Gunung Sumbing (3371 mdpl) via Garung, Wonosobo

Pada awalnya saya tidak berencana turut serta ke Sumbing pada tanggal 21 – 23 November 2014 karena Kamis minggu depannya (27 Nov 2014) saya akan mengikuti ujian aktuaris. Tetapi semua itu berubah saat Sumbing terlihat terlalu berharga untuk ditinggalkan karena salah satu impian saya adalah triple S (Slamet, Sumbing, dan Sindoro) yang belum juga kesampaian. Dari sanalah muncul berbagai pembenaran mengapa saya harus ikut. Entah pembenaran karena hari ujian masih lama (masih ada hari Senin sampai Rabu untuk belajar) dan materi ujian yang sudah saya baca dari beberapa minggu yang lalu. Lagipula saya anggap pendakian kali ini sebagai pemanasan sebelum solo karir ke Semeru dua minggu lagi.

Peserta pendakian Sumbing kali ini hanya 8 orang. Kelompok yang lumayan sedikit jika dibandingkan dengan pendakian-pendakian yang pernah saya ikuti sebelumnya. Saya ikut ke kelompok Masdan. Yang lainnya Oki, Mpit, Hilmi, Diah, Ania, dan temannya Diah, Megi.

Titik kumpul di pool Sinar Jaya Margonda Depok. Kami akan naik bis hari Jumat pukul 4 sore. Agak sulit memang dari Karawaci Tangerang ke Depok apalagi pada Jumat sore. Saya berangkat pukul 2 siang dan jam 3 sore saya hanya baru sampai di Serpong karena angkot yang saya tumpangi sering ngetem dan jalanan macet. Sepertinya tak mungkin sampai ke Depok hanya satu jam saja di Jumat sore dengan menggunakan bis kota. Akhirnya saya memilih naik taksi dengan tujuan stasiun Tanjung Barat. Saya sampai di stasiun Tanjung Barat pukul 4 tepat. Itupun dengan kondisi sang pengemudi taksi ugal-ugalan di tol dengan menggunakan jalur darurat. Saya dapat pesan dari Masdan bahwa bis belum berangkat. Saya memilih naik KRL dari Tanjung Barat dan turun di stasiun Depok Baru. Kira-kira setengah jam kemudian saya sampai di stasiun Depok Baru. Sore hari itu cuaca mulai mendung gelap dan sesekali terlihat petir menyambar dengan jarak yang relatif dekat (hanya selisih beberapa detik setelah cahaya kilat muncul). Akhirnya saya lari sekuat-kuatnya dari stasiun Depok Baru ke arah pool Sinar Jaya yang berada persis di sebelah kantor Walikota Depok untuk menghindari hujan dan petir. Tak lama setelah saya masuk bus, benar, hujan deras turun dan petir mulai menyambar-nyambar.

Sesampainya di pool bus, ternyata masih kurang 2 orang lagi yaitu Diah dan Megi yang belum juga datang. Kru bus saat itu ingin segera memberangkatkan busnya. Akhirnya kira-kira jam 5 sore bus berangkat tanpa Diah dan Megi. Saat bus mulai jalan, saya melihat Diah dan Megi sedang berjalan sembari menembus hujan di depan kantor Walikota Depok. Sayang saat itu pengemudi dan kondektur Sinar Jaya tak bisa mengambil penumpang. Lagipula Masdan sudah menitipkan tiket mereka berdua untuk keberangkatan bus selanjutnya. Berangkat secara terpisah seperti ini jelas akan menimbulkan risiko sampai di lokasi tujuan secara tak bersamaan. Beruntung kami mendapatkan kabar bahwa bus yang ditumpangi oleh Diah dan Megi telah berangkat kira-kira setengah setelah bus yang saya tumpangi berangkat. Jadi jarak tidak terlalu jauh.

