bernama Gardu Atak. Hanya pertigaan seperti biasanya. Lengkap dengan pangkalan ojek dan Indo*maret.

Hampir dua jam kami menawar, mempertimbangkan, menghitung-hitung, menolak, mengajukan, menawar kembali, dan seterusnya angkutan yang akan kami gunakan menuju Kawah Ijen. Si bapak Jerman ini menganggap ongkos yang dikenakan tukang ojek ini terlalu mahal. Jelas mahal karena ia membandingkan ongkos tersebut dengan ongkos sewa motor harian 50 ribu di pedalaman Sulawesi Tengah, bagian Indonesia yang telah ia kunjungi selama 3 minggu belakangan. Ujung – ujungnya kami deal naik angkot terlebih dahulu sampai daerah Sukosari (sekitar 15 km), dan jarak ke Kawah Ijen dari desa tersabut masih sekitar 51 kilometer lagi. Dari sana, kami naik ojek dengan ongkos Rp70.000,-

Pada mulanya, ongkos sebesar itu saya anggap mahal. Namun setelah betapa sadar saya naik ojek dengan jarak 51 kilometer selama hampir 3 jam dengan trek aspal menanjak, kiri-kanan hutan lalu masuk perkebunan kopi milik PTPN, akhirnya saya lumayan berbaik hati untuk menganggap tarif tersebut lumayan fair. Rutenya adalah dari Sukosari menuju Sempol, lalu dari Sempol menuju pos pertama Kawah Ijen atau yang bernama Paltuding. Di Paltuding, kami harus kembali membayar tiket masuk per orang kalau tidak salah Rp2000,- (kecuali untuk bapak-ibu Jerman tadi).

Fasilitas di areal kawasan Kawah Ijen lumayan lengkap, ada camping ground, WC -yang tak boleh digunakan untuk mandi- , dan beberapa warung. Beberapa hari sebelumnya saya browsing, tertulis bahwa diperlukan waktu 3 jam jalan kaki  dengan jalan setapak berpasir untuk sampai ke Kawah Ijen dari Paltuding. Keril kami titip di kantor, saya hanya membawa botol air 900ml dan tas pinggang.

“Hiking Ceria”, itulah yang pantas saya sematkan untuk trek dari Paltuding menuju Kawah Ijen. Benar-benar ceria karena trek sudah rapi dibuat berpasir untuk memudahkan penambang belerang lalu lalang melalui jalan tersebut. “Ceria” bagi kita yang sekedar hiking ke Kawah, mungkin “tidak terlalu Ceria” untuk penambang belerang yang memanggul bongkahan belerang yang beratnya mungkin mencapai 80 kg atau lebih.

Trek didominasi oleh jalan berpasir dengan lebar kira-kira dua meter. Tidak seperti kebanyakan gunung lain yang hanya berupa jalan setapak. Pemandangan selama naik pun cukup oke. Kita bisa lihat gagahnya gunung Raung di belakang, dan bukit hijau di depan kita jika menjelang sampai ke tepi kawah. FYI, jarak dari Paltuding menuju ke puncak adalah 3 km. Yah mirip-miriplah dengan jarak parkiran Cibodas ke air terjun Cibereum di Taman Nasional Gede Pangrango. Sedangkan elevasinya dimulai dari ketinggian 1800an meter naik hingga 2300an meter. Jadi kira-kira akan menanjak setinggi 500 meter.

Pondok BunderDengan info di atas dan menggunakan konsep trigonometri sederhana, jalur mempunyai kemiringan sekitar 12 derajat. Tidak terlalu curam kan? karena itu hanya pendekatan secara sederhana saja. Padahal terdapat bonus turunan atau jalan mendatar di beberapa tempat sehingga jalur menjadi defisit beberapa derajat. Defisit beberapa derajat berarti harus dibayar dengan kecuraman di tempat lain karena jalur yang kita lewati berupa kontur permukaan kontinu. Tentu kecuraman sudut akan berkurang jika trek atau cara berjalan kita zig – zag. Cara berjalan zig – zag ini yang sering saya gunakan ketika naik gunung.

