“Solo” Hiking Ceremai via Linggarjati

Setelah bulan Juli lalu saya ke Ceremai bersama Debop, kali ini saya ‘solo’ hiking ke Ceremai. Pada awalnya, ada sekitar 7 orang yang mau mendaki Ceremai via Linggarjati. Sayangnya, satu per satu batal untuk pergi. Alhasil saya sendiri yang pergi. Tiket kereta yang sudah dipesan sebulan yang lalu tentu pada hangus. Lumayan baik untuk saya karena saya bisa selonjoran di kursi kereta­čÖé

Saya berangkat pukul 11 malam dari stasiun Senen dengan menumpang kereta Jaka Tingkir. Sampai di Cirebon Prujakan pukul 2 malam. Jujur saya bingung naik kendaraan apa saat itu untuk menuju Linggarjati. Cirebon jam 2 malam tentu beda dengan Jakarta. Dengan kebingungan, saya mengikuti saran tukang becak untuk ke terminal. Diantarkanlah saya ke terminal yang jaraknya kira-kira 5 km dari stasiun dengan ongkos 20ribu. Setelah sampai di terminal, ternyata mobil Elf menuju Kuningan sudah tidak ada. Akhirnya saya numpang ojek yang pengemudinya seorang bapak tua yang katanya mau sekalian pulang ke Kuningan. Saya diantarkan sampai ke pos Linggarjati. Ongkosnya saat itu adalah 50ribu rupiah. Saya tak tahu apakah ongkos segitu mahal atau tidak. Saya anggap saja ongkosnya pas berhubung Cirebon ke Linggarjati lumayan jauh, kira-kira 45 menit mengendarai motor. Pukul 3 pagi, saya sampai di pos Linggarjati, numpang tidur di rumah dari ranger Ceremai.

Sebenarnya saat itu saya tak bisa tidur. Adzan subuh sudah berkumandang. Hari sudah mulai terang. Saya pergi ke warung yang sudah mulai buka. Banyak juga pendaki lain yang menunggu warung buka. Setelah saya sarapan, saya pergi ke pos pelaporan pendakian, ternyata ada peraturan minimal jumlah pendaki adalah 3 orang. Takut tak diizinkan mendaki jika saya solo saat itu, akhirnya saya bergabung dengan grup berisi 4 orang asal dari Bekasi. Untung mereka mau menerima saya hehe. Saya juga katakan ke mereka bahwa sebenarnya saya berencana naik bersama 6 orang lainnya tapi mereka batal pergi, tapi saya juga sudah siap-siap logistik dan alat yang lengkap untuk pendakian solo (mulai dari tenda, alat masak, makanan, dan lain-lain sudah saya bawa).

Kami berangkat berlima pukul 6 pagi dari pos Linggarjati. Pos di depan adalah Cibunar, tempat terakhir mengambil air minum. Air di sana sangat segar, diminum mentah pun tak papa. Bahkan saya membawa sebotol 1.5 liter untuk dibawa pulang­čÖé. Di sana teman-teman baru saya mengambil air. Saya lupa mereka membawa berapa botol air untuk berempat. Saya sendiri membawa 3 buah botol air minum 1.5 liter, ditambah dengan yang ada di botol minum 900 ml, dan saya juga pegang botol air 600 ml yang sudah saya seduh nutrisari. Jadi kira-kira total air yang saya pegang sekitar 6 liter. Saya juga sudah mengatur jumlah pengeluaran air. Pokoknya, sampai pos Pangalap, kalau bisa, hanya botol 600 ml yang habis, dan botol air minum 900 ml harus tahan sampai Pos Pangasinan (2800 mdpl). Satu botol 1.5 liter untuk masak selama perjalanan, 1 botol lagi untuk masak selama di camp, dan 1 botol lainnya untuk turun. Saya perlu tegas ke diri sendiri untuk masalah air ini karena pengalaman sebelumnya saya dan teman-teman pernah turun Ceremai dengan keadaan tanpa air sama sekali sejak pos Sanggabuana 1. Dan itu sangat tak enak.

Kami berlima jalan terus. Trek antara Cibunar – Leuweung Datar – Condang Amis masih mudah karena banyak jalur landai. Kami istirahat kira-kira satu jam di pos Kuburan Kuda untuk ngopi, ngemil, dan merokok. Setelah pos Kuburan Kuda dimulai lah tanjakan-tanjakan khas Ceremai. Pokoknya dengkul bertemu dengan perut. Tapi tanjakan di daerah ini masih lumayan mudah. Setelah Kuburan Kuda kami sampai di pos Pangalap. Kira-kira jam 10 kami sampai di pos Pangalap. Di sini suasana masih sepi, tidak ada orang lain. Seingat saya, kami termasuk tim pertama yang jalan dari Linggarjati, entah kalau ada tim yang berangkat duluan dengan menginap terlebih dahulu di Cibunar. Kami tak berhenti di pos Pangalap. Di depannya ada pos Tanjakan Seruni dan Bapa Tere yang tanjakannya mulai level brutal (baca: dengkul bertemu dagu). Malah beberapa teman saya bilang di Bapa Tere itu bukan menanjak, tapi memanjat! Tanjakan di Bapa Tere boleh saya bilang adalah tanjakan yang nyaris vertikal setinggi kurang lebih 20-30 meter. Pijakannya hanya akar-akar pohon yang mencuat dari dalam tanah. Beruntung sudah ada yang memasang tali di sana. Setelah Bapa Tere, jalan kurang lebih satu jam, ada pos Batu Lingga. Di sini ada satu grup berisi dua orang yang membuka tenda. Berbeda saat Juni lalu saya ke Ceremai, Batu Lingga sudah dipenuhi oleh banyak tenda. Sembari menunggu kawan-kawan di belakang, saya duduk sebentar leha-leha di pos ini. Hari mulai sore sekitar jam setengah 5. Saya lanjut jalan hingga menjelang petang sampai di pos Sanggabuana 1. Di sini kami kembali istirahat sembari menunggu maghrib, bongkar logistik sekedar minum kopi dan ngemil.

Menunggu maghrib, kami berlima mendapatkan dua lagi teman baru. Dua orang tersebut akan ikut di manapun kami membuka tenda. Maklum, saat itu Ceremai via Linggarjati tak terlalu ramai. Kami menunggu gelap di Sanggabuana 1. Hingga pukul setengah 7 malam, kami lanjut jalan menuju pos Pangasinan (2800 mdpl). Trek dari Sanggabuana 1 hingga Sanggabuana 2 masih mudah. Tetapi Sanggabuana 2 menuju Pangasinan mulai lah ada tanjakan berbatu. Sayup-sayup hembusan angin mulai terasa. Pohon – pohon mulai berganti yang tadinya hutan, kini hanya semak-semak saja. Lampu kota Kuningan dan Cirebon dapat dilihat. Kami sampai di Pangasinan jam 8 malam. sedikit terlambat karena seharusnya bisa satu jam saja. Di Pangasinan, hanya ada satu tenda rombongan 5 orang dari Bandung. Saya buat tenda di dekat semak-semak karena takut terhantam angin malam. Pos Pangasinan hanya seluas satu buah lapangan voli, berpasir, dan tempatnya sangat terbuka. Puncak Ceremai sudah dapat dilihat dari sini dan lumayan dekat.

Di sanalah kami camp. Malam-malam saya buka tenda sendiri. Untung saya sudah sering membuat tenda sendiri sehingga tak perlu bantuan orang lain. Lagipula tenda masa kini sangat mudah dibuat. Istilahnya “lempar saja tendanya ke tanah, tenda langsung berdiri”­čÖé. Setelah pasak dipasang, saya bergegas masuk tenda dan ucapkan selamat malam kepada yang lain. Di ketinggian 2800 mdpl, diam itu tidak baik. Berbeda saat sedang berjalan, tak pakai jaket pun tak papa. Tetapi kalau diam saja, tentu akan terasa dingin. Saya pun masak mie rebus di dalam tenda agar tenda sedikit hangat. Kira-kira jam 9 malam saya mulai tidur.

Tidur di Pangasinan tak terlalu nyenyak. Sesekali saya terbangun karena udara dingin. Iseng saya lihat termometer di jam tangan, ternyata 5 derajat celcius. Di bawah comfort zone sleeping bag saya yang berada di level 7 derajat­čśÉ. Mungkin sisa-sisa musim kemarau masih berlaku di Ceremai.

Saya bangun jam 5 pagi. Langit sudah mulai terang tetapi matahari belum muncul dari garis cakrawala. Kota Kuningan dan Cirebon tak terlihat karena tertutup awan. Tapi di timur jauh sana sudah terlihat garis oranye. Saya dan dua orang dari kawan rombongan akan naik ke puncak Ceremai. 2 orang tak ikut dan memilih istirahat. Di tengah perjalanan Pangasinan – Puncak, matahari mulai keluar dari garis cakrawala. Saya lupa sampai pukul berapa saat sampai di Puncak Panglongokan (3057 mdpl). Saat itu hanya 3 grup yang ada di puncak. Tak sampai 10 orang. Karena sudah pernah ke puncak ini, saya tak mau berlama-lama lalu lanjut berjalan ke Puncak Triangulasi (3078 mdpl). Treknya mengitari kawah Ceremai. Perkiraan saya sih mungkin sekitar 15 menit tapi jauh juga ya. Ternyata 45 menit baru sampai di puncak Triangulasi.

IMG_20141102_060012

IMG_20141102_060020
Kawah Ceremai

Berbeda dengan Puncak Panglongokan, di sini suasananya lebih ramai. Mungkin ada 40an orang lebih yang berada di puncak Triangulasi. Banyak juga mbak-mbaknya. Berbeda dengan puncak Panglongokan yang tak sampai 10 orang, itupun isinya mas-mas semua.

Trek antara dua puncak Ceremai.  Jurang
Trek antara dua puncak Ceremai. Jurang
IMG_20141102_071525
Puncak Triangulasi yang ramai

┬á2 orang teman saya juga menuju puncak Triangulasi. Setelah membuat kopi dan berfoto, pukul setengah 9 kami mulai turun. Saya pasang target untuk kembali Pangasinan hanya 45 menit. Ini kebiasaan saya ketika naik gunung, saya tetapkan waktu, walaupun target waktunya dihitung secara kasar, setidaknya membuat kita terus “alert” dengan kondisi jalan. Di Pangasinan, kami sarapan dengan “nasi goreng” dan beberapa cemilan. Air saat itu sesuai dengan rencana, masih bersisa 1.5 liter yang memang dari awal saya persiapkan untuk perjalanan turun. Setengah 11 siang kami mulai berangkat turun. Kira-kira setiap setengah jam atau 45 menit kami sampai di tiap pos. Saat itu saya didepan berdua. Di Sanggabuana 1, kami menunggu teman-teman yang dibelakang. Lumayan, say a dapat power nap sekitar 15 menit. Di sana kami janjian untuk bertemu di Pangalap untuk ngopi dan bongkar logistik. Oke, saya berdua langsung berangkat duluan.

Karena bakal istirahat lama di Pangalap dan kami semua tak mau bertemu malam ketika perjalanan turun (kebetulan saya juga mengejar kereta ke Jakarta pukul 11 malam dari Cirebon Prujakan), saya terus paksakan turun. Walaupun saya tak turun berlari-lari seperti di Pangrango, perjalanan turun lebih cepat dari yang diperkirakan. Saya dan 2 orang lainnya sampai di Cibunar pukul setengah 5 sore. Perkiraan kami sampai adalah setengah 6. Itupun termasuk tidur siang satu jam di Pangalap karena menunggu rombongan belakang untuk ngopi-ngopi. Rombongan paling belakang (2 orang) sampai pukul setengah 6 dan masih terang. Kami bertujuh sukses kejar target­čÖé

Di Cibunar saya mandi (airnya sedingin es!) dan makan. Pokoknya sudah rapi untuk setelan naik kereta api. Pukul setengah 9 malam, kami semua sudah di pertigaan Linggarjati. Mereka berenam semuanya naik Setia Negara ke Pulogadung, sedangkan saya ke Cirebon Prujakan. Jam setengah 10 saya sudah sampai stasiun dengan naik angkot. Kereta dari Brantas jurusan Kediri – Tanjung Priuk tiba tepat waktu pukul 22.41 dan langsung berangkat 5 menit kemudian. Dan sekali lagi, saya bisa selonjor di kursi kereta­čÖé. Saya sampai di stasiun Senen pukul 2 malam. Tak mau menunggu lama, saya langsung naik taksi untuk kembali ke Karawaci.

Pendakian “solo” ini memang awalnya tak saya rencanakan. Justru saya merencanakan solo ke Semeru awal Desember nanti. Jadi, hitung-hitung latihan melatih diri sendiri untuk solo, membawa perlengkapan sendiri, dan saya belum latihan jika berjalan hiking sendiri. Jujur sebenarnya di awal, saya lebih takut untuk solo Ceremai ketimbang solo Semeru. Bukannya menggampangkan Semeru (wong saya belum pernah naik Semeru), tetapi Semeru itu gunung yang ramai oleh banyak orang. Sedangkan Ceremai via Linggarjati jelas berbeda. Tanjakannya, keberadaan air, dan mungkin reputasi mistisnya menjadikannya spesial­čÖé.

Untuk hal-hal terkait mistis, saya kira itu berasal dari diri kita sendiri. Jika mental kita kuat dan tak terlalu percaya dengan makhluk-makhluk seperti itu, maka tak ada alasan ada halusinasi muncul. Halusinasi ada ketika kita lelah, kehausan, atau sedang terkena hipotermia.

Perjalanan ini merupakan salah satu langkah saya untuk berlatih mendaki solo. Setelah Semeru nanti, saya akan coba gunung lainnya secara solo. Mungkin dimulai dari gunung yang pernah dikunjungi sebelumnya secara berkelompok.

Hal yang patut dipegang oleh pendaki semi-solo seperti saya di Ceremai ini adalah, jangan menyusahkan grup tempat kita bergabung. Pastikan logistik anda lengkap dan cukup, syukur-syukur bisa memberikan sesuatu ke grup tersebut.

Satu pemikiran pada ““Solo” Hiking Ceremai via Linggarjati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s