Lingkar Tanah Lingkar Air

Setelah Ronggeng Dukuh Paruk, Senyum Karyamin, Kubah, Orang – Orang Proyek, Mata yang Enak Dipandang dan Di Kaki Bukit Cibalak, kali ini saya membaca Lingkar Tanah dan Lingkar Air.

source : https://kampungmanisku.wordpress.com/
source : https://kampungmanisku.wordpress.com/

Saya membeli buku ini dari seorang penjual buku bekas di Facebook. Keadaan bukunya sedikit menyebalkan karena beberapa halaman terlepas, bahkan ada 2 halaman blank di dalamnya (kalau yang ini jelas salah dari percetakan). Terbitan LKiS tahun 1999. Beruntung sekali saya bisa membelinya pada Mei 2013. Saya baru membacanya sekarang karena sejak dibeli hingga sekarang, buku itu teronggok di tumpukan kertas bekas di meja kerja saya :|. Terlupakan

Buku ini mengisahkan Amid, seorang penduduk desa di suatu perkampungan yang terletak di perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah. Kampung yang tadinya damai, kini mulai mencekam karena Belanda dikabarkan akan datang. Kiai Ngumar, seorang imam masjid mendapatkan kabar bahwa para Ulama telah berkumpul. Hadratus Syaikh berfatwa bahwa berperang melawan Belanda adalah jalan jihad karena melawan kemungkaran. Seketika pemuda di kampung tersebut bersemangat untuk melawan Belanda. Dengan modal satu senapan, Amid, Kiram, Jun, dan Kang Suyud membentuk kelompok paramiliter dengan nama Hizbullah, tentara Allah.

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1949, terjadi gejolak politik di seluruh Indonesia. Salah satunya, Kartosuwiryo yang memproklamirkan Negara Islam Indonesia atau Darul Islam. Kiai Ngumar menyarankan mereka kembali ke kehidupan normal atau mendaftar menjadi tentara republik karena Belanda telah pergi. Sayang, ditengah usaha menjadi tentara republik, terjadi cekcok antara tentara Republik dengan mantan tentara Hizbullah di suatu stasiun yang membuat tentara Hizbullah merasa dikhianati lalu bergabung dengan Darul Islam. Lagipula, Kang Suyud tak mau ikut dengan tentara Republik karena di dalamnya ada orang komunis yang tak pernah sholat.

Secara garis besar, itulah cerita Lingkar Tanah Lingkar Air. Dari buku ini saya baru tahu clash antara tentara Republik vs Darul Islam. Serta tentara Republik dan mantan Darul Islam yang sama-sama memburu PKI ketika terjadi peristiwa tahun 1965. Point of view Ahmad Tohari terhadap PKI di buku sama dengan Kubah.

Selain itu yang sedikit bikin saya kaget, ternyata ketika gerakan Darul Islam sedang gencar-gencarnya, beredar suatu label “kiai pro republik” alias “kiai republiken”. Mereka adalah kiai – kiai yang tak mendukung gerakan atau konsep negara Islam dengan Kartosuwiryo sebagai khalifahnya. Hal ini tampak dari dialog Kiai Ngumar dan Kang Suyud. Kiai Ngumar sami’na wa atho’na dengan Hadratus Syaikh yang mengatakan bahwa pemerintahan Sukarno – Hatta sah. Sedangkan Kang Suyud bersikeras bahwa Negara Islam Indonesia lah yang harus didukung karena berlandaskan syariat Islam. Sampai – sampai Kang Suyud memberikan suatu pertanyaan yang membuat Kiai Ngumar sedikit bersedih, “pilih Islam atau Republik?”

Sayangnya buku ini sulit dicari sekarang. Saya beruntung bisa mendapatkannya 🙂

Tohari, Ahmad. 1999. Lingkar Tanah Lingkar Air. Yogyakarta: LKiS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s