Mendaki Gunung Merbabu

2013-12-29 05.44.22

Setelah hiking ke Kawah Ijen, saya dan Alde langsung berangkat menuju Magelang untuk mendaki Merbabu. Kami berdua kembali ke Surabaya dengan menggunakan moda transportasi yang sama. Total waktu yang kami perlukan untuk sampai ke Magelang mungkin sekitar 15 jam.

26 Januari 2013 (Kawah Ijen – Terminal Bungurasih)

Jam 15.00, kami berdua turun dari Kawah Ijen. Dilanjutkan dengan ojek langsung ke Gardu Atak dan menunggu minibus tujuan Situbondo di daerah Wonosari (di depan Indo*maret) karena kami harus repack ulang tas dan cek logistik. Kira-kira mendekati maghrib, kami baru dapat bis menuju Situbondo. Pada tulisan sebelumnya, saya mengatakan bahwa kedua bule Jerman berangkat duluan dari Paltuding, kami bertemu lagi di bis yang sama ketika menuju Situbondo. Waktu itu bis lumayan penuh, saya duduk di bangku deretan paling belakang, menikmati angin bersuana senja. Kurang lebih satu jam kemudian, kami sampai di terminal Situbondo, kami naik bis bumel AKAS menuju Probolinggo. Bis tersebut bertuliskan “Surabaya – Banyuwangi”, jadi saya pikir saya tak perlu mengulangi kesalahan yang sama seperti kemarin yaitu harus ganti bis di Probolinggo. Ternyata hal tersebut salah besar, mendadak kenek bis berteriak kalau yang ingin ke Surabaya, pindah ke bis sebelah. Saat itu bis yang saya tumpangi sedang berada di suatu pom bensin. Oh okelah, ternyata bis ini memang sampai Probolinggo saja, tiketnya pun menurut saya murah, tak sampai sepuluh ribu tiap orang, lebih murah daripada tarif Karawaci – Blok M dengan Mayasari Bhakti AC34. Bis yang kami tumpangi juga bis bumel tujuan Madura yang ternyata ngebutnya minta ampun. Di Probolinggo lah kita berpisah dengan dua bule Jerman ini karena mereka ingin ke Bromo.

Sekitar tengah malam kira-kira jam 23.00 atau jam 00.00, kami sampai di terminal Bungurasih. Di terminal kami istirahat untuk makan, mandi (WC umum disini lumayan bersih), dan sekedar “meluruskan” kaki karena berjam-jam berada di bis. Kami berencana naik bis Eka. Tadinya saya ingin coba jajal Sumber Kencono yang sekarang namanya menjadi Sumber Selamat / Sugeng Rahayu. Ternyata bis yang terkenal sebagai jet darat tanah Jawa itu tak ada yang ke Magelang, hanya ke Yogyakarta atau Semarang saja. Bis Eka sangat menarik karena di kaca depan bis ditempel tulisan besar-besar “CEPAT”. Semoga benar-benar CEPAT.

27 Januari 2013 (Terminal Bungurasih – di tengah Hutan Gunung Merbabu)

Tak banyak yang ingin diceritakan mengenai perjalanan dengan bis Eka ini. Yang saya ingat, saya mulai tidur setelah bis melewati tanggul lumpur Lapindo, Porong, Sidoarjo. Saya sempat terbangun beberapa kali tapi memang tak mau tau sudah sampai di mana. Sekitar jam 5 pagi, ketika hari sudah mulai terang, kami sampai di daerah Ngawi, masih Jawa Timur. Sebelah kiri bis saya dapat melihat gagahnya Gunung Lawu. Bis berhenti di rumah makan Duta, saya sarapan rawon. Bis berangkat, saya tidur lagi.

Bis masuk kota Solo sekitar jam 8 pagi. Alde banyak bercerita tentang Ibunya di kota ini. Juga bercerita tentang Sate Jamu yang ternyata terbuat dari daging anjing. Jalanan lumayan padat, jadi dipastikan bis yang kami tumpangi lumayan terlambat sampai Magelang, bahkan tak sampai Magelang. Lagi – lagi kami “dipaksa” turun oleh kenek bis di terminal Giwangan. Bis Eka tak sampai Magelang karena mereka terlambat. Yang menarik adalah bahasa yang digunakan oleh kru bis Eka ketika mengatakan bis hanya sampai Yogyakarta saja. Ya, ia menggunakan bahasa Jawa yang halus dan enak didengar. Kami pikir, orang mana yang bakal marah kalau bahasa yang digunakan seperti itu? Uang tiket dikembalikan Rp20.000,- yang ternyata itu tarif bis bumel dari Yogyakarta ke Magelang. Kira – kira tengah hari kami sampai di Giwangan. Lanjut ke Magelang dengan bis Sumber Waras yang kata Alde sudah terkenal tukang ngebut. Padahal jalur Yogyakarta – Magelang jalurnya berupa tanjakan panjang. Sekitar 2 jam kemudian, kami sampai di terminal Magelang. Makan siang terlebih dahulu, lalu melanjutkan perjalanan menuju desa Wekas dengan menggunakan minibus tujuan Salatiga via Kopeng. Tarifnya hanya Rp6000,-. Bis ini seperti Metro Mini atau Kopaja kalau di Jakarta.

Perjalanan Magelang – Wekas sangat menarik. Udaranya mulai sejuk dan pemandangannya sangat oke. Kita dapat melihat Merapi dan Merbabu sekaligus. Merapi ada di bagian kanan bis, dan Merbabu ada di depan. Saat itu cuaca sedang cerah, puncak kedua gunung itu pun tak ada kabut jadi pemandangan sangat jelas terlihat. Saya kira perjalanan menuju Wekas hanya satu jam saja. Ternyata lebih lama, sekitar 2 jam karena jalan raya juga berupa tanjakan. Sampai gerbang desa Wekas, saya membeli 1 liter spiritus dan dua botol air mineral untuk keperluan memasak di atas sana. Kami lanjut dengan ojek bertarif Rp20.000,- per orang menuju basecamp pendakian Wekas.

Sesampainya basecamp Wekas, kami repack ulang tas agar enak dibawa. Seingat saya kami mendaki mulai pukul 16.30. Memang terlalu sore, tapi apa boleh buat. Trek awal masih berupa perkampungan dan perkebunan penduduk. Jalanannya juga masih berbatu seperti ketika naik ojek dari gerbang desa. Setelah beberapa menit, kami melewati jalan paving block sampai sebuah makam. Belok kanan, jalur mulai jalan setapak dengan kiri kanannya pohon pinus. Sesekali dapat ditemui sungai kecil bagi yang ingin sekedar cuci muka atau mengisi persediaan air.

Target kami hari itu sebenarnya sampai Pos 2 (Pipa Bocor). Tetapi kita memutuskan untuk hanya sampai Pos 1 (kemudian kami baru tahu bahwa tak ada Pos 1) karena mulai mendaki terlalu sore. Trek selalu menanjak, jarang ada bonus. Kiri kanan masih dipenuhi pohon pinus, sesekali pohon cemara. Waktu itu jalur pendakian sepi walaupun sesekali kami bertemu dengan beberapa rombongan yang turun. Kecepatan kami mendaki juga terhitung santai karena kami memang belum istirahat dengan baik setelah semalaman berada di bus. Ketika malam tiba, Alde mengusulkan untuk berhenti dan membuka tenda sebelum sampai Pos 2. Saja juga tak mau jalan malam karena tak tahu jalan dan belum pernah mendaki Merbabu.

Akhirnya kami buka tenda yang jaraknya sekitar 1-2 jam menuju Pos 2, memang tanggung, tapi apa boleh buat karena kondisi kami berdua sudah kelelahan, dan saya tak mau ambil risiko untuk jalan malam hari. Tak ada kegiatan yang terlalu berarti selama di tenda. Alde memasak, saya dirikan tenda. Saat itu hari sudah gelap kira-kira pukul 19.00. Kita langsung tidur.

2013-12-27 18.17.36
Sunset dari tempat camp

Setelah ini merupakan bagian yang lumayan bikin seram. Kira – kira jam 21.00 atau jam 22.00, kami berdua terbangun karena di luar berisik. Ada sesuatu yang grasak grusuk di luar tenda. Entah itu binatang atau apa saya sendiri tak berani cek keluar. Untuk jaga – jaga, saya pindahkan golok ke tempat yang mudah dijangkau, lalu resleting tenda diikat dengan menggunakan karet gelang. Kami lanjut tidur.

28 Januari 2013 (Hutan Merbabu – Pos 2)

Kami bangun kira – kira pukul setengah 7 pagi. Alde memasak sarapan nasi dengan telur agar hari itu lebih bertenaga. Jam setengah 9 pagi kami mulai jalan kembali, target awalnya adalah langsung puncak untuk menikmati sunset. Kenyataannya, kira – kira jam 11.00 siang kami telah sampai di Pos 2 Pipa Bocor. Perjalanan agak lama karena di tengah jalan kami mencuci piring dan bekas makanan, saya juga melakukan “ritual pagi” mumpung ada air yang mengalir di dekat jalur pendakian. Tanda – tanda bahwa sudah dekat dengan Pos 2 adalah jalur bersinggungan dengan pipa air berwarna putih. Kadang ada bagian pipa air yang bocor sehingga membentuk sebuah pancuran.

Begitu sampai Pos 2, ternyata sudah ada beberapa tenda di sana. Kurang lebih ada sekitar 6 sampai 7 tenda, tapi kebanyakan dari mereka ingin turun hari itu. Sebagian habis dari puncak. Sebagian lagi ada yang sudah 2 hari di Merbabu via jalur lain, turun lewat jalur Wekas.

2013-12-28 17.35.56
Pos 2

Pos 2 berupa tanah lapang dengan sesekali ada semak. Banyak monyet liar di sana. Jadi hati – hati dengan barang dan logistik, simpan di tempat yang aman (dalam tenda). Tetapi tak papa, toh monyet – monyet itu takut dengan manusia. Sulit sekali berada di dekat mereka karena begitu mereka melihat manusia mendekat, mereka kabur.

Tak banyak juga kegiatan selama di Pos 2. Saya hanya berkeliling Pos 2 untuk mengenal medan, bertanya – tanya mengenai jalur ke puncak, dan berkenalan dengan orang – orang baru. Ternyata ada juga yang mendaki Merbabu berdua, kalau tak salah mereka dari Bekasi. Yang menarik adalah mereka membuka tenda tepat di pinggir jurang di bagian selatan Pos 2. Saya hanya terpikir angin yang kencang di sana. Saya sendiri memilih lokasi agak jauh dari jurang atau tebing tersebut, lebih ke arah Utara, dengan posisi tenda mendekati semak. Tenda juga saya dirikan di bawah pohon agar tidak terlalu panas atau jaga – jaga jika nanti malam hujan. Di dekat kami buka tenda, ada rombongan yang baru datang sekitar pukul 19.00 malam. Orang Magelang, tiga –tiganya cowok.

Dari Pos 2, kita dapat melihat puncak pemancar di arah utara. Puncak pemancar ini harus dilewati pendaki yang melewati jalur Cunthel. Saya baru tau hal ini ketika nyasar di punggungan esok harinya J

Hari itu kami tidur lebih cepat, kalau tak salah pukul 20.00 kami sudah tidur. Sayup – sayup terdengar lagu “buka sitik Joss” atau “Oplosan” di Pos 2. Sesekali juga ada Dream Theater, Netral, dll. Rupanya rombongan yang baru datang, yang membuka tenda di dekat tenda kami ada salah satu pendaki tipe broadcaster di sana. Jadi berpikir apakah ada pendaki broadcaster yang menyetel lagu – lagu yang biasa diputar di radio – radio Jakarta? (sebut saja Rihanna, Katty Perry, atau Bruno Mars)

29 Januari 2013 (Pos 2 – Puncak Janagiri & Puncak Geger Sapi – Pos 2 – Basecamp – Magelang – Yogyakarta)

Kami bangun pukul 02.00 dinihari. Kira – kira pukul setengah 3 pagi, kami berangkat menuju puncak. Target hari itu jelas, ketiga puncak yang kami idamkan sebelum naik Merbabu yaitu puncak Syarief (3.119 mdpl), Kenteng Songo (3.140 mdpl), dan Triangulasi (3.142 mdpl). Kenyataan? Hanya dua puncak yang berhasil kami lewati, itupun bukan bagian dari ketiga puncak yang saya sebut di atas.

Kami berdua mulai berangkat. Hanya bermodalkan penerangan headlamp, kami menelusuri jalan setapak menuju puncak. Jalur mulai menanjak lagi seperti jalur antara Basecamp – Pos 2. Hanya perbedaannya, kini jalur menanjak tersebut dihiasi dengan bebatuan yang lumayan besar. Ada satu batu yang besar sekali, tapi sayang penuh dengan coretan tangan – tangan usil. Di sana kami sedikit jalan ke bagian kanan. Saya yakin batu besar inilah yang dimaksud oleh kawan – kawan yang pernah ke Merbabu via Wekas sebagai percabangan menuju puncak pemancar – puncak Syarief. Ternyata hal tersebut salah. Saya justru menuju –yang setelah turun saya baru tahu- air terjun. Pantas saja, di tengah kegelapan pagi, sayup – sayup saya mendengar bunyi air terjun. Saya baru tahu ada air terjun di sini. Tetapi belum sampai air terjun yang dimaksud, saya sudah menyadari bahwa kami salah jalur. Hal itu berasal dari entah intuisi atau apa, juga bukti bahwa wajah saya selalu terkena sarang laba – laba. Saya pikir tak mungkin jalur ini tertutup sarang laba – laba padahal ditengah perjalanan tadi, kami berdua didahului oleh dua orang pria yang membuka tenda di sebelah saya. Akhirnya saya berinisiatif untuk balik lagi. Saya mengingat ada jalan setapak berbelok ke arah kiri, tak sampai 100 m dari tempat saya berhenti untuk kembali.

Feeling saya kami mulai salah jalur sejak batu besar penuh coretan itu. Seharusnya mengambil jalan ke arah kiri karena bagian kiri dari jalan yang kami lalui saat itu berupa tebing tinggi. Jalur menuju puncak pastilah lewat jalur di sebelah tebing ini. Tanpa perlu berbalik sampai ke batu besar tadi, kami melewati jalur yang saya lihat tak sampai 100 meter dari tempat kami berputar. Berbelok ke kanan, saya sorot headlamp, hampir mendongak saya dibuatnya. Jalur ini curam sekali, mungkin mempunyai kemiringan lebih dari 70 derajat, tetapi sudah ada pijakan yang menandakan jalur ini pernah dilewati orang.

Akhirnya kami lewat jalur tersebut. Langit mulai terang. Itu berarti kami gagal mencari sunrise di puncak. Ah sudahlah, kini yang penting kami kembali ke “jalur yang benar”. Kami benar – benar mendaki, bahkan memanjat ketika melewati jalur itu. Kaki saya terhitung panjang, jadi enak saja melewatinya. Berbeda dengan Alde yang perlu pijakan lebih banyak. Di beberapa tempat, jalur semakin vertikal. Sebagai ilustrasi, jika anda berdiri, pijakan yang ada selanjutnya berada di ketinggian leher anda. Tempat berpegang hanya di akar dan batang pohon Edelweis saja. Pengalaman saya mendaki gunung, ini trek yang sulit, tetapi menantang. Jadi saya nikmati saja trek ini sembari menikmati sinar lembut matahari di pagi hari.

2013-12-29 05.42.21
Trek merayap

Kira – kira satu jam kemudian, kami berhasil berada di atas tebing. Saya kira bagian atas tebing ini adalah jalur yang sebenarnya. Padahal jalur yang benar masih ada di tebing satu lagi. Jadi ada dua punggungan, tempat saya berdiri, dan satu lagi yang dipisahkan oleh lembah yang dalam yang merupakan jalur yang benar. Saya bisa melihat pendaki lain berada di persimpangan batu besar antara puncak pemancar dengan puncak Syarief. Akhirnya kami telusuri punggungan bukit tersebut, hingga di suatu titik paling tinggi, ternyata ada papan bertuliskan puncak Janagiri. Terus terang saya baru tahu ada puncak Merbabu yang bernama Janagiri. Kami istirahat di sana sekitar 10 menit untuk memikirkan bagaimana caranya menuju kembali ke jalur yang benar, tanpa melewati jalur yang curam tadi. Saya melihat sebuah jalan setapak yang menurut saya tidak terlalu jelas karena sudah banyak ditumbuhi rumput, ternyata jalan tersebut menuju puncak Geger Sapi. Saya tahu itu puncak Geger Sapi karena ada papan yang mengatakan hal itu. Tak jauh dari sana, bertemu suatu pertigaan, kanan menuju puncak Syarief, dan kiri menuju kembali ke Wekas. Akhirnya kami bertemu dengan jalur yang benar.

2013-12-29 05.45.01
Pemandangan dari puncak Janagiri

Kami memutuskan untuk tidak ke puncak Syarief (berarti juga tidak ke puncak Kenteng Songo dan Triangulasi), karena Alde mengalami sakit di betisnya. Saya juga tak mau memaksakan berhubung trek menuju puncak Syarief lumayan terjal. Begitu juga saya masih memikirkan perlu tenaga juga untuk kembali sampai ke Pos 2. Toh puncak Syarief – Kenteng Songo – Triangulasi tak bakal tutup, saya masih bisa mengujunginya lain waktu. Akhirnya kami kembali ke Pos 2, memasak makan, dan membereskan tenda. Dari Pos 2 menuju kembali ke Basecamp Wekas ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Saat itu cuaca sedang mendung. Hal ini jelas berbeda 2 hari dan 2 malam sebelumnya di mana cuaca sangat cerah.

Jalur menuju Puncak Syarief, dilihat dari Puncak Geger Sapi
Jalur menuju Puncak Syarief, dilihat dari Puncak Geger Sapi

Kami sampai di Yogyakarta sekitar pukul 8 malam. Saya di rumah orang tua Alde selama 3 hari 2 malam. Kata seorang teman, 3 hari 2 malam di rumah orang tua pacar itu ujian mental. Ternyata tidak, orang tua Alde asik 😀

Perjalanan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga karena saya telah mengalahkan ego saya, tak pergi ke puncak sendirian.

Benar kata soundtrack film Gie, berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya. Ya saya orang yang egois dan saya berhasil kalahkan itu.

Satu pemikiran pada “Mendaki Gunung Merbabu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s