Setelah di Paltuding, kita akan melewati suatu tempat yang bernama Pondok Bunder di ketinggian 2214 mdpl. Pondok Bunder mungkin tempat peristirahatan para penambang belerang karena disini ada beberapa bangunan. Ada juga warung kalau anda ingin rehat sebentar sebelum menuju ketinggian 2300 mdpl. Kira – kira satu jam 45 menit, kita berdua telah sampai di Kawah Ijen. Saat itu angin mengarah ke (kalau tidak salah) utara sehingga bau belerang tidak terlalu terasa. Dinding kawah didominasi warna putih – cokelat, air di dalam kawah berwarna biru. Lengkap dengan kepulan asap putih pekat. Angin di bibir kawah lumayan kencang. Menurut Wiki, tingkat keasaman air di kawah mencapai 0.5, tentu ide yang buruk jika anda ingin berenang di sana. Karena kami berdua naik ke atas saat siang hari, jadi matahari sedang terik-teriknya di atas kepala. Namun percayalah tidak terlalu panas karena angin yang bertiup bagai AC, sangat sejuk. Tetapi saran saya tetap menggunakan sunblock.

Setelah kira-kira satu jam menikmati Kawah Ijen, kami berdua langsung turun. Ternyata turun lebih cepat lagi karena selain perut sudah lapar karena kami tidak sarapan, juga kami harus mengejar bis terakhir menuju Situbondo hari itu juga untuk ke Magelang. Si bule Jerman memutuskan untuk pulang duluan karena sudah ada tukang ojek yang menunggu sedari tadi di parkiran. Mereka ingin pergi ke Bromo sepertinya. Pada awalnya mereka ingin mengikuti kami berdua untuk naik Merbabu (yang tadinya mereka kira kami ingin naik Merapi sampai – sampai mereka tanya apa lewat jalur Selo atau Kaliurang setelah membaca Lonely Planet). Sebelum berangkat dan packing ulang, kami berdua masak spaghetti terlebih dahulu di bawah pohon yang rimbun seperti orang lagi piknik 🙂

Kira – kira jam 4 atau setengah 5 sore kami sampai kembali di Gardu Atak. Saya menunggu bis menuju Situbondo di depan Indo*maret Wonosari sembari packing ulang dan cek logistik untuk pendakian selanjutnya yaitu Merbabu

Berikut tips yang mungkin perlu di catat:

  • Sebenarnya ada angkutan umum yang melewati Gardu Atak namun hanya sampai Sempol. Angkutan umum berupa Elf besar ini mulai ada sekitar pukul 9 pagi (kami sampai Gardu Atak terlalu pagi). Entah berapa tarifnya, tetapi jelas lebih irit ketimbang naik ojek dari Sukosari atau bahkan dari Gardu Atak langsung. Dari beberapa info di internet, naik ojek dari Sempol ke Paltuding sekitar Rp50.000,-
  • Bawa uang secukupnya karena ATM di daerah ini sangat jarang. Hanya ada beberapa ATM BRI dan semacam sudah lama tidak digunakan. Jika tidak ketemu, coba anda ke daerah Wonosari (sekitar 2 km arah Bondowoso dari Gardu Atak). Ada ATM Mandiri dan BNI di sana.
  • Jangan barengan dengan wisatawan bule kalau tak mau kena ongkos mahal. Ini juga yang menjadi curhat si bule ke Alde, ia bilang mengapa di Asia selalu begitu? (bule kena ongkos lebih mahal)
  • Sekali anda sampai Paltuding, pikirkanlah bagaimana cara pulang. Ide yang paling bagus adalah anda janjian dengan tukang ojek. Tawarkan suatu harga untuk pulang dan pergi, bayar kira-kira sepertiganya terlebih dahulu lalu dua pertiga ketika pulang untuk menjamin mereka kembali ke Paltuding.
  • Kalau mau beli minuman/makanan kecil, Sempol adalah lokasi terakhir jika anda ingin harga yang lebih murah 🙂
  • Pastikan sebelum bermain ke Kawah Ijen, anda harus olah raga terlebih dahulu. Jangan anggap enteng jarak 3 km. Jika tubuh anda belum terbiasa berjalan kaki, mulailah terbiasa. Jangan pernah anggap enteng gunung apapun. Sudah ada korban jatuh di Gunung Ijen