Overall, perjalanan ke Wonosobo lancar. Sinar Jaya jurusan Depok – Wonosobo melewati tol Cikampek – Jalur Pantura – Tol Palikanci – Bumiayu – Purwokerto – Banjarnegara – Wonosobo. Bus sampai sesuai dengan itten yaitu jam 5 pagi hari Sabtu. Jam 5 pagi di Jawa Tengah hari sudah mulai terang, berbeda dengan di Jakarta dan sekitarnya. Kira-kira setengah jam kemudian, bus yang ditumpangi oleh Diah dan Megi juga sampai di terminal Mendolo Wonosobo.

Sesampainya di terminal, kami packing ulang logistik yang telah dibawa. Saat itu, Ania tak bisa ikut ke Sumbing karena mendapatkan kabar kakeknya di Solo sedang sakit. Akhirnya tim kami berjumlah 7 orang. Setelah cuci muka dan packing, kami lanjut naik minibus ke Desa Garung. Kira-kira 30 menit menuju ke sana. Basecamp Garung lokasinya sekitar 500 meter dari jalan raya. Setelah mengurus pendaftaran, kami mencari warung untuk memesan sarapan dan makan siang. Ternyata warung yang ada di basecamp belum buka sehingga kami harus mencari ke pasar yang lokasinya berada di pinggir jalan raya utama tak jauh dari lokasi turun dari minibus.

Seingat saya ada 4 kelompok yang berangkat dari basecamp Garung pagi itu. Kelompok kamilah yang terakhir berangkat. Tetapi kelompok kami termasuk kelompok awal yang sampai di camp Watu Kotak. Itu semua berkat ojek “krosser nasional”. Saya sebut itu karena ojek disini menggunakan motor bebek yang telah dimodifikasi seperti motor trail dengan raungan mesin yang lumayan memekakkan telinga. Basecamp Garung berada di ketinggian kira-kira 1400 mdpl. Pos 3 “Malim” berada di ketinggian 1900 mdpl bisa ditempuh dengan menumpangi ojek dengan ongkos 25 ribu rupiah. Saya tanya beberapa orang yang tak naik ojek, mereka butuh waktu sekitar 2 jam dari basecamp menuju Malim, atau 1 jam jika anda punya dengkul dengan kualitas nomor satu. Dengan naik ojek, perjalanan dapat dipangkas menjadi hanya 15 menit saja. Trek dari basecamp Garung ke Malim berupa jalanan berbatu yang tentu lumayan menyakitkan untuk kaki.

Pendakian kami mulai dari pos Malim. Saat itu kondisi trek lumayan licin karena hari sebelumnya hujan. Jalurnya mengingatkan saya dengan jalur Selo Gunung Merbabu di mana kondisi hutannya tak terlalu lebat. Vegetasi berupa pepohonan pendek seperti semak-semak. Sesekali terdapat lahan terbuka sehingga kita dapat melihat pemandangan bukit – bukit hijau. Jalur Garung adalah jalur yang menyusuri salah satu punggungan gunung. Banyak punggungan gunung Sumbing yang masing – masingnya dipisahkan oleh lembah atau bahkan jurang yang dalam.

Kira – kira sejam kemudian kami sampai di pos Genus. Pos ini hanya berupa sebidang tanah datar seluas kira-kira 6 x 6 meter. Kami beristirahat sebentar di sana, kemudian melanjutkan perjalanan menuju pos Pestan (Pasar Setan). Setelah melewati Genus, kami melewati pohon dengan papan bertuliskan “Engkol-engkolan”. Disinilah jalanan mulai menanjak terjal. Tanjakannya mirip tanjakan setelah pos Watu Tulis di Merbabu jalur Selo. Tidak ada tempat pegangan, tetapi saat itu tanahnya sedang basar sehingga jika menggunakan sepatu dengan sol yang bagus, kita tak akan terpeleset.

Setelah tanjakan Engkol-engkolan, jalur berbelok ke kiri menyusuri punggungan, lalu ada tanjakan lagi seperti sebelumnya tetapi dengan jarak yang lebih pendek. Di atas bukit akan terlihat sebuah pohon besar yang berdiri sendirian. Setelah pohon tersebut, jalan sedikit menanjak hingga vegetasi berubah menjadi rumput-rumputan dan tekstur tanah mulai halus. Tak lama dari situ, kita sampai di pos Pestan.

