Syekh Bandar al-Khaibari : Bumi yang diam dan tidak bergerak mengitari Matahari

Kira -kira beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah tautan berita yang berisi bahwa salah satu pemuka agama (terjemahan bebas dari kata Cleric) menyatakan bahwa Bumi stasioner alias diam. Bumi juga tidak mengitari Matahari, justru sebaliknya, yaitu Matahari-lah yang mengitari Bumi. Oke, ide tersebut mungkin menolak heliosentris dan menerima geosentris. Bukan sesuatu yang baru.

Mengenai heliosentris atau geosentris, masalah siapa yang mengitari siapa, tentu masing-masing punya sudut pandangnya sendiri. Padahal di ruang angkasa tidak jelas bagian mana yang layak disebut sebagai pusat. Mungkin kita bisa definisikan sendiri di manakah pusat alam semesta, tentukan tempatnya, lalu sebutlah benda-benda langit lainnya bergerak mengitari pusat alam semesta versi kita sendiri.

Sepertinya bukan itu yang ingin saya bahas, tetapi reasoning dari Sang Syekh yang terdengar sedikit anu. Dalam menjelaskan pandangannya mengenai Bumi yang diam, Sang Syekh memperagakan sebuah thought experiment. Persis seperti yang dilakukan Albert Einstein dalam menjelaskan Relativitas Khusus dengan eksperimen seseorang menumpang sebuah pesawat ruang angkasa yang dapat melaju mendekati kecepatan cahaya, bagaimana terjadi dilatasi waktu, bagaimana badan pesawat “memendek” dan sebagainya.

Thought Experiment Sang Syekh adalah seandainya anda naik pesawat terbang dari Sharjah (suatu nama kota di Uni Emirat Arab) dengan tujuan China. Pesawat bergerak ke langit menuju China. Jika Bumi bergerak (berotasi), pesawat tersebut tak akan sampai ke China karena China (yang terletak di permukaan Bumi tentunya) juga bergerak.

Menarik bukan?

Dari kuliah Fisika Dasar selama 1 tahun yang saya ikuti di kampus, sepertinya alasan di atas tak masuk akal. Kini saya juga mengajukan sebuah eksperimen khayalan. Misalkan saya berada di dalam kereta api yang sedang melaju. Katakanlah saat itu kecepatan kereta konstan di 100 km/h. Dengan menggunakan kasus yang mirip dengan pesawat Sharjah – China, saya akan mencoba untuk terbang dengan cara melompat di dalam kereta api yang sedang melaju. Karena kaki saya yang lumayan panjang, mungkin saya dapat lompat selama 1 detik. Artinya selama 1 detik, kaki saya tidak menyentuh lantai gerbong kereta. Mirip seperti “terbang” bukan? Dengan menggunakan logika yang sama seperti yang dikatakan Sang Syekh tadi, ketika saya mendarat nanti, saya akan mendarat di gerbong lain karena dalam 1 detik dengan kecepatan 100 km/h, kereta telah bergerak atau berpindah sejauh 28 meter. Sementara panjang gerbong kereta api kira-kira 20 meter, jadi saya akan berpindah ke gerbong lain.

Sayang sekali, realitasnya tidak seperti itu. Mengapa?

Karena ketika saya berdiri di gerbong, tubuh saya telah mempunyai kecepatan yang sama dengan kereta api, yaitu 100 km/h. Asalkan kecepatan kereta api tidak berubah secara mendadak (mengerem misalnya), saya akan mendarat tepat di mana saya mulai melompat.

Begitu juga dengan kasus pesawat terbang tadi. Sebelum pesawat terbang, si pesawat telah mendapatkan kecepatan rotasi bumi dan itu sama dengan kecepatan China yang juga “bergerak”.

Mungkin Sang Syekh lelah

2 pemikiran pada “Syekh Bandar al-Khaibari : Bumi yang diam dan tidak bergerak mengitari Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s