Double Summit Merbabu – Merapi

Mendaki Merbabu dan Merapi termasuk agenda pendakian gunung akhir tahun Debop. Dilakukan sebelum libur panjang antara Januari sampai Maret di mana biasanya banyak gunung yang ditutup. Rencana ini sudah disusun dari dua bulan yang lalu karena tiket kereta sangat sulit diperoleh saat musim liburan seperti ini. Begitu saya lihat itinenary-nya, gila! Tidak ada agenda buka tenda untuk menginap dan pendakian Merbabu dimulai dari jalur Tekelan, lalu diakhiri di Selo.

Sebenarnya tak ada masalah dengan naik Tekelan dan turun lewat Selo di gunung Merbabu. Bisa dibilang, naik Tekelan lalu turun ke Selo itu adalah jalur yang membelah gunung Merbabu dari sisi Utara ke Selatan. Tetapi standar “santai” pendakian jalur tersebut adalah minimal 2 hari 1 malam dengan rincian sebagai berikut : pendakian dimulai pagi hari, mendaki hingga sore dengan target puncak Pemancar, lalu hari kedua menelusuri punggungan puncak Merbabu sampai ke puncak Kenteng Songo hingga turun via Selo yang perkiraan saya, kalau santai, akan sampai di Selo sekitar sore hari. Sampai siang hari kalau anda sedikit ngotot.

Tapi kali ini berbeda. Dalam itinenary, tidak ada agenda membuka tenda. Jalan terus dan hanya istirahat leyeh-leyeh tanpa membuka tenda. Perjalanan dimulai pukul 20.45 malam dari basecamp Tekelan. Tetapi beberapa hari menjelang keberangkatan, kami tetap membawa tenda karena sudah memasuki musim hujan dan akan sangat berguna jika cuaca memburuk. Niatnya adalah membuat tas seringan mungkin, ujung-ujungnya harus tetap full spec.

24 Desember 2014 (Stasiun Pasar Senen – Solo Jebres – Salatiga – Basecamp Tekelan)

Saya sendiri berangkat dari Jakarta sore hari jam 17.20 dengan menumpang kereta api Majapahit. Karena suatu hal, saya tak dapat bersama Debop yang berangkat tanggal 25 Desember pagi. Setelah berjubel dengan kemacetan sore hari di Jakarta, hampir saja saya ketinggalan kereta karenanya. Saya sampai di Solo Jebres jam 2 pagi. Saat itu jujur, saya bingung mau kemana. Apakah langsung ke Salatiga lalu ke Basecamp Tekelan, atau menunggu hari mulai terang di Solo. Akhirnya saya memilih yang pertama, dan tentu saja sebelum ke terminal Tirtonadi, saya serbu dulu salah satu angkringan di depan stasiun. Hanya 2 buah sate bekicot dan segelas susu jahe.

Dari stasiun saya naik becak ke terminal bis Tirtonadi, lalu menumpang bis patas ke Semarang. Selama perjalanan saya tidur, tiba-tiba terbangun dan pas sekali, saat itu sudah sampai di Terminal Salatiga. Ternyata perjalanan tak sampai 2 jam. Masih setengah 4 pagi. Saya turun di terminal Salatiga, entah apa namanya saya lupa. Di sana sepi sekali. Tidak ada minibus yang mengarah ke Magelang. Ternyata saya salah turun. Pasar Sapi (tempat ngetem-nya minibus ke Magelang) masih sekitar 2 sampai 3 km lagi sehingga saya harus naik ojek.

Sampai di Pasar Sapi, suasana sudah lumayan ramai oleh pedagang dan orang – orang yang berpakaian rapi untuk mengikuti misa Natal. Ada juga beberapa pendaki gunung. Saya sarapan dulu di salah satu angkringan di sana. Hanya sarapan dua lontong dan dua gorengan dengan minum teh manis, cuma Rp3000. Saat itu belum ada minibus yang terlihat. Hingga kira-kira pukul 5 pagi, saya melihat satu minibus mulai ngetem. Rombongan pendaki lain yang sudah menunggu di sana satu per satu mulai naik ke minibus tersebut. Terpikir oleh saya untuk menyelesaikan urusan di kamar mandi terlebih dahulu sebelum menuju ke basecamp tetapi saya urungkan karena saya lebih memilih sampai duluan di basecamp, lalu menyelesaikan urusan tersebut 🙂

Seperti yang saya duga sebelumnya, minibus tersebut adalah minibus trayek yang sama dengan yang saya tumpangi dari Magelang setahun yang lalu, saat saya mendaki Merbabu via Wekas bersama Alde. Hanya saja, kini saya naik minibus tersebut dari arah sebaliknya.

Diantara Salatiga sampai Kopeng, hari mulai terang. Matahari mulai menampakkan dirinya. Jalanan menanjak dengan dominasi pemandangan Gunung Merbabu, Gunung Andong, dan Gunung Telomoyo. Jalanan terus menanjak. Perlahan- lahan minibus merayap jalanan tersebut. Hingga minibus yang saya tumpangi akhirnya berhenti daerah Kopeng, Kecamatan Getasan. Kopeng sudah terkenal reputasinya sebagai lokasi wisatanya orang Belanda zaman dulu hingga kini sehingga banyak penginapan di sini. Saya jadi teringat dengan Lembang yang berada di utara kota Bandung.

Patokan yang saya buat dari awal untuk turun dari minibus adalah mencari lokasi Air Terjun Umbul Songo, lalu tinggal jalan kaki masuk gang untuk menuju ke basecamp Tekelan. Ternyata tak sesederhana itu. Dari gang beraspal yang mempunyai tulisan arah Air Terjun Umbul Songo, ujung gangnya adalah pendakian jalur Cuntel, bukan Tekelan. Itupun baru saja saya sadari setelah kurang lebih 15 menit berjalan kaki dengan sedikit menanjak lalu bertemu dengan gapura selamat datang. Akhirnya saya putar arah balik kanan. Kembali menuju jalan raya Kopeng. Saya bertanya ke salah satu warga sekitar mengenai cara menuju ke basecamp Tekelan. Ternyata posisi gangnya “lebih bawah” dari jalur Cuntel, patokannya sebuah minimarket.

Setelah turun kembali dengan setengah berlari, saya telusuri jalan raya tersebut. Di sebelah kanan persis setelah minimarket ada gang dan ada papan bertuliskan “Basecamp Tekelan”. Di depan gang juga ada sebuah pangkalan ojek tetapi tak ada satupun tukang ojek di sana. Akhirnya saya jalan kaki. Menurut beberapa catper yang saya baca, jarak tempuhnya kira-kira satu setengah hingga dua jam. Lumayan jauh tetapi saya tak begitu saja langsung putus asa. Lagipula saat itu cuaca cerah dan udara pagi hari sangat segar sehingga kesempatan yang baik untuk menikmati suasana pagi dan pemandangan yang bagus dengan berjalan kaki menuju Tekelan.

Jalan menuju Tekelan ternyata mengitari bukit yang ada hutan pinus di atasnya. Dari sini kita bisa melihat gunung Andong dan Telomoyo di sebelah kiri. Begitu melewati belokan, Gunung Merbabu dapat dilihat dengan jelas jika cuaca sedang tidak berkabut. Bahkan puncak Pemancar pun bisa terlihat dengan mata telanjang walaupun sangat kecil.

Benar saja, dari pinggir jalan raya Kopeng menuju Tekelan itu lumayan jauh. Bahkan saya sudah mengeluarkan trekking pole. Malamnya, saya baru tahu bahwa teman-teman saya yang datang dari Jakarta sore harinya bahkan sudah ada yang mengeluarkan gula merah untuk tambahan energi hanya untuk menuju basecamp Tekelan :)). Mungkin lain kali jika saya kembali ke sini, saya akan memilih untuk naik ojek saja.

Saya sampai di desa Tekelan sekitar pukul 7 pagi lewat. Saat itu benar-benar sepi. Pendaki gunung hanya saya sendiri. Beruntung di tengah jalan saya diberi arah oleh penduduk setempat mengenai rumah yang biasa digunakan sebagai basecamp. Saya lupa bertanya itu rumah bapak siapa (ah dasar orang kota tak tahu sopan santun!). Tekelan ternyata sebuah Dusun (sebelumnya saya kira sebuah desa) yang berada di Desa Batur dan terletak di ketinggian sekitar 1500 mdpl. Saya perkirakan penduduk dusun ini tak sampai 500 orang dan mayoritas bekerja sebagai petani (sesekali sok tahu lah).

Di basecamp saya langsung bongkar sleeping pad dan sleeping bag untuk tidur. Sesekali terbangun karena ada pendaki yang datang satu per satu, kelompok per kelompok. Mereka sedikit berisik saat packing barang. Tak lama kemudian mereka menghilang, mungkin sudah berangkat.

Saya sengaja tidur karena : 1. saya belum tidur secara berkualitas karena malamnya berada di kereta api dan 2. menunggu teman-teman saya yang baru berangkat dari stasiun Pasar Senen pagi itu, diperkirakan mereka sampai di basecamp Tekelan sore hari. Jadi saya manfaatkanlah kesempatan dari pagi sampai sore untuk tidur.

Ketika siang hari, saya perut saya berontak minta jatahnya. Seingat saya, sudah lebih dari 24 jam tak bertemu dengan nasi. Saya datangi salah satu pengurus basecamp untuk memesan makanan. Ternyata saya disuruh langsung mengambil dari suatu meja yang diatasnya sudah ada prasmanan. Wow, ternyata di sini lumayan juga. Sore harinya, ketika saya naik ojek ke bawah untuk membeli sesuatu di minimarket, saya tahu dari tukang ojek bahwa di dusun Tekelan sedang ada acara. Saya lupa nama acara itu apa dan dirayakan dengan membuat masakan enak, lalu sanak keluarga datang saling berkunjung. Acara tersebut mengikut kalender Jawa dan berlangsung selama beberapa hari. Pantas saja, di basecamp sudah ada prasmanan dan beberapa toples kue. Toh akhirnya saya membayar makanan tersebut 🙂

Rombongan dari Jakarta tiba di Tekelan setelah maghrib, sekitar pukul setengah 7 malam. Ternyata mereka juga berjalan kaki dari jalan raya. Bedanya saya jalan kaki sendirian, mereka jalan kaki berdua puluh. Bagai long march tentara. Ternyata mereka misuh-misuh karena jarak basecampnya jauh haha.

Tim lengkap, Chandra dan Cila tak ikut mendaki Merbabu
Tim lengkap

 Kira – kira pukul 20.45, rombongan kami berangkat. Dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan jumlah personil 20 orang. Pada awalnya kelompok kecil ini untuk mempermudah pengawasan masing – masing orang. Namun pada akhirnya, 20 orang ini terpecah tidak menjadi 4 kelompok, tetapi 3 kelompok besar.

Trek awal dari dusun Tekelan berupa jalan setapak dengan kiri – kanannya perkebunan warga. Tak sampai satu jam kemudian, saya sampai di pos Pending. Di sini ada sebuah shelter dan dua buah keran air. Ternyata di sini tempat terakhir mengambil air. Setelah semuanya tiba di pos Pending, saya yang berada di kelompok 4 (Ada juga Didit, Yudi, dan Erna) melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya. Trek didominasi oleh tanjakan dengan sesekali bonus karena harus menuruni lembah yang di bawahnya ada sungai kecil mengalir. Ada di suatu tempat kondisi trek longsor sehingga harus memutar ke arah atas terlebih dahulu. Di sebelah kiri, jika ada space terbuka, kita bisa melihat pemandangan malam kota Salatiga.

Kurang lebih satu jam, sampai juga di pos 2 yaitu pos Pereng Putih. Pos ini terletak di suatu tikungan, berupa tanah datar sekitar 5 kali 5 meter, ada juga juga semacam bangunan yang dibuat dari seng. Kami menunggu kelompok belakang sembari leyeh-leyeh di tanah. Ada juga sebuah tenda di sini, saya dengar dengkuran penghuninya.

Tim belakang sampai di Pereng Putih sekitar 10-15 menit kemudian. Kebanyakan dari mereka mengantuk. Maklum saja, mereka berangkat dari Jakarta pagi hari. Dan hari sebelumnya begadang. Tidur di kereta api saat hari terang itu pasti tak berkualitas tidurnya.

Dari Pos Pereng Putih menuju pos ketiga yaitu Pos Gumuk Mentul yang treknya agak lumayan menanjak. Seingat saya sih jaraknya dekat. Hanya melipir di bagian kiri bukit, menyebrangi lembah, lalu berbelok tajam ke kanan, kemudian jalan lurus berupa tanjakan hampir 45 – 60 derajat. Di Pos Gumuk Mentul ada 3 tenda berdiri. Di pos inilah kami agak lama menunggu rombongan belakang. Dengar-dengar sih mereka sempat tidur di pos Pereng Putih. Saya sendiri sih masih on karena seharian tidur di basecamp. Siklus tidur saya sudah terbalik karena saat di kereta malam, saya sedikit tidur, dan mulai tidur di basecamp saat hari siang.

Di pos Gumuk Mentul angin mulai terasa. Jika diam terlalu lama, badan akan terasa dingin. Saya mulai tak sabaran untuk melanjutkan perjalanan. Saat itu kelompok 4 mulai berangkat. Ada juga anggota kelompok lain yang ikut. Jadi total 7 orang berangkat. Tambahannya adalah Fido, Sury, dan Vindy. Dalam perjalanan menuju pos keempat yaitu pos Lempong Sampan, saya berada di depan dan itu sedikit menyebalkan. Ya menyebalkan karena ternyata treknya agak sempit berupa semak-semak. Muka saya beberapa kali harus menghantam sarang laba – laba. Awalnya saya tak yakin apakah jalur ini jalur yang benar atau tidak sampai saya temukan beberapa sampah manusia. Kami teruskan perjalanan dengan beberapa kali berhenti untuk istirahat.

26 Desember 2014 (Pos 4 – Puncak Merbabu – Selo – New Selo Merapi)

Pos Lempong Sampan yang paling luas jika dibandingkan pos – pos sebelumnya. Di sana tak ada tenda sama sekali. Sesuai obrolan selama di perjalanan, akhirnya kami mengeluarkan kompor untuk makan mie rebus dan membuat minuman hangat. Saya lupa jam berapa saat itu, mungkin sekitar jam 1 atau jam 2 pagi.

Kira – kira jeda setengah jam, datang Oki dan Masdan. Ternyata mereka juga terpisah dari rombongan besar. Mereka bilang sempat nyasar dari pos 3 karena salah jalur. Dan yang nyasar itu semua orang. Walah. Ternyata kelompok besar membuka tenda untuk istirahat di pos 3.

Melihat kondisinya seperti itu, kami bersembilan sempat bingung apakah mau buka tenda di pos 4 atau melanjutkan perjalanan (sesuai itinenary). Saat itu saya inginnya sih jalan terus. Ternyata yang lain juga. Target kami semua bersembilan saat itu adalah puncak Pemancar. Menurut peta kasar di basecamp, puncak Pemancar terletak setelah pos Watu Gubug di mana pos tersebut terletak setelah pos 4. Itulah yang membuat kami semua masih semangat untuk meneruskan perjalanan.

Kira – kira satu jam kemudian, kami semua melanjutkan perjalanan. Saya kembali di depan. Semakin lama, lampu kota semakin jelas terlihat menandakan bahwa vegetasi mulai terbuka. Saat itu bintang – bintang juga dapat dilihat dengan jelas, pertanda cuaca sedang cerah. Hanya saja angin sedikit kencang dan dingin. Setelah satu jam perjalanan, kami sampai di suatu tanah lapang yang tak terlalu luas, tetapi ada satu tenda berdiri di sana. Saya kira itu pos Watu Gubug, ternyata belum.

7 Orang memilih untuk istirahat di sana sedangkan saya dan Masdan, tetap melanjutkan perjalanan. Saat itu sekitar jam 3 lewat. Dari 9 orang, ada 3 tenda dengan rincian 2 tenda isi 2 orang, dan 1 tenda isi 4 orang. 2 Tenda dibuka di tempat itu, dan saya tetap membawa tenda 2 orang. Saat itu saya dan Masdan akan berencana membuka tenda di pos Watu Tulis yang sudah masuk jalur turun via Selo. Puncak Pemancar juga sudah dapat dilihat dengan mata telanjang walau agak sedikit gelap.

Suasana Subuh dari Puncak Pemancar
Suasana Subuh dari Puncak Pemancar

Saya dan Masdan sampai di Puncak Pemancar sekitar pukul setengah 5. Kami berdua makan mie dicampur dengan sarden -saya sebut ini Mie Summit-.

Tenda 7 orang itu
Tenda 7 orang itu
Jalur menuju Kenteng Songo
Jalur menuju Kenteng Songo
Puncak Pemancar
Puncak Pemancar

Jam 6 lewat, kami lanjut jalan. Cuaca saat itu sering berganti-ganti. Kabut – cerah – gerimis – cerah – kabut dan seterusnya. Kali ini treknya mulai menarik karena melewati satu punggungan puncak Merbabu. Puncak Pemancar – Pertigaan Jalur Wekas – Geger Sapi – Pertigaan Puncak Syarif – Puncak Kenteng Songo – Puncak Triangulasi.

Dari pertigaan jalur Wekas menuju pertigaan puncak Syarif yang menurut saya lumayan seru. Mengingatkan saya dengan trek menuju puncak gunung Sumbing. Berbatu, dan sesekali scrambling. Apalagi saat itu kami berdua membawa keril full tank. Sesekali saya melakukan lempar lembing (melempar trekking pole karena ingin scrambling).

Di Puncak Geger Sapi, kami istirahat sebentar untuk ambil nafas dan memberikan istirahat ke dengkul yang sudah hampir 12 jam digunakan.

Sampai di pertigaan menuju Puncak Syarief, kami titipkan keril ke orang yang sedang membereskan tenda di sana. Badan langsung terasa enteng! Tak sampai 15 menit, sampai juga di Puncak Syarief.

Trek menuju puncak Kenteng Songo
Trek menuju puncak Kenteng Songo

Di sana kami hanya menghabiskan cemilan dan berfoto. Setelah itu langsung turun. Di pertigaan saya bertemu pendaki yang juga berangkat dari Tekelan (tapi mulai berangkat pagi hari), dan dia seorang diri saja. Sepertinya mas itu “orang lama” dalam urusan mendaki. Bawaannya santai.

Puncak Syarief yang pertama
Puncak Syarief yang pertama

Kami berdua kembali turun, ambil tas, lanjut jalan, melipir tebing, scrambling lagi dengan pijakan yang tipis, saya melakukan ritual lempar lembing kembali, satu tanjakan terakhir, sampai juga di puncak Kenteng Songo. Saat itu setengah 9 pagi.

Puncak Kenteng Songo
Puncak Kenteng Songo

Hari itu sedikit mengecewakan. Merapi tak kelihatan sama sekali karena kabut yang tebal. Bahkan padang Sabana pun tak terlihat. Memang, Desember bukan bulan yang baik untuk melihat pemandangan. Terakhir saya ke Merbabu adalah via Selo bulan Agustus dan saat itu cuacanya baik sekali. Dari point manapun, anda bisa melihat gagahnya gunung Merapi di arah Selatan. Hanya saja pendakian bulan Agustus itu sangat ramai.

Setelah puncak Kenteng Songo, kita bertiga ke puncak Triangulasi. Di sini malah sepi, tak ada orang sama sekali. Keadaan masih tetap berkabut, Merapi masih tak kelihatan. Di sana hanya mengambil foto, tak sampai 5 menit. Lalu kita bertiga turun.

Turun ke Sabana II, Sabana I, lalu turunan curam menjelang pos Watu Tulis, masih tetap berkabut. Malah ketika sampai di pos Watu Tulis, hujan mulai turun tetapi tidak terlalu deras sehingga saya hanya mengeluarkan payung.

Akhirnya saya sampai di pos Selo sekitar jam 12 siang, lalu istirahat di basecamp pak Bari. Total perjalanan kami kira-kira 15 jam dari Tekelan menuju Selo, tanpa camp sama sekali. Not bad but I won’t do that again! Malam itu juga kami berencana untuk mendaki gunung Merapi, sekali lagi, agar sesuai iten :))

Saya tidur dari siang hingga maghrib. Puas sekali rasanya. Saat saya baru datang siang hari, di basecamp pak Bari hanya ada tiga orang. Kami berdua plus mbak-mbak yang tidur di pojokan sana. Ketika saya bangun, basecamp tiba-tiba penuh dengan orang. Ternyata hari Sabtu, 27 Desember 2014 akan ada acara menanam pohon yang diadakan oleh salah satu organisasi pencinta alam Salatiga. Tak cuma di basecamp pak Bari, di basecamp pak Parman pun keadannya sama, ramai oleh para pendaki.

Setelah membereskan barang dan makan malam di pak Parman, saya dan Masdan berangkat ke New Selo, basecamp pendakian Merapi. Di sana telah menunggu Muji dari Jogja. Sampai di basecamp kira-kira jam setengah 9. Di sana, kami bertiga juga bertemu dengan Chandra dan Cila. Mereka berdua yang tak ikut pendakian Merbabu tetap stick to the plan untuk mendaki Merapi. Akhirnya kami berangkat berlima

10421171_10203619409630177_874493349596215132_n

Dari pos perizinan, kami harus berjalan kaki terlebih dahulu melewati jalan beraspal hingga suatu tempat yang ada papan raksasa bertuliskan New Selo. Saya kira perizinan dilakukan di sana, ternyata tidak. Karena trek langsung menanjak, kami istirahat sebentar di New Selo. Saat itu cuaca sedikit gerimis berkabut dan angin lumayan kencang. Bahkan jarak pandang pun cuma beberapa belas meter saja.

Seingat saya kita berlima mulai berangkat sekitar pukul setengah 11 malam. Saya di depan dan Masdan jadi sweeper. Jarak pandang pendek sekali karena kabut masih tebal. Treknya menanjak terus melewati perkebunan warga. Di awal-awal treknya berupa jalan cor-coran semen tetapi ada sedikit undakan tangganya sehingga tak terlalu licin. Selepas jalan semen tersebut, baru jalan setapak tanah. Di sebelah kiri jalan entah sepertinya terdapat jurang di sana dan di beberapa tempat, jalur yang kami lewati rawan longsor karena tanahnya retak besar. Sesekali saya bergantian dengan Chandra di depan karena staminanya lebih oke.

Kurang lebih satu jam, kami melewati suatu gapura selamat datang. Di sini angin bertiup kencang disertai dengan gerimis. Saat itu ada satu tenda dan di kejauhan saya melihat ada rombongan lain yang sedang berangkat. Saya kira itu pos 1, ternyata pos 1 masih jauh di atas sana.

Hingga di suatu tanjakan yang berbelok, tahu-tahu suasana ramai. Banyak orang di sana, mungkin sekitar 8-10 orang. Jadilah kami mendaki beramai-ramai. Treknya mirip seperti Cikuray, terus menanjak tanpa bonus.

Pos 1 hanya berupa pos beratap. Tapi di sana ada yang mendirikan tenda. Kami hanya duduk sebentar lalu lanjut jalan. Hingga kira-kira jam setengah 3 pagi, kami sampai di suatu tempat yang lumayan terbuka. Angin sangat kencang. Di sana sudah ada beberapa tenda berdiri yang miring karena ditiup angin. Kabut pun juga tebal. Saya di depan untuk mencari jalan, tetapi hanya batu-batu besar saja. Akhirnya kami memutuskan untuk membuat tenda di situ setelah kami bertanya ke salah satu pendaki yang di dalam tenda. Ia mengatakan bahwa Pasar Bubrah sudah dekat, hanya satu bukit lagi.

Kami berlima hanya membawa tenda kapasitas 4 orang. Jadi tidurnya ya sedikit berdesakan

Saya langsung ganti baju, hanya ganti dengan jaket lalu ganti celana. Kemudian tidur. Saat itu benar-benar tidak minat untuk makan karena sudah terlalu lelah dan mengantuk.

27 Desember 2014 (Puncak Merapi)

Saya bangun kira-kira jam 5 lewat. Sehingga matahari sudah sedikit tinggi. Ketika saya keluar tenda, wuih. Pemandangannya bagus sekali meski sedikit berkabut. Angin hanya sepoi-sepoi. Di arah Timur, saya bisa melihat Lawu. Sedangkan di Utara ada Merbabu yang kakinya diselimuti kabut. Puncak Merapi pun tertutup kabut tetapi Pasar Bubrah bisa dilihat dengan jelas

Matahari dan Lawu
Matahari dan Lawu
Merbabu
Merbabu (Muka bantal :p)
Berangkat ke Pasar Bubrah
Berangkat ke Pasar Bubrah
Pasar Bubrah
Berada di Pasar Bubrah

Pagi itu kami semua berangkat menuju puncak Merapi. Ke Pasar Bubrah ternyata sebentar, hanya sekitar setengah jam kurang. Setelah itu naik lewat trek pasir. Pasirnya mirip seperti Mahameru, cuma masih kalah curam dan kalah tinggi :p. Saya keluarkan jurus andalan berupa jalan zig-zag agar tidak terlalu lelah. Masdan sudah jauh di depan, bahkan tidak kelihatan karena tertutup kabut. Saya jalan sendiri. Saya juga melihat Muji juga jalan sendiri di belakang. Sedangkan Chandra dan Cila jalan berdua dibelakangnya Muji (saya kenali dari warna jaketnya). Kira-kira satu jam kemudian, saya sampai di Puncak Merapi! Dan isinya hanya kabut tebal dan angin.

Tak sampai sejam, datanglah Muji. Lalu disusul Chandra dan Cila.

Nongkrong di Puncak Merapi
Nongkrong di Puncak Merapi
Full team!
Full team! (Walaupun tak semua anggota Debop jadi ke Merapi, kami bawakan slayernya)

Agak lama berada di atas karena berharap kabut hilang. Tapi ya begitulah, kabut tak kunjung hilang dan Masdan, saya, dan Muji ingin segera lanjut ke Lawu hari itu juga. Sehingga target sampai di New Selo maksimal siang hari.

Oleh karena itu, kami berlima sepakat bahwa Masdan, saya dan Muji turun duluan kembali ke tenda, lalu packing untuk mengejar gunung selanjutnya yaitu Lawu. Chandra dan Cila memilih turun dengan santai. Saya lupa turun jam berapa dan saat itu turunnya agak terburu-buru. Hingga sesudah melewati pos 1, menjelang pos gapura, lutut saya nyeri sekali. Akhirnya dengkul ini minta istirahat. Alhasil, saya turun ke New Selo dengan lambat dan sampai di bawah sekitar jam 12 siang.

Di sinilah perjalanan saya berakhir. Saya tak jadi ikut ke Lawu.

Mobil carteran sudah tiba di New Selo untuk mengantar rombongan Lawu. Saya ikut mobil tersebut dan turun di Polsek Selo. Akhirnya saya bertukar dengan Oki yang ikut ke Lawu. Dapat kabar bahwa rombongan Merbabu yang tujuh orang di belakang sudah tiba di basecamp Selo. Tetapi tim yang paling belakang belum ada kabar. Karena tak ikut ke Lawu, saya kembali ke basecamp Selo Merbabu dengan menumpang ojek.

Sampai di pos pak Bari, ternyata rombongan belakang baru sampai. Bagusnya adalah tidak ada yang cidera dan semuanya bisa tertawa riang gembira. Tidak seperti pendakian Ceremai yang menyedihkan itu :))

Dengkul saya cuma mampu 2 gunung, Merbabu dan Merapi. Dari rombongan kemarin, hanya Masdan saja yang mampu mendaki 3 gunung secara estafet karena dengkulnya memang double gardan cap dewa. Jadi saya masih punya hutang ke Lawu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s