Kami sampai di Pestan pukul 12 siang. Saat itu cuaca sedang cerah dan matahari sedang terik-teriknya. Sesekali kabut menutupi daerah itu. Kami buka bekal nasi bungkus yang dibeli dari bawah. Setelah makan siang, kami lanjut jalan dengan tujuan camp di Watu Kotak. Diantara Pestan dan Watu Kotak ada sebuah pos lagi yaitu Pasar Watu. Di Pasar Watu lokasinya cukup unik yaitu hanya berupa jalan setapak berbentuk punggungan selebar 2-3 meter dengan kiri kanan berupa jurang lembah dengan banyak batu besar di atasnya. Di Pasar Watu, jalur berbelok ke kiri dan menurun menyusuri kontur bukit dengan sedikit tanjakan dan belokan ke kanan. 15 menit kemudian barulah sampai di Watu Kotak.

Nama Watu Kotak mungkin datang dari batu besar yang berbentuk kotak. Kami buka tenda di sana. Lahan untuk camp cukup sempit, hanya muat 4-5 tenda ukuran 4 orang. Saya sendiri malah buka tenda di tengah jalur karena saking terbatasnya tempat. Tetapi saya buat petunjuk jalan berupa tali rafia agar teman-teman pendaki yang mungkin ingin summit attack keesokan paginya tidak susah mencari jalan.

Saya lupa persisnya sampai jam berapa di Watu Kotak. Seingat saya hari sudah mulai sore. Mungkin sekitar jam 3 atau 4 sore. Di kejauhan nampak gunung Sindoro gagah berdiri sembari diselimuti awan di puncaknya. Pemandangan hanya terbatas 180 derajat mulai dari Barat Laut – Utara – Tenggara. Barat laut pemandangan gunung Sindoro, dan Tenggara bisa melihat puncak gunung Sumbing.

Sesaat sebelum tidur, hari gerimis. Rintik bunyi hujan yang malu-malu itu juga disertai dengan kilatan petir tak bersuara. Untunglah kilatan petir itu tanpa suara jadi saya pun bisa tidur dengan nyenyak tidur sendirian di tenda. Para wanita di tenda eiger 4p, sedangkan pria bertiga sisanya di tenda lafuma 4p baru punya Masdan🙂

Jam 4 subuh kami semua berangkat untuk summit. Katanya puncak Sumbing bisa ditempuh dengan waktu 2-3 jam sambil membawa daypack. Saat itu saya bawa kompor, panci trangia, dan mie rebus. Rencananya kami akan masak mie rebus di puncak sana.

Kondisi jalur ke puncak dari Watu Kotak didominasi oleh bebatuan berukuran bola tetapi juga banyak kerikilnya. Sebelum ke puncak Sumbing, kita harus melewati satu bukit terlebih dahulu, lalu jalur mendatar sebentar, kemudian naik kembali dengan kondisi jalur berupa bebatuan berukuran besar. Saat itu matahari sudah mulai naik dan hari sudah mulai terang padahal masih sekitar jam 5 pagi. Berbeda dengan Jakarta di mana jam 5 pagi hari masih gelap (tetapi para komuter sudah beranjak dari rumahnya masing-masing untuk pergi ke tempat kerja).

Saya baru tahu kalau Sumbing punya kawah. Saya kira gunung ini punya puncak seperti Merbabu. Kami hanya nongkrong di puncak Buntu. Katanya tinggi puncak Buntu adalah 3371 mdpl, tetapi GPS di handphone saya menunjukkan angka yang lebih rendah, hanya sekitar 3200an. Ya sudahlah

Dari puncak Sumbing, kita dapat melihat dengan jelas gunung Sindoro. Ini mengingatkan saya-sekali lagi- dengan Merbabu jalur Selo di mana jika kita sampai di puncak Kenteng Songo kita bisa melihat dengan jelas gunung Merapi di kejauahan kejauhan. Setidaknya ada 4 pasang gunung di Jawa (yang saya tahu) yang letaknya berdekatan satu sama lain, Gede-Pangrango, Sindoro-Sumbing, Merapi-Merbabu, Arjuno-Welirang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s