Double Summit Gunung Gede – Pangrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berada di daerah Cianjur. Dapat anda jangkau dengan mudah kalau ke arah Bandung via Puncak, nanti di daerah Cimacan, tinggal belok kanan menuju Cibodas, kantor TNGGP. Jujur saya sudah dua kali punya rencana ingin hiking ke TNGGP, dan keduanya batal. Pertama gara-gara tiba-tiba saya diare, kedua gara-gara TNGGP ditutup di pertengahan tahun untuk menghindari kebakaran hutan. Kali ini, saya ikut rombongan Masdan untuk double summit Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Pangrango (3.019 mdpl) pada tanggal 5 – 7 Oktober 2014 lalu.

Pada awalnya, kira-kira ada dua puluh orang lebih yang akan ikut dalam rombongan ini. Ternyata satu per satu batal ikut karena tanggal 5 atau 6 Oktober bersamaan dengan hari raya Idul Adha. Saya sendiri sih kalau ada orang tua sedang di rumah, tentu tidak akan ikut juga karena hari raya adalah momen yang pas untuk kumpul-kumpul (dan makan daging sepuasnya). Jumat malam, 5 Oktober 2014, akhirnya yang jadi ikut hanya 16 orang. Dari 16 orang, saya hanya kenal beberapa saja, lumayan tambah teman barušŸ™‚. Sepertinya itulah keuntungan naik gunung, mau gunung apapun, pasti ada saja teman baru (minimal kenal dengan bapak-bapak/mas-mas di basecamp pendakian).

Rencananya kami berkumpul di halte Stasiun UI Depok pukul 21.30. Oleh karena itu, saya dan Fitri (teman sekampus yang baru kena demam gunung setelah turun dari Prau) yang kebetulan bekerja di daerah Lippo Karawaci, berangkat sejak pukul 19.00. Sayang saat itu tol JORR macet sekali sehingga kita baru sampai di Halte Stasiun UI pada pukul 23:00. Kebetulan rombongan pun ada juga yang belum datang. Kebiasaan ngaret :)). Untung TNGGP, bukan Cikuray/Papandayan atau Ceremai yang butuh perjalanan lebih dari 4 jam. Kira-kira pukul 00.00 kita baru mulai berangkat menuju Cianjur dengan truk tronton Angkatan Laut! Terakhir saya naik truk tronton ketika ikut LDKS atau acara Rohis (pasti pada ga percaya kalau dulu saya anak Rohis) yang acaranya di daerah Puncak juga.

Foto dulu sebelum naik tronton
Foto dulu sebelum naik tronton (Mas Danar ga ikutan, mau jadi panitia potong kambing ceunah)

Kebetulan tol Jagorawi lancar, hanya sedikit macet di daerah Puncak Pass karena ada perbaikan jalan. Thanks to abang tentara yang bawa trontonnya rada ngotot (sambil sesekali nyalain sirine). Pukul setengah 3 pagi kita sampai di parkiran Cibodas dengan sebelumnya mampir terlebih dahulu di Alfamart pertigaan Cibodas. Alfamart ini selalu jadi tempat para pendaki melengkapi perbekalannya sebelum naik ke Cibodas karena harga-harga di Cibodas mulai mahal. Saya sendiri beli satu air mineral 1.5 liter seharga Rp10,000 sebelum pos pengecekan SIMAKSI.

Kami menunggu pagi (baca: bobok) di warung Bu Iwa. Saya sendiri mulai bangun pukul 5.00, lalu sarapan popmie sambil hangatkan badan. Angin di Cibodas mulai semriwing dingin waktu itu. Mungkin badan saya masih settingan Tangerang yang sumuk. Kira-kira pukul 8.00, kita mulai berangkat. Kira-kira 15 menit kemudian, kita sampai di pos pengecekan SIMAKSI. FYI, sekarang SIMAKSI TNGGP Rp30,000 per orang. Kalau tak salah dengar, itupun sepuasnya berapa hari. Hanya sayang sekali (sekaligus bagus juga sih) kalau ada sistem kuota yaitu ada batas maksimal jumlah pendaki dalam satu hari. Hal ini tentu baik sekali untuk menjaga hutan TNGGP dan kurang baik untuk pendaki karena harus rebutan kuota pendakian (mungkin cara lain adalah lewat jalur ilegal).

Di pos pengecekan, ternyata tidak diperbolehkan membawa alat mandi karena akan mencemari air di atas sana. Saya sih ga masalah, memang ga niat untuk mandi di tengah gunung. Mungkin TNGGP ini gunung paling ketat aturannya. Biasanya sih tinggal daftar, langsung gas ke atas. Saya kira tas kami bakal digeledah, ternyata tidakšŸ™‚.

IMG_1374

Setelah pos pengecekan, kami langsung gas, mulai nanjak. Khas trek Cibodas (mungkin tidak ditemui di gunung lain), adalah trek berbatu yang disusun rapi menyerupai anak tangga. Berbeda dengan kebanyakan gunung yang treknya hanya jalan setapak. Saya sendiri pernah ke air terjun Cibereum, sekitar 45-1.5 jam jalan kaki dari pos pengecekan. Jalurnya sama dengan yang menuju gunung Gede, perbedaannya nanti ada percabangan jalan di Pos Pancayangan. Kebiasaan saya kalau baru mendaki gunung yang sebelumnya belum pernah didaki, selalu jalan paling depan! Kira-kira sebelum pos Telaga Biru, ada 3 orang yang menyusul saya yaitu Ojan, Raihan, dan Vici. Kita berempat jalan di depan, setelah pos Pancayangan, bergabung Hilmi dan Fitri. Targetnya dalah camp di Kandang Badak (kurang lebih 2400 mdpl). Bukannya ingin meninggalkan yang lain di belakang. Ini karena kita dengar Kandang Badak bakal ramai dan lapak untuk mendirikan tenda bakal terbatas. Saat itu mas Vici bawa 2 tenda.

Setelah pos Pancayangan, saya lupa ada pos-pos kecil. Kami berlima hanya beristirahat sebentar di pos Kandang Batu. pos Batu Kukus skip, pos Air Panas skip. Saya takjub dengan air terjun panas (atau “air panas terjun”?). Literally, melewati air terjun yang airnya panas (nah ini mungkin lebih pas), sisi kiri air terjun, sisi kanan jurang. Kalau bukan jurang, berarti bukan air terjun, mungkin cuma sungai :p. Benar-benar berasa sedang di spa. Uapnya membuat mata yang ngantuk menjadi jreng kembali

DSCN1448
Vindy, Mpit, dan Mas Eko di Air Panas (saya mah dah jalan duluan)

Setelah jalan 4 jam atau sekitar pukul 12.00, kita sampai di Kandang Badak. Saat itu suasana Kandang Badak sudah ramai, agak susah untuk cari lahan mendirikan tenda. Beruntung ada satu tenda yang kelompoknya turun sore itu, jadi 5 tenda kami dapat berdiri di lahan kosong tersebut. Lumayan setelah bikin tenda, kita bisa leyeh-leyeh minum teh (dan ngerokok) sembari menunggu rombongan belakang yang satu per satu tiba. Rencana selanjutnya pukul 15.00 berangkat summit Gunung Gede setelah makan siang.

Kurang lebih pukul 15.00, kita berangkat menuju Gunung Gede. Dari Kandang Badak, jalan sedikit, ketemu dengan pertigaan. Lurus ke Gunung Gede, kanan ke Pangrango. Trek dan tanjakan masih bersahabat. Jauhlah kalau dibandingkan dengan Ceremai. Baru bertemu dengan trek yang curam dari tanjakan setan (entah kenapa diberi nama “Setan”, mungkin biar serem, kenapa nggak “Tanjakan Doraemon” aja?). Setelah tanjakan setan, trek stabil menanjak layaknya naik tangga. Keadaan jalan berbatu tetapi bukan berbatu seperti Cibodas – Kandang Badak, ini benar-benar batu yang kalau tidak hati-hati, bikin terpleset. Kurang lebih 2 jam atau pukul 17.00, kita sampai di kawah Gunung Gede, belum puncak. Di sini pun pemandangan sudah bagus buat foto-foto di pinggir jurang. Melihat kawahnya, saya jadi teringat Tangkuban Perahu atau Papandayan. Kawahnya besar dan masih mengeluarkan asap belerang.

IMG_1396
Jalur menuju top Gunung Gede (2,958 mdpl)

Dari tempat foto-foto, masih perlu jalan lagi sekitar 10-15 menit untuk menuju point tertinggi dari Gunung Gede. Selain rombongan kami, di sana sudah ada satu rombongan yang sedang masak-masak sembari dangdutan. Puncak Gede sore itu berkabut lumayan tebal. Tak kelihatan apa-apa. Padahal saya ingin sekali melihat dengan jelas gunung Pangrango di sebelah timur.

IMG_1453
Dari puncak Gunung Gede
DSCN1474
Pangrango samar-samar terlihat di kala senja

Sebelum hari gelap, kami mulai turun. Sayangnya ketika menuruni Tanjakan Setan, hari itu sudah gelap. Lumayan menantang. Cuma butuh sekitar 1 jam-an untuk menuju kembali ke Kandang Badak. Di sana kami makan malam, (cerita-cerita galau menjurus ke curhat, saling bully) lalu istirahat tidur karena esok paginya kami akan summit Pangrango.

Malam harinya sepakat untuk berangkat pukul 3 pagi. Kenyataan, kami semua baru berangkat setengah 4. Tidur di sleeping bagi sepertinya lebih enak. Saya keluarkan tas kecil untuk summit yang isinya biskuit, minum, jas hujan. Kini pertigaan belok kanan. Saya di depan. Seingatnya saya di belakang ada Fitri, Mpit, Ojan dan Raihan yang selalu ingatkan saya untuk ngerem. Maklum, tipikal selonong boy. Kalau tak ngerem, bisa-bisa saya jalan sendirian di depan. Trek menuju Pangrango lebih seru ketimbang ke Gede. Lebih seru karena kita harus menunduk, melompat, karena jalan setapak sering dihalangi pohon-pohon tumbang. Banyak percabangan jalur. Tapi best practice nya yang ada yaitu beloklah ke jalur yang ada tali pita, botol aqua, bungkus permennya. Dan silahkan balik kanan kalau jalur yang anda lewati tak bertemu itu, dan muka anda selalu tertabrak sarang laba-laba.

Karena mulai naik pukul setengah 4, akhirnya matahari terbit ketika kami belum sampai puncak Pangrango. Entah kenapa di gunung, sebelum setengah 6 matahari sepertinya sudah tinggi. Kira-kira 3 jam waktu dari Kandang Badak ke Puncak Pangrango. Tanda sudah dekat dengan puncak Pangrango adalah jalanannya mulai mendatar. Jalanan mendatar adalah momen-momen yang pas untuk membuka kaki lebar-lebar ketika berjalan kaki. Menurut saya Puncak Pangrango tidak terlalu menarik. Pemandangannya pun biasa-biasa saja, mungkin karena saat itu sedikit berkabut.

Seingat saya yang finish duluan di Puncak Pangrango adalah saya, Fitri, Raihan, Ojan (lagi-lagi orangnya ini)

Tapi dari sisi historis, puncak Pangrango sangat menarik karena berpuluh-puluh tahun yang lalu, Soe Hok Gie pernah berfoto di sini. Foto itu sangat terkenal. Dia duduk di atas tugu triangulasi Pangrango sambil bersila seperti foto di bawah ini :

soe-hok-gie2Dari bawah saya bilang ke orang-orang kalau sampai di puncak Pangrango, saya akan foto dengan pose yang sama. Jadinya seperti ini

IMG-20141006-WA0004
Adrian di Puncak Pangrango, 2014 (dikasih efek hitam putih biar mirip, pose mirip, kalah tampan, kalah pinter, kurang sipit tapi nggak jomblo)

Sembari menunggu rombongan belakang datang, kami makan nutrijell yang dimasak tadi malam dengan gula menggumpal di dalamnya. Setelah yang dibelakang sampai, mereka juga foto-foto, lalu kita turun ke lembah Mandalawangi. Dari puncak Pangrango ke Lembah Mandalawangi ga sampai 5 menit (dengan sedikit berlari). Lembah Mandalawangi adalah padang tumbuhan Edelweiss mungkin seluas dua atau tiga kali lapangan bola, dikelilingi hutan, dengan pemandangan Gunung Salak di arah barat (sayang waktu itu tertutup kabut). Di sana juga ada sumber mata air. Dari Catatan Seorang Demonstran dan Gie Sekali Lagi, Lembah Mandalawangi ini tempat nongkrongnya Gie. Ya anggap saja waktu itu sedang bosan di Jakarta.

IMG_1428
Spot favorit saya di Mandalawangi
mandalawangi
“dan kabut tipis pun turun pelan-pelan di Lembah Kasih, Lembah Mandalawangi….”
IMG_1463
Selamat Idul Adha 1435 H – dari Lembah Mandalawangi Pangrango
IMG_1513
Setelah Sholat Ied di Mandalawangi

Sampai di atas, kami semua (kecuali Esi karena dia Katolik dan Saya yang Cat-holic) sholat Ied di Lembah Mandalawangi. Menarik! Bahkan beberapa menggunakan baju koko dan sarung. Mungkin kurang ritual potong kambing aja ini. Sementara yang lain sholat, saya buka kompor untuk masak mie. Kira-kira ada 5 sampai 6 bungkus mie yang berhasilĀ  di masak dengan dicampur dengan sarden. Begitulah kami. Lembah Mandalawangi menginspirasi Gie membuat puisi, sementara berhasil menginspirasi kita untuk mencampurkan sarden ke kuah indomiešŸ™‚

IMG_1601
Fotonya keren (pakai kamera 20 juta ceunah)

IMG_1597Entah kenapa berada di Lembah Mandalawangi ini bikin galau. Ingin sekali ajak Alde kesini (semoga dia baca ini :p)

Sulit untuk meninggalkan tempat ini. Lembah Mandalawangi langsung jadi tempat favorit saya setelah padang sabana Merbabu, tanjakan Bapa Tere di Ceremai, dan bagian ujung dari Pondok Salada dan Tegal Alun di Papandayan.

Saya lupa pukul berapa kami turun. Saya bertiga dengan Ojan dan Raihan mau turun dengan berlari ke Kandang Badak, target 1 jam saja. Alhasil kita bertiga seperti orang parkour. Literally lari, remnya adalah berpegangan dengan pohon-pohon atau dahan-dahan. Kaki saya sempat terpentok batu lalu jadi biru lebam di hari Selasa. Anggap saja kenang-kenangan. Mungkin akan tunggu saatnya saya akan lebih santai. Dan benar, kami sampai di Kandang Badak 1 jam plus 5 menit. Saat itu Kandang Badak mulai panas. Saya buat teh, dan Ojan menggoreng tempe untuk cemilan sembariĀ  menunggu rombongan belakang.

Setelah makan siang, kira-kira pukul 4 sore, kita mulai turun dari Kandang Badak menuju kembali ke Cibodas. Hanya butuh waktu 2 jam saja untuk sampai di Cibodas. Sampai di Cibodas, hari mulai gelap dan mulai kembali dingin. Kami pulang sekitar pukul 9 malam dan sampai kembali di halte Stasiun UI kira-kira pukul 11.

Perjalanan ini menyadarkan saya satu hal, ternyata ada gunung yang indah yang tak perlu jauh-jauh naik kereta malam di dekat Jakarta. Mungkin saya akan kembali ke sini lagi dalam waktu dekat.

Photo credits :

  • Masdan dengan kamera 20 jutanya (akhirnya pajak saya dapat saya rasakan sendiri)
  • Vindy
  • Oki

Satu pemikiran pada “Double Summit Gunung Gede – Pangrango